NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Pagi Pertama di Jogja

Gery masih terpaku di tempat duduknya, tatapannya kosong menembus uap kopi yang menari-nari di atas cangkir. Kata-kata Adrian tentang luka masa lalu Vanya, kebenciannya pada sang ayah, hingga keributan di jalanan kompleks, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia baru menyadari bahwa di balik sifat manja dan tawa riang Vanya selama di Bali, ada seorang gadis kecil yang sedang berusaha keras menambal lubang besar di hatinya.

Dion yang sedang sibuk mengenakan kemeja batiknya sempat melirik Gery dengan heran, namun sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan lebih lanjut, sebuah ketukan keras dan tidak sabar menggema dari pintu kayu kamar 305.

Tok! Tok! Tok!

"Paket! Paket dari surga datang!" suara cempreng yang sangat dikenali itu menembus celah pintu.

Sammy dengan sigap berlari kecil dan memutar kunci. Begitu daun pintu terbuka, sosok Reno menerobos masuk dengan energi yang meledak-ledak, seolah ia baru saja memenangkan lotre pagi itu.

"Selamat pagi, penghuni kamar 305 yang suram! Bangun, wahai rakyatku!" teriak Reno konyol sambil merentangkan tangan lebar-lebar.

Di belakang Reno, menyusul serombongan wajah yang sudah sangat akrab: Feri yang menggandeng Vivi, Yola yang tampak masih sedikit mengantuk namun tetap membawa tas kecilnya, dan tentu saja, Vanya. Kamar yang tadinya hening dan penuh ketegangan emosional itu mendadak berubah menjadi riuh rendah layaknya pasar tumpah.

Vanya, yang pagi itu tampak segar dengan balutan kaos santai dan rambut yang diikat ponytail, matanya langsung berbinar saat melihat Gery duduk di pojok ruangan. Tanpa mempedulikan tatapan Sammy yang masih tertegun atau Adrian yang baru saja mengintip dari balik pintu kamar mandi, Vanya berlari kecil menghampiri Gery.

"Ger! Lo udah ngopi duluan nggak bagi-bagi?" seru Vanya riang.

Sebelum Gery sempat merespons atau memberikan peringatan, Vanya dengan gerakan cekatan merebut cangkir kopi panas dari genggaman Gery. Tanpa basa-basi dan tanpa ragu—bahkan seolah tidak peduli dengan bekas bibir Gery di pinggiran cangkir—ia menyeruput cairan hitam itu dengan nikmat.

"Ahhh... seger banget! Gila, kopi buatan lo emang paling juara takarannya," ujar Vanya sambil menghembuskan napas lega, wajahnya tampak sangat puas.

Gery hanya bisa melongo, tangannya masih tertahan di udara dalam posisi memegang cangkir yang kini sudah berpindah tangan. Ia melirik Adrian yang berdiri tak jauh dari sana. Adrian memberikan tatapan kecil ke arah Gery—sebuah tatapan "lo liat sendiri kan?"—yang merujuk pada betapa nyamannya Vanya berada di dekat Gery.

"Woi, Vanya! Itu kan kopi bekas Gery, main serobot aja lo," goda Reno sambil menjatuhkan dirinya di atas kasur Dion.

Vanya menjulurkan lidahnya ke arah Reno. "Biarin, kan Gery pacar gue. Ya nggak, Ger?" ucap Vanya santai sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Gery, meskipun mereka berdua tahu ada "kontrak" di balik kata pacar itu.

Gery akhirnya tersenyum tipis. Beratnya cerita Adrian tadi seolah sedikit terangkat melihat keceriaan Vanya saat ini. Meskipun ia tahu ada luka besar di dalam diri gadis ini, Gery bersumpah dalam hati untuk tidak akan membiarkan kopi—atau hidup Vanya—menjadi pahit selama ia ada di sampingnya.

"Ya udah, habisin aja. Entar gue bikin lagi," kata Gery lembut, membuat Vanya tersenyum semakin lebar.

"Ciee... dunia serasa milik berdua, yang lain cuma kos di hotel ini ya?" timpal Feri yang disambut tawa oleh Vivi dan Yola.

Kamar 305 pagi itu benar-benar menjadi pusat energi sebelum mereka memulai perjalanan di Yogyakarta. Kehadiran teman-temannya membuat suasana tegang sisa obrolan dengan Adrian tadi pagi menguap, berganti dengan kehangatan persahabatan yang tulus. Gery menyadari, perjalanan Jogja ini mungkin akan lebih menantang secara emosional daripada Bali, tapi dengan kopi di tangan dan Vanya di sisinya, ia merasa siap menghadapi apa pun.

Suasana kamar 305 yang sudah sesak oleh kehadiran geng Bus 4 semakin riuh dengan tawa yang memantul di dinding-dinding ruangan. Di tengah keriuhan itu, pintu kamar mandi perlahan terbuka—namun hanya selebar celah sempit yang cukup untuk meloloskan kepala Adrian. Dengan rambut basah yang acak-acakan dan wajah yang memerah menahan malu karena kamar mendadak dipenuhi lawan jenis, Adrian melirik ke arah Sammy yang berdiri paling dekat dengan posisi pintu.

"Sam... Sammy..." panggil Adrian dengan suara kecil yang nyaris tenggelam di balik gelak tawa Reno. "Tolongin dong... ambilkan baju gue di atas kasur. Lupa bawa tadi."

Sammy tertawa kecil melihat tingkah teman sekamarnya yang mendadak jadi sangat pemalu. Ia dengan sigap menyambar tumpukan pakaian Adrian di atas kasur dan menyodorkannya melalui celah pintu tersebut. Namun, nada bicara Adrian yang terdengar sangat santun dan malu-malu itu tidak luput dari pendengaran Vanya.

Vanya, yang masih memegang cangkir kopi Gery, langsung berteriak dengan nada cempreng khasnya yang langsung memecah suasana. "Halah! Nggak usah sok jaim lo, Yan! Nggak usah sok kayak tuan putri yang takut kelihatan kulitnya! Inget ya, di rumah kalau lagi hujan, lo biasa lari-larian di jalan komplek nggak pake baju cuma pake celana pendek doang! Sekarang sok-sokan malu!"

Mendengar pengakuan "dapur" dari tetangga masa kecilnya itu, ledakan tawa Reno dan Dion pecah seketika. Reno bahkan sampai memukuli kasur karena geli membayangkan Adrian yang biasanya tampil rapi di sekolah ternyata punya hobi main hujan tanpa baju di lingkungan rumahnya.

"Gila lo, Yan! Ternyata lo anggota 'Bocah Petualang' juga kalau di rumah?" goda Reno sambil menunjuk-nunjuk arah pintu kamar mandi.

Dion ikut menimpali sambil memasang kancing kemejanya, "Pantesan tadi pas mandi lama banget, jangan-jangan lo lagi nungguin hujan turun ya biar bisa keluar dengan gaya?"

Feri, yang duduk di samping Vivi, tidak mau ketinggalan. Sebagai teman sebangku Adrian di kelas, ia merasa punya hak untuk ikut menyudutkan partner belajarnya itu. "Wah, parah lo, Yan. Di kelas aja gaya lo paling kalem, duduk tegak terus. Ternyata aslinya liar juga ya kalau ketemu air hujan. Gue baru tahu sisi gelap sebangku gue sendiri!"

Di dalam kamar mandi, Adrian hanya bisa menggerutu pelan sembari buru-buru memakai pakaiannya. Suara tawa teman-temannya di luar terdengar semakin menjadi-jadi, apalagi setelah "kartu mati"-nya dibuka secara blak-blakan oleh Vanya.

Gery yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Sisi protektif dan pemikir yang sempat menghantui kepalanya setelah mendengar cerita berat tentang keluarga Vanya tadi, sejenak teralihkan oleh kekonyolan teman-temannya. Ia menyadari bahwa di balik luka masing-masing, kebersamaan seperti inilah yang menjadi obat paling ampuh.

"Udah, udah, kasihan si Adrian," kata Gery mencoba menengahi, meski sisa tawa masih terlihat di wajahnya. "Entar dia nggak mau keluar-keluar lagi dari sana kalau kalian terusin."

"Biarin, Ger! Biar dia tahu rasanya dikerjain tetangga sendiri!" sahut Vanya puas, sambil memberikan kedipan jahil ke arah pintu kamar mandi.

Momen hangat dan penuh ledekan ini menjadi penutup sesi pagi mereka di kamar hotel. Tak lama kemudian, Adrian keluar dengan wajah yang masih merah padam, langsung disambut oleh siulan menggoda dari Reno dan Feri. Yogyakarta benar-benar menyambut mereka dengan tawa yang lepas sebelum mereka memulai agenda resmi hari itu.

Lobi hotel yang megah menjadi saksi langkah-langkah ringan rombongan "Geng Bus 4" menuju lounge hotel untuk sarapan. Begitu pintu masuk restoran terbuka, mata mereka langsung berbinar-binar. Meskipun mereka sudah terbiasa dengan kemewahan hotel di Bali, Yogyakarta ternyata tidak mau kalah dalam memberikan jamuan terbaik bagi para calon profesional hotel ini.

Meja prasmanan membentang panjang dengan aroma gurih yang menggoda selera. Di bawah lampu pemanas yang terang, tersaji deretan menu yang membuat siapa pun lapar mata: nasi goreng yang masih mengepul, nasi putih, sosis sapi yang kecokelatan, ayam goreng renyah, irisan daging sapi lada hitam, daging cincang, telur ceplok yang rapi, hingga fish fillet saus asam manis.

Pilihan minumannya pun sangat lengkap. Di pojok minuman, selain air putih, susu, teh, dan sirup jeruk, tersedia hidangan yang tidak ada di Bali: es teler segar dengan potongan nangka dan kelapa muda yang melimpah.

Reno, yang energinya memang di atas rata-rata, langsung beraksi di depan deretan sosis. Tanpa ragu, ia meraup sosis dalam jumlah banyak hingga hampir menutupi seluruh permukaan piringnya, menyisakan sedikit ruang hanya untuk sesendok nasi.

Dion yang berdiri tepat di belakangnya hanya bisa memijat kening. "Ren, itu piring apa gudang sosis? Malu-maluin jabatan gue sebagai ketua kelas aja lo," tegur Dion sambil menggelengkan kepala, namun tangannya tetap mengambil beberapa potong ayam goreng.

"Tenang, Yon. Ini namanya apresiasi karya koki hotel," jawab Reno enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Setelah piring masing-masing terisi penuh, mereka mencari meja kosong. Kebetulan, meja yang tersedia berada tepat di sebelah meja Bu Ratna. Sang wali kelas tampak sedang bersantai memainkan ponselnya, sementara piring di depannya sudah bersih menandakan ia telah selesai menyantap sarapannya.

"Pagi, Bu Ratna!" sapa mereka serentak dengan nada greeting perhotelan yang sopan namun tetap ceria.

Bu Ratna mendongak, menurunkan ponselnya sejenak. Ia menatap piring penuh sosis milik Reno, lalu beralih ke Vanya yang masih memegang lengan Gery, dan pasangan baru Feri-Vivi. Senyum tipis muncul di wajah beliau.

Di mata Bu Ratna, kelompok ini adalah "paket lengkap". Mereka adalah sekumpulan siswa yang paling ribut di kelas, sering membuat kepalanya pusing dengan ledekan satu sama lain, namun di sisi lain, mereka adalah tim yang paling kompak dan solider.

"Pagi. Kalian ini ya, kalau sudah kumpul, aura ributnya langsung terasa sampai meja sebelah," sahut Bu Ratna dengan nada bercanda. "Habiskan makannya, jangan ada yang sisa. Ingat, nanti kita akan kunjungan industri, jangan sampai ada yang lemas atau mengantuk karena kebanyakan makan sosis, ya Reno?"

Reno hanya nyengir lebar sambil mengunyah sosis pertamanya. "Siap, Bu! Ini energi buat keliling Jogja!"

Gery duduk di samping Vanya, mulai menikmati makanannya dengan tenang. Di bawah pengawasan hangat Bu Ratna, suasana sarapan itu terasa seperti makan keluarga besar. Gery menyadari bahwa meskipun mereka sering bertingkah konyol, ikatan di antara mereka—termasuk dengan guru mereka—telah menjadi pondasi yang membuat perjalanan study tour ini terasa lebih dari sekadar tugas sekolah.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!