NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Jejak yang Tak Terhapus

​Pagi itu, mentari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang berwarna abu-abu muda—warna pilihan Aris, bukan Hana. Hana sebenarnya menyukai warna-warna pastel yang hangat seperti krem atau kuning gading, namun selama sepuluh tahun ini, ia belajar bahwa mencintai Aris berarti merelakan selera pribadinya demi kenyamanan sang suami. Baginya, itu adalah bentuk ibadah, sebuah pengorbanan kecil yang ia kumpulkan setiap hari untuk menjaga kedamaian di "surga" mereka.

​Hana terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Tubuhnya sudah terbiasa dengan ritme pelayanan. Pukul 04.30 pagi, ia sudah harus berada di dapur. Ia menoleh ke samping, tempat Aris masih terlelap dengan napas yang teratur. Wajah suaminya saat tidur terlihat begitu tenang, jauh dari ekspresi dingin dan ketus yang ia tunjukkan semalam. Untuk beberapa detik, Hana membiarkan dirinya terhanyut dalam sisa-sisa rasa kagumnya. Garis rahang Aris masih tegas, ketampanannya belum luntur oleh usia, justru semakin matang.

​“Mas, apakah kamu masih orang yang sama dengan pria yang melamarku di bawah hujan sepuluh tahun lalu?” bisik Hana dalam hati. Ia ingin sekali mengusap kening Aris, namun ia urungkan. Ia takut sentuhannya justru akan memicu kemarahan yang tertunda dari semalam.

​Hana bangkit dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur suaminya. Ia melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin yang menusuk tulang, lalu segera turun ke lantai bawah.

​Dapur adalah kerajaan Hana. Di sinilah ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Pagi ini, ia memutuskan untuk membuat sarapan yang sedikit lebih istimewa: nasi goreng kambing dengan taburan emping dan acar segar. Ia ingat, dulu Aris pernah berkata bahwa nasi goreng buatan Hana adalah satu-satunya alasan yang membuatnya ingin cepat pulang dari kantor. Kata-kata itu, meski diucapkan bertahun-tahun yang lalu, masih tersimpan rapi di memori Hana seperti sebuah harta karun.

​Sambil menunggu nasi matang, Hana mulai melakukan rutinitas yang paling ia sukai sekaligus ia benci: merapikan pakaian kerja Aris yang dipakai semalam.

​Ia mengambil kemeja putih Aris yang tersampir di kursi ruang tamu. Bau parfum wanita itu masih ada, meski sudah samar-samar tercampur dengan aroma detergen dari cucian sebelumnya. Tangan Hana bergetar sedikit saat ia meraba saku kemeja itu. Ia berharap tidak menemukan apa pun, namun hatinya juga haus akan kebenaran.

​Di saku kanan, ia menemukan struk parkir di sebuah mal mewah di Jakarta Selatan pada jam 21.00 semalam. Di jam itu, Aris bilang dia sedang rapat dengan klien di sebuah restoran di pusat kota. Kebohongan kecil pertama.

​Hana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Ia kemudian beralih ke celana bahan yang dipakai Aris. Saat ia merogoh saku belakang, jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan kecil. Ia menariknya keluar.

​Sebuah anting. Sebuah anting mutiara yang sangat elegan, dengan pengait emas putih yang berkilau.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Hana. Ia menatap anting itu dengan mata yang mulai memanas. Ia tahu pasti bahwa ini bukan miliknya. Hana tidak pernah memakai perhiasan mahal. Perhiasan terakhir yang ia miliki—sepasang anting emas pemberian ibunya—sudah ia jual lima tahun lalu untuk menambah biaya uang muka mobil pertama Aris. Sejak saat itu, telinga Hana selalu polos, atau paling banyak hanya dihiasi anting perak murah yang ia beli di pasar.

​"Siapa pemilik ini, Mas?" lirih Hana. Suaranya pecah di tengah kesunyian dapur.

​Ia menggenggam anting itu dengan kuat hingga pinggirannya menusuk telapak tangannya. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sesak yang kini merayap di tenggorokannya. Hana ingin berteriak, ingin naik ke atas dan membangunkan Aris, lalu melemparkan anting itu ke wajahnya. Namun, kakinya terasa lumpuh. Sepuluh tahun didikan sebagai istri yang berbakti telah membentuknya menjadi sosok yang terlalu ahli dalam memendam.

​Terdengar langkah kaki menuruni tangga. Hana dengan cepat memasukkan anting itu ke dalam saku dasternya. Ia berbalik ke arah kompor, berpura-pura sibuk mengaduk nasi goreng, meski matanya sudah buram oleh air mata yang tertahan.

​"Wangi sekali. Masak apa kamu?" suara Aris terdengar. Kali ini nadanya lebih santai, mungkin karena ia sudah cukup istirahat.

​Hana mengatur suaranya agar terdengar normal sebelum menjawab. "Nasi goreng kesukaanmu, Mas. Duduklah, sebentar lagi siap."

​Aris duduk di meja makan, membuka laptopnya, dan mulai sibuk dengan email. Tidak ada kecupan pagi, tidak ada ucapan terima kasih. Hana menyajikan piring di depan suaminya dengan gerakan yang mekanis. Saat ia meletakkan gelas kopi hitam tanpa gula, ia tak sengaja menatap mata Aris.

​"Kamu kenapa, Na? Matamu merah," tanya Aris tanpa ekspresi yang berarti.

​"Hanya... kurang tidur, Mas. Tadi malam aku agak lama menunggu kamu," jawab Hana lembut, sebuah sindiran halus yang ia harap bisa menembus nurani suaminya.

​Aris hanya berdehem. "Sudah kubilang jangan ditunggu. Aku ini sibuk, Na. Proyek baru di kantor sangat menyita waktu. Jangan seperti anak kecil yang harus ditemani tidur terus."

​Hana tersenyum getir. "Aku bukan ingin ditemani tidur, Mas. Aku hanya ingin tahu suamiku selamat sampai di rumah."

​Percakapan terhenti di sana. Aris makan dengan lahap, seolah-olah tidak ada rahasia besar yang ia sembunyikan di saku celananya semalam. Sementara itu, Hana hanya sanggup menatap piringnya sendiri. Saku dasternya terasa sangat berat, seolah anting mutiara itu telah berubah menjadi bongkahan timah yang menarik seluruh tubuhnya ke dasar bumi.

​"Oh ya, Na," Aris menghentikan suapannya, "nanti malam aku mungkin pulang larut lagi. Jangan masak yang berat-berat, aku ada makan malam dengan Direksi."

​Hana menatap punggung Aris yang mulai sibuk merapikan tas kerjanya. "Direksi? Atau 'klien' yang di mal semalam, Mas?"

​Aris mendadak berhenti bergerak. Ia berbalik, menatap Hana dengan tatapan yang tajam dan dingin. "Maksud kamu apa?"

​Hana mengepalkan tangannya di bawah meja. Keberanian yang jarang ia miliki mendadak muncul. "Aku menemukan struk parkir di sakumu, Mas. Jam sembilan malam di Senayan City. Bukankah katamu kamu rapat di pusat?"

​Suasana di ruang makan itu mendadak menjadi sangat tegang. Aris berjalan mendekat ke arah Hana, auranya terasa mengintimidasi. "Kamu memeriksa saku bajuku sekarang? Sejak kapan kamu jadi mata-mata, Hana?"

​"Aku tidak memata-matai! Aku mencuci bajumu! Itu tugasku sebagai istri, kan? Merapikan semua kekacauan yang kamu tinggalkan!" suara Hana naik satu oktav.

​Aris mendengus kasar. "Hanya karena struk parkir kamu sudah curiga macam-macam? Aku memang ke sana sebentar karena klien ingin pindah tempat. Sudah, jangan berlebihan. Aku tidak suka punya istri yang penuh curiga dan drama."

​Aris menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar rumah tanpa pamit. Pintu depan ditutup dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat pajangan foto pernikahan mereka di ruang tamu sedikit miring.

​Hana jatuh terduduk di kursi. Ia mengeluarkan anting mutiara itu dari sakunya. Ia tidak jadi menunjukkannya pada Aris. Belum saatnya. Jika soal struk parkir saja Aris sudah begitu defensif dan menyerang balik, maka anting ini adalah senjata yang harus ia simpan baik-baik.

​Ia berjalan ke arah foto pernikahan mereka. Di foto itu, mereka berdua terlihat sangat bahagia. Aris merangkul pinggangnya dengan protektif, dan Hana bersandar di bahunya dengan keyakinan bahwa pria ini adalah dunianya.

​Hana meraih bingkai foto itu, memperbaikinya agar tidak miring lagi. Namun, saat jemarinya menyentuh kaca bingkai tersebut, ia menyadari satu hal. Di foto itu, ia terlihat begitu muda dan penuh harapan. Kini, saat ia bercermin di kaca bingkai foto, ia melihat seorang wanita yang terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Matanya yang lelah, garis-garis halus di sekitar bibirnya yang jarang tersenyum, dan pakaiannya yang selalu sederhana.

​Apakah ini alasannya? Apakah "surga" yang ia berikan terlalu membosankan bagi Aris? Apakah pengabdian yang tulus kalah menarik dibandingkan wanita yang memakai anting mutiara mahal dan parfum berkelas?

​Hana meletakkan anting itu di dalam sebuah kotak perhiasan kecil yang ia sembunyikan di balik tumpukan kain sprei di lemari paling atas. Ia memutuskan untuk tidak hancur sekarang. Ia akan mengikuti permainan ini. Jika Aris mulai "melupakan" surganya, maka Hana akan memastikan bahwa setiap jejak yang pria itu tinggalkan akan menjadi pengingat yang menyakitkan suatu hari nanti.

​Hari itu, Hana tidak membersihkan rumah dengan semangat seperti biasanya. Ia duduk di teras belakang, menatap taman kecil yang dulu ia tanami bunga mawar bersama Aris. Mawar-mawar itu sekarang banyak yang layu karena kurang perawatan. Sama seperti hatinya.

​Ia mengambil ponselnya, mencari sebuah nama di kontak yang sudah lama tidak ia hubungi. Maya. Sahabatnya saat kuliah dulu, seorang pengacara yang dulu selalu menentang keputusan Hana untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

​"May, bisakah kita bicara? Aku butuh bantuanmu," ketik Hana.

​Hana tahu, memulai percakapan ini berarti ia sudah siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Bahwa surga yang ia puja selama ini mungkin memang sudah tak layak lagi dirindukan. Namun, sebelum ia menyerah, ia ingin tahu seberapa jauh Aris telah melangkah pergi. Ia ingin tahu, sejauh mana suaminya tega membuang sepuluh tahun kebersamaan demi sepasang anting mutiara dan aroma parfum yang asing.

​Angin pagi berembus dingin, membawa guguran daun kering ke pangkuan Hana. Ia tidak menepisnya. Ia membiarkan dingin itu meresap ke kulitnya, menyiapkan dirinya untuk peperangan panjang yang baru saja dimulai. Di dalam rumah yang besar dan mewah itu, Hana merasa benar-benar sendirian, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki tujuan yang nyata.

​Ia bukan lagi sekadar penjaga surga yang terlupakan. Ia adalah seorang istri yang sedang mencari kebenaran, meski kebenaran itu mungkin akan membakar habis seluruh dunianya.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!