Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suara tegas terdengar dari belakang. Bianca muncul di pintu, mengenakan pakaian santai. Melihat begitu banyak pria berkumpul di dalam ruangan, ia sedikit terkejut, tetapi tetap berteriak dengan suara keras.
“Wah, cantik banget!”
Begitu melihatnya, mata Dimas langsung berbinar. Cantik sekali. Jika dibandingkan dengan Sari, pesonanya berbeda tetapi sama-sama luar biasa.
“Aku datang untuk menghajar bajingan Bima. Tidak kusangka malah menemukan barang kelas atas seperti ini!” Dimas menjilat bibirnya. “Bang Tigor! Suruh anak buahmu tangkap gadis ini. Nanti kita bersenang-senang dengannya!”
Bang Tigor hampir menangis di tempat. Ia tentu mengenali Bianca. Bukankah ini polwan yang digoda oleh Bima semalam? Menangkapnya? Bersenang-senang dengannya? Bahkan kalau gadis itu menyerahkan diri pun, ia tidak akan berani menyentuhnya!
Saat itu Bima kembali memberi kedipan mata. Bang Tigor langsung mengerti. Ia menggertakkan gigi. “Saudara-saudara! Dengarkan Tuan Muda Dimas! Tangkap gadis ini!”
Anak buahnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mendengar perintah bos, mereka langsung menyerbu Bianca.
“Cari mati!”
Bianca jelas bukan orang yang mudah ditindas. Meski dikepung banyak orang, ia sama sekali tidak gentar. Ia memaki keras dan langsung menyerbu ke tengah kerumunan.
Buk! Satu tendangan langsung menjatuhkan pria di depannya.
Duk! Satu pukulan lagi menghantam hidung orang lain.
Dalam sekejap, dua orang langsung tumbang.
“Pedas juga gadis ini! Aku suka!” seru Dimas dengan mata berbinar. “Saudara-saudara, kerja lebih keras! Tangkap dia!”
Bianca benar-benar mulai bertarung habis-habisan. Kemampuannya memang tidak sekuat Bima, tetapi menghadapi preman jalanan seperti ini masih lebih dari cukup. Dalam sekejap, lima atau enam orang sudah tergeletak di lantai sambil menjerit kesakitan.
Api amarah yang selama ini terpendam di hatinya terhadap Bima akhirnya menemukan pelampiasan pada preman-preman ini. Terutama ketika mendengar teriakan cabul Dimas, kekuatan serangannya semakin ganas.
Namun tepat ketika ia hampir menghabisi seluruh orang di ruangan itu—Bima akhirnya bergerak. Ia tentu tidak bisa membiarkan Bianca menghancurkan seluruh anak buah Bang Tigor.
Dengan gerakan cepat seperti kilat, ia menjentikkan sebutir kacang ke arah lengan Bianca yang sedang terangkat. Dalam sekejap, lengannya terasa mati rasa. Separuh tubuhnya langsung kehilangan kendali. Saat ia masih terkejut, puluhan pria yang tersisa langsung menyerbu dan akhirnya berhasil menahannya.
Bianca kemudian diikat kuat di satu sisi ruangan. Bima pura-pura terkejut.
“Dimas! Apa yang kau lakukan padanya?”
Dimas juga sebenarnya bingung. Barusan gadis itu masih mengamuk, kenapa tiba-tiba tertangkap? Namun kesempatan untuk pamer tentu tidak boleh dilewatkan. Ia tertawa angkuh.
“Kau peduli apa? Siapa pun yang menentangku, akan kuurus!”
Bima berdiri dari sofa dengan wajah marah.
“Permusuhan kita tidak ada hubungannya dengan orang lain! Dia tidak bersalah. Kenapa kau menangkapnya?”
Semakin marah Bima, semakin senang Dimas.
“Haha! Jadi wanita ini ada hubungannya denganmu? Anak sial, keberuntunganmu benar-benar bagus.” Ia menatap Bianca dengan tatapan mesum. “Jangan khawatir. Setelah aku menghancurkanmu, aku akan membantumu mengurusnya dengan baik. Wanita secantik ini, aku sangat menyukainya!”
“Bajingan!” Bianca menggertakkan gigi. “Kalau kau berani menyentuhku, aku tidak akan melepaskanmu!”
Dimas malah tertawa keras. “Yo! Cabai rawit yang pedas! Aku suka!”
Bima kembali berkata keras: “Dimas! Lepaskan dia! Kau tidak boleh menyinggung wanita ini!”
“Persetan!” Dimas mencibir. “Di Jakarta ini tidak ada orang yang tidak berani kusentuh!” Ia melambaikan tangan. “Bang Tigor! Pingsankan dulu wanita ini. Setelah aku membereskan Bima, baru kita bersenang-senang!”
Bang Tigor menatap Bima dengan hati-hati. Melihat Bima mengangguk tipis, ia langsung maju dan memukul tengkuk Bianca. Bianca pun pingsan.
“Baik, sekarang saatnya menyelesaikan urusan kita.” Dimas baru saja memperhatikan dua plakat arwah di ruangan itu. “Apa ini? Dua papan kayu buat orang mati? Sialan, bikin sial saja! Bang Tigor, suruh anak buahmu gerak! Hancurkan kedua kakinya!”
Ia merasa sangat puas. Namun saat itu—ia tidak melihat kilatan niat membunuh yang tiba-tiba muncul di mata Bima. Suhu di seluruh ruangan seolah turun drastis.
Ia menyebut plakat itu… papan kayu orang mati?
Bima menarik napas dalam. Ia menoleh menatap kedua plakat arwah itu. Kesedihan melintas di matanya.
“Ya… sekarang memang waktunya menyelesaikan permusuhan kita.” Ia berkata pelan: “Menghina saudaraku… tidak bisa dimaafkan. Tigor, tutup mulut baunya.”
“Hah? Tigor?” Dimas belum sempat memahami maksudnya.
Namun semuanya sudah terlambat. Bang Tigor tiba-tiba meraih asbak marmer di meja. Dengan satu tangan ia mencengkeram belakang kepala Dimas.
Lalu— BRAK!
Asbak itu dihantamkan keras ke mulut Dimas.
“Aaaaah!” Dimas menjerit kesakitan. Mulutnya langsung berdarah, dan beberapa giginya terlempar keluar.
“Bajingan yang tidak tahu langit dan bumi! Berani menyinggung Tuan Bima kami!” Bang Tigor adalah bos lama. Ia kini sudah mengambil keputusan untuk berdiri di pihak Bima, meskipun lawannya adalah anak pemilik Prawira Group.
“Tuan Bima… apakah perlu dilanjutkan?” tanya Bang Tigor sambil melirik Dimas yang sudah berlumuran darah.
Ekspresi Bima tetap dingin. “Kalau sudah berani main di jalanan, harus siap menanggung akibat. Buat satu pun giginya tidak tersisa.”
Bang Tigor menggigil. Ia belum pernah melihat orang sedingin ini. “Baik! Semuanya akan dilakukan sesuai perintah Tuan Bima!”
Ia kembali mencengkeram kepala Dimas dan menghantamkan asbak ke mulutnya berulang kali. Sekali. Dua kali. Hingga tujuh atau delapan kali berturut-turut. Mulut Dimas sudah berantakan, lebih dari dua puluh giginya hancur.
Barulah Tigor berhenti. Anak buah di sekitarnya langsung pucat pasi. Mereka semua memandang Bima dengan ketakutan.
Siapa sebenarnya pria ini? Dan hukuman apa lagi yang akan ia berikan pada Dimas?
Wajah Dimas yang sudah babak belur tampak seperti bunga yang mekar oleh darah. Ia benar-benar terpukul—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental.
“Tigor, bajingan! Berani-beraninya kau memukulku! Aku sudah memberimu uang!”
Wajah Dimas berlumuran darah, ekspresinya menyeramkan. Dengan gigi yang hampir tanggal semua, ia berteriak dengan suara cadel yang lucu.
“Uangnya… kalau begitu akan kukembalikan…”
Bang Tigor berdiri di samping dengan perasaan bersalah. Kemarin, Paman Surya—kepala pelayan keluarga Dimas, pemilik Prawira Group—memberinya sejumlah uang besar agar ia mengikuti Dimas untuk memberi pelajaran pada seorang anak muda.
Ia langsung menyetujuinya tanpa banyak pikir. Bagi orang seperti dia, pekerjaan semacam itu sudah biasa. Siapa sangka targetnya ternyata adalah Dewa Pembunuh—Bima.
Kalau sejak awal dia tahu, bahkan jika diberi segunung emas pun, dia tak akan berani mencari masalah dengan Bima. Pertarungan kemarin sudah cukup membuatnya gemetar hingga ke tulang.
“Tuan Bima… sepertinya ini benar-benar hanya kesalahpahaman.”