NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".

Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lonceng Kematian

Matahari pagi menggantung pucat di atas Kota Debu Merah, terhalang oleh awan kelabu yang enggan beranjak sejak badai semalam. Meski hari sudah terang, suasana di jalanan kota terasa sangat mencekam. Kedai-kedai teh dan balai lelang yang biasanya ramai kini menutup pintu rapat-rapat. Penduduk fana dan para pendekar tingkat rendah memilih bersembunyi di balik jendela kayu mereka, mengintip dengan perasaan waswas.

Penyebab dari ketakutan bisu ini adalah penjagaan ketat yang tidak wajar di setiap gerbang kota. Ratusan penjaga berseragam Keluarga Shen berdiri berbaris dengan tombak terhunus. Di tembok kota, belasan pemanah bersiap dengan anak panah yang ujungnya telah dilumuri racun pelumpuh urat nadi.

Di Gerbang Timur, seorang komandan penjaga dari Keluarga Shen mondar-mandir dengan wajah tegang. Ia memegang sebuah gulungan perkamen yang berisi lukisan wajah seorang pemuda.

"Buka mata kalian lebar-lebar!" teriak komandan itu kepada anak buahnya. "Tetua Agung telah mengeluarkan perintah mutlak! Anak haram bernama Shen Yuan ini sangat licin. Jika ada yang melihat pemuda seukurannya masuk, langsung lumpuhkan dan ikat dengan Rantai Besi Dingin! Jangan dengarkan alasan apa pun!"

Para penjaga menelan ludah dan mengangguk. Mereka semua tahu bahwa semalaman penuh, Pasukan Bayangan Darah telah dikerahkan ke Pegunungan Kabut Beracun, namun hingga pagi ini, belum ada satu pun burung pembawa pesan yang kembali. Ketidakpastian ini membuat para petinggi Keluarga Shen menjadi sangat gusar dan dilanda kepanikan.

Tepat pada saat itu, dari ujung jalan tanah berlumpur yang mengarah ke hutan, sesosok bayangan muncul menembus sisa-sisa kabut pagi.

Sosok itu berjalan dengan langkah yang santai, tidak tergesa-gesa, seolah sedang menikmati pemandangan di taman bunga. Ia mengenakan jubah hitam yang basah dan berdebu, dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, yang membuat para penjaga menegang adalah noda merah pekat yang mengering di ujung jubah tersebut. Itu adalah noda darah yang sangat tebal.

"Berhenti di sana!" bentak komandan penjaga, menarik pedang besarnya dari sarung. "Buka tudungmu dan tunjukkan identitasmu! Kota Debu Merah saat ini berada di bawah darurat Keluarga Shen!"

Sosok berjubah itu menghentikan langkahnya tepat sepuluh tombak dari gerbang. Angin pagi berhembus pelan, menyingkap ujung tudungnya, memperlihatkan seulas senyum yang sedingin es purbakala.

"Darurat Keluarga Shen?" suara pemuda itu terdengar datar, namun entah mengapa gema suaranya seolah langsung menusuk ke dalam lautan kesadaran para penjaga, membuat dada mereka sesak. "Apakah Shen Cangqiu begitu ketakutan hingga ia harus menggunakan anjing-anjing penjaga gerbang untuk menutupi gemetar di kakinya?"

Mendengar nama Tetua Agung disebut dengan sangat tidak sopan, komandan penjaga itu meledak dalam amarah. "Beraninya kau menghina Tetua Agung! Pemanah, tembak kakinya!"

Wussshhh! Wussshhh! Wussshhh!

Belasan anak panah beracun melesat dari atas tembok kota, membelah udara dengan suara desingan tajam, mengarah tepat ke paha dan betis sosok berjubah tersebut.

Namun, pemuda itu bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Ia hanya melangkah maju satu langkah.

Traanggg! Traanggg! Traanggg!

Sebuah pemandangan yang menghancurkan nalar sehat terjadi di depan mata puluhan orang. Anak-anak panah tajam yang terbuat dari baja itu menghantam kaki dan jubah pemuda tersebut, namun alih-alih menembus daging, panah-panah itu justru patah menjadi dua bagian dan jatuh berguguran ke tanah berbatu. Suara yang ditimbulkan murni seperti besi yang menghantam balok emas padat!

Mata komandan penjaga membelalak ngeri. "T-Tubuh pelindung hawa murni? Tidak, tidak ada riak hawa murni! Itu murni kekuatan ragawi! Siapa kau sebenarnya?!"

Tudung jubah itu akhirnya terlempar ke belakang, menampakkan wajah seorang pemuda berusia lima belas tahun dengan sepasang mata yang menyala merah darah.

"Aku adalah orang yang kalian tunggu sejak semalam," ucap Shen Yuan dengan suara yang menggema seperti guntur pertanda kematian.

"S-Shen Yuan! Itu Shen Yuan si anak buangan!" teriak salah satu penjaga dengan suara melengking panik. Wajah di perkamen lukisan itu kini berdiri nyata di hadapan mereka bak dewa iblis yang menuntut nyawa.

"Bunuh dia! Serang bersama-sama!" raung komandan penjaga, memaksakan hawa murninya di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kelima untuk memimpin belasan prajurit tombak menerjang maju.

Shen Yuan mendengus dingin. Sutra Penelan Surga berputar pelan di dalam Dantian-nya, menyalurkan hawa pembantaian ke setiap inci Tubuh Emas Gelap-nya. Ia tidak menggunakan senjata apa pun. Di hadapan semut-semut fana ini, tangannya sendiri adalah pusaka pembunuh yang paling mengerikan.

Langkah Bayangan Hantu!

Dalam sekejap mata, tubuh Shen Yuan kabur. Sang komandan hanya melihat embusan angin hitam melintas di depan matanya, sebelum sebuah telapak tangan yang memancarkan kilau emas gelap mencengkeram wajahnya.

Baaam!

Shen Yuan membanting kepala sang komandan langsung ke atas tanah berbatu. Kekuatan murni dari Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketujuh menghancurkan bebatuan di bawahnya, dan pada saat yang sama, meremukkan tengkorak komandan itu seperti semangka yang busuk.

Mati seketika! Ahli Lapisan Kelima mati bahkan sebelum ia sempat mengayunkan pedangnya!

Para penjaga tombak membeku. Kengerian merayap naik dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun mereka. Namun, Shen Yuan tidak memberikan belas kasihan.

Bagaikan serigala yang masuk ke dalam kawanan domba, ia melesat dari satu titik ke titik lain dengan bayangan yang membingungkan. Tangannya mengayun, mematahkan tombak baja seolah mematahkan ranting kering, dan setiap pukulan atau tendangannya selalu diakhiri dengan suara tulang dada yang amblas atau leher yang terpelintir.

Tidak sampai sepuluh tarikan napas, gerbang timur Kota Debu Merah dipenuhi oleh mayat berseragam Keluarga Shen. Darah menggenang, membasahi gerbang kayu raksasa yang menjadi kebanggaan kota tersebut.

Penduduk kota yang mengintip dari kejauhan jatuh terduduk dengan kaki gemetar. Apakah ini benar-benar Shen Yuan? Mantan Tuan Muda yang selalu disiksa dan dianggap sebagai sampah tanpa pembuluh nadi? Iblis mengerikan macam apa yang merangkak keluar dari Jurang Ratapan ini?!

Shen Yuan berdiri di tengah genangan darah, menatap jalan utama yang lurus mengarah ke pusat kota—tempat kediaman utama Keluarga Shen berdiri megah.

"Bocah, jika kau berjalan ke sana sekarang, kau akan berhadapan langsung dengan formasi pertahanan dan ratusan tetua ahli," ucap Leluhur Darah dari dalam jantungnya, suaranya dipenuhi dengan dahaga darah. "Kau siap membalikkan langit kota ini?"

"Membunuh tikus-tikus kecil satu per satu terlalu membosankan," jawab Shen Yuan dalam batinnya. Matanya tertuju pada sepasang patung Singa Perunggu raksasa yang menjaga sisi kiri dan kanan Gerbang Kota. Patung itu berfungsi sebagai lambang penolak bala, terbuat dari perunggu padat dengan berat mencapai tiga ribu kati masing-masing.

Shen Yuan berjalan menghampiri salah satu patung Singa Perunggu tersebut. Ia membungkuk, menancapkan kesepuluh jarinya ke celah di bawah alas patung. Urat-urat di lengan dan lehernya menonjol, memancarkan cahaya emas gelap yang menyilaukan.

"Naiklah!" raung Shen Yuan.

Kreeeeek! Bum!

Bumi bergetar. Tanah dan susunan batu jalanan di sekitar patung itu retak dan terangkat. Di bawah tatapan tidak percaya dari puluhan warga kota yang bersembunyi, Shen Yuan mengangkat Singa Perunggu seberat tiga ribu kati itu ke udara dengan kedua tangannya, memanggulnya di atas bahu seolah itu hanya sekarung kapas!

Kekuatan jasmani dari Lapisan Ketujuh yang dipadukan dengan Tubuh Emas Gelap benar-benar melanggar kaidah alam manusia fana!

Dengan patung raksasa di bahunya, Shen Yuan melangkah menyusuri jalan utama Kota Debu Merah. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak kaki yang amblas sedalam satu inci ke dalam jalanan batu, menciptakan suara dentuman berirama yang bergema ke seluruh penjuru kota.

Bum! Bum! Bum!

Suara langkah kakinya terdengar seperti detak jantung dewa kematian, atau seperti lonceng raksasa yang sedang berdentang memanggil arwah. Ke mana pun Shen Yuan melangkah, jalanan seketika menjadi sunyi senyap. Orang-orang menyingkir, menundukkan kepala dengan ketakutan yang mencekik jiwa. Tidak ada satu pun prajurit dari kubu lain yang berani keluar untuk menghalangi jalannya.

...

Di saat yang sama, di dalam Aula Utama Keluarga Shen.

Tetua Agung Shen Cangqiu sedang duduk di kursi kehormatannya dengan wajah suram. Cangkir teh porselen di tangannya telah retak karena cengkeramannya yang terlalu kuat. Di bawahnya, belasan Tetua Dalam duduk dengan tegang.

"Sudah siang, dan tidak ada satu pun kabar dari Pasukan Bayangan Darah maupun Tetua Luar Shen Zheng," geram Shen Cangqiu, hawa murni Lautan Qi-nya membuat udara di aula terasa berat. "Apakah sekumpulan pasukan pilihan keluarga kita bahkan tidak mampu menangkap seekor anjing cacat yang terluka parah?!"

Seorang Tetua Dalam berdiri dan memberi hormat dengan hati-hati. "Tetua Agung, mohon tenang. Pegunungan Kabut Beracun sangatlah luas dan berbahaya. Mungkin saja mereka terhambat oleh kawanan siluman. Lagipula, anak haram itu membakar intisari darahnya semalam, ia pasti sudah mati di tengah hutan sebelum pasukan kita menemukannya—"

Bummmmm!

Sebelum kata-kata penenang itu selesai terucap, sebuah ledakan dahsyat yang seratus kali lebih keras dari suara guntur meledak di depan gerbang utama kediaman Keluarga Shen.

Seluruh aula berguncang hebat. Debu jatuh dari langit-langit, dan beberapa pilar kayu retak seketika.

Shen Cangqiu melompat berdiri, matanya menyipit memancarkan niat membunuh yang tak terbatas. "Siapa yang berani menyerang kediaman Keluarga Shen?!"

Seorang pelayan yang sekujur tubuhnya berlumuran debu dan darah merangkak masuk ke dalam aula dengan wajah penuh keputusasaan.

"T-Tetua Agung! Gerbang Utama... gerbang utama kita hancur! Seseorang melemparkan patung Singa Perunggu dari gerbang timur kota hingga menghancurkan dinding pertahanan kita!" jerit pelayan itu sambil menangis ketakutan.

"Singa Perunggu kota?! Berapa banyak pasukan yang menyerang kita?!" raung salah satu Tetua Dalam.

"T-Tidak ada pasukan... hanya satu orang!" pelayan itu menjawab, giginya bergemeretak. "D-Dia memakai jubah hitam berlumuran darah... D-Dia Shen Yuan! Shen Yuan kembali!"

Mendengar nama itu, wajah Shen Cangqiu berubah menjadi sangat buas. Urat nadi di pelipisnya menonjol. Alih-alih merasa takut, lahar kemarahan meletus di dalam dadanya. Anak haram yang telah mencacatkan cucunya kini berani menginjak-injak harga diri Keluarga Shen hingga ke depan pintunya sendiri!

"Bagus! Sangat bagus! Karena neraka menolak menerimanya, maka aku sendiri yang akan mengubur tulangnya menjadi abu!"

Shen Cangqiu melesat ke luar aula bagaikan sambaran petir emas, diikuti oleh belasan Tetua Dalam yang mencabut pedang dan golok mereka.

Saat mereka tiba di pelataran depan, pemandangan yang menyambut mereka adalah reruntuhan batu bata dan debu tebal. Pintu gerbang kayu ulin berusia ratusan tahun telah hancur berkeping-keping, tertimpa oleh patung Singa Perunggu raksasa yang melesak ke dalam tanah. Di sekeliling patung itu, puluhan mayat penjaga Keluarga Shen bergelimpangan dalam keadaan tulang yang hancur.

Di atas patung Singa Perunggu itu, Shen Yuan berdiri dengan tegap. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Ia menatap lurus ke arah Shen Cangqiu dan para tetua dengan pandangan yang merendahkan, seolah-olah ia adalah penguasa mutlak yang turun dari Sembilan Cakrawala untuk menjatuhkan hukuman.

"Tetua Agung Shen Cangqiu," suara Shen Yuan menggema, membelah kesunyian pelataran yang dipenuhi bau darah. "Aku membawa lonceng kematian ini khusus untuk upacara pemakaman kubumu. Apakah kau menyukainya?"

1
Bucek John
kiankun kepala keluarga Lin disio siokan, gak ditoleh, padahal harta sdh jelas byk sekali n harta klan lin gak diambil, sia sia harta menang prang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!