Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Centang Abu-Abu
## Bab 9: Centang Abu-Abu
Waktu adalah variabel yang paling subjektif dalam kehidupan manusia. Bagi seorang siswa yang sedang mengerjakan ujian matematika, satu jam terasa seperti satu detik. Namun bagi Rafi, yang kini terduduk di tepi ranjangnya dengan pandangan terpaku pada layar Android yang meredup, satu jam terasa seperti satu keabadian yang membeku.
Pesan itu masih di sana. Tetap diam, tetap angkuh, dengan dua garis kecil berwarna abu-abu yang belum berubah warna.
**Rafi:** *Nis, Sabtu ini temenin ke Kisaran yuk? Pengen penyet di Irian tapi nggak ada kawan. Sekalian liat bioskop 5D yang lagi rame itu. Kita santai aja naik bus biar nggak capek di jalan.*
Pesan itu dikirim pukul 20.20. Sekarang, angka di sudut kanan atas layar sudah menunjukkan pukul 21.20. Secara analitis, enam puluh menit adalah waktu yang lebih dari cukup bagi seseorang untuk sekadar melirik notifikasi ponsel. Namun, realitas digital yang dihadapi Rafi jauh lebih kompleks daripada sekadar hitungan menit.
Ia mulai melakukan dekonstruksi kemungkinan. Secara skeptis, ia membagi dunia penantiannya menjadi tiga zona probabilitas:
Rafi bangkit, melangkah menuju jendela kamar yang sedikit terbuka. Di luar, suara mesin kapal motor dari arah pelabuhan terdengar sayu. Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke arah langit malam Tanjungbalai yang berawan, berharap bar sinyal di sudut layar akan bertambah.
"Mungkin sinyal di rumah Nisa lagi 'sos'," gumamnya.
Di daerah aliran sungai atau kawasan perumahan padat, gangguan sinyal adalah makanan sehari-hari. Ia mencoba mengingat-ingat letak rumah Nisa yang pernah ia lihat sekilas di status—daerah yang memang terkenal agak sulit jangkauan operator tertentu. Atau, ada kemungkinan yang lebih menyakitkan secara ekonomi: kuota.
"Apa mungkin paket datanya habis?" pikir Rafi. Sebagai orang yang sering "ngirit" kuota dengan mematikan data saat tidur, Rafi paham betul rasa sesaknya saat koneksi terputus tiba-tiba. Namun, secara logis, Nisa adalah anak SMK Bisnis yang populer. Kecil kemungkinan ia membiarkan ponselnya tanpa paket internet.
Rafi mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup tidak beraturan. Ia duduk kembali, kali ini di atas lantai semen yang dingin agar pikirannya ikut mendingin. Ia membayangkan apa yang dilakukan Nisa saat ini. Mungkin dia sedang membantu ibunya mencuci piring? Mungkin dia sedang fokus mengerjakan tugas akuntansi yang menumpuk? Atau mungkin, ponselnya sedang di-*charge* di ruang tengah sementara dia sedang menonton TV bersama keluarganya?
Secara struktural, asumsi-asumsi positif ini adalah mekanisme pertahanan diri. Jika ia percaya Nisa sedang sibuk, maka harga dirinya tetap utuh. Namun, sisi skeptis di otaknya segera membisikkan sesuatu yang jauh lebih tajam: *Bagaimana jika dia sedang asyik menelepon orang lain?*
Rafi segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh terjebak dalam lubang kecemburuan yang tidak beralasan. Ia kembali menatap dua centang abu-abu itu. Mereka terlihat seperti batu nisan bagi harapannya.
Ini adalah zona yang paling dihindari Rafi. Dalam budaya *gadget* saat ini, ada sebuah fenomena yang disebut *preview via notification bar*. Nisa tidak perlu membuka WhatsApp untuk membaca pesannya. Dia bisa melihatnya dari layar kunci, membacanya secara utuh, lalu memutuskan untuk tidak membalas.
"Dia sudah baca, tapi dia nggak mau masuk ke aplikasi karena nggak mau centangnya berubah jadi biru," bisik Rafi pada dirinya sendiri.
Jika teori ini benar, maka status dua centang abu-abu itu adalah sebuah pesan tersirat: *Aku tahu kamu mengajakku, tapi aku tidak punya urgensi untuk menjawabnya sekarang.* Bagi Rafi yang telah mengorbankan porsi makannya demi saldo 315 ribu, ketidakpastian ini terasa seperti penghinaan terhadap setiap butir nasi garam yang ia telan.
---
Rafi beranjak menuju meja belajarnya yang berantakan. Ia mengambil sebuah pulpen dan selembar kertas coret-coretan—kertas yang sama yang ia gunakan untuk menghitung rincian biaya ke Kisaran di Bab 5. Ia mulai menggambar garis-garis acak, sebuah kompulsi untuk mengalihkan kecemasan.
"Dua puluh ribu untuk bus," coretnya tanpa sadar. "Sembilan puluh ribu untuk makan."
Angka-angka itu kini terasa hambar. Apa gunanya memiliki uang 315 ribu jika subjek yang menjadi alasan pengumpulan uang tersebut bahkan tidak memberikan respons? Secara rigoritas ekonomi, uang Rafi saat ini adalah aset yang tidak produktif. Uang itu hanya diam di bawah selotip hitam celengan ayamnya, tidak memberikan nilai kebahagiaan apa pun selama pesan itu tetap abu-abu.
Tiba-tiba, suara dering ponsel dari arah ruang tamu mengejutkannya. Ia hampir melompat, berpikir itu ponselnya. Namun kemudian ia sadar, itu adalah suara televisi yang menyiarkan iklan.
Kesunyian kembali menyergap. Rafi merasa kamarnya semakin sempit. Bau lem dari sepatunya yang ia perbaiki di Bab 3 masih tercium samar, mengingatkannya pada usaha fisiknya.
"Kenapa satu jam bisa terasa selambat ini?" tanya Rafi pada jam dinding.
Ia mencoba melakukan aktivitas lain. Ia membuka buku paket Matematika Peminatan, mencoba membaca tentang limit fungsi, tapi matanya terus melirik ke layar HP yang ia letakkan di samping buku. Setiap kali layar itu menyala karena ada notifikasi dari grup kelas atau promo operator seluler, jantungnya seolah berhenti sesaat, lalu jatuh kembali ke dasar perut saat melihat pengirimnya bukan Nisa.
Ia mulai merasa haus, tapi ia enggan pergi ke dapur. Ia takut jika saat ia meninggalkan ponselnya selama dua menit untuk mengambil air, Nisa akan membalas dan ia tidak berada di sana untuk merespons dengan cepat. Ia terjebak dalam siklus ketergantungan digital yang menyedihkan.
"Analisis logis, Rafi. Gunakan logikamu," ia memijat pelipisnya. "Satu jam tidak berarti apa-apa. Mungkin dia sedang tidur. Ini jam sembilan lewat, banyak orang di Tanjungbalai sudah istirahat."
Namun, logikanya kembali dipatahkan oleh fakta bahwa Nisa sempat *online* sesaat di Bab 6. Berarti dia belum tidur.
Pukul 21.35.
Rafi mengambil ponselnya lagi. Jempolnya gemetar saat ia menekan tombol *power*. Ia membuka aplikasi WhatsApp dengan harapan ada keajaiban—mungkin sistemnya *error* dan sebenarnya pesannya sudah dibalas tapi tidak muncul notifikasi?
Kosong. Masih dua centang abu-abu.
Rafi memperhatikan foto profil Nisa sekali lagi. Senyum itu seolah-olah mulai mengejeknya. *Kamu benar-benar berpikir aku akan langsung menjawab ajakan naik bus ke Kisaran?* bayangan Nisa di kepalanya seolah berbicara dengan nada skeptis.
"Aku harus berhenti," gumam Rafi. "Kalau aku terus begini, aku bisa gila."
Ia memutuskan untuk meletakkan ponselnya di dalam laci meja, lalu menutupnya rapat-kali ini benar-benar tidak boleh dilihat sampai besok pagi. Ia mencoba berbaring, menarik selimut tipisnya hingga ke dada. Ia mencoba memejamkan mata, membayangkan suara bus yang melaju di aspal panas menuju Kisaran, membayangkan udara dingin di dalam mal Irian.
Namun, di dalam kegelapan, dua centang abu-abu itu masih bersinar di balik kelopak matanya. Mereka adalah simbol dari jurang kelas yang sedang ia coba lompati. Mereka adalah bukti bahwa meski ia sudah mengumpulkan setiap koin perak, ia tidak bisa membeli kecepatan waktu atau kepastian perasaan orang lain.
Satu jam telah berlalu, dan Rafi belajar satu hal yang sangat pahit malam itu: dalam ekonomi perasaan, penantian adalah pajak yang paling mahal, dan dia sedang membayarnya dengan harga diri yang perlahan-lahan mulai terkikis.
---