Ia mati sebagai manusia biasa…
dan terlahir kembali di dunia kultivasi sebagai bayi fana tanpa latar belakang.
Namun, bersama jiwanya, ia membawa sebuah rahasia besar—
Kitab Dao Surgawi.
Sebuah harta karun yang mampu meningkatkan pemahaman terhadap teknik dan mantra,
membuat yang mustahil menjadi mungkin. Harta yang menantang langit itu sendiri!
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya,
di mana klan kuat menginjak yang lemah,
dia memulai langkahnya dari nol.
Tanpa bakat luar biasa.
Tanpa dukungan siapa pun.
Hanya dengan satu kitab… dan tekad untuk naik ke puncak Dao.
Ini adalah kisah tentang perjalanan seseorang yang menantang langit itu sendiri!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.7 - Kembali ke Rumah
Tidak ada yang dapat menahan laju konsumsi ini!
Dia lalu duduk bersila dan memulihkan energi Qi-nya.
Setelah energi Qi-nya pulih dan kelelahannya menghilang, Ling Yuanli bangkit berdiri.
“Dua Prestasi Besar dan satu Prestasi Kecil…” gumamnya. Matanya bersinar terang. Dia berubah dari biasa-biasa saja menjadi sosok yang hebat.
Dia mengepalkan tangannya. Jantungnya berdetak kencang. Dia memikirkan turnamen tiga tahunan klan yang akan diadakan bulan depan. “Saya pasti akan bersaing untuk tempat yang lebih tinggi.”
Tangannya terkepal semakin kuat. Hadiah untuk peringkat teratas di turnamen klan sangat besar. Selain dari berbagai pil, ada Teratai Air Biru Kelas Dua untuk peringkat pertama di setiap kategori!
Dan Ling Yuanli membutuhkannya! Teratai Air Biru dapat ia tukar dengan Pil Obat untuk penyakit adiknya di pasar bebas.
“Saya tidak akan kalah kali ini…” emosi Ling Yuanli semakin dalam. Di kelompok Pemurnian Qi tingkat Menengah, dia yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Dia tidak sombong. Dia percaya diri! Kekuatannya telah melampaui mereka yang berada di alam minor tahap Menengah Pemurnian Qi!
Turnamen tiga tahunan dilaksanakan untuk mendorong para anggota klan agar terus meningkatkan kekuatannya.
Hanya mereka yang tekun yang berhak memperoleh hadiah.
Dengan emosi untuk berkembang, Ling Yuanli melewati satu bulan dalam kultivasi tertutup. Dia bahkan mengabaikan ladang spiritualnya.
Beras Roh tingkat Rendah tidak berpengaruh banyak pada basis kultivasinya. Dia membutuhkan Beras Roh tingkat Menengah.
Dia mengelola ladang sekadar untuk menenangkan pikirannya saat sedang kacau.
Satu bulan berlalu dalam tenang. Tidak ada insiden yang berarti dalam waktu itu, kecuali seorang kultivator lepas yang tidak sengaja tersesat di kota Yulin. Ling Yuanli langsung mengusirnya saat itu.
Dia sedang duduk bersila saat sebuah jimat melintasi langit dan terbang menuju gubuknya.
“Jimat Transmisi… klan memanggil seluruh anggota untuk kembali.”
Ling Yuanli meraih jimat yang melayang di udara dan membaca pesan di dalamnya.
Dia lalu membersihkan diri dan segera meninggalkan gunung itu.
Dalam perjalanan, dia sesekali bertemu dengan anggota klan. Beberapa memakai jubah hitam dengan pola biru emas pucat. Mereka adalah pasukan patroli.
Mereka sedang menjalankan misi patroli sebelum turnamen dimulai. Mereka harus memastikan tidak ada penyusup yang mungkin mengganggu wilayah kekuasaan Klan Ling saat turnamen dilaksanakan.
Beberapa anggota klan yang lain sama sepertinya. Yang baru saja meninggalkan tugas dan kembali ke klan.
Ling Yuanli tidak terlalu mengenal mereka. Dan mereka juga tidak terlalu mengenalnya. Mereka hanya saling melirik dan mengangguk sopan.
Ling Yuanli bergerak pelan mengikuti mereka. Dia hanya menunjukkan tingkat penguasaan Awal pada Teknik Langkah Bayangan.
Bukannya dia ingin menyembunyikan kekuatannya. Dia hanya tidak terburu-buru. Turnamen klan akan diadakan besok.
Saat jarak ke klan tersisa seratus mil, Ling Yuanli berbelok arah ke timur.
Dia hendak mengunjungi adiknya di kota Luyin.
Butuh setengah jam saat ia mencapai kota itu.
Kota Luyin berpenduduk hampir seratus ribu jiwa, dan dibangun tepat di bawah kaki gunung, diapit oleh dua sungai. Berbagai lahan pertanian tersebar di sepanjang sisi-sisi sungai.
Hamparan ladang mawar yang luas mengelilingi tembok kota dengan indah.
Inilah Luyin! Si Mawar Gunung!
“Salam Dewa Abadi!” Para penduduk membungkuk hormat setiap kali ia melewati mereka.
Melihat kepergiannya, salah seorang penduduk berbisik kepada rekan-rekannya.
“Dia Ling Li bukan?”
Yang lain mengangguk. “Saya masih mengingatnya. Dulu dia masih ingusan. Saya tidak percaya dia sudah menjadi Dewa Abadi.”
“Keluarga Ling Yun sangat diberkati,” seorang pedagang botak berkata dengan iri. “Istriku yang ketiga akan segera melahirkan. Semoga saja anak yang ia lahirkan diberkati Akar Roh.”
Penduduk yang lain tertawa terbahak-bahak. “Hei, kau memang tidak disukai takdir. Lihat saja, kelima istrimu sudah melahirkan tiga anak dan belum ada yang menjadi Dewa Abadi.”
Yang lain menimpali. “Kau bukan si orang itu, yang beruntung diberkati dua anak dengan Akar Roh setelah menikahi lima istri.”
Pedagang itu terdiam. Lalu menggertakkan gigi, “kalau begitu aku akan menafkahi lebih banyak wanita!”
Yang lain saling melirik dan mengangkat bahu, “ya..ya. Itu urusanmu. Kau memang kaya dan bisa bertanggung jawab.”
Di kejauhan, bibir Ling Yuanli berkedut. Bahkan dari jauh, dia dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Norma di dunia ini sangat aneh,” ucapnya lirih. Dia masih belum terbiasa dengan sudut pandang itu.
Bukan hanya laki-laki, bahkan wanita pun terkadang menikahi banyak pasangan. Selama mereka mampu menghidupi pasangannya, tidak ada yang akan menghentikan tindakan mereka.
Mereka semua berlomba untuk melahirkan anak dengan Akar Roh!
Ling Yuanli berjalan memasuki kota. Tidak ada penjaga yang berani menghentikannya. Mereka menunduk hormat melihat kedatangannya.
Bahkan para ahli bela diri manusia fana yang berkeliaran dengan wajah percaya diri menunduk hati-hati saat melihatnya muncul.
Ling Yuanli tidak terpengaruh dengan tindakan para penduduk. Dia sudah terbiasa. Atau mungkin mati rasa.
Dia berjalan menuju kompleks termewah di kota itu.
Saat dia mencapai sebuah rumah mewah bertingkat tiga yang terbuat dari batu marmer berbagai warna, emosinya bergejolak.
“Sudah lama…” gumamnya rindu.
Berkat identitasnya, posisi keluarganya di kota Luyin meningkat drastis. Adiknya bahkan dinobatkan sebagai bangsawan.
“Siapa?” seorang penjaga membuka gerbang dengan kesal.
Dia sedang menikmati istirahatnya, namun ketukan pintu mengganggu ketenangannya.
Namun saat dia hendak mengeluarkan makiannya pada pengunjung, tubuhnya langsung membeku.
“Tuan muda?” penjaga itu, Ling Xin, tertegun.
“Apa?” Ling Yuanli meliriknya dengan datar. “Kau masih belum melepaskan sifat burukmu, ya.”
“Itu…” Ling Xin menggaruk kepalanya dan tertawa canggung. “Tuan muda, sudah lama tidak bertemu.”
Ling Yuanli menyeringai. Dia mendekat, melirik tubuhnya dan mengangguk pelan. “Bela dirimu sudah mencapai tingkat Master? Lumayan.”
Ling Xin tersenyum. “Semuanya berkat tuan muda. Jika bukan karena tanaman Dewa Abadi yang kau kirim, saya tidak mungkin berkembang sejauh ini.”
“Berhenti menyanjung ku,” Ling Yuanli terkekeh. Dia melirik halaman luas dan bertanya bingung. “Ke mana yang lain? Rumah ini terlalu hening.”
“Ah,” Ling Xin menepuk dahinya dan berkata, “noda muda sedang menghadiri festival bangsawan di rumah walikota. Seluruh penjaga dan pembantu pergi mengawalnya.”
Ling Yuanli mengerutkan kening. “Kau membiarkannya berkeliaran? Kau tahu penyakitnya, kan?”
Wajah Ling Xin berubah pahit. Suaranya tak berdaya. “Saya mencoba melarangnya, tapi nona muda bersikeras. Dia bilang teman-temannya dari luar kota menghadiri festival itu.”
“Keras kepala seperti biasanya, ” Ling Yuanli menghela napas tak berdaya. “Biarkan saja. Mungkin hatinya jauh lebih tenang jika bertemu rekan-rekannya.”
Dia berjalan ke dalam rumah. Matanya langsung melembut. “Saya rindu pada ayah dan ibu.“
Ling Xin mengikutinya dari belakang. “Tuan muda, mereka pasti bangga dari atas sana.”