"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Rumah Baru, Luka Lama
...GAMON...
...Bab 31: Rumah Baru, Luka Lama...
...POV Rina & Bima...
---
Sabtu – 09.00 WIB
Rumah Baru – Perumahan Citra Garden, Bekasi
Rumahnya nggak besar. Tapi cukup. Dua kamar tidur, ruang tamu, dapur kecil, dan halaman belakang selebar tiga meter. Tembok depan dicat putih bersih. Pintu kayu cokelat tua. Di teras, dua pot tanaman lidah mertua yang Rina beli seminggu lalu—masih segar, masih hijau.
Rina berdiri di depan pintu. Koper di tangan. Pagi ini baru balik dari Bali. Belum sempat buka koper. Belum sempat istirahat. Tapi dia udah mau bersihin rumah.
"Masuk dulu, Rin. Capek." Bima dari belakang. Koper besar di tangan.
"Nggak. Aku mau liat rumah dulu. Udah sebulan nggak liat."
Bima diem. Liat Rina. Rambut masih agak kusut. Baju masih sama kayak tadi di pesawat. Tapi matanya—matanya ada cahaya. Cahaya yang semalem sempat padam.
"Ya udah. Aku bukain pintu."
Bima buka pintu. Rumah kosong. Belum ada furnitur. Hanya meja kayu sederhana di ruang tamu—pemberian ibu mertua buat awal-awal. Bau cat masih sedikit menyengat. Lantai keramik mengilap kena cahaya matahari dari jendela.
Rina masuk. Dia jalan ke ruang tamu. Ke dapur. Ke kamar. Ke halaman belakang. Setiap sudut dia liat. Tangan meraba dinding. Jari-jari menyusuri keramik.
"Ini rumah kita, Bim."
Bima dari pintu dapur. Senyum tipis.
"Iya."
Rina balik. Hadap Bima. Matanya basah. Tapi senyum.
"Aku bahagia."
Bima jalan mendekat. Peluk dia.
"Gue juga."
Mereka berpelukan di tengah ruang tamu yang kosong. Di antara dinding putih dan lantai keramik yang masih mengilap.
Tapi di pelukan itu, Rina tahan napas. Dia masih ingat. Semalem. Janji Bima. Gue akan usaha.
Semoga.
---
11.00 WIB
Dapur Kecil – Rumah Baru
Rina sibuk di dapur. Udah ganti baju—kaos oblong, celana pendek, rambut diikat asal. Koper masih belum dibuka, tapi dia paksain bersihin dapur dulu.
Bima di ruang tamu. Lagi bongkar kardus-kardus yang dikirim dari apartemen. Buku, pakaian, peralatan dapur. Semua masih berantakan.
"Bim!" teriak Rina dari dapur.
"Iya?"
"Lo bisa bantu bersihin kaca jendela? Debu banget."
Bima jalan ke dapur. Ambil lap. Mulai bersihin.
Rina liat dari belakang. Pundak Bima lebar. Tangannya terampil. Lap diputer-puter biar jendela kinclong.
Dia inget dulu. Waktu masih pacaran, Bima juga gini. Ngebantu bersihin apartemennya. Tanpa diminta. Tanpa dibayar. Cuma karena dia mau.
Sekarang, suaminya. Ngebantu bersihin rumah mereka.
Tapi kenapa di dada masih ada yang sesak?
"Rin."
Rina kaget. "Iya?"
"Lo liatin aku dari tadi." Bima senyum. "Ada yang salah?"
Rina geleng. Cepet.
"Nggak. Cuma... seneng."
Bima balik bersihin. Rina juga balik nyuci piring.
Tapi di dalam hati, dia nanya: Aku seneng karena kita punya rumah, atau karena dia ada di sini? Atau karena aku berharap, dengan rumah baru, dia bisa jadi baru?
---
14.00 WIB
Ruang Tamu – Masih Berantakan
Mereka istirahat. Duduk di lantai. Punggung sandar ke dinding. Di depan, tumpukan kardus masih menunggu.
Rina buka satu kardus. Buku-buku Bima. Ada yang kuliah, ada yang novel, ada yang buku pengembangan diri.
"Bim, buku lo banyak banget."
"Iya. Dulu suka baca. Sekarang jarang."
Rina ambil satu. Buku catatan. Sampul cokelat. Udah agak lecek di pinggir.
"Ini apa?"
Bima liat. Matanya berubah.
"Itu... catatan lama."
Rina pegang buku itu. Nggak buka. Liat Bima.
"Boleh aku baca?"
Bima diem sebentar. Lalu angguk.
Rina buka.
Halaman pertama: "Hal-hal yang Harus Aku Buktikan."
Dia baca. Poin satu, dua, tiga. Semua tentang membuktikan. Semua tentang Keana.
Jari Rina gemetar. Tapi dia lanjut.
Halaman berikutnya. "Hal-hal yang Baru Aku Pahami." Poin satu: "Aku nggak perlu buktiin apa-apa ke dia. Yang perlu aku buktiin ke diri sendiri."
Rina angkat muka. Liat Bima.
"Ini lo tulis kapan?"
Bima nunduk. "Waktu... masih proses."
"Proses move on?"
"Iya."
Rina tutup buku. Taruh di samping.
"Sekarang? Lo udah bisa buktiin ke diri sendiri?"
Bima angkat muka. Matanya—ada perang di sana.
"Gue... masih belajar, Rin."
Rina diem. Lalu ambil buku itu. Kasih ke Bima.
"Simpen. Tapi jangan di tempat yang gampang dilihat."
Bima pegang buku itu. Rina berdiri. Lanjut bongkar kardus.
---
17.00 WIB
Ibu Bima Datang
Pintu diketuk. Bima buka. Ibu di depan, bawa plastik besar.
"Ibu!"
"Nak! Ibu bawain makanan. Lo pasti belum makan siang, kan? Rumah baru, pasti masih berantakan."
Ibu masuk. Rina dari dapur langsung nyamper.
"Ibu!"
Ibu peluk Rina. Lama. Lebih lama dari biasanya.
"Ibu kangen."
Rina di pelukan itu, hampir nangis. Tapi tahan.
"Aku juga, Bu."
Ibu lepas. Liat rumah. Kosong. Berantakan. Tapi dia senyum.
"Bagus. Rumah kalian. Nanti Ibu bantuin atur."
Mereka bertiga duduk di lantai. Kardus jadi meja. Makanan Ibu dibuka—ayam goreng, tempe orek, sambal, lalap. Sederhana. Tapi hangat.
"Ibu, rumahnya masih kosong banget," kata Rina.
"Nanti juga rame. Pelan-pelan." Ibu liat Bima. "Kamu bantuin istri lo, ya."
Bima angguk. "Iya, Bu."
Ibu liat mereka bergantian. Ada sesuatu di matanya. Kayak nanya: Kalian baik-baik aja?
Tapi dia nggak nanya.
---
19.00 WIB
Ibu Pamit
"Ibu pulang dulu. Nanti malem, lo jangan begadang. Rumah masih berantakan, besok lanjut."
Ibu peluk Rina lagi. Kali ini, di telinga, Ibu bisik.
"Rin, Ibu tahu. Ibu tahu lo lagi berat. Tapi Ibu percaya, lo kuat."
Rina pegang erat.
"Makasih, Bu."
Ibu lepas. Liat Bima.
"Nak, jaga istri lo."
Bima angguk. "Iya, Bu."
Ibu pergi. Rina di pintu, liat mobil Ibu mundur. Sampai hilang di ujung perumahan.
---
21.00 WIB
Kamar Tidur – Malam Pertama di Rumah Baru
Rumah masih berantakan. Tapi kamar tidur udah rapi. Kasur ditata. Sprei putih—beli baru. Bantal dua. Selimut tipis.
Rina udah di kasur. Bima masih di ruang tamu. Dia denger suara kardus digeser. Suara Bima napas berat.
Dia pejam mata. Capek.
Pintu kamar terbuka. Bima masuk. Lampu dimatikan. Gelap.
"Rin."
"Hmm?"
Bima rebahan di samping. Jarak satu lengan.
"Gue... nggak akan buka buku itu lagi."
Rina buka mata. Gelap. Tapi dia dengar suara Bima. Jujur.
"Lo simpan di mana?"
"Di lemari. Di bawah baju."
Rina diem. Lalu bergerak. Tangannya nyari tangan Bima. Digenggam.
"Nggak usah dibuang. Tapi jangan di tempat yang gampang dilihat."
Bima balas genggam.
"Gue janji."
Mereka diem. Di kamar baru. Di rumah baru. Dengan luka lama yang masih nempel.
Tapi malam itu, Rina tidur lebih nyenyak daripada semalem.
---
Bersambung ke Bab 32: Rina Mulai Bikin Jurnal
---
📝 Preview Bab 32:
Rina mulai bikin jurnal. Nulis semua yang dia rasain. Rahasia. Nggak ada yang tahu.
Dia tulis tentang Bima. Tentang Keana. Tentang rasa sakit yang nggak bisa dia omongin.
Tapi suatu hari, Bima nemu jurnal itu. Terbuka. Di meja.
Dan dia baca.
Bab 32: Rina Mulai Bikin Jurnal—segera!
---