Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14. Kata-kata yang sulit diucapkan
Happy Reading
"Rasanya sakit banget, Pa. Aily gak salah kan marah sama Alderza? Aily gak salah kan marah sama mereka semua?"
Saat semua isi hatinya sudah tercurahkan, rintihannya yang kencang pun berhenti. Aily menyadari ada seseorang yang tengah melindunginya dari rintik hujan. Tetesan air yang membasahi kepala dan tubuhnya kini berhenti.
Aily langsung memutar badannya dan dia sangat kaget melihat Alderza ada di sini.
Alderza masih tidak menyerah. Dia ada di sini dan melindungi Aily dengan jaketnya agar Aily tidak terkena hujan.
"Lo gak salah sama sekali, lo berhak marah sama gue. Gue emang jahat, Aily."
Aily tertegun untuk beberapa saat mendengar ucapan Alderza yang begitu penuh penyesalan.
Wajahnya menunduk sayu seperti tak bernyawa, matanya sendu seperti menahan beban yang amat sangat menyakitkan.
Dalam sekejap, Aily menghapus air mata yang turun membasahi pipinya. Dia langsung berdiri dan menatap tajam Alderza.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Tiap pulang sekolah, kamu ke sini kan buat nangis?" Tanya Alderza.
Nada bicaranya begitu pelan, bahkan suara derasnya air hujan yang membasahi mereka lebih kencang dibanding suara Alderza saat ini.
"Bukan urusan kamu, jadi mendingan kamu pergi!"
Alderza tidak menghiraukannya. Dia malah menatap Aily lekat. Entah kenapa hatinya sakit melihat Aily memeluk makam ayahnya dan bercerita tentang dirinya yang amat jahat.
Sejahat itukah dirinya? Yang menjadi pertanyaan besar dalam hatinya, sejak kapan dia menjadi cowok jahat yang selalu menganiaya orang tak bersalah.
"Aily..... Gue tau, gue salah. Tapi dengerin gue dulu!"
"Minggir!"
Saat ini, tidak ada Aily yang diam dan tersenyum palsu di depan Alderza. Tidak ada lagi Aily yang kuat menahan sakit oleh sikapnya. Lebih tepatnya, Aily sudah tidak peduli lagi.
"Aku menyerah atas semuanya. Ini sudah saatnya bagiku untuk berhenti memperhatikan orang yang sama sekali tidak pernah melihatku sama sekali."
Kali ini, Aily pergi begitu saja meninggalkan Alderza tanpa takut dengan air hujan. Dia berjalan entah kemana, dan kakinya terus menjauh dari Alderza.
Tapi tidak semudah itu, Alderza langsung memegang tangannya.
"Sebelum gue anterin lo pulang, ada yang mau gue omongin dulu, jadi please dengerin gue kali ini aja! Kasih gue kesempatan buat ngomong, Aily."
Apa yang Aily rasakan saat ini sangat campur aduk. Marah, kesal, dan.... entahlah, dia tidak bisa mendeskripsikannya.
Pertama, dia sangat marah karena sikap Alderza dan teman-temannya yang keterlaluan. Kedua, dia kesal karena Alderza mengikutinya. Ketiga, jantungnya berdegup kencang saat Alderza menggenggam tangannya sekarang.
Aily mengusap wajahnya yang basah kuyup karena air hujan dan langsung menatap Alderza.
"Terus mau kamu apa?!" Bentak Aily sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Gu-gue-" Alderza terbata.
"Gue minta maaf, Aily. Gue minta maaf."
Kata-kata yang sangat sulit terucapkan itu akhirnya keluar juga. Perkataan yang selama ini dia pendam dan dia tahan seorang diri bisa diucapkan dengan tulus dan serius kepada Aily.
Perasaannya terus terguncang dan merasa bersalah jika dia masih menahan kata-kata tersebut.
Aily membulatkan matanya saat mendengar permintaan maaf dari Alderza. Seperti ada sesuatu yang meremas hatinya.
Benarkah dia tidak sedang bermimpi kalau cowok itu tengah meminta maaf padanya? Bukankah sejak dahulu memang tidak ada yang peduli dengan perasaannya?
Dari matanya yang sendu itu, Aily dapat melihat penyesalan yang luar biasa. Alderza bahkan rela membuat dirinya tidak masuk sekolah dan basah kuyup seperti ini demi mengejar Aily.
"Gue tau apa yang gue lakuin ini bener-bener keterlaluan. Tapi lo bisa liat kan, gue bener-bener nyesel? Kali ini gue tulus!"
"Nyesel? kenapa harus nyesel? Bukannya kamu emang seneng liat aku kayak gini?"
"Gue nyesel, Aily. Maafin gue."
"Kenapa.... Kenapa gak dari dulu kamu nyesel? Setelah sekian lama baru datang kamu nyesel, Alderza!" Aily masih terbawa suasana yang mendukungnya untuk tetap bersedih, sementara Alderza masih dirundung perasaan bersalah sampai tidak berani menatap Aily sedikitpun.
"Aku pengen marah. Aku pengen teriak sekencang mungkin. Tapi kalian terus cengkram aku sampai aku gak bisa ngapa-ngapain lagi selain senyum. Kamu gak tau perasaan aku, Alderza. Kamu gak tau!"
Alderza mengeratkan tangannya. Dia menatao Aily dengan tatapan yang belum pernah Aily lihat sebelumnya.
Semua perkataan Aily benar. Alderza tidak menyangkalnya sama sekali. Tapi, dia percaya semua perbuatan yang dia lakukan tisak berbanding lurus dengan isi hatinya.
"Gue emang jahat, Aily. Tapi sejahat-jahatnya gue, gue gak mau lo terluka. Gue masih punya hati, dan lo harus tau semua yang gue omongin sekarang itu serius." Ucap Alderza dengan tatapan serius.
Alderza ingin jujur dari lubuk hatinya yang terdalam. Dia tidak ingin berbohong lagi.
"Kasih gue kesempatan kedua buat perbaikin semuanya."
Aily kembali menyeka air matanya, lalu tersenyum seperti biasa. Senyuman yang menyimpan rasa sakit di hatinya
Jantung Alderza terus berdetak kencang, terutama saat Aily tersenyum. Alderza mengakui bahwa Aily memang cantik meskipun basah kuyup dan sisa lipstik yang masih membekas di wajahnya.
Hanya penampilannya saja yang mencolok serba ungu seperyi anak kecil.
Sepanjang hidupnya, Alderza baru pertama kali bertemu dengan cewek sekuat dan setegar Aily. Cewek itu selalu tersenyum dan terus tersenyum, tidak peduli seberapa sakit yang dia rasakan.
Mungkin jika Alderza tidak menemukannya di sini, seumur hidupnya Alderza tidak akan melihatnya menangis.
"Gue bisa buktiin bahwa gue bener-bener nyesel!"
Alderza menggenggam tangan Aily erat, matanya amat serius. Dia bahkan tidak peduli dengan hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Tapi yang pertama, lo jangan marah-marah sama gue. Gimana bisa gue buktiin kalo elo ngehindar kayak gini Aily Marsela!" Ucap Alderza penuh penekanan saat memanggil nama cewek itu.
"Bisa lepasin tangan aku dulu?" Ucap Aoly sambil mengangkat tangannya.
Aily baru sadar bahwa Alderza masih menggenggam tangannya. Dia terlalu fokus untuk mendengar setiap ucapan Alderza, sampai-sampai dia lupa dengan posisi sepeti ini.
Sementata Alderza tidak menjawab, dia malah khawatir kepada Aily. Bibirnya begitu pucat, seperti orang yang kedinginan. Ditambah hujan deras, jaket Alderza saja sudah basah kuyup, tidak bisa digunakan lagi untuk melindunginya.
"Alderza, lepas!" Bentak Aily.
Tentu saja Alderza tidak menghiraukannya, lalu menarik Aily agar bisa berlindung di mobilnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat Alderza menyimpan mobilnya.
Hal yang kembali membuat Alderza kesal adalah Aily malah diam seperti patung. Tidak peduli pada hujan deras, dia malah berdiri di depan pintu mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Masuk, lo udah pucet kayak gitu masih mau ngomel?"
Aily menayap Alderza yang begitu serius. Sampai-sampai Aily tidak berani menatapnya.
"Mau gue gendong, atau masuk sendiri?"
Deg
Aily memicingkan matanya. Sejak kapan Alderza berani berkata seperti itu kepada seorang cewek? Bukannya Aily yang gemetar, malah Alderza yang menutup mulutnya sendri.
"Kenapa?" Tanya Aily melihat Alderza diam sambil membungkam mulutnya.
"Lo gak denger kan?"
"Denger."
"Terus, kok masih diem?"
"Gak mungkin aja seorang Alderza Rajendra mau-"
Belum sempat Aily menyelesaikan ucapannya, Alderza engan gesit menghampirinya dengan tatapan yang menyeramkan, membuat Aily membulatkan matanya dan langsung memasuki mobil Alderza.
Jantung Aily kembali berdegup kencang. Benarkah itu Alderza yang dia kenal? Bukan. Sepertinya ada suatu makhluk yang merasuki tubuhnya.
Alderza hanya tersenyum kecil. Entah kenapa suasana yang tadinya sangat dingin berubah menjadi hangat hanya karena sikap Aily yang terkesan.... lucu?
Alderza masuk ke mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia lalu menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Itu ada tisu. Pake aja buat hapus lipstiknya."
Aily mengambil tisu tersebut, lalu melihat ke kaca. Mukanya berantakan seperti badut. Hanya sisanya saja yang dapat ia lihat, tetapi itu membuatnya tertawa sendiri.
Alderza yang melihatnya yidak bisa berkedip. Ternyata Aily benar-benar lucu, baik, dan.... sudahlah, terlalu banyak kebaikan dalam dirinya yang tidak bisa dilihat orang lain.
Senyum samar pun terpancar, bahkan Alderza sendiri sangat aneh ketika menyadari kalau dirinya tengah tersenyum.
"Kok pelan banget bawa mobilnya?"
"Sebenernya gue mau ajak lo ke tempat rahasia gue, tapi... baju lo basah banget."
"Jadi?"
"Jadi, nanti malem gue jemput!"
Aily menghela napas kasar. Tidak mungkin Alderza pergi ke rumahnya. Mungkin Alderza akan menghadapi macan betina terlebih dahulu jika ingin menjemputnya.
"Paling kamu cuma mau minta maaf lagi kan?"
"Bukan." Jawab Alderza singkat padat dan jelas membuat Aily beralih menatapnua bingung.
"Tapi... sekarang lo maafin gue kan?"
"Aku gak sejahat kamu kok."
"Iya, emang bener." Balas Aldersa memelas.
Wajahnya masih ditekuk. Dia ingin menghilangkan kecanggungan yang melanda.
Tapi, rasa bersalahnya masih ada dan kata maaf saja tidak cukup untuk membayar semuanya.
Aily terdiam untuk beberapa saat. Dia masih tidak menyangka Aldersa akan meminta maaf kepadanya.
Namun, di dalam hatinya, dia tidak boleh berharap lebih. Mungkin saja Alderza meminta maaf hanya karena kasihan. Matanya masih menatap Alderza dengan canggung.
"Daripada liatin gue terus, mending lu minum dulu nih." Alderza langsung memberikan sebotol air mineral yang ada di mobilnya.
Benar, Aily sangat haus. Dia tidak bisa menolak Alderza kali ini. Aily langsung meminum air tersebut.
Entah berapa tegukan, yang pasti air yang mengalir ke tenggorokannya begitu menyegarkan.
Tunggu dulu. Beberapa saat setelah Aily meminum air tersebut, dia tersadar.
Bukankah air di dalam botolnya tidak penuh? Tutupnya juga tidak terkunci.
"I-Ini bekas siapa ya?" Tanya Aily sembari mengacungkan botol tersebut.
Karena mobilnya sudah dipinjam oleh Riska dan Sinta, bisa saja air ini bekas mereka. Benar kan?
Aily bahkan baru melihat Alderza membawa mobilnya kembali setelah beberapa hari ke belakang.
Aily yakin ini miliki Sinta atau Riska, tetapi jawaban Alderza menghancurkan harapannya.
"Itu bekas gue." Jawab Alderza dengan santai sembari mengendarai mobilnya.
Dia meminum air tersebut dan Alderza juga meminum air tersebut. Bibir Aily menyentuh botol itu. Apakah bibir Alderza juga menyentuh botol itu?
Jantung Aily berdebar-debar. Dia langsung memegang bibirnya dengan wajah yang amat sangat tegang.
Wajahnya bersemu merah membayangkan hal yang sudah terjadi. Bukankah secara tidak langsung, bibir mereka bersentuhan meskipun melalui botol?
"Lo kenapa?" Tanya Alderza bingung.
"Kamu jahat! Kamu udah ambil ciuman pertama aku!"
Thank you yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau kata yang kurang tepat, mohon dikoreksi ya. Love you all guys.