Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema yang Terlarang
Keheningan malam di reruntuhan perbatasan seketika pecah. Vivienne, yang sedang mencoba memusatkan mananya untuk membentuk perisai kaca tipis, tersentak hingga konsentrasinya buyar. Di depannya, Daefiel yang sedang berlatih mengontrol api kecil di telapak tangannya pun ikut mematung.
Dunnnggg—
Suara itu tidak terdengar seperti ledakan fisik, melainkan sebuah dengungan frekuensi tinggi yang merambat melalui tanah dan udara, seolah-olah ada dawai raksasa yang dipetik dengan paksa. Frekuensinya terasa asing—dingin, tajam, dan memiliki getaran yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau dengar itu?" Daefiel bertanya, suaranya yang biasanya penuh candaan kini berubah menjadi waspada. Ia mematikan api di tangannya dan menatap ke arah utara, tempat asrama Crimson Crest berdiri tegak di bawah cahaya bulan.
Vivienne memejamkan mata, mencoba merasakan sisa-sisa energi yang terbawa angin. "Itu bukan sihir elemen biasa. Rasanya seperti... benturan antara dua kekuatan yang sangat besar. Dan suaranya datang dari arah Crimson Crest."
Meskipun jarak antara kedua akademi dipisahkan oleh hutan dan perbukitan, keheningan malam yang magis membuat suara dengungan itu mampu merambat sampai ke wilayah Arcanova. Di asrama Arcanova sendiri, beberapa lampu kristal di jendela mulai menyala satu per satu, menandakan para siswa di sana pun mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres di seberang wilayah mereka.
"Lucien," bisik Vivienne tiba-tiba, matanya melebar karena menyadari sesuatu.
"Maksudmu si kaku itu sedang mengamuk?" Daefiel mendengus, meski wajahnya terlihat cemas. "Dia kan sedang dikurung oleh segel daun hijau. Apa mungkin dia mencoba mendobrak keluar?"
Vivienne tidak menjawab, namun jemarinya gemetar saat ia menyentuh simbol kutukannya sendiri. Getaran suara tadi memiliki resonansi yang sangat mirip dengan energi gelap yang mereka temui di Hutan Abyss. Jika Lucien benar-benar mencoba menggunakan kekuatan “itu” untuk menghancurkan segel akademi, maka dia sedang melakukan tindakan bunuh diri secara sosial.
"Kita harus mengakhiri latihan malam ini, Daefiel," ujar Vivienne tegas. "Jika suara itu terdengar sampai ke sini, bayangkan betapa kerasnya suara itu di telinga para instruktur Crimson Crest. Mereka pasti sedang menuju kamar Lucien sekarang."
Daefiel menatap ke arah cakrawala dengan raut wajah serius yang jarang ia tunjukkan. "Jika dia tertangkap menggunakan kekuatan hitam itu... kita berdua akan menjadi target berikutnya. Sialan, Lucien, apa yang kau pikirkan?"
Keduanya segera memadamkan seluruh jejak sihir mereka dan menyelinap kembali menuju asrama masing-masing, sementara gema dengungan misterius itu masih terus terngiang di udara, meninggalkan jejak ketakutan yang belum terucap.
Lucien melewati malam dengan tidur yang tidak tenang. Gema dengungan itu terus terngiang di mimpinya, bercampur dengan bayangan petir hitam yang nyaris menghancurkan kamarnya sendiri. Saat fajar menyingsing dan cahaya matahari mulai menembus tirai tipis, Lucien mengerang pelan, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.
Pandangannya masih samar, namun ia merasakan kehadiran seseorang di dalam kamarnya yang seharusnya terkunci rapat. Jantungnya berdegup kencang seketika.
"Sudah bangun, Lucien?"
Suara itu tenang, dalam, dan sangat familiar. Lucien tersentak dan langsung terduduk tegak di tempat tidurnya. Di sisi ranjangnya, duduk Master Alaric dengan jubah abu-abunya yang bersahaja. Pria tua itu tidak tampak marah; ia justru sedang menyesap teh dari cangkir kecil yang dibawanya sendiri, seolah-olah ini adalah kunjungan pagi biasa.
"Master Alaric... sejak kapan Anda di sini?" tanya Lucien, suaranya parau.
Alaric meletakkan cangkirnya dan menatap Lucien tepat di mata. "Sejak suara dengungan frekuensi tinggi itu membangunkan seluruh penghuni asrama semalam. Aku memerintahkan para instruktur lain untuk memeriksa koridor luar, sementara aku sendiri yang memutuskan untuk menjaga pintumu."
Suasana di kamar itu seketika menjadi sangat dingin. Lucien melirik ke arah bahunya. Simbol daun hijau itu masih ada di sana, namun kini ia berpendar dengan ritme yang aneh.
"Lucien," Alaric berkata dengan nada yang lebih serius, "Kau tahu sifat dari simbol ini, bukan? Ia terhubung dengan kejujuran jiwamu saat dihadapkan pada dewan. Jika kau berbohong padaku sekarang, daun ini akan layu dan berubah warna menjadi oranye—tanda bahwa pelanggaranmu telah meningkat menjadi penipuan terhadap akademi. Dan kau tahu apa konsekuensi dari simbol oranye, bukan?"
Lucien menelan ludah. Simbol oranye berarti pengasingan sementara ke penjara bawah tanah akademi. Ia tidak punya pilihan. Jika ia mengatakan yang sebenarnya tentang petir hitam, rahasia kutukannya akan terbongkar. Namun jika ia berbohong sepenuhnya, sihir pada simbol itu akan mendeteksinya.
Ia harus mencampurkan kebenaran dengan narasi yang aman.
"Maafkan saya, Master," ucap Lucien sembari menundukkan kepala. "Semalam... saya merasa terkurung dan sangat frustrasi. Saya merasa tidak berguna hanya berdiam diri di sini. Jadi, saya mencoba menguji kekuatan dinding penjara itu. Saya menggunakan energi dari teknik pedang keluarga Vlad secara mentah dan menghantamkannya ke arah jendela. Saya ingin tahu seberapa kuat sihir dewan menahan saya."
Lucien menahan napas. Ia jujur bahwa ia menyerang dinding itu, namun ia berbohong tentang jenis energi yang digunakannya. Ia menyebutnya sebagai “teknik keluarga” untuk menutupi asal-usul petir hitam tersebut.
Mata Alaric menyipit, menatap simbol hijau di bahu Lucien. Momen itu terasa seperti selamanya. Cahaya hijau itu bergetar, meredup sejenak seolah sedang menimbang kejujuran di balik kata-kata Lucien, lalu kembali bersinar stabil.
Alaric menghela napas panjang dan berdiri. "Rasa penasaran yang berbahaya, Lucien. Kau hampir membuat seluruh asrama mengira kita sedang diserang."
Pria tua itu berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti. Ia berbalik dengan tatapan yang sulit diartikan. Keputusan tentang nasib Lucien kini berada di ujung lidahnya.