NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Kawah Candradimuka

Angin dingin di pinggiran ibu kota Kadipaten menyapu wajah Subosito dengan kasar, dan jantung jauh lebih beku. Pengkhianatan Resi Bhaskara adalah racun yang lebih mematikan daripada cairan ular hitam mana pun.

Di bawah rimbunnya pohon beringin tua yang menandai perbatasan wilayah kota, Subosito berhenti dan menatap Putri Dyah Ayuwangi. Sang Putri masih menggenggam erat Kitab Warangka Jati di dadanya, napasnya tersengal akibat melarikan diri jauh melintasi lorong-lorong gelap.

“Kau tidak bisa ikut lebih jauh, Dyah,” ucap Subosito. Suaranya berat, sarat dengan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.

Putri Dyah terbelalak. "Tapi Subosito, Mangkubumi akan mencariku. Istana adalah kandang serigala sekarang!"

"Justru karena itu kau harus kembali secara rahasia. Gunakan faksi ksatria tua yang setia pada ayahmu. Jika kau menghilang bersamaku, Mangkubumi akan memiliki alasan untuk mengumumkanmu sebagai pengkhianat dan menghapus hak takhtamu selamanya!”

Subosito memegang bahu sang Putri. "Tetaplah di sana, jadilah telinga dan mataku. Aku harus menuju Kawah Candradimuka. Panasnya mampu melelehkan tulang manusia biasa. Aku harus pergi sendirian agar sayap ini bisa tumbuh tanpa beban!"

Kebersamaan selama beberapa hari menumbuhkan benih perasaan di antara mereka berdua. Sejak pertemuan pertama, Dyah Ayuwangi telah menaruh hati kepada Subosito.

Sejalan dengan sang putri, Subosito yang selama ini hidupnya penuh dengan cacian, dan penderitaan, mendapat perhatian dari Dyah, pemuda itu merasa nyaman dan ingin selalu berada disisi sang putri.

Namun, apakah cinta mereka salah?

Dyah Ayuwangi sedikit mengambek, dia tahu Subosito benar. Perjalanan menuju jantung kawah aktif Gunung Lawu adalah misi bunuh diri bagi siapa pun yang tidak memiliki api di nadinya. Dengan berat hati, dia menyerahkan sebuah selendang sutra biru miliknya.

"Bawa ini. Jika kau berhasil turun dari puncak, kibarkan ini di lereng selatan. Aku akan mengirimkan bala bantuan," bisik Dyah. "Jangan biarkan rasa menyesal membakarmu lebih dulu sebelum kawah itu melakukannya!"

Subosito mengangguk, tanpa sadar dan tanpa dorongan apa pun, mata mereka berdua saling bertatapan. Subosito mengecup kening Dyah Ayuwangi, lalu tersenyum dan berkata, “terima kasih atas bantuanmu selama ini!”

Subosito berbalik, dan berlari seraya melanjutkan perkataannya, “itu adalah tanda kasih seorang kakak kepada adiknya, Dyah!”

Dyah hanya tersenyum diikuti pipinya yang memerah, memegang keningnya sendiri, lalu tersenyum lagi dan melambaikan tangan kepada Subosito.

Subosito menembus kegelapan, meninggalkan sang Putri yang perlahan kembali ke arah bayang-bayang tembok kota. Tujuannya kini satu: puncak tertinggi, tempat di mana magma bumi bertemu dengan napas dewa.

Perjalanan mendaki kembali ke Lawu terasa berbeda. Kali ini, alam seolah menjauhinya. Burung-burung hantu berhenti bercicit saat dia lewat, dan kabut yang membuat hutan jati terasa lebih tebal, seolah mencoba mengangkutnya.

Semakin tinggi Subosito mendaki, suhu udara yang seharusnya mendingin justru terasa semakin menyengat. Punggungnya mulai berdenyut—bukan denyut hangat yang menenangkan, melainkan denyut yang menuntut pelepasan.

Setelah dua hari perjalanan tanpa henti, Subosito tiba di bibir Kawah Candradimuka.

Pemandangan di depannya adalah neraka yang nyata. Danau lahar cair berwarna oranye kemerahan bergolak di bawah sana, melepaskan uap belerang yang mencekik dan suara bergemuruh yang menyerupai rintihan ribuan jiwa.

Tanah di sekitar kawah kering kerontang, berwarna abu-abu keputihan karena panas yang ekstrem. Di sini, batas antara dunia manusia dan inti bumi seolah menghilang.

Subosito melangkah ke sebuah batu vulkanik runcing yang menjorok tepat di atas kawah yang mendidih.

Dia duduk bersila, membiarkan uap panas menyapu kulitnya yang kini mulai berpendar emas.

"Jika aku ingin terbang, aku harus melepaskan berat yang menahan jiwaku di bumi," gumamnya, lalu memejamkan mata dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Di dalam keheningan batinnya, Subosito tak menemukan kedamaian. Begitu menutup mata, suara kawah berubah menjadi mengerikan.

“Tolong kami, Subosito!”

"Kenapa kau bakar kami? Kami hanya pelayan di padepokan!"

Subosito tersentak dalam batinnya. Bayangan Padepokan Gagak Hitam muncul lagi dengan kejernihan yang menyiksa. Pemuda itu melihat wajah-wajah murid muda yang ketakutan, pelayan-pelayan tua yang tidak tahu apa-apa, semuanya terperangkap dalam kobaran api merahnya yang mengamuk saat itu.

Subosito melihat tangan-tangan yang menggapai dari balik puing-puing yang terbakar, memohon belas kasihan yang tidak pernah ia berikan karena saat itu telah kehilangan akal sehatnya.

Lembah batinnya kini berubah menjadi padang abu. Di tengah-tengahnya, berdiri sosok Suro Digdoyo dan para pendekarnya, dengan tubuh mereka hangus, mata mereka hanya berisi bara hitam.

"Kau menyebut dirimu pelindung?" tanya sosok Suro Digdoyo yang astral. Suaranya terdengar seperti memulai perang. "Kau hanyalah pembantai yang beruntung memiliki sayap. Darah kami adalah tinta yang menuliskan sejarahmu, Subosito!"

Panas di sekitar tubuh Subosito di dunia nyata melonjak drastis. Lava di kawah mulai bergolak lebih hebat, seolah merespons gejolak batin sang pemuda api. Tato di punggung mulai membara, bukan warna emas—warna merah gelap yang kotor mulai muncul kembali, mencoba mencemari kemurnian yang telah dicapai.

"Aku tidak bermaksud membunuh kalian!"" rintih Subosito dalam meditasinya.

Keringat bercampur darah mulai menetes dari pori-porinya.

"Niat tidak menghapus kenyataan, Cah Bagus," sebuah suara lain muncul. Itu adalah suara ayahnya, Senopati Arga Sangkara, atau setidaknya proyeksi kenangan yang diciptakan oleh kawah tersebut.

"Seorang ksatria tidak diukur dari niatnya, tapi dari kendali atas pedangnya. Kau membiarkan emosimu menjadi tuanmu, dan nyawa orang-orang tak berdosa itu sebagai hawa nafsu di luar kehendakmu!"

Subosito merasa seolah-olah ditarik ke bawah, ke arah cairan magma yang mendidih. Sensasi itu terasa seperti rantai besi yang sangat berat, mengikat kakinya dan menariknya jatuh dari "sayap" yang sedang coba dibangun.

Subosito merasa tidak layak untuk terbang. Bagaimana mungkin seorang pembantai diizinkan untuk melihat dunia dari ketinggian awan?

"Lepaskan!" bisik suara Garuda Paksi di dalam sukmanya. "Atau kau akan tenggelam bersamanya!"

"Bagaimana aku bisa melepasnya!" teriak Subosito dalam kegelapan batinnya. "Mereka mati karenaku!"

“Kau tidak bisa menghidupkan mereka kembali,” suara ayahnya kembali terdengar, kini lebih lembut.

“Kesedihanmu adalah bukti sisi manusiamu, tapi keputusasaanmu adalah kemenangan bagi Mangkubumi. Pilihlah, Subosito: mati sebagai pendosa yang menyesal, atau hidup sebagai pelindung yang menebus dosa?”

Subosito menarik napas dalam, menghirup panas kawah yang mampu membakar paru-paru.

Di tengah badai penglihatan itu, Subosito melihat Sekar yang tersenyum di Desa Hargodalem, Subosito melihat Putri Dyah yang menghancurkan nyawanya, dan Subosito melihat ribuan rakyat Kadipaten yang tertindas.

Pemuda itu mulai menerima rasa sakit itu, dan tidak lagi menolak bayangan mayat-mayat di padepokan. Subosito memeluk rasa bersalahnya, membiarkannya masuk ke dalam inti apinya.

Dirinya menyadari bahwa api emasnya tidak akan pernah sempurna jika tidak memiliki "pahit" sebagai penyeimbang "manis".

Dhuuar!

Di dunia nyata, sebuah ledakan energi emas muncul dari tubuh Subosito. Gelombang kejutnya membuat lava di kawah Candradimuka membentuk bentangan raksasa.

Dari punggung Subosito, dua sayap besar yang terbuat dari jalinan api emas yang padat mulai tumbuh, memanjang hingga masing-masing mencapai tiga depa.

Sayap itu tidak transparan; setiap helai bulunya tampak seperti emas yang ditempa secara halus, memancarkan cahaya yang mampu menembus kabut belerang yang paling pekat.

Subosito membuka matanya, pupil matanya kini sepenuhnya berwarna emas, dengan bulatan yang menyerupai lanskap saat fajar. Pemuda itu berdiri di bibir kawah, dan dengan satu sentakan sayap, dia merasakan tubuhnya terangkat.

Udara panas kawah tidak lagi membakarnya, melainkan menjadi penopang bagi sayapnya. Subosito terbang membumbung tinggi, menembus awan dan asap belerang, meninggalkan rasa bersalahnya sebagai pupuk bagi pertumbuhan jiwa yang baru.

Kini Subosito telah Manunggal sepenuhnya, bukan lagi manusia dengan kekuatan api; dia adalah Sang Garuda yang berjalan di bumi.

Subosito meluncur turun dari puncak Lawu dengan kecepatan yang membelah awan. Namun ketenangannya terusik saat Subosito mendekati lereng bawah. Hawa udara di sekitarnya mendadak mendingin secara tidak wajar. Kabut putih yang tebal muncul entah dari mana, menghentikan laju terbangnya.

Subosito mendarat di sebuah dataran tinggi yang terbuka, sebuah hamparan rumput pegunungan yang luas. Di depannya, berdiri sesosok yang membuat napasnya tertahan.

Sosok itu bukan manusia, bertubuh seekor lembu raksasa dengan sisik naga di sepanjang badannya, kepalanya menjulang seperti singa dengan mahkota emas, dan memiliki sepasang sayap yang lebar.

Tubuhnya memancarkan hawa dingin yang mistis, sangat kontras dengan hawa panas yang dibawa Subosito.

Lembuswana, sang penguasa gaib penjaga Gunung Lawu yang telah tertidur selama ratusan tahun.

Makhluk mitos itu menatap Subosito dengan mata yang bersinar biru sedingin es. “Terlalu banyak api yang kau bawa ke gunung ini, Titisan Selatan,” suara Lembuswana menggema langsung di dalam tengkorak Subosito, membuat tanah di bawah kakinya bergetar. "Kau telah mengganggu keseimbangan Lawu. Sayap emasmu adalah tanda peringatan bagi kami, para penghuni lama!"

Subosito mengepakkan sayap emasnya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. "Aku datang bukan untuk mencari musuh, Penjaga Agung. Aku datang untuk menegakkan keadilan!”

“Keadilan manusia sering kali menjadi racun bagi alam gaib,” balas Lembuswana sambil mengangkat cakar singanya yang tajam. "Tunjukkan padaku, apakah sayap itu hanya perhiasan dari kawah, atau kau memang layak menyandang nama Garuda!"

Pertarungan dua kekuatan mitos pun tak terelakkan. Di atas lereng Lawu yang sunyi, api emas akan beradu dengan kekuatan tanah dan hutan. Subosito harus membuktikan bahwa kekuatan bukan sekadar untuk menghancurkan, tetapi untuk diakui oleh para penguasa alam yang sebenarnya.

Mampukah Subosito menaklukkan Lembuswana tanpa menggunakan kekerasan yang merusak? Dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang penguasa gaib tersebut dari sang titisan api?

Simak terus kelanjuta**n kisah Subosito**.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!