Dianggap sebagai sampah karena meridiannya yang hancur, Ling Tian hidup dalam penghinaan dan keputusasaan. Namun, takdirnya yang kelam berubah selamanya saat ia secara tak sengaja membangkitkan Mutiara Naga Kosmik, sebuah artefak ilahi yang menyimpan jiwa Naga Purba dan rahasia ruang-waktu.
Dengan warisan yang menentang langit ini, perjalanan Ling Tian dimulai. Dari seorang pemuda yang dicemooh, ia bangkit untuk membalas dendam, mengguncang sekte, dan menaklukkan kerajaan. Perjalanannya membawanya melintasi dunia fana menuju alam abadi, di mana setiap langkah adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang sampah bisa naik menjadi penguasa kosmos, mengungkap konspirasi universal, dan memegang takdir jutaan dunia di tangannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Final yang Tak Terhindarkan
Keheningan yang mencekam setelah kekalahan Ling Hong berlangsung lama sebelum akhirnya pecah menjadi gelombang diskusi yang lebih besar dari sebelumnya.
"Kekuatan macam apa itu? Ling Hong bahkan tidak bisa menahan satu pukulan pun!"
"Aku melihatnya dengan jelas! Ada bayangan kepala naga di sekitar tinjunya! Itu bukan teknik Klan Ling!"
"Jadi rumor itu benar... Ling Tian pasti menemukan semacam warisan kuno!"
Sekarang, tidak ada lagi yang berani meremehkan Ling Tian. Ia telah membuktikan dirinya bukan hanya kuda hitam, tetapi monster yang sesungguhnya. Ia dan Ling Feng kini berdiri sebagai dua puncak yang menjulang di antara generasi muda, dan semua orang tahu bahwa tabrakan di antara mereka tidak akan terhindarkan.
Babak semi-final diundi.
Seperti yang ditakdirkan, kedua nama teratas itu tidak bertemu.
Ling Feng melawan murid terkuat ketiga klan, seorang pemuda tingkat keenam awal bernama Ling Jie.
Ling Tian melawan murid terkuat keempat, seorang pemuda lain di puncak tingkat kelima.
Pertandingan Ling Feng adalah yang pertama.
"Aku menyerah!"
Begitu Ling Jie, sang ahli tingkat keenam, naik ke atas panggung dan merasakan aura tingkat ketujuh Ling Feng yang dilepaskan sepenuhnya, wajahnya menjadi pucat dan ia langsung menyerah. Ia tahu betul perbedaan antara tingkat keenam dan ketujuh. Melawan hanya akan berarti penghinaan dan cedera yang tidak perlu.
Ling Feng mendengus, tampak tidak puas karena tidak bisa menunjukkan kekuatannya. Ia melirik Ling Tian dengan tatapan penuh provokasi, seolah berkata, 'Lihat? Tidak ada yang berani melawanku.'
Kemudian, tibalah giliran Ling Tian.
Lawannya, seorang pemuda yang juga berada di puncak tingkat kelima, melangkah ke atas panggung dengan gemetar. Ia telah menyaksikan nasib Ling Hong, yang kekuatannya setara dengannya.
"Mulai!"
Ling Tian hanya berdiri di sana, menatap lawannya dengan tenang. Ia tidak bergerak. Ia tidak melepaskan auranya. Ia hanya menatap.
Namun, di mata pemuda itu, tatapan Ling Tian seolah berubah menjadi jurang tak berdasar yang dipenuhi dengan naga-naga kuno. Tekanan mental yang tak terlihat namun luar biasa berat menekannya, membuatnya sulit bernapas. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia merasa seolah-olah bukan sedang menghadapi seorang pemuda, melainkan dewa perang kuno. Niat bertarungnya hancur berkeping-keping bahkan sebelum ia bisa melancarkan satu gerakan pun.
Setelah berjuang selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, pemuda itu akhirnya tidak tahan lagi. Kakinya lemas.
"Aku... aku menyerah," katanya dengan suara serak, menundukkan kepalanya dalam kekalahan total.
Sekali lagi, Ling Tian menang tanpa perlawanan. Tetapi kemenangan ini bahkan lebih mengejutkan daripada kemenangan sebelumnya. Mengalahkan lawan dengan kekuatan adalah hal yang biasa. Tetapi membuat lawan menyerah hanya dengan satu tatapan... itu adalah ranah dominasi psikologis yang menakutkan.
Di panggung utama, beberapa tetua yang lebih berpengalaman menarik napas tajam.
"Kekuatan spiritual yang mengerikan!" gumam salah satu dari mereka. "Anak ini... bukan hanya tubuhnya yang kuat."
Patriark Ling Zhan mengepalkan sandaran tangan kursinya, matanya bersinar dengan cahaya yang kompleks. Ia bangga, tetapi juga khawatir.
Dengan berakhirnya babak semi-final, hasilnya sudah jelas.
"Dan sekarang," suara diaken bergema di seluruh arena, suaranya sendiri sedikit bergetar karena antisipasi. "Pertandingan terakhir untuk menentukan juara Kompetisi Klan Ling tahun ini! Di satu sisi, jenius yang diakui, Ling Feng!"
Ling Feng melompat ke atas panggung utama, mendarat dengan ringan. Jubah putihnya berkibar, dan auranya yang kuat menyapu arena, membuat banyak murid yang lebih lemah merasa tercekik.
"...dan di sisi lain," lanjut diaken itu. "Keajaiban yang kembali, Ling Tian!"
Ling Tian berjalan menaiki tangga panggung dengan langkah yang tidak terburu-buru. Ia berhenti di seberang Ling Feng, jubah hitamnya yang sederhana kontras dengan penampilan lawannya yang mencolok.
Seluruh arena menjadi sunyi senyap. Semua kebisingan, semua diskusi, semuanya lenyap. Puluhan ribu mata terpaku pada dua sosok di atas panggung. Ini bukan lagi hanya sebuah kompetisi. Ini adalah pertarungan nasib. Pertarungan antara masa lalu dan masa kini. Pertarungan antara dua naga.
"Ling Tian," Ling Feng berbicara lebih dulu, suaranya dipenuhi dengan kebencian dan penghinaan yang dingin. "Tiga tahun. Kau membuatku menunggu selama tiga tahun untuk momen ini. Momen di mana aku secara pribadi akan melenyapkan harapan terakhirmu."
"Harusnya aku yang mengatakan itu," balas Ling Tian, suaranya tenang, tetapi setiap kata membawa beban dendam tiga tahun. "Tiga tahun yang lalu, kau mengambil segalanya dariku. Hari ini, aku akan mengambilnya kembali... beserta bunganya."
Ling Feng tertawa, tawa yang dingin dan tanpa humor. "Ambil kembali? Dengan apa? Kau pikir dengan beberapa trik murahan kau bisa menantangku? Aku berada di tingkat ketujuh! Aku adalah masa depan Klan Ling! Dan kau... kau hanyalah kerikil di jalanku yang akan segera aku tendang."
Ia mengangkat tangannya, dan sebilah pedang Qi yang cemerlang terbentuk, memancarkan ketajaman yang menakutkan. "Di hadapan semua orang hari ini, aku akan melumpuhkanmu. Aku akan membuatmu mengerti bahwa sampah akan selalu menjadi sampah, tidak peduli seberapa keras ia mencoba."
Niat membunuh yang tak terselubung memenuhi udara.
Ling Tian tidak terpengaruh. Ia hanya menatap Ling Feng dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat orang mati. "Tiga tahun yang lalu, di sini juga, kau mengatakan banyak hal. Hari ini... aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berbicara lagi."
Suhu di atas panggung seolah turun beberapa derajat. Pertarungan belum dimulai, tetapi bentrokan niat mereka sudah cukup untuk membuat penonton merinding.
Wasit, seorang tetua tingkat tinggi, menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ini tidak akan menjadi pertarungan biasa.
"Pertandingan final... DIMULAI!"