Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang bocah kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, bocah itu merupakan anak kesayangan seorang duda berpengaruh.
Sebelumnya, Jenna tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat
Pada saat yang sama, di Rumah Sakit.
Ruang VIP tempat Juju dirawat sedang dalam keadaan kacau. Bocah kecil itu berdiri di ambang jendela dengan kaki telanjang. Ia berteriak keras dengan emosi meluap.
Para dokter dan perawat sudah mencoba membujuknya, tetapi ia tetap tidak mau turun. Xander membujuknya seperti sedang menghadapi harta paling berharga di dunia.
Sayangnya, semua usahanya diabaikan sepenuhnya. Marco baru saja kembali ke perusahaan, jadi Xander tidak punya pilihan selain meneleponnya kembali.
“Kak, akhirnya kamu datang! Tadi Juju baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia ngamuk!”
“Apa yang terjadi?” tanya Marco dengan suara rendah.
“Aku juga gak tahu. Setelah bangun, dia cari seseorang ke mana-mana. Aku pikir dia lagi cari Jenna, jadi aku bilang dia gak usah cari lagi karena wanita cantik itu sudah pergi. Begitu aku selesai ngomong, dia langsung ngamuk. Juju kelihatannya suka banget sama Jenna. Tapi masa cuma dengar dia pergi langsung bereaksi segitunya?”
Sudah lama sekali Juju tidak menunjukkan emosi sekuat itu. Setelah mendengar penjelasan itu, Marco langsung berjalan ke arah putranya.
Begitu melihat ayahnya mendekat, Juju langsung mundur dengan waspada. Matanya penuh kewaspadaan dan penolakan. Bahkan terhadap ayahnya sendiri. Marco berhenti tiga langkah dari putranya.
Dengan suara tenang ia berkata, “Saat paman bilang wanita itu sudah pergi, maksudnya memang begitu. Kondisinya baik-baik saja, jadi dia sudah keluar dari rumah sakit dan pulang. Dia tidak meninggal. Tidak seperti nenekmu yang pergi dan tidak pernah kembali. Mengerti?”
Sepertinya hanya saat menghadapi putranya Marco bisa begitu sabar dan berbicara sepanjang ini.
Xander melongo.
“Serius? aku cuma bilang dua kata, ‘dia pergi’, dan otaknya langsung Lompat sejauh itu?”
Juju sendiri melihat Jenna jatuh pingsan sebelumnya. Dengan kondisi emosinya yang sedang kacau, tidak aneh kalau ia salah paham.
Setelah mendengar penjelasan ayahnya, Juju berhenti berteriak. Namun ia tetap menunduk dan meringkuk di ambang jendela.
Melihat itu, Marco mengeluarkan secarik kertas. “Dia meninggalkan ini buat kamu. Mau lihat?”
Tubuh Juju langsung bergerak. Seakan sebuah saklar baru saja dinyalakan.
Ia segera mengangkat kepala dan membuka kedua tangannya, meminta ayahnya menggendongnya.
Semua orang di ruangan itu sudah hampir putus asa membujuknya.
Namun Marco hanya membutuhkan selembar kertas untuk menyelesaikan semuanya.
Xander awalnya merasa meminta Jenna menulis pesan itu tidak perlu. Sekarang ia benar-benar yakin itu keputusan yang tepat.
Marco menggendong putranya ke sofa dan duduk, lalu menyerahkan kertas itu. Juju langsung menerimanya dengan penuh semangat. Ia sudah belajar membaca sejak lama, jadi ia bisa membaca sendiri.
Di kertas itu tertulis:
“Sayang, makasih sudah nyelametin aku. kamu hebat banget. XOXO~”
Di akhir kalimat ada gambar hati kecil. Mata Juju langsung berbinar. Pipinya bahkan sedikit memerah. Walau ia berusaha menahan diri, sudut bibirnya tetap naik sedikit. Ekspresinya sangat menggemaskan.
Xander seperti baru saja melihat hantu. “Astaga, aku barusan gak salah lihat, kan? Juju… senyum? aku bahkan gak ingat kapan terakhir kali dia senyum! Emangnya Jenna nulis apa sih?”
Xander ingin mengintip. Namun Juju langsung menyembunyikan kertas itu seperti harta paling berharga. Meski begitu, mata tajam Xander sudah sempat melihat isinya.
Hanya pesan sederhana. Tapi bisa membuat Juju sebahagia itu?
Wanita bernama Jenna ini memang luar biasa. Marco hanya menatap putranya dengan lembut tanpa berkata apa-apa. Setelah Juju bangun, ia langsung membawanya pulang.
Bahkan semua pekerjaannya di perusahaan ia tunda untuk menemani putranya di rumah.
Malam hari.
Di vila nomor 16, Glorium Orchid.
Ruang tamu besar terasa dingin. Seorang pria dan seorang anak duduk saling berhadapan di meja makan dengan ekspresi dingin yang sama.
Marco berkata, “Makan.”
Juju mengabaikannya.
Marco berkata lagi, “Ini terakhir kali aku bilang.”
Juju bahkan tidak bergerak sedikit pun.
“Kamu pikir mogok makan kekanak-kanakan seperti ini bisa berhasil sama aku?”
Juju duduk seperti biksu tua yang sedang bermeditasi. Sepenuhnya tenggelam dalam dunianya sendiri. Keduanya terus saling berhadapan.
Satu jam berlalu.
Akhirnya Marco menelepon Xander.
“Kirim alamat Jenna.”
Jadi ternyata… Mogok makan memang berhasil terhadapnya.
Xander langsung mengirim alamat Jenna ke HP kakaknya dengan sangat cepat. Bersamaan dengan itu, ia juga mengirim setumpuk pesan gosip.
Semua diabaikan oleh Marco. Kali ini Marco bahkan tidak perlu berkata apa pun.
Begitu melihat ayahnya mengambil jaket dan kunci mobil, Juju langsung mengikuti setiap langkahnya.
Marco menatap bakpau kecil yang berdiri di samping kakinya, lalu dengan pasrah menggendongnya.
***
Hal pertama yang Jenna lakukan setelah pulang adalah tidur siang untuk mengganti waktu tidur yang hilang.
Setelah bangun, ia pergi ke supermarket. Ia membeli bahan-bahan makanan, lauk, dan juga bir untuk membuat hotpot.
Pertempuran pertama sudah dimenangkan. Jadi malam ini ia akan merayakannya dengan hotpot di rumah. Makan hotpot sendirian memang terasa sangat sepi.
Tapi ia sudah terbiasa. Selama ini ia memang lebih sering hidup sendirian. Saat ia baru saja akan mulai memasak, terdengar ketukan di pintu.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Dengan bingung, Jenna membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia langsung terpaku.
Di luar berdiri Marco dengan setelan jas rapi dan mantel gelap. Di lengannya ada si bakpau kecil. Di tangannya ada keranjang buah berwarna-warni.
Kombinasi apa ini?
“Tuan Alamsyah?” Jenna menelan ludah. “Kenapa tiba-tiba datang malam-malam begini? Ada apa?”
Bibir tipis Marco mengucapkan dua kata. “Menjenguk orang sakit.”
Menjenguk orang sakit?
Dia datang sendiri malam-malam, bahkan membawa bakpau kecil?
Padahal lukanya cuma sedikit. Dia masih bisa lompat ke sana kemari.
“Eh… Tuan Alamsyah terlalu sopan. Maaf rumahnya berantakan, silakan masuk.”
Jenna masih linglung, tapi tetap mempersilakan mereka masuk.
Ia segera membereskan ruang tamu dengan panik. Barang-barang di sofa dipindahkan, tumpukan pakaian didorong masuk ke bawah tempat tidur.
“Silakan duduk. Mau minum apa? Teh hijau atau susu?”
Sambil sibuk, Jenna terus berpikir keras mencari alasan kenapa Marco datang. Sayangnya, ia tetap tidak bisa menebaknya. Cara berpikir pria itu terlalu sulit ditebak.
“Baik.” Marco mengangguk singkat, seperti seorang komandan yang baru menerima laporan militer.
Jenna hanya bisa makin bingung. Ia membuatkan teh untuk Marco dan susu untuk bakpau kecil.
Marco duduk kaku di sofa kecil ruang tamu, dengan bakpau kecil duduk di sampingnya.
Ayah dan anak itu bukan hanya mirip wajahnya. Ekspresi mereka juga sama persis. Tanpa ekspresi. Diam.
Suasana menjadi sangat canggung. Jenna hampir menangis saat duduk di seberang mereka.
Astaga.
Sebenarnya mereka datang buat apa?
Pada saat itu, panci di dapur mulai mendidih. Aroma pedas hotpot menyebar ke seluruh ruangan.
Untuk memecah keheningan, Jenna berkata santai, “Kalian sudah makan malam belum? aku lagi mau makan hotpot. Mau makan bareng?”
Marco menjawab, “Mau.”
Bakpau kecil mengangguk.
Ia cuma basa-basi.
Kenapa mereka langsung setuju?
Yang satu CEO besar, yang satu tuan muda keluarga kaya. Mereka pasti sudah makan segala macam makanan mewah.
Kenapa malah datang ke rumahnya untuk makan hotpot sederhana seperti ini?
Jenna sedikit malu dengan hidangan seadanya.
Tapi karena sudah terlanjur berkata begitu, ia hanya bisa mengajak mereka ke meja makan dan menambahkan dua pasang sumpit.
“Kuahnya lumayan pedas. Kalian bisa makan pedas?” tanya Jenna khawatir.
“Bisa,” jawab Marco.
Bakpau kecil mengangguk lagi.
Baiklah.
Jenna membawa bahan-bahan yang sudah dicuci. Marco tidak banyak makan. Ia lebih sering memasakkan makanan untuk mereka.
Sebaliknya, bakpau kecil ternyata sangat suka pedas seperti Jenna. Walaupun lidahnya kepedasan sampai menjulurkan lidah, ia tetap terus makan.
Jenna akhirnya sedikit khawatir. “Anak kecil boleh makan pedas sebanyak ini?”
Kalau sampai terjadi sesuatu pada pangeran kecil ini, ia tidak sanggup menanggung akibatnya.
“Dia gak selemah itu,” kata Marco.
Mendengar itu, Jenna tidak berani membantah lagi. Tiba-tiba Marco yang biasanya pendiam membuka percakapan.
“Bagaimana audisinya?”
Jenna sempat tertegun sebelum menjawab. “Lumayan lancar. Jadi aku bikin hotpot hari ini buat merayakan.”
Marco mengangkat gelasnya. “Selamat.”
Jenna benar-benar tidak menyangka bahwa orang pertama yang mengucapkan selamat padanya ternyata adalah Marco.