"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIKSAAN BATIN
"Hanya mereka yang memiliki garis keturunan murni ibuku yang bisa menembus cermin itu, dan Maxime tahu itu, dia tahu kamu akan mendobrak pintu ini, jadi dia menggunakan ruangan ini hanya sebagai pengalih perhatian," lanjut Serena, sambil merapatkan sebuah mantra sihir.
BUUUMMMMMMM
Tiba-tiba, dinding-dinding di ruang bawah tanah itu mulai bergetar.
Bayangan transparan muncul di permukaan dinding marmer, seperti sebuah layar proyektor kuno, di sana tampak gambaran Aurora yang kini terikat di sebuah kursi besi di sebuah ruangan yang identik dengan tempat mereka berdiri, namun semuanya berwarna abu-abu dan gelap.
Sementara Maxime berdiri di sana, membelai rambut Aurora yang tak sadarkan diri dengan ujung belatinya. Ia mendongak, seolah tahu bahwa Leo sedang menontonnya dari balik dimensi.
"Kau terlambat, Serigala kecil."
Suara Maxime bergema di seluruh ruangan, terdengar sangat jauh namun jelas.
"Di dimensi ini, waktu berjalan berbeda, setiap detik yang kamu habiskan untuk mencari cara masuk, adalah satu tetes darah Aurora yang mengalir untuk ritual ku," lanjut Maxime, tersenyum sinis.
Di dalam bayangan itu, terlihat Maxime sedang mengarahkan belatinya ke lengan Aurora, menyayatnya perlahan.
"TIDAK! BERHENTI!"
BRAAAAKKKKK
Teriak Leo menghantamkan tinjunya ke dinding tempat bayangan itu muncul, namun tangannya hanya menembus bayangan tersebut dan menghantam batu keras.
BRUK
Leo jatuh berlutut, rasa hampa di hatinya karena putusnya ikatan batin dengan Aurora kini berganti dengan siksaan batin, dia harus melihat gadis itu disakiti tepat di depan matanya, namun dia tidak bisa menyentuhnya.
"Pasti ada cara," bisik Leo, kepalanya tertunduk, bahunya bergetar.
"Darahku, bukankah kalian bilang darahku adalah kunci keseimbangan? Pakai darahku! Pakai nyawaku! Buka jalan itu!" teriak Leo, putus asa.
Arion dan Serena saling berpandangan, ada satu cara terlarang yang selama ini mereka rahasiakan, sebuah cara yang bisa menghancurkan jiwa pelakunya jika gagal.
"HAHAHAHAHAHAHA"
Suara tawa Maxime yang bergema dari dimensi cermin itu terdengar seperti sayatan silet di gendang telinga Leo.
Di balik tabir transparan yang memisahkan kedua dunia, Leo terpaksa menjadi penonton dari mimpi buruknya sendiri.
"Lihat ini, Alpha kecil," bisik Maxime, suaranya terdengar dingin dan distorsi.
SRETTTT
Maxime menarik rambut Aurora agar kepala gadis itu mendongak, kelopak mata Aurora bergetar, dia mulai sadar namun tubuhnya terkulai lemas karena pengaruh sihir Zirah Pemutus Jiwa yang diberikan oleh Maxime.
Saat mata indah Aurora terbuka sedikit dan menangkap bayangan Leo yang mengamuk di balik dinding dimensi, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang pucat.
"Le... o..." bibir Aurora bergerak tanpa suara, namun Leo bisa membacanya.
"AKU DI SINI AURORA! AKU DI SINI!"
Teriak Leo dari balik dinding dimensi yang memisahkan mereka berdua.
BUMMM
BUMMM
BUMMM
DUARRRRRR
Leo menghantamkan seluruh tubuhnya ke dinding batu itu, tidak perduli walapun bahunya mulai berdarah, tulang tinjunya retak, Sekuat apapun Leo ingin menghancurkan dinding batu itu, dia hanya menembus bayangan hampa.
Setiap kali pukulan yang Leo layangkan, bayangan itu hanya berdesir seperti riak air, menunjukkan betapa jauhnya jarak yang diciptakan oleh sihir dimensi tersebut.
Di dalam sana, Maxime tidak membuang waktu, dia kembali menempelkan belati peraknya ke leher Aurora yang jenjang.
"Satu tetes untuk pembukaan, satu tetes untuk keabadian," gumam Maxime, tersenyum miring
SRETTT
Tes
Belati itu menyayat lengan Aurora. Darah merah pekat, darah murni keluarga Serena, mengalir lambat, jatuh ke lantai dimensi gelap itu dan seketika membuat pola lingkaran sihir di bawah kursi Aurora menyala merah membara.
"AAAKKKKKKHHHHH !"
Leo berteriak histeris, memegangi dada nya sendiri.
Pemandangan itu menghancurkan jiwanya, lebih menyakitkan daripada senjata apa pun.
Leo bisa melihat Aurora meringis kesakitan, tubuhnya mengejang saat sihir itu mulai menghisap energinya.
Leo mencakar-cakar dinding batu itu hingga kuku-kukunya patah dan berdarah.
"KU BUNUH KAU, MAXIME! AKAN KU KULITI KAU HIDUP-HIDUP!"
Raja Arion dan Ratu Serena hanya bisa terpaku dengan wajah hancur.
Sedari tadi Serena mencoba merapal kan mantra pembuka, namun setiap kali cahaya sihirnya menyentuh dinding, energi itu terpental balik.
"Tidak bisa, dia mengunci dimensi itu dari dalam dengan nyawa sebagai taruhannya," isak Serena, dengan air mata yang membasahi pipi nya.
"HAHAHAHAHAHAHA!"
Maxime tertawa melihat penderitaan Leo, dia sengaja memperlambat gerakannya, menikmati setiap inci penderitaan yang terpancar dari wajah sang Alpha campuran itu.
SRETT
Tes
Maxime kembali menyayat pundak Aurora, membuat gadis itu memekik tertahan.
"Rasakan ini, Leo," bisik Maxime ke arah layar dimensi.
"Rasa tidak berdaya ini adalah hadiah dariku, kamu punya kekuatan monster, tapi kamu bahkan tidak bisa menghapus air matanya," lanjut Maxime, tersenyum miring.
Leo membeku, jantung serasa di tarik paksa, nafasnya memburu, dan matanya yang semula perak kini mulai menghitam pekat, tanda bahwa sisi buasnya, perpaduan antara kemarahan serigala dan kegelapan vampir, mulai mengambil alih secara total.
Lep melihat Aurora yang mulai kehilangan kesadaran lagi, kepalanya terkulai ke samping, menatap Leo untuk terakhir kalinya sebelum matanya menutup.
"TIDAK! AURORA! JANGAN TUTUP MATAMU! LIHAT AKU!"
Raungan Leo menggetarkan seisi ruang bawah tanah hingga langit-langit batu mulai menjatuhkan debu dan kerikil. Namun, di balik tabir dimensi itu, kepala Aurora tetap terkulai, kembali tidak sadarkan diri.
Sementara Maxime, pria itu justru semakin beringas, di menjilat darah yang menempel di belatinya dengan tatapan gila, sementara cahaya merah dari lingkaran sihir di bawah kaki Aurora semakin terang, mulai menyedot esensi kehidupan dari kulit gadis itu yang kian memucat.
"Lihat dia, Leo, Alistair" ejek Maxime, dengan bisikan sihir.
"Dia memudar, jiwanya sedang ditarik untuk membangkitkan kekuasaan yang tidak akan pernah kau mengerti," lanjut Maxime, tersenyum puas.
Dunia di mata Leo mendadak senyap, detak jantungnya yang tadi memburu, kini terdengar seperti dentum genderang perang yang berat.
Sakit di batinnya telah melampaui batas kewarasan nya, perpaduan darah Alpha dan Vampir di dalam tubuhnya mendidih, menciptakan reaksi yang belum pernah terjadi dalam sejarah kedua ras tersebut.
Aura hitam-perak mulai keluar dari pori-pori kulit Leo, menyelimutinya seperti api yang dingin.
"Leo, berhenti! Energi itu akan menghancurkan jantungmu!" teriak Raja Arion, menyadari bahwa Leo sedang melakukan sesuatu yang terlarang.
Leo tidak mendengar, dia terus menempelkan dahinya ke dinding marmer yang menampilkan bayangan Aurora, dengan air mata yang ikut jatuh, bercampur dengan darah dari luka di wajahnya.
"Kalian bilang, aku tidak bisa menyentuhnya karena aku tidak punya darah murni mereka?" bisik Leo, suaranya kini terdengar seperti geraman dua makhluk yang menyatu.
Ia mendongak, matanya kini benar-benar hitam pekat tanpa sisa putih sedikit pun.
"Maka aku akan menghancurkan dimensi ini bersama dengan diriku!" teriak Leo, menggelegar.
Leo merentangkan tangannya lebar-lebar, dia mulai menarik paksa ikatan batin yang telah diputus oleh Zirah Pemutus Jiwa, milik Maxime.