update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Berat
Lorong rumah sakit terasa terlalu terang bagi Lin Yinjia. Lampu putih di langit-langit memantul di lantai keramik yang dingin, membuat semuanya tampak bersih, tapi juga terasa asing. Bau obat-obatan bercampur dengan suara langkah kaki dokter yang datang dan pergi. Di ujung lorong, pintu ruang ICU masih tertutup rapat.
Yinjia duduk di kursi plastik yang keras sejak dua jam lalu. Tangannya masih memegang map berisi kertas tagihan rumah sakit yang baru saja diberikan oleh bagian administrasi.
Angkanya terlalu besar. Ia sudah membaca lembar itu berkali-kali, seolah berharap angka-angka itu berubah jika dilihat cukup lama. Tapi tidak ada yang berubah. Angka itu tetap sama—besar, dingin, dan menekan.
Ayahnya, Lin Wei, duduk di sampingnya dengan punggung yang tampak lebih membungkuk dari biasanya. Pria yang selama ini selalu terlihat kuat di mata Yinjia kini memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Ibunya, Mei Lan, berdiri dekat jendela lorong, menatap ke luar dengan mata merah. Ia tidak menangis keras, tapi bahunya sesekali bergetar.
Sejak kecelakaan Lin Yichen dua hari lalu, rumah sakit terasa seperti dunia baru bagi mereka. Dunia yang mahal. Yinjia menunduk lagi pada kertas itu. Biaya operasi awal. Biaya ICU. Biaya obat.
Semua terasa seperti angka yang tidak mungkin mereka bayar. “Dokter bilang...” suara ayahnya akhirnya terdengar pelan, seolah setiap kata terlalu berat untuk diucapkan. “Kalau Yichen sadar dalam beberapa minggu, peluangnya bagus. Tapi kalau lebih lama dari itu...”
Kalimat itu berhenti di tengah. Yinjia tahu ayahnya tidak sanggup melanjutkannya. Ia menelan ludah, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. “Berarti kita harus fokus dulu ke perawatannya.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata dengan suara rendah, “Uang kita tidak cukup, Jia.”
Kata-kata itu jatuh di udara seperti sesuatu yang berat. Yinjia menatap kertas di tangannya lagi. Ia sudah tahu itu. Sejak melihat tagihan pertama, ia sudah tahu.
Tabungan keluarga mereka tidak banyak. Ayahnya bekerja sebagai teknisi di perusahaan kecil. Ibunya mengelola toko kelontong sederhana di dekat rumah. Kehidupan mereka tidak pernah mewah, tapi selalu cukup. Sampai sekarang.
Sekarang semua terasa seperti sedang runtuh perlahan. Ibunya akhirnya berbalik dari jendela. Mata wanita itu merah dan bengkak, tapi ia tetap mencoba tersenyum. “Jia, kamu jangan terlalu khawatir,” katanya lembut. “Ayahmu sedang mencoba meminjam dari beberapa kenalan.”
Yinjia tahu ibunya mencoba menenangkannya. Tapi ia juga tahu kenyataan. Meminjam uang sebanyak itu bukan hal mudah.
Ia menarik napas pelan. Pikirannya mulai bergerak ke arah yang selama dua hari ini terus ia hindari. Perjodohan itu.
Dua tahun lalu, keluarga Gu datang ke rumah mereka dengan proposal yang terdengar seperti mimpi aneh. Gu Zhenrui, putra keluarga kaya yang memiliki jaringan bisnis besar, dijodohkan dengannya. Saat itu Yinjia masih 18 tahun. Ia bahkan hampir menertawakan ide itu.
Tapi ayahnya terlihat begitu gugup, dan ibunya terlihat begitu hati-hati saat membicarakannya. Keluarga Gu mengatakan perjodohan itu hanya kesepakatan keluarga lama. Tidak ada paksaan. Mereka hanya ingin dua keluarga tetap dekat.
Namun semua orang tahu apa artinya. Jika pernikahan itu benar-benar terjadi, hidup Yinjia akan berubah sepenuhnya.
Saat itu ia tidak terlalu memikirkannya. Ia masih kuliah, masih punya waktu, dan Zhenrui sendiri tampak tidak terlalu peduli.
Tapi sekarang situasinya berbeda. Yinjia memejamkan mata sebentar. Ia mengingat percakapan terakhir ayahnya tentang keluarga Gu beberapa minggu lalu. Tentang bagaimana mereka memiliki perusahaan besar. Tentang bagaimana satu kontrak bisnis mereka bisa bernilai lebih dari seluruh rumah sakit ini. Jika ia menikah dengan Zhenrui...
Biaya rumah sakit Yichen mungkin bukan masalah lagi. Pikiran itu terasa pahit. Ia membuka matanya perlahan. “Ayah.”
Lin Wei menoleh. “Ayah masih berhubungan dengan keluarga Gu, kan?”
Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam beberapa detik. Ia tampak tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Jia,” katanya pelan, “ayah tidak pernah memaksamu tentang perjodohan itu.”
“Aku tahu.” Suara Yinjia tenang, tapi tangannya perlahan mengepal di atas map. “Ayah juga tahu aku tidak terlalu memikirkannya selama ini.”
Ibunya memandangnya dengan ekspresi khawatir. “Jia, jangan bilang kamu—”
“Aku hanya berpikir realistis.” Kalimat itu keluar sebelum ia sempat ragu.
Lorong rumah sakit kembali sunyi. Yinjia menunduk, menatap lantai keramik yang memantulkan bayangan samar wajahnya. “Ayah,” katanya lagi, lebih pelan sekarang, “kalau aku tetap menjalani perjodohan itu... keluarga Gu pasti tidak akan membiarkan Yichen terlantar.”
Ayahnya langsung menggeleng keras. “Tidak. Ayah tidak akan menjual hidupmu seperti itu.”
“Ini bukan menjual.”
“Ini tetap sama saja.”
Suara ayahnya terdengar lebih tegas dari biasanya. Yinjia mengangkat kepalanya. “Ayah.” Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu terasa sedikit kaku. “Kalau Yichen tidak kecelakaan, mungkin aku juga tidak akan pernah memikirkan ini. Tapi sekarang... kita tidak punya banyak pilihan.”
Ibunya berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di depan mereka. Wanita itu menatap putrinya lama. “Jia,” katanya pelan, “pernikahan itu bukan permainan.”
“Aku tahu.”
“Dan Zhenrui... bukan pria yang mudah.”
Yinjia pernah bertemu dengannya beberapa kali. Gu Zhenrui tinggi, tampan, dan memiliki aura percaya diri yang hampir berlebihan. Cara bicaranya selalu santai, tapi ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat orang merasa ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Yinjia.
Dan jujur saja, Yinjia juga tidak terlalu memikirkannya. Tapi sekarang situasinya berbeda. “Aku tidak mengatakan aku akan menikah besok,” kata Yinjia akhirnya. “Aku hanya bilang... aku akan tetap menjalani perjodohan ini.”
Ayahnya menatapnya lama. Di mata pria itu ada rasa bersalah yang jelas. “Ini bukan tanggung jawabmu,” katanya.
“Tapi aku bagian dari keluarga ini.” Kalimat itu sederhana, tapi berat.
Yinjia melihat ke arah pintu ICU di ujung lorong. Di balik pintu itu, adiknya terbaring tanpa sadar. Yichen selalu menjadi orang paling berisik di rumah. Anak laki-laki yang tidak pernah bisa diam, selalu punya cerita, selalu membuat ibunya mengeluh tapi diam-diam tersenyum.
Sekarang semua itu hilang. Rumah sakit terasa terlalu sunyi tanpa suara Yichen. Yinjia menarik napas dalam. “Ayah.” Lin Wei tidak menjawab, tapi ia masih menatap putrinya.
“Aku tidak bilang aku akan bahagia dengan perjodohan ini,” lanjut Yinjia. “Tapi kalau ini bisa membuat Yichen punya kesempatan untuk bangun lagi... aku tidak keberatan.”
Ibunya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata akhirnya jatuh dari matanya. “Anak bodoh,” katanya pelan.
Yinjia tersenyum kecil. “Aku cuma kakaknya.” Ayahnya menghela napas panjang. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata pelan, “Keluarga Gu memang pernah bilang mereka masih terbuka dengan perjodohan itu.”
Yinjia mengangguk perlahan. “Kalau begitu... hubungi mereka.” Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Ayahnya masih terlihat ragu. “Tapi Jia—”
“Ayah.” Ia menatap pria itu dengan tenang.
“Setidaknya biarkan aku mencoba.” Sunyi kembali menyelimuti lorong rumah sakit. Akhirnya Lin Wei mengangguk pelan.
Bukan karena ia setuju sepenuhnya. Tapi karena ia tahu putrinya sudah membuat keputusan. Yinjia menatap lagi ke arah pintu ICU. Di balik pintu itu, mesin monitor berdetak pelan menjaga napas adiknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tidak tahu seperti apa hidupnya jika benar-benar masuk ke dalam keluarga Gu.
Tapi satu hal ia tahu dengan jelas. Jika harus memilih antara masa depannya sendiri dan kesempatan Yichen untuk hidup. Ia sudah membuat pilihan.