Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - KETAHUAN SETENGAH
Minggu pagi datang dengan langit yang bersih setelah hujan dua hari.
Lily turun ke dapur jam lima seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di cara rumah itu terasa di pagi ini. Sesuatu yang tidak bisa dia beri nama langsung tapi terasa seperti tegangan yang sudah ada sebelum dia bangun.
Bibi Rah tidak ada di dapur.
Itu yang pertama.
Bibi Rah selalu ada di dapur sebelum jam lima. Dua puluh tahun kebiasaan yang tidak pernah bergeser, bahkan waktu Bibi Rah sakit, perempuan itu akan memaksakan diri ke dapur setidaknya untuk menyiapkan air panas sebelum akhirnya disuruh istirahat.
Pagi ini kompor dingin. Tidak ada tanda-tanda persiapan apa pun.
Lily menyalakan kompor sendiri, menaruh air untuk direbus, dan mulai menyiapkan sarapan dengan sebagian kepalanya di pekerjaan dan sebagian lagi memperhatikan bunyi-bunyi rumah.
Jam lima lebih dua puluh, langkah kaki di tangga, tapi bukan dari arah kamar Bibi Rah di belakang. Dari tangga utama. Dari lantai dua.
Tante Sari masuk ke dapur.
Jam lima dua puluh pagi. Tanpa makeupnya. Tanpa gerakan yang sudah terencana. Hanya berdiri di pintu dapur dengan wajah yang Lily tidak pernah lihat sebelumnya di perempuan itu. Lebih tua dari biasanya, lebih kosong di matanya.
Lily melanjutkan mengiris bawang tanpa menoleh penuh. "Sarapan belum siap, Tante. Masih setengah jam."
"Di mana Bibi Rah?"
"Belum kelihatan pagi ini."
Tante Sari tidak bergerak dari pintu. "Dia tidak ada di kamarnya."
Lily meletakkan pisau. Berbalik.
"Tidak ada?"
"Kamarnya kosong. Barang-barangnya masih ada tapi dia tidak ada."
Bibi Rah ditemukan dua jam kemudian oleh ayah Lily yang dikirim untuk mengecek area luar rumah. Perempuan itu duduk di bangku taman depan tetangga tiga rumah dari sini, berselimut tipis yang dia bawa sendiri, dengan tatapan yang mengarah ke suatu titik di trotoar.
Bukan kabur. Bukan jatuh. Bukan sesuatu yang mengganggu secara fisik.
Bibi Rah hanya duduk di sana dan tidak mau masuk.
Ayahnya membawa masuk dengan cara yang lebih gentle dari yang biasa Lily lihat ayahnya memperlakukan orang dan itu sendiri memberitahu Lily sesuatu tentang betapa tidak biasanya situasi ini.
Bibi Rah duduk di kursi dapur sementara Lily menyiapkan teh untuknya. Perempuan tua itu tidak sakit, tidak bingung. Matanya jernih, postur tubuhnya tegak, hanya ada sesuatu yang berat di caranya duduk.
Tante Sari menunggu di pintu dapur.
"Bibi kenapa keluar malam-malam?" tanya Tante Sari.
Bibi Rah tidak langsung menjawab. Dia menerima teh yang Lily bawa, minum sedikit, lalu menatap mejanya.
"Tidak bisa tidur."
"Di bangku orang lain?"
"Kakinya perlu jalan," kata Bibi Rah. Datar. Tidak defensif, tidak menjelaskan lebih.
Tante Sari menatapnya sebentar... Lily merasakan kalkulasi yang biasanya ada di balik tatapan itu tapi pagi ini terasa lebih terburu-buru, kurang terencana. Lalu Tante Sari masuk ke dapur dan bicara lebih pelan, tapi di dapur yang kecil ini lebih pelan tetap terdengar:
"Bibi kemarin terlihat keluar bersama Lily ke arah jalan besar. Bibi pergi ke mana?"
"Pasar," jawab Bibi Rah. "Diajak Lily beli bumbu."
"Lily tidak bilang ke saya soal itu."
"Lily tidak perlu bilang ke siapa-siapa tiap kali beli bumbu."
Lily melanjutkan mengaduk bubur di kompor dengan punggung menghadap keduanya. Tangannya tidak berhenti bergerak.
Tante Sari tidak melanjutkan. Tapi Lily merasakan tatapan itu berpindah dari Bibi Rah ke punggungnya... diam, menimbang.
Siang itu, waktu Lily sedang menjemur cucian di halaman belakang, Tante Sari datang.
Bukan dari pintu belakang, tapi dari jalan samping, yang berarti dia keluar lewat sisi rumah untuk menghindari terlihat dari jendela kamar Nindi di lantai dua. Gerakan yang terlalu disengaja untuk santai.
Lily terus menjemur.
"Lily."
"Iya, Tante."
"Kita perlu bicara serius."
Lily menggantung handuk terakhir, mengambil ember kosong, dan berbalik. "Mau bicara soal apa?"
Tante Sari berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya. Tidak ada tas tangan, tidak ada ponsel. Perempuan ini datang tanpa pelindung apapun, yang artinya dia datang untuk sesuatu yang tidak bisa dilakukan lewat lapisan formalitas.
"Kamu ketemu Bu Hendrawati kemarin."
Bukan pertanyaan.
Lily menatapnya. Di dalam, ada sesuatu yang bergerak... bukan panik, lebih ke kewaspadaan yang segera diselesaikan. Seseorang memberitahu Tante Sari soal pertemuan itu. Bu Hendrawati tidak akan, perempuan itu sudah jelas berpihak ke arah yang berbeda. Artinya seseorang yang lain melihat Lily.
"Saya tidak kenal Bu Hendrawati di luar urusan notaris," kata Lily.
"Jangan bohong ke aku." Tante Sari bicara pelan tapi nadanya berubah. Bukan lagi nada yang berusaha terdengar seperti ibu atau kepala rumah tangga. Lebih langsung dari itu. "Aku tahu kamu ketemu dia. Dan aku tahu kenapa."
Lily menunggu.
"Perempuan itu mau kasih kamu sesuatu dari arsip lamanya. Sesuatu yang melibatkan namaku."
Lily tidak menjawab.
"Lily." Nada Tante Sari berubah lagi, kali ini ada sesuatu di sana yang bukan ancaman dan bukan kelemahan, tapi sesuatu di antaranya. Semacam kelelahan yang terlalu berat untuk terus disembunyikan. "Aku mau kamu dengarkan aku dulu sebelum kamu memutuskan apapun."
"Saya mendengarkan."
"Apa yang ada di dokumen itu, pernyataan yang aku buat delapan tahun lalu. Itu bukan sesuatu yang aku buat karena mau menyakiti ibumu. Atau kamu."
Lily menatapnya langsung. "Lalu kenapa?"
Tante Sari menatap balik dengan mata yang akhirnya tidak bersembunyi di balik kalkulasi. "Karena aku takut. Karena aku sudah terlalu dalam di sesuatu yang tidak aku pilih sepenuhnya. Dan karena waktu aku menyadari seberapa jauhnya, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menyimpan bukti bahwa aku tahu."
"Supaya kalau sesuatu terjadi pada Tante, ada yang bisa digunakan."
"Ya."
Lily memegang ember di tangannya lebih erat. "Tante tahu apa yang terjadi pada ibu saya."
Kalimat itu bukan pertanyaan dan bukan tuduhan. Lebih seperti pernyataan yang sedang diletakkan di antara mereka dan menunggu untuk diakui atau dibantah.
Tante Sari tidak membantah. Tapi dia juga tidak mengakui dengan kata-kata.
Yang dia lakukan adalah menutup matanya sebentar... satu detik, dua detik dengan cara orang yang sudah lama menahan sesuatu dan baru sekarang mengizinkan beratnya terasa sepenuhnya.
"Reinaldo yang memutuskan," katanya akhirnya. Pelan. "Aku baru tahu setelah semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa membuktikan itu ke kamu, aku tidak bisa membuktikan ke siapa pun. Makanya aku buat pernyataan itu."
"Dan Tante tetap tinggal di sini. Setelah tahu."
"Karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi." Kata-kata itu keluar seperti pengakuan yang sudah dipersiapkan lama tapi tetap sakit diucapkan. "Dan karena Reinaldo tahu cukup soal aku untuk memastikan aku tidak bisa pergi begitu saja."
Lily menatap perempuan yang sudah tujuh tahun mengambil tempat Mama di rumah ini. Di meja makan, di kamar utama, di perhatian ayahnya dengan mata yang sekarang melihat lebih dari satu lapisan.
Bukan hanya musuh. Tapi bukan sekutu juga. Sesuatu yang lebih rumit dan lebih berbahaya dari keduanya: seseorang yang tahu terlalu banyak dan terjebak terlalu dalam untuk keluar dengan mudah, yang keinginannya untuk bertahan hidup mungkin bisa digunakan atau mungkin bisa menghancurkan semuanya tergantung pada Reinaldo menekan tombol yang mana.
"Apa yang Tante mau dari saya?" tanya Lily.
"Aku mau kamu tidak menggunakan dokumen itu dulu." Tante Sari menatapnya. "Beri aku waktu. Ada cara yang lebih aman untuk menggunakannya, cara yang tidak membuatmu jadi target langsung Reinaldo sebelum kamu siap."
Lily berdiri dalam keheningan itu.
Satu sisi, Tante Sari mungkin jujur. Mungkin perempuan ini genuinely terjebak dan genuinely ingin cara keluar yang tidak menghancurkan semua orang.
Sisi lain, Tante Sari juga mungkin masih bekerja untuk Reinaldo, atau setidaknya melaporkan ke dia dan permintaan jangan gunakan dokumen itu dulu mungkin bukan tentang keamanan Lily tapi tentang membeli waktu untuk pihak lain.
Lily tidak bisa tahu yang mana. Belum.
"Saya akan pertimbangkan," kata Lily.
Bukan ya. Bukan tidak.
Tante Sari mengangguk sekali, kecil, lalu berjalan kembali ke jalan samping.
Lily berdiri di halaman belakang dengan ember kosong di tangannya dan pikiran yang berputar dengan cara yang perlu segera dibagikan ke Hendra dan Pak Syarif.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Dimas. [Aku bisa besok. File itu bisa aku pindahkan ke tempat yang bisa kamu ambil. Kamu siap?]
Lily menatap pesan itu.
Rekaman di tangan Dimas. Pernyataan Tante Sari di arsip Bu Hendrawati. Dokter tua dengan catatan yang tidak pernah dipublikasikan. Mantan karyawan Reinaldo yang tahu nama Sinta.
Semua potongan itu ada. Tersebar. Belum cukup kuat masing-masing. Tapi kalau disatukan dengan cara yang tepat, dengan urutan yang tepat, di hadapan orang yang tepat---
[Iya,] balas Lily. [Besok.]
Bersambung ke Bab 28...