"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pagi itu Dara turun ke lantai bawah lebih awal. Sadar kalau kini dia harus menyiapkan semuanya sendiri, termasuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
Dara melihat ada nasi sisa semalam, jadilah dia berniat untuk membuat nasi goreng saja dengan tambahan daging ayam suwir dan sayuran.
"Jangan kebanyakan deh cabe rawitnya," gumam Dara.
Tidak berselang lama, Rafa datang dari depan. Mungkin baru selesai olahraga, soalnya Rafa menggunakan jaket hitam dan celana pendek warna hitam juga.
"Masak apa?" tanya Rafa basa basi.
"Nasi goreng aja gak apa-apa ya?" Dara menjawab tapi balik bertanya juga.
Rafa yang memang ketagihan dengan rasa masakan buatan Dara pun mengangguk saja. Setelah minum, dia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Ish. Kebiasaan para cowok emang kayak gitu apa ya? Gelas bekas minum gak pernah langsung dicuci. Minimal simpan di wastafel kek." Sambil mengambil gelas bekas minum sang suami, mulut Dara pun mengoceh ngomel-ngomel.
Bukan tanpa alasan Dara berkata serta berpikir seperti itu. Sang ayah juga kelakuannya sama seperti Rafa barusan.
Mengingat sang ayah, Dara tiba-tiba merasa resah. Bagaimana sekarang keadaan hati ibunya itu? Dan ... Apa ayahnya masih bersama wanita lain yang merupakan selingkuhannya?
"Mudah-mudahan Ayah udah sadar sama kesalahannya."
Selesai masak dan menyajikanya di meja makan, Dara langsung bergegas naik untuk mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah.
Sudah siap, sudah cantik dan rapi. Dara kembali memeriksa buku pelajaran yang akan dia bawa hari ini. Setelah memastikan dia tidak salah bawa buku, buku tugas pun juga sudah masuk ke dalam tas, gegas gadis cantik itu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Di meja makan, ternyata sudah ada Rafa yang menunggunya.
"Ck. Lama banget," ucap Rafa.
"Lah, emang siapa yang nyuruh Om buat nunggu?" Dara mencebik dan duduk di kursinya.
Lagi, Rafa kagum dengan rasa masakan istrinya itu. Mengingatkannya akan sosok Khaylila yang juga pintar memasak.
Selesai makan, Dara langsung menyimpan piring kotor ke wastafel. Tidak langsung mencucinya karena barusan Oma Atira mengabari kalau akan ada yang datang ke rumah untuk beres-beres.
Sejak tadi, Dara gelisah karena dia kesulitan mendapatkan ojol. Bahkan saat dia sudah berada di teras pun tidak ada satu pun ojol yang nyangkut.
"Ish. Pada ke mana sih?" Dara takut terlambat.
"Bareng aja," ajak Rafa yang baru keluar rumah.
Dara menggigit bibirnya dan itu membuat Rafa malah jadi gagal fokus. Pria tampan itu menggelengkan kepalanya karena malah fokus pada bibir merah muda sang istri.
"Emang gak akan apa-apa?" tanya Dara ragu.
"Ya nanti kamu turunnya sebelum gerbang," jawab Rafa.
Dara langsung mengangguk sambil tersenyum yang membuat kecantikannya semakin bertambah dan menurut Rafa jadi tambah ... imut.
Rafa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia diam-diam melirik ke samping kiri di mana istri kecilnya berada.
Entah ya, Rafa jadi merasa dia suka aja melihat wajah Dara dari samping. Apalagi hari ini Dara terlihat makin cantik dengan rambut diikat sedikit, memakai jepit rambut pita berwarna putih dan yang lainnya dibiarkan terurai indah.
Rafa menyunggingkan senyum tipis, tidak menyangka kalau gadis yang duduk di sebelahnya itu bukan sekedar muridnya saja, melainkan istrinya juga.
Tak hanya Rafa yang terpikir-pikir, Dara, dia juga sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Ingin bertanya mengenai nasib pernikahannya, tapi dia ragu.
Dara hanya ingin tahu, apakah nanti Rafa akan menceraikannya atau tidak. Semenjak Rafa berkata seperti itu waktu itu, Dara jadi merasa diombang ambing dengan statusnya sendiri.
Lamunannya terputus saat dia sadar kalau sudah hampir sampai di sekolah.
"Di sini aja!" seru Dara saat sudah sampai di dekat sekolah.
"Gak kejauhan?" tanya Rafa.
Dara menggeleng, melepas sabuk pengaman dan memakai tas gendongnya. "Enggak, kalau agak ke sana takutnya ada yang liat."
Rafa menghembuskan napas pelan dan mengangguk. Tidak langsung melajukan mobilnya lagi, dia diam dan terus memperhatikan tubuh kecil istrinya yang berjalan agak cepat.
Di belakang mobilnya, ada Monica yang hari itu terpaksa berangkat menggunakan ojol. Dia menyuruh kang ojolnya berhenti saat melihat Dara keluar dari mobil yang dia tahu itu adalah milik gurunya.
"Dara? Sama Pak Rafa?" gumam Monica kemudian menyeringai. "Gosip baru nih!"
Jam pertama pelajaran Bahasa Indonesia, dan gurunya bernama Bu Nunik. Semuanya menyimak dengan tegang. Pasalnya, Bu Nunik ini tegasnya sudah melebihi Kak Ros nya Upin Ipin. Bukan galak lagi.
Tapi, memang penjelasan dari Bu Nunik gampang menyerap ke isi
"Lo tadi ngelamunin apa? Lagi ada masalah?" tanya Bebi sambil mengaduk mie dan meniupnya.
"E-enggak. Cuman y-ya ... ada problem dikit di rumah," jawab Dara agak tergagap lalu nyengir setelahnya.
"Udah dua kali kamu diperintah ke depan oleh Pak Rafa. Untung Bebi gak bilang kalau tadi dia melamun dan tidak fokus melihat Rafa.
Keduanya kini sudah ada di taman sekolah, duduk di kursi kayu yang memang tersedia di sana. Kursinya bulat, mengelilingi meja yang bulat juga. Ada beberapa kursi dan meja di sana. Suasananya asri, karena ada pohon buah mangga yang sedang berbuah dan banyak aneka tanaman bunga warna warni.
Monica dan Braden yang kebetulan sedang berada di sana juga tidak sengaja mendengar obrolan Dara dan Bebi. Dia ingat saat melihat Dara keluar dari mobil Rafa pagi tadi.
Sedangkan Braden menatap wajah cantik Dara dengan hati yang campur aduk. Kesal juga karena ternyata Dara bukan hanya memblokir kontaknya saja, melainkan semua akun sosmednya juga.
"Halaah. Lo pasti sengaja, 'kan mau cari perhatian sama Pak Rafa?" ujar Monica, sudah berdiri di samping Dara dan Bebi.
"Maksud lo?" tanya Dara dengan kening mengkerut. Jelas dia heran, Monica datang-datang langsung menuduhnya.
"Jangan so' bego deh lo! Lo ngerubah penampilan juga karena sengaja 'kan mau godain Pak Rafa?"
Dara semakin gak ngerti sama apa yang Monica ucapkan. "Lo ngomong apa kentut? Gak jelas banget!" ketus Dara.
"Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, pagi tadi lo turun dari mobil Pak Rafa. Kalian berangkat bareng, 'kan?"
Degh!
Dara terhenyak. Tidak menyangka kalau akan ada yang melihatnya turun dari mobil Rafa tadi. Terlebih yang melihatnya adalah Monica.
"Mon, lo ngomong apa sih?" tanya Braden.
"Gue ngomongin fakta. Tadi emang Dara kayaknya berangkat bareng sama Pak Rafa," balas Monica.
"Ya wajar dong. Namanya juga mereka saudara sepupu."
Semuanya langsung menoleh pada Bu Indah yang datang sambil membawa gunting tanaman.
"Dara sama Pak Rafa itu saudara sepupu. Jadi, apa salahnya berangkat bareng?" tanya Bu Indah.
Monica, Braden dan Bebi langsung menatap Dara. Gadis cantik itu menghembuskan napas berat dan mengangguk kecil.
"Iya, gue sama Pak Rafa tuh saudara. Kita sepupu an. Masalah buat lo?" tanyanya pada Monica yang nampak shock karena merasa sudah salah tuduh.
Braden yang merasa malu dengan tingkah Monica langsung pergi meninggalkan kekasihnya itu yang tentunya langsung disusul oleh Monica sendiri.
"Beneran?" tanya Bebi menuntut penjelasan.
Dara mengangguk. "Iya," jawabnya sambil memakan potongan bakso berisi daging cincang dan ati.
"Kok gak cerita sih sama gue? Lo anggap gue sahabat lo, 'kan?" Bebi tiba-tiba sedih.
"Ya ampun. Bukan gitu maksud gue. Gue cuman gak mau nantinya yang lain nganggap Pak Rafa istimewain gue karena gue saudaranya. Dalam hal ngasih nilai misalnya," ucap Dara menjelaskan.
"Lo nggak bisa berhenti ngusik Dara apa sih?" tanya Braden dengan nada kesal.
Monica mengernyit, merasakan ada yang ganjil dalam pertanyaan itu. Teringat olehnya bahwa Braden menggunakan kata 'lo' saat menyapa dirinya, sesuatu yang jarang dilakukannya.
"Braden...," gumam Monica lembut. "Lo belain dia? Lo suka sama dia?" tanya Monica.
Braden memutar bola matanya malas, juga menghela napas jengah. "Gue gak suka sama dia. Gue cuman gak suka lo jadi sering ngusik dia. Lo berubah, Mon. Dulu lo gak kayak gini."
"Braden, maafin gue. Gue cuman gak mau kehilangan lo," lirih Monica dengan kedua mata berkaca-kaca.
Braden yang tidak ingin kehilangan Monica sebelum dia berhasil mengajak Dara balikan pun akhirnya memaafkan Monica.
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda waktunya pulang pun berbunyi. Dara dan Bebi langsung keluar kelas, rebutan dengan murid yang lain.
Saat sedang menunggu ojol bersama Bebi, Aiden datang menghampirinya.
"Mau pulang? Bareng aja yuk!" ajak Aiden.
Bebi langsung menunduk dan membenarkan letak kacamata nya. Dia selalu gugup kalau bertemu dengan Aiden.
"Gue udah pesen ojol," jawab Dara sambil tersenyum. Sesaat kemudian gadis cantik itu menepuk keningnya sendiri. "Maaf, jaket lo belum gue balikin. Lupa. Padahal udah dicuci sama setrika," ucapnya dengan wajah menyesal.
"Ck. Gak apa-apa kali. Besok juga masih bisa."
Dari kejauhan, Rafa yang juga hendak pulang melihat Dara yang sedang mengobrol dengan Aiden. Dia mendadak tidak suka dan jengkel. Begitu juga dengan Braden yang sudah berada di atas motor besarnya. Kedua tangannya yang ada di atas tangki motor itu mengepal.
"Gak. Lo harus bisa jadi milik gue lagi, Dara!"