Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dua hari setelah pesta. Elena duduk di meja kerjanya dengan kopi pagi yang belum disentuh ketika sekretarisnya masuk setelah mengetuk dengan terburu-buru, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Bu Elena." Suaranya berbeda dari biasanya. "Ada sesuatu yang perlu Ibu lihat sekarang."
Elena mendongak. Sekretarisnya meletakkan tablet di atas mejanya.
Layar tablet itu menampilkan halaman depan salah satu portal berita bisnis terbesar, portal yang dibaca semua orang di kalangan pebisnis dan kalanga-kalangan atas, portal yang namanya muncul di meja-meja rapat di seluruh kota setiap pagi.
ELENA WIRAWAN DAN DRAMA PERNIKAHAN DI BALIK KEMBALINYA PUTRI WIRAWAN GROUP
Hendra Wirawan Diduga Paksa Putrinya Ceraikan Suami Karena Alasan Kelas Sosial. Leon Raffael Diduga Kandidat Menantu Idaman
Elena mulai membaca dengan teliti dari awal sampai akhir.
Artikel itu panjang, tapi Elena membacanya tanpa terlewat. Ada kutipan dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya. Ada foto Elena dan Adrian dari entah darimana yang terlihat seperti pasangan bahagia. Ada narasi tentang Hendra Wirawan yang keras kepala dan tidak menerima menantu dari kalangan biasa.
Dan di bagian bawah artikel itu, foto Leon dan Elena berdiri bersama di balkon hotel dua malam lalu. Foto yang diambil dari sudut yang memang terlihat seperti dua orang yang sangat dekat.
Leon Raffael CEO Raffael Capital Group diduga kuat menjadi kandidat menantu pilihan Hendra Wirawan. Keduanya terlihat akrab di acara perkenalan Elena Wirawan dua malam lalu. Sumber terpercaya menyebut hubungan keduanya bukan sekadar urusan bisnis.
Sementara itu Adrian Kusuma, pria sederhana yang mencintai Elena Wirawan dengan tulus, kini mengaku dipaksa meninggalkan istri dan anaknya oleh tekanan keluarga Wirawan. "Saya hanya ingin keluarga saya kembali," katanya dalam pernyataan eksklusif.
Elena berhenti di kalimat itu. Membacanya sekali lagi. Lalu
ia meletakkan tablet itu di mejanya dan menatap layarnya sebentar, foto dirinya dan Leon di jendela ballroom, judul yang sudah dibaca entah berapa ribu orang sejak berita itu naik.
"Sudah berapa lama berita ini beredar?" Ia bertanya pada sekretarisnya.
"Sejak tadi malam Bu. Tapi baru ramai pagi ini." Sekretarisnya menjawab pelan. "Sudah ada tujuh portal yang publish. Dua media cetak. Satu stasiun berita akan bahas ini di segmen pagi jam delapan."
Elena terdiam sebentar, lalu mengambil tablet itu. "Aku ke ruangan ayah."
Elena bangkit, dan berjalan menuju ruangan Ayah nya. Setelah sampai ia menghela nafas terlebih dahulu baru masuk setelah mengetuk pintu.
Hendra Wirawan sedang di telepon saat Elena masuk. Ia menoleh ke arah anaknya lalu menunjuk kursi di depan mejanya, isyarat untuk duduk dan tunggu.
Elena pun duduk. Ia mendengarkan separuh percakapan ayahnya sambil membaca artikel itu sekali lagi dari awal.
"Iya Pak Gunawan saya sudah lihat." Ayahnya berbicara dengan nada yang terkontrol tapi ada sesuatu di bawahnya yang Elena kenal, nada ayahnya saat ia sedang menahan diri dengan sangat keras. "Berita itu tidak akurat. Saya tidak bisa komentar lebih jauh sekarang tapi saya pastikan itu tidak benar." ia berhenti mendengarkan sebentar. "Iya. Iya saya mengerti. Terima kasih sudah menghubungi."
Ia menutup telepon. Langsung ada panggilan masuk lagi.
Ayahnya melihat layarnya. Menghela napas. Mengangkat dan telepon lagi.
"Pak Santoso. Iya saya sudah melihatnya."
Elena meletakkan tabletnya di meja dan menatap ayahnya menangani panggilan satu per satu, investor, relasi bisnis, mitra lama, semua orang yang membaca berita yang sama pagi ini dan menelepon dengan pertanyaan yang sama. Semua orang yang namanya ada di daftar tamu pesta malam itu.
Sepuluh menit berlalu sebelum ayahnya akhirnya meletakkan ponselnya dan menatap Elena.
"Sudah baca semuanya?" Ia bertanya.
"Sudah."
"Telepon sudah tidak berhenti sejak tadi." Ayahnya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Pak Gunawan, Pak Santoso, Bu Hartati dari bank, semua orang menelepon untuk konfirmasi." Ia menatap anaknya. "Nama ayah disebut sebagai orang yang memaksa perceraian karena masalah kelas sosial. Nama Leon disebut sebagai kandidat menantu pilihan ayah." Ia mengetukkan jarinya di meja. "Dan Adrian memberikan pernyataan eksklusif ke portal itu."
Elena tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke foto di tablet itu, foto dirinya dan Leon di balkon.
Siapa yang mengambil foto itu? Kapan? Dari sudut mana sehingga terlihat seperti itu? batinnya.
"Adrian yang menyebarkan ini?" Elena bertanya.
Ayahnya menatapnya. "Kamu pikir dia?"
"Kutipan di artikel itu bukan rekayasa." Elena berkata pelan. "Itu kata-kata Adrian. Tapi apakah Adrian yang menghubungi portal itu sendiri atau ada yang membantunya" ia berhenti sebentar. "Aku tidak tahu."
"Kamu curiga pada siapa?"
Elena menatap foto di tablet itu sebentar lagi. Foto yang diambil dari sudut yang sangat spesifik. Dari jarak yang tidak dekat tapi tidak terlalu jauh. Dari posisi yang hanya bisa didapat kalau seseorang memang sengaja mengambilnya.
"Adrian." Elena menjawab akhirnya. "Ia yang paling punya alasan. Ia yang paling sakit hati setelah malam itu." Ia menjelaskan. "Tapi aku tidak seratus persen yakin."
Ayahnya mengangguk pelan, bukan setuju, tapi hanya mendengarkan.
"Yang lebih menggangguku sekarang adalah Leon." Elena berkata. "Namanya ada di berita itu. Fotonya ada di berita itu. Ia tidak ada hubungannya dengan urusan keluarga kita tapi namanya sudah terseret."
Ayahnya diam sebentar. "Ayah sudah hubungi Leon tadi pagi. Ia sudah baca berita itu." Ayahnya berkata. "Tidak banyak yang ia komentari."
Elena bisa membayangkan itu, Leon yang membaca berita itu dengan ekspresi yang tidak berubah, meletakkan ponselnya, dan melanjutkan harinya seperti biasa.
"Lalu sekarang apa?" Elena bertanya.
Ayahnya menatap ponselnya yang sudah mulai menyala lagi. "Ayah perlu statement resmi dari tim Pengacara untuk meminta saran langkah hukum apa yang harus di ambil terkait berita ini. Sebelum berita ini berkembang lebih jauh." Ia menatap Elena. "Dan kamu perlu berbicara dengan pengacara juga soal kutipan Adrian di artikel itu. Ada beberapa pernyataan yang bisa kita permasalahkan secara hukum."
"Aku tidak mau jalur hukum, Ayah." Elena berkata.
"Elena..."
"Kalau kita tempuh jalur hukum sekarang, berita ini akan hidup lebih lama dari yang seharusnya." Elena memotong dengan tenang. "Setiap langkah hukum yang kita ambil akan menjadi berita baru. Setiap pernyataan yang kita keluarkan akan memancing pernyataan balasan." Ia menatap ayahnya. "Aku tidak mau memberi berita ini bahan bakar untuk terus hidup."
Ayahnya menatapnya lama.
"Lalu kamu mau apa?"
Elena menatap tabletnya yang masih menyala di meja, foto dirinya dan Leon, judul yang sudah tersebar ke tujuh portal, nama keluarganya yang pagi ini jadi bahan percakapan di meja-meja sarapan orang-orang.
"Biarkan dulu." Ia menjawab. "Berita seperti ini tidak bisa hidup tanpa bahan bakar baru. Kalau kita tidak memberi reaksi yang bisa mereka jadikan berita lanjutan dalam dua tiga hari ini akan tenggelam sendiri."
"Dan nama ayah?"
"Statement dari pengacara aku rasa sudah cukup." Elena berkata. "Tidak perlu panjang. Tidak perlu defensif. Cukup satu kalimat yang menunjukkan bahwa kita tidak akan terpancing oleh berita bohong seperti itu"
Ayahnya menatap anaknya sebentar lagi. Lalu ia mengambil ponselnya yang sudah berbunyi lagi dan mengangkatnya. "Halo, Pak Ridwan."
Elena berdiri dan mengambil tabletnya, lalu berjalan ke pintu setelah membungkuk memberi hormat pada ayahnya.
Elena kembali ke meja kerjanya. Elena membuka laptopnya dan mulai bekerja seperti biasa meskipun pikirannya tidak bisa fokus.
Lalu ponselnya berbunyi. Elena menatap layarnya sebentar. Lalu mengangkatnya.
"Halo?"
"Sudah baca beritanya?"
Suara yang rendah dan terukur. Leon.
Elena menatap foto di tabletnya yang masih terbuka di sebelah laptopnya, foto mereka berdua yang sekarang sudah tersebar ke tujuh portal berita.
"Sudah." Elena menjawab singkat.
"Aku perlu bicara denganmu." Leon berkata langsung. "Hari ini apa kamu ada waktu?"
Elena menatap jadwalnya di layar laptop.
"Mau bertemu dimana?." Ia menjawab.
"Kita bertemu di restoran dekat kantor mu saja."
"Baiklah, nanti jam makan siang mari kita bertemu." kata Elena.
"Sampai jumpa nanti siang."
"Baik."
Dan telepon pun terputus. Elena kembali meletakkan ponselnya. Dan kembali pada pekerjaan nya.