Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapor polisi
Zayn melangkah masuk ke dalam gudang distribusi sektor Utara dengan rahang yang mengeras. Suasana di dalam sana sangat kontras dengan ketenangan taman belakang mansion tadi. Bau oli, debu, dan aroma samar bahan kimia menyeruak. Puluhan anak buahnya berdiri tegap, namun kepala mereka tertunduk saat Zayn lewat. Aura dingin yang dipancarkan pria itu sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
"Tunjukkan kerusakannya," desis Zayn tanpa basa-basi. Hatinya masih diliputi oleh emosi yang tak tertahankan. Panas yang dirasakan oleh hatinya benar-benar tak bisa dibendung lagi.
Dimas segera memandu Zayn menuju ruang kontrol kecil di sudut gudang. Di sana, beberapa teknisi IT sedang berkeringat dingin menatap layar yang berkedip merah.
"Secara fisik, semua aman, Tuan. Stok 'barang titipan' kita tidak berkurang satu gram pun," lapor Dimas sambil menunjuk tumpukan peti kayu yang tersusun rapi di sudut tersembunyi. "Tapi mereka masuk ke jalur kabel optik kita. Mereka nggak mau barangnya, mereka mau tahu rute distribusinya."
Zayn memperhatikan layar monitor yang menunjukkan barisan kode yang rusak. "Jadi, mereka sudah tahu ke mana saja barang ini pergi?"
"Sepertinya begitu, Tuan. Dan yang lebih gawat, mereka menanam malware yang sempat menyalin data logistik pribadi Anda selama sepuluh menit sebelum sistem lockdown otomatis aktif."
Zayn memukul meja kerja di depannya dengan kepalan tangan. Suaranya berdentum keras, membuat para teknisi tersentak. "Sepuluh menit itu waktu yang cukup untuk mencuri seluruh peta hidupku."
Ia berbalik, menatap hamparan isi gudang yang luas itu dengan tatapan tajam. Pikirannya berputar cepat. Jika data ini bocor, bukan hanya bisnisnya yang terancam, tapi Laila akan menjadi target yang sangat mudah ditemukan.
"Bersihkan semua isi gudang ini tanpa jejak. Sekarang juga," perintah Zayn, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mematikan. "Pindahkan semua stok ke titik aman ketiga. Hapus semua log aktivitas, bakar dokumen fisik yang tersisa. Aku mau tempat ini bersih total seolah-olah Keluarga Malik tidak pernah menginjakkan kaki di sini."
"Tapi Tuan, ini gudang utama kita di sektor Utara, butuh waktu untuk—"
Zayn memotong ucapan salah satu bawahannya dengan tatapan membunuh. "Aku tidak tanya butuh waktu berapa lama. Aku bilang sekarang. Lakukan dengan cepat dan tepat. Sedikit saja kesalahan, atau ada satu helai kertas yang tertinggal, berarti nyawa kalian taruhannya. Tanpa ampun."
"SIAP, TUAN!" jawab mereka serentak, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Dalam sekejap, suasana gudang berubah menjadi hiruk-pikuk yang terorganisir. Alat berat mulai bergerak, truk-truk kontainer tanpa plat nomor merapat ke pintu masuk. Zayn tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan gerbang besi.
Di dalam mobil, Zayn menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Napasnya masih memburu. Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak lincah di atas layar.
“Aku sedang sibuk, mungkin beberapa hari ini belum sempat untuk pulang ke rumah. Jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan.”
Pesan terkirim. Tak butuh waktu lama, balasan singkat muncul.
“Baik, Zayn. Semangat kerjanya. Aku tunggu di rumah.”
Zayn memejamkan mata sejenak, merasakan sedikit kedamaian dari balasan singkat itu. Namun, ia tahu kedamaian ini hanya sementara. "Bawa aku ke markas aman," perintahnya pada sopir. "Jangan lewat jalur utama. Putar lewat jalan tikus di pinggiran kota."
"Baik, Tuan Zayn."
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah di tengah kota, suasana jauh lebih meriah. Denting gelas kristal yang beradu dan suara tawa yang keras memenuhi ruangan yang dipenuhi asap cerutu.
Gion menyesap wine mahalnya dengan senyum kemenangan yang lebar. Di hadapannya, Tuan Baskoro duduk dengan angkuh, menyilangkan kaki sambil memegang cerutu yang masih menyala.
"Aku tidak menyangka meretas sistem Malik semudah itu," ujar Gion sambil tertawa remeh. "Zayn terlalu fokus melindungi 'mainan' barunya, sampai-sampai dia lupa mengunci pintu belakang rumahnya sendiri."
Tuan Baskoro terkekeh, suaranya berat dan serak. "Zayn itu masih muda, Gion. Dia dikuasai hormon dan cinta. Itu adalah kombinasi mematikan bagi seorang pebisnis di dunia kita. Dia pikir dengan membawa Laila ke rumahnya, dia bisa menyembunyikan wanita itu selamanya."
"Tapi data itu, Tuan Baskoro... itu emas murni," lanjut Gion dengan mata berbinar licik. "Kita punya rute distribusinya. Kita punya jadwal kegiatannya. Zayn Malik sedang telanjang di depan kita sekarang."
Baskoro mengembuskan asap cerutunya ke udara, membentuk gumpalan putih yang perlahan memudar. "Jangan senang dulu. Zayn itu seperti naga. Kalau kamu mencubit ekornya, dia akan membakar seluruh desa. Tapi kalau kamu menusuk jantungnya, dia akan mati seketika. Dan kita tahu siapa jantungnya sekarang."
Gion mengangguk mantap. "Laila. Tanpa Laila, Zayn hanya pria pemarah tanpa arah."
"Benar," sahut Baskoro. "Sekarang, simpan dulu kesenanganmu. Setelah ini, mari kita ke kantor polisi. Kita serahkan sedikit 'hadiah' berupa data logistik yang baru saja kita curi. Kita buat polisi punya alasan kuat untuk mengacaukan semua bisnis Zayn Malik malam ini juga. Biar dia sibuk mengurus hukum, sementara kita mengurus Laila."
Gion tertawa puas, suara tawanya pecah memenuhi ruangan. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah sombongnya hancur saat dia tahu dia kehilangan semuanya dalam satu malam. Mari, Tuan Baskoro. Malam ini adalah awal dari akhir Keluarga Malik."
Ada perasaan hangat di dalam hati Gion, berharap jika dia berhasil malam ini memenjarakan Zayn. Maka Laila dengan mudah akan kembali ke pelukannya.
Biar bagaimana pun, tujuan utamanya kali ini adalah memenangkan hati Laila.
Keduanya bangkit, merapikan setelan jas mereka dengan perasaan di atas angin. Mereka merasa telah memenangkan bidak catur, tanpa menyadari bahwa Zayn Malik lebih suka membakar seluruh papan catur daripada kalah dalam permainan.
****
Di mobil, Zayn menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala. Ia menghubungi nomor lain yang terenkripsi.
"Dimas, siapkan tim bayangan. Aku ingin pengawasan 24 jam di kediaman Baskoro dan Gion," perintah Zayn dingin. "Kalau mereka bergerak ke arah kantor polisi, cegat informasinya. Aku ingin tahu siapa saja 'tikus' di dalam kepolisian yang bekerja untuk mereka."
Zayn mematikan ponselnya. Dia sudah tak sabar untuk menemani Gio dan Tian Baskoro bermain-main dengan bisnis mafia yang selama ini digeluti oleh dirinya. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan. Perang sudah dimulai, dan dia tidak berencana untuk sekadar bertahan. Dia akan menyerang balik dengan cara yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Gion maupun Baskoro.
"Kalian pikir bisa menyentuh milikku?" gumam Zayn pelan, namun penuh ancaman. "Silakan mencoba."