Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manual Book
Genta selalu berpikir bahwa saluran pembuangan adalah tempat paling rendah yang bisa dikunjungi manusia dalam kondisi hidup. Namun, merangkak di bawah bayang-bayang lampu sorot biru milik organisasi yang bisa menghapus eksistensimu dari akte kelahiran ternyata jauh lebih rendah lagi. Bau lumpur dan sisa limbah kerupuk menempel di baju kargonya, membuat Genta merasa seperti sepotong gorengan yang jatuh ke selokan.
"Tetap menunduk, Genta. Jangan sampai sensor panas mereka menangkap pola detak jantungmu," bisik Aki di depannya. Suara Aki terdengar stabil, seolah merangkak di selokan adalah aktivitas mingguan rutinnya.
"Gampang buat Aki ngomong begitu," balas Genta sambil menahan napas. "Masalahnya jantung saya sekarang suaranya lebih kencang dari mesin diesel rusak. Apa mereka tidak punya sensor suara?"
"Mereka punya segalanya, tapi mereka sombong. Konsorsium itu seperti perusahaan raksasa yang merasa tidak punya saingan; mereka sering melewatkan detail kecil karena terlalu fokus pada angka besar di layar monitor."
Tepat saat itu, sebuah lampu sorot menyapu permukaan lubang di atas mereka. Genta membeku. Melalui celah jeruji besi selokan, dia bisa melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang sangat bersih berdiri tepat di atas kepalanya. Pria berjas itu memegang alat seperti detektor logam, tapi di layarnya terlihat gelombang elektromagnetik yang bergerak liar.
"Sinyal hilang di sektor ini," suara pria di atas terdengar datar. "Mungkin interferensi dari limbah organik. Haruskah kita melakukan sanitasi total?"
"Negatif," sahut suara lain lewat radio. "Gedung ini milik publik. Menghancurkannya tanpa alasan logis akan menciptakan 'Glitch Opini' yang terlalu besar. Cari subjek secara manual."
Sepasang sepatu itu menjauh. Genta mengembuskan napas yang sedari tadi dia tahan sampai wajahnya membiru.
"Aki, tadi dia bilang 'Sanitasi Total'? Itu kode untuk apa? Disemprot parfum?"
"Itu kode untuk meratakan tempat ini jadi tanah, Genta. Makanya aku bilang, ayo cepat!"
Setelah merangkak selama sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, mereka akhirnya keluar di sebuah gudang tua yang penuh dengan tumpukan mesin tik berdebu dan arsip-arsip yang sudah menguning. Aki mendorong sebuah lemari besi besar yang ternyata menyembunyikan pintu rahasia menuju sebuah ruangan kecil yang diterangi lampu bohlam kuning yang berkedip-kedip.
"Ini markas Aki? Lebih mirip museum barang rongsokan," komentar Genta sambil duduk di kursi kayu yang berderit.
"Barang rongsokan tidak bisa disadap oleh sinyal digital, Nak," Aki meletakkan tasnya dan mulai mengotak-atik sebuah radio tua. "Sekarang, berikan remotenya padaku. Kita harus melihat apa yang terjadi dengan 'Luck Meter mu."
Genta menyerahkan benda itu. Layar LCD-nya sekarang menunjukkan angka Luck: 412
Aki mengerutkan kening. "Angkanya turun terlalu cepat. Padahal kamu belum melakukan banyak hal besar."
"Mungkin karena saya hampir mati tertimpa pot bunga dan hampir pingsan di selokan?" sahut Genta sinis.
"Tidak, ini aneh. The Shifter biasanya bergerak berdasarkan tindakan sadar pemiliknya. Kecuali..." Aki menatap Genta dengan tajam. "Apa kamu tadi sempat menekan tombol tanpa sengaja saat merangkak?"
Genta terdiam. Dia mengingat-ingat momen di saluran tadi saat dia sempat terpeleset. "Eh... mungkin? Tadi jempol saya sempat kepencet sesuatu waktu saya mau pegangan ke pipa."
Aki segera mengotak-atik menu di remote tersebut. Matanya membelalak. "Genta! Kamu baru saja mengaktifkan 'Chain Reaction: Small Inconvenience' dalam skala radius satu kilometer!"
"Apa artinya itu dalam bahasa manusia, Ki?"
"Artinya... di sekitar sini, saat ini juga, ribuan orang sedang mengalami masalah kecil yang menyebalkan. Ada yang kunci motornya hilang, ada yang tali jemurannya putus, ada yang pesanan kopinya ketuker. Semua kesialan kecil itu dikumpulkan oleh remote ini untuk memberimu 'Deposit Keberuntungan' agar kamu bisa selamat dari kejaran tadi!"
Genta merasa mual. "Jadi, saya selamat karena ribuan orang di luar sana sedang menderita?"
"Begitulah cara kerja Konsorsium selama ini, Genta. Bedanya, mereka melakukannya untuk kekuasaan, sementara kamu melakukannya karena... yah, karena kamu ceroboh."
Tiba-tiba, lampu bohlam di ruangan itu mati. Kegelapan total menyergap. Satu-satunya cahaya berasal dari layar remote di tangan Aki yang berkedip merah terang. Sebuah pesan muncul di layar: [SYSTEM UPDATE DETEKSI : HUNTER MODE ACTIVATED].
"Sial! Mereka melakukan 'Forced Connection'!" teriak Aki. "Mereka melacak balik sinyal remote ini!"
Dari luar gudang, terdengar suara mesin yang sangat halus suara mesin elektrik yang sangat bertenaga. Bukan cuma satu, tapi banyak.
"Genta, dengar baik-baik," Aki menyerahkan kembali remote itu ke tangan Genta. "Aku tidak bisa lagi menyembunyikanmu di sini. Kamu harus mulai belajar menggunakan alat ini sebagai senjata, bukan cuma sebagai beban di sakumu."
"Gimana caranya?! Saya nggak punya buku manualnya!"
"Manualnya ada di kepalamu! Kamu itu teknisi! Kamu tahu cara kerja sistem! Pikirkan dunia ini seperti sebuah lift raksasa. Kalau kamu mau menghentikan lift yang meluncur jatuh, apa yang kamu lakukan?"
Genta mencoba berpikir di tengah kepanikan. "Saya... saya akan memutus sirkuit pengaman atau mengaktifkan rem darurat mekanis!"
"Nah! Sekarang aplikasikan itu ke ruangan ini! Gunakan menu 'Environmental Glitch' lagi, tapi kali ini, jangan cuma asal pencet. Targetkan sesuatu yang bersifat sistemik!"
Genta menyalakan layar remote. Dalam kegelapan, diagram ruangan itu kembali muncul. Kali ini dia melihat kabel-kabel listrik tua yang menjalar di dinding gudang. Dia juga melihat sebuah tangki air besar di atas gedung yang pondasinya sudah karatan.
Di luar, pintu gudang mulai digedor. Bukan dengan tangan, tapi dengan alat pemotong laser yang mengeluarkan percikan api biru.
"Genta, cepat!"
Genta menggeser kursor di layar remote. Dia mengunci target pada [TRANSFORMATOR LISTRIK - SEKTOR 2]dan [KATUP TANGKI AIR - GRAVITY FEED]
"Kalau saya gabungkan ini..." gumam Genta. Insting teknisinya mulai mengambil alih. "Lantai yang basah ditambah tegangan tinggi akan menciptakan zona penghambat."
"Execute?" tanya Aki.
"Gas keun!" teriak Genta sambil menekan tombol tengah.
*CTARRR!*
Transformator di luar gudang meledak, menciptakan kembang api elektrik yang membutakan mata. Sedetik kemudian, katup tangki air di atap terbuka penuh, menumpahkan ribuan liter air ke area depan gudang yang sedang diserbu oleh para agen berjas hitam.
Suara teriakan dan korsleting listrik terdengar bersahutan. Genta mengintip dari celah jendela. Para agen itu terpental karena kejutan listrik yang merambat melalui air yang menggenang. Drone-drone mereka jatuh seperti lalat yang disemprot pestisida.
"Bagus! Sangat tidak rapi, tapi efektif!" Aki menepuk punggung Genta. "Tapi itu cuma akan menahan mereka selama lima menit. Mereka akan segera mengirimkan unit yang lebih berat."
Genta melihat remotenya lagi. Angka Luck-nya berubah drastis menjadi Luck: +10
"Loh, kok jadi plus, Ki?"
"Karena kamu baru saja melakukan aksi heroik yang sangat sial bagi musuhmu. Sistem menganggap kamu sedang 'menabung' keberuntungan. Tapi hati-hati, saat angka ini positif, biasanya akan terjadi sesuatu yang menyeimbangkan hidupmu dengan cara yang tidak terduga."
Benar saja, tepat setelah Aki bicara, kursi kayu yang diduduki Genta patah, membuatnya terjungkal dan kepalanya terbentur meja.
"Aduh! Sakit, Ki!"
"Tuh kan? Keseimbangan alam, Genta. Kamu menang perang, tapi kamu kalah sama kursi. Itulah hidup."
Aki menarik tangan Genta menuju sebuah pintu kecil di belakang tumpukan mesin tik. "Ayo berangkat. Kita harus menemui seseorang di Jakarta Barat. Dia satu-satunya orang yang bisa membacakan 'Manual Book' asli dari The Shifter ini sebelum kamu tidak sengaja menghapus seluruh benua Asia dari peta."
Genta berdiri sambil mengelus kepalanya yang benjol. "Tunggu, Aki. Orang di Jakarta Barat ini... dia bukan teknisi lift juga, kan?"
"Bukan. Dia mantan kasir minimarket yang tahu terlalu banyak soal kode rahasia di balik struk belanja. Namanya Sarah. Dan saran saya, jangan pernah coba-coba membohonginya. Dia bisa tahu kamu bohong cuma dari cara kamu bernapas."
Genta mendesah panjang. "Teknisi lift, kakek veteran, dan sekarang kasir sakti. Kayaknya saya lebih milih terjebak di lift lantai empat belas sama Bu Mira daripada ini."
"Sudah jangan banyak protes! Ayo lari!"
Mereka pun menghilang ke dalam kegelapan malam Jakarta, meninggalkan gudang yang kini dipenuhi air dan sisa-sisa teknologi Konsorsium yang hangus. Di langit, awan mulai berkumpul, seolah-olah alam semesta sedang bersiap untuk memberikan tantangan berikutnya bagi sang pemilik remote sial.
Angka di layar remote berkedip pelan. Luck: +9. Genta hanya bisa berharap bahwa "sial" berikutnya tidak melibatkan nyawanya.