NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sosok tinggi besar berlari mendekat.

Orang itu masih muda, tetapi tingginya hampir dua meter. Tubuhnya kekar seperti banteng, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

Melihatnya, Arka menelan ludah.

“Banu! Baru sebulan kita tidak bertemu… bagaimana mungkin kau tumbuh setinggi ini lagi?!”

Pemuda itu adalah Banu Pradana, adik Ratna.

Tahun ini ia baru berusia lima belas tahun.

Ya… benar-benar baru lima belas tahun.

Namun melihat tubuhnya, tidak ada seorang pun yang akan percaya usia itu.

Tingginya hampir dua meter. Bahkan Arka yang duduk di atas kuda tampak hampir sejajar dengannya.

Berat badannya lebih dari seratus kilogram—bukan karena gemuk, melainkan karena otot-ototnya yang besar dan padat.

Kulitnya kecokelatan, dan setiap otot di tubuhnya memancarkan kekuatan yang menakutkan.

Kekuatan tenaga dalamnya memang hanya berada di tingkat keempat Alam Dasar, tetapi kekuatan fisiknya luar biasa. Ia bahkan mampu bertarung seimbang melawan orang yang berada di tingkat keenam Alam Dasar.

Banu Pradana adalah sahabat terbaik Arka.

Bahkan… satu-satunya sahabatnya.

Sejak kecil, ia selalu memanggil Arka sebagai “kakak ipar”.

Sebelum berusia delapan tahun, Banu sebenarnya kurus dan berkulit gelap, sering menjadi sasaran perundungan.

Namun sejak usia delapan tahun, tubuhnya seolah mengalami pertumbuhan yang tidak masuk akal.

Tinggi badan, berat badan, nafsu makan, dan kekuatannya meningkat secara drastis.

Kini di usia lima belas tahun, meskipun wajahnya masih kekanak-kanakan, ukuran tubuhnya benar-benar mengerikan.

Mendengar seruan Arka, Banu menggaruk kepalanya dengan malu.

“Ini… aku sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ayahku setiap hari menyuruhku diet. Tapi menahan lapar jauh lebih menyiksa daripada dibunuh orang.”

“…”

Arka langsung terdiam.

Saat ini saja Banu baru lima belas tahun.

Jika nanti benar-benar dewasa… Arka bahkan tidak berani membayangkannya.

Ia tahu betul betapa besar nafsu makan Banu.

Untung saja dia lahir di Keluarga Pradana.

Jika lahir di keluarga biasa, biaya makan saja sudah cukup untuk membuat keluarganya bangkrut.

“Hehe, kakak ipar. Hari ini akhirnya kau benar-benar menjadi kakak iparku.”

Senyum Banu terlihat polos dan tulus.

Dalam pikirannya, dengan kakak perempuan sekuat Ratna, tidak akan ada lagi orang yang berani meremehkan Arka.

“Ayo cepat masuk! Kakakku sudah menunggumu.”

Ia menepuk kepalanya.

“Oh iya, aku akan membuka pintu!”

Setelah itu Banu berlari menuju gerbang besar, seperti gunung daging yang bergerak.

Rombongan pun memasuki halaman luas Keluarga Pradana.

Di depan pintu utama, Arka melihat Heru Pradana berdiri sambil tersenyum.

Arka segera turun dari kuda dan memberi hormat.

“Paman Heru.”

“Haha! Setelah sekian lama, kau masih memanggilku paman?”

Heru Pradana tertawa.

Tubuhnya tidak tinggi, bahkan sedikit gemuk. Wajahnya terlihat sederhana dan jujur.

Namun di seluruh Kota Tirta Awan, tidak ada seorang pun yang berani meremehkannya.

Mata Arka berbinar.

“Ayah mertua.”

“Haha, bagus!”

Heru Pradana mengangguk puas dan menepuk bahu Arka.

“Arka… mulai hari ini aku menyerahkan Ratna kepadamu.”

“Walaupun kau bukan pahlawan besar, kau adalah putra Yasa Wijaya. Karena itu aku merasa tenang mempercayakan putriku padamu.”

“Ayahmu adalah pria luar biasa. Menjadi saudara angkatnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah kusesali seumur hidup.”

“Ia berjiwa besar dan menjunjung kebenaran.”

“Kau adalah putranya.”

“Meski urat tenaga dalammu rusak… aku tidak percaya kau akan selamanya menjadi orang biasa.”

“Perlakukan putriku dengan baik.”

“Adapun orang-orang yang hanya pandai memfitnah dan mencemooh… abaikan saja mereka.”

Mata Arka langsung menyala penuh tekad.

Ia mengangguk mantap.

“Ayah mertua, jangan khawatir.”

“Meskipun sekarang aku diremehkan, suatu hari nanti ketika urat tenaga dalamku pulih… naga yang tertidur di dasar jurang akan bangkit.”

“Aku akan membuat semua orang yang meremehkanku—dan mereka yang menganggap Keluarga Pradana mengambil menantu sampah—menutup mulut mereka sendiri.”

Heru Pradana sedikit terkejut.

Selama ini ia mengenal Arka sebagai pemuda lembut, agak rendah diri, dan cenderung pendiam.

Namun kata-kata tegas, sorot mata tajam, serta ketenangan Arka saat ini membuatnya memandang pemuda itu dengan cara yang benar-benar berbeda.

“Bagus!”

Heru Pradana mengangguk lagi sambil menepuk bahunya.

“Aku tahu putra Yasa Wijaya tidak mungkin menjadi anak biasa.”

“Aku akan menunggu hari ketika naga itu bangkit.”

“Baiklah… Ratna sudah menunggumu.”

“Pergilah.”

Ratna Pradana muncul diapit oleh dua pengiring pengantin.

Di atas kepalanya terpasang mahkota burung phoenix merah yang megah. Dari mahkota itu menjuntai tirai manik-manik halus yang menutupi seluruh wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang tengah terlukis di baliknya.

Rambut hitamnya yang lembut dan berkilau terurai rapi hingga ke belakang bahu. Jubah merah menyala yang dikenakannya dihiasi motif awan, sementara ikat pinggangnya menonjolkan pinggang rampingnya dengan anggun. Pada ikat pinggang itu tergantung liontin giok yang indah, dengan untaian mutiara menjuntai di bawahnya—serasi dengan sepatu emas yang dikenakannya.

Setiap detail busana itu membuat penampilannya tampak semakin memukau.

Didampingi kedua pengiring, Ratna Pradana melangkah perlahan menuju sisi Arka Wijaya.

Langkahnya ringan dan anggun, seolah ia berjalan di atas awan. Bagi orang biasa, ia hanya tampak berjalan seperti biasa. Namun jika seseorang benar-benar memperhatikannya, gerakannya tampak seperti peri yang melayang di udara.

Posturnya yang anggun sudah cukup memikat hati siapa pun, dan kini pemandangan itu menjadi jamuan luar biasa bagi mata Arka.

Akhirnya Ratna berhenti di depan kereta pengantin. Kedua pengiringnya mundur sambil membungkuk.

Sesuai tradisi Kerajaan Surya Kencana, pengantin pria harus membantu pengantin wanita naik ke kursi pengantin.

Arka melangkah maju dan mengulurkan tangannya.

Ratna Pradana dengan anggun mengangkat tangannya pula.

Namun saat tangan mereka bersentuhan—

Energi dingin yang menusuk tiba-tiba menyebar ke tangan Arka.

Rasa dingin itu begitu tajam hingga seolah menusuk tulang, membuat seluruh lengan kanannya menegang karena nyeri dan hampir lumpuh.

Sensasi dingin itu perlahan menghilang ketika Arka menurunkan lengannya.

Wajahnya tetap tenang dan acuh tak acuh.

Selain kerutan singkat di antara alisnya saat hawa dingin itu menyerang, ia tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Tidak ada keluhan. Tidak ada suara.

Jika tirai manik-manik Ratna disingkap saat itu, seseorang akan melihat secercah keterkejutan di mata indahnya—sebelum dengan cepat kembali berubah menjadi dingin dan tenang.

Arka kemudian naik kembali ke atas kudanya.

Iring-iringan pernikahan pun bergerak maju dengan megah.

Rombongan Keluarga Pradana mengikuti di belakang, menuju kediaman Keluarga Wijaya.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!