Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - ANAK YANG TIDAK DIPILIH
Lily tidak membuka pintu itu malam itu. Tangannya masih di gagang pintu berkarat itu, cahaya kuning keemasan masih keluar dari celah bawahnya, dan suara itu... suara yang datang dari dalam kepala tapi bukan dari dalam kepalanya. Masih terasa seperti getaran di tulang belakangnya.
Kamu mau apa?
Lily menarik tangannya.
Mundur satu langkah. Dua langkah. Punggungnya menyentuh tumpukan kardus di belakangnya dan dia membiarkan dirinya melorot ke lantai, duduk lagi di dingin yang sama seperti tadi.
Bukan karena takut.
Atau mungkin iya, tapi bukan takut pada pintu itu. Lebih ke takut pada jawabannya sendiri. Karena kalau dia jawab pertanyaan itu sekarang, dengan dada yang masih penuh dan lutut yang masih sakit dan tanah yang masih menempel di telapak tangannya, jawabannya pasti bukan jawaban yang baik.
Jadi Lily duduk. Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia diam cukup lama sampai pikirannya mulai bergerak ke belakang.
Jauh ke belakang.
Lily Rosamaria lahir di rumah ini, bukan di rumah sakit. Ibunya melahirkan terlalu cepat, tidak sempat ke mana-mana, dan bidan yang dipanggil tiba hampir bersamaan dengan tangis pertama Lily di kamar utama lantai dua. Ayahnya bilang itu pertanda Lily anak yang tidak sabar. Ibunya bilang itu pertanda Lily anak yang tahu kapan harus datang.
Waktu kecil, Lily suka duduk di teras belakang sambil dengerin ibunya bercerita. Ibunya... Mama adalah perempuan yang suaranya selalu terdengar seperti sedang senyum meski wajahnya datar. Yang rambutnya selalu sedikit acak-acakan di ujungnya karena kebiasaan menyisir sambil jalan. Yang tidak pernah marah dengan cara yang berisik, tapi kalau sudah bicara serius, matanya jadi jenis mata yang tidak bisa kamu bohongi.
Lily menuruni mata itu.
Sayang Mama tidak sempat lama mengajari Lily cara menggunakannya.
Mama meninggal waktu Lily delapan tahun. Serangan jantung yang tidak ada yang duga karena Mama selalu kelihatan sehat, selalu kelihatan kuat, selalu kelihatan seperti jenis perempuan yang tidak akan pergi sebelum waktunya. Tapi kenyataan tidak peduli pada kesan.
Ayahnya berduka selama kira-kira empat bulan. Lily ingat betul karena selama empat bulan itu, ayahnya masih mau duduk menemaninya makan malam. Masih mau mengecek PR-nya. Masih mau sesekali mengusap kepalanya sebelum tidur.
Bulan kelima, Tante Sari datang pertama kali ke rumah ini. Katanya teman lama. Katanya cuma berkunjung.
Tante Sari tidak pernah betul-betul pergi setelah itu.
Nindi datang setengah tahun kemudian.
Waktu itu Lily sembilan tahun dan Nindi sebelas ... lebih tua dua tahun, lebih tinggi satu kepala, dan dari hari pertama dia masuk ke rumah ini dengan koper pink-nya dan cara bicaranya yang sudah terlatih untuk terdengar manis di depan orang dewasa, Lily tahu ada yang tidak beres.
Bukan karena Nindi jahat secara terang-terangan. Tidak semudah itu.
Nindi pintar. Itulah masalahnya.
Nindi tahu kapan harus menangis di depan ayah Lily. Tahu kapan harus bilang "Om, boleh aku ikut?" dengan nada yang tepat sehingga menolaknya terasa kejam. Tahu kapan harus bersikap seperti anak kecil yang butuh perlindungan, dan kapan harus bersikap seperti anak dewasa yang mandiri dan tidak merepotkan.
Lily tidak punya kemampuan itu. Lily cuma tahu jadi dirinya sendiri, dan rupanya itu tidak cukup menarik.
Pergeserannya terjadi perlahan. Tidak satu malam, tidak satu kejadian besar. Lebih seperti air yang mengikis batu, tidak terasa sampai tiba-tiba kamu lihat ada lubang di sana.
Kamar Lily di lantai dua berpindah ke pojok belakang waktu dia sebelas tahun. "Biar Nindi bisa belajar lebih tenang, kamarnya lebih luas." Kursi Lily di meja makan bergeser ke ujung waktu berumur tiga belas. "Biar Om dan Tante Sari bisa duduk lebih dekat, enak ngobrolnya." Uang jajan Lily mulai dipotong waktu usia empat belas. "Kamu sudah besar, bisa bantu-bantu di rumah."
Bantu-bantu.
Begitulah kata pertama yang membuat Lily jadi pembantu di rumahnya sendiri, tanpa ada surat kontrak, tanpa ada gaji, dan tanpa ada yang merasa ada yang salah dengan situasi itu.
Lily masak sarapan sebelum sekolah. Lily beres-beres meja makan setelah semua orang selesai makan. Lily cuci piring, setrika baju, sapu halaman, pel lantai. Bukan karena disuruh satu per satu setiap hari, tapi karena kalau tidak dilakukan Tante Sari akan diam dengan cara yang membuat udara di rumah jadi berat. Dan ayahnya akan pulang kerja lalu bertanya "kenapa rumah berantakan?" dengan nada yang membuat Lily merasa dia yang salah.
Lebih mudah mengerjakan semuanya daripada menghadapi konsekuensi tidak mengerjakannya.
Lily belajar itu waktu empat belas tahun dan tidak pernah lupa.
Yang paling menyakitkan bukan pekerjaan rumah itu.
Yang paling menyakitkan adalah soal kuliah.
Lily lulus SMA dengan nilai yang bagus. Bukan terbaik di sekolah, tapi cukup untuk masuk ke jurusan yang dia mau di universitas negeri. Dia sudah riset sendiri, sudah isi formulir sendiri, sudah tahu biayanya berapa. Dia datang ke ayahnya dengan map biru berisi semua dokumen itu dan senyum yang sudah dia latih supaya terlihat tidak terlalu berharap.
Ayahnya melihat map itu. Lalu meletakkannya di meja.
"Nanti dulu, Lily. Keuangan lagi ketat."
Lily mengangguk. Dia tunggu.
Tiga bulan kemudian, Nindi daftar ke universitas swasta yang biayanya tiga kali lipat dari yang Lily minta. Dan ayahnya menandatangani ceknya tanpa kedipan.
Lily berdiri di balik pintu ruang kerja ayahnya dan melihat itu. Dia tidak masuk. Dia tidak bilang apa-apa. Dia balik ke dapur dan mencuci piring yang sudah bersih karena tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan supaya dadanya tidak meledak.
Malam itu dia menangis di bawah selimut. Satu kali. Terakhir kali.
Setelah itu Lily memutuskan untuk tidak menangis untuk hal yang tidak bisa diubah dengan air mata. Keputusan itu yang membuatnya bertahan tujuh tahun di rumah ini. Dan keputusan itu juga yang tadi malam, di kamar tamu, membuat dia tidak langsung roboh di tempat ketika Nindi bilang "aku hamil empat bulan."
Tidak roboh. Hanya retak.
Ada bedanya.
Di gudang yang gelap itu, Lily mengangkat kepalanya dari atas lutut.
Cahaya dari bawah pintu kecil itu masih ada. Tidak padam, tidak mengecil. Stabil seperti nyala lilin yang tidak kena angin.
Lily menatapnya lama.
Dia pikir tentang Dimas, tentang tiga tahun yang ternyata cuma jadi latar belakang dari cerita yang lebih panjang antara Dimas dan Nindi. Tentang cara Dimas menghindari matanya tadi. Tentang nada suaranya yang meminta Lily mengerti situasi seolah pengkhianatan adalah cuaca buruk yang tidak ada yang bisa salahkan.
Dia pikir tentang ayahnya yang sudah tahu. Yang memilih diam. Yang tadi malam memilih gudang untuk anaknya sendiri.
Sesuatu di dada Lily bergerak. Bukan retak lagi ... lebih dalam dari itu. Lebih seperti sesuatu yang selama ini tertahan akhirnya mulai mencari jalan keluar.
Amarah.
Bukan jenis amarah yang panas dan terburu-buru. Tapi jenis yang dingin dan berat dan sudah terlalu lama ditekan ke dasar.
Lily berdiri.
Kakinya membawanya lagi ke pintu kecil itu. Tangannya kembali ke gagang besi yang berkarat. Dan kali ini, dia tidak menariknya kembali.
"Kamu mau apa?"
Suara itu lagi. Sama persis seperti tadi. Tapi sekarang Lily punya jawaban. Dia tidak tahu itu jawaban yang benar atau salah. Dia tidak peduli.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Satu detik. Dua detik.
Lalu dari balik pintu itu, suara seperti sesuatu yang bernapas untuk pertama kalinya setelah lama menunggu.
Dan gagang besi di tangannya mulai berputar sendiri.