Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Arka Masuk Rumah Sakit
Jumat sore, tiga hari setelah ciuman pertama mereka, kehidupan berjalan terlalu baik sampai sesuatu yang tak terduga terjadi.
Reyhan baru saja selesai meeting ketika ponselnya berdering. Nama Alya muncul di layar. Ia tersenyum, mengangkat dengan nada ceria.
“Halo, sayang. Kangen...”
“REY!” suara Alya terdengar panik, bergetar, penuh ketakutan. “Arka… Arka demam tinggi! Dia kejang! Aku… aku nggak tahu harus gimana!”
Reyhan langsung berdiri, jantungnya seperti berhenti sejenak. “APA?! Kamu di mana sekarang?!”
“Di rumah! Arka tadi pulang sekolah udah lemes, terus sekarang demamnya tinggi banget dan dia kejang! Rey, aku takut!” Alya menangis, tangisannya penuh kepanikan.
“TUNGGU AKU! Aku sekarang pulang! Kamu telepon ambulans sekarang! SEKARANG, ALYA!”
“B-baik!”
Reyhan langsung menutup telepon, meraih kunci mobil, dan berlari keluar kantor tanpa peduli tatapan bingung karyawannya. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi, melanggar beberapa rambu, pikiran penuh kecemasan.
Arka… kumohon jangan kenapa-kenapa. Kumohon.
Lima belas menit kemudian
Ketika Reyhan sampai di rumah, ambulans sudah tiba. Paramedis sedang memindahkan Arka ke tandu. Tubuh kecil itu terlihat sangat pucat, matanya terpejam, napasnya pendek-pendek.
Alya berdiri di samping dengan wajah pucat, air mata mengalir deras, tangannya gemetar memegang tas kecil berisi barang-barang Arka.
“ALYA!” panggil Reyhan sambil berlari mendekat.
Alya langsung berbalik dan memeluk Reyhan erat, tubuhnya gemetar hebat. “Rey… Arka… dia kejang terus nggak sadar… aku takut… aku takut dia”
“Ssshhh… jangan bilang begitu,” bisik Reyhan sambil memeluk Alya erat, meski hatinya juga hancur. “Arka akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Ayo kita ke rumah sakit.”
Mereka naik ke ambulans bersama. Reyhan duduk di samping tandu Arka, tangannya menggenggam tangan kecil anaknya yang dingin.
Jangan tinggalkan Ayah, Nak. Kumohon.
Rumah sakit
Setibanya di rumah sakit, Arka langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Dokter dan perawat bergerak cepat mengukur suhu, memasang infus, memeriksa vital.
Reyhan dan Alya berdiri di luar ruangan, tak diizinkan masuk.
Alya duduk di kursi tunggu dengan wajah tertunduk, tangannya menutupi wajah, menangis dalam diam.
Reyhan duduk di sampingnya, menggenggam tangan Alya erat, mencoba memberikan kekuatan meski ia sendiri hancur.
“Rey…” bisik Alya dengan suara parau. “Kalau… kalau Arka kenapa-kenapa… aku nggak akan bisa”
“Jangan,” potong Reyhan tegas sambil menatap Alya. “Jangan bilang begitu. Arka akan baik-baik saja. Dia anak kita. Dia kuat.”
“Tapi dia masih kecil, Rey… dia baru lima tahun… badannya kecil… kalau dia nggak kuat”
“DIA KUAT!” seru Reyhan, suaranya meninggi karena ia juga takut, tapi ia harus kuat untuk Alya. “Arka adalah anak yang luar biasa. Dia jenius. Dia pemberani. Dia… dia nggak akan menyerah.”
Air mata Reyhan jatuh pertama kalinya sejak ia dewasa. Air mata yang sudah lama ia tahan.
Alya menatap Reyhan dengan terkejut, lalu menyadari: Reyhan juga sama takutnya.
Ia memeluk Reyhan erat. “Maafin aku… maafin aku udah bikin kamu khawatir…”
“Ini bukan salah kamu,” bisik Reyhan sambil membalas pelukan itu. “Ini bukan salah siapa-siapa. Sekarang kita cuma bisa… berdoa.”
Mereka berdua duduk seperti itu, berpelukan di kursi tunggu ruang gawat darurat, menangis bersama, berdoa bersama, berharap bersama.
Dua jam kemudian
Pintu ruang gawat darurat akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius tapi tenang.
Reyhan dan Alya langsung berdiri, menatap dokter dengan mata penuh harap.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Reyhan dengan suara bergetar.
Dokter tersenyum tipis senyum yang membuat Reyhan dan Alya sedikit lega. “Arka sudah stabil. Demamnya turun. Kejangnya sudah berhenti.”
Alya hampir roboh mendengar kata-kata itu untung Reyhan menopangnya.
“Tapi,” lanjut dokter dengan nada serius, “kami menemukan bahwa Arka mengalami kejang demam kompleks. Ini lebih serius dari kejang demam biasa. Kami perlu melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada masalah neurologis.”
Jantung Reyhan berhenti. “Masalah neurologis? Maksudnya… otak?”
“Kami belum bisa memastikan. Tapi sebagai langkah preventif, kami akan melakukan CT scan dan EEG besok pagi. Arka harus dirawat inap minimal tiga hari untuk observasi.”
Reyhan mengangguk meski dadanya sesak. “Kami mengerti. Terima kasih, Dok.”
“Arka sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Bapak dan Ibu bisa menjenguk.”
Ruang rawat inap
Ketika Reyhan dan Alya masuk ke ruang rawat inap, mereka melihat Arka berbaring di ranjang rumah sakit. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh dengan selang infus di tangan, monitor jantung terpasang di dada, wajahnya pucat.
Alya langsung menghampiri, duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Arka dengan lembut sambil menangis.
“Sayang… Mama di sini… Mama nggak akan ke mana-mana…” bisiknya dengan suara bergetar.
Reyhan berdiri di sisi lain ranjang, mengusap kepala Arka dengan lembut tangan yang gemetar, mata yang berkaca-kaca.
“Nak… Ayah di sini juga. Ayah dan Mama nggak akan ninggalin kamu. Kamu harus kuat ya, Nak. Kumohon… kamu harus kuat.”
Arka membuka matanya perlahan lemah, tapi sadar. Ia menatap Reyhan dan Alya dengan tatapan bingung.
“Ayah… Mama…” bisiknya dengan suara serak.
“Iya, sayang. Kami di sini.” Alya mengecup tangan Arka berulang kali.
“Aku… aku kenapa?”
“Kamu demam tinggi terus kejang, Nak. Tapi sekarang kamu udah lebih baik. Kamu harus istirahat ya, biar cepet sembuh,” jelas Reyhan sambil berusaha tersenyum meski hatinya hancur.
Arka mengangguk lemah. “Aku… takut, Yah. Badanku sakit.”
Reyhan merasakan dadanya remuk mendengar kata-kata itu. Ia membungkuk, mencium dahi Arka dengan lembut.
“Ayah tahu, Nak. Tapi kamu harus kuat. Kamu kan anak Ayah. Anak Ayah itu pemberani.”
Arka tersenyum tipis senyum yang membuat Reyhan dan Alya hampir menangis lagi.
“Aku… akan kuat, Yah. Buat Ayah sama Mama.”
“Good boy,” bisik Reyhan sambil mengusap pipi Arka dengan lembut. “Sekarang tidur ya. Ayah dan Mama akan jaga kamu di sini.”
Arka mengangguk, lalu perlahan menutup matanya kelelahan mengalahkan segalanya.
Malam itu, Reyhan dan Alya bergantian duduk di kursi samping ranjang Arka. Tak ada yang benar-benar tidur.
Reyhan duduk dengan tangan menggenggam tangan Arka, matanya menatap wajah pucat anaknya dengan tatapan penuh doa.
Tuhan, kumohon. Jangan ambil anak ini dari aku. Aku baru saja menemukan dia. Aku baru saja belajar jadi ayah. Kumohon… jangan ambil dia dariku.
Alya duduk di kursi sebelah dengan wajah tertunduk, tangannya meremas sapu tangan basah karena air mata.
Reyhan melirik Alya, lalu mengulurkan tangan menggenggam tangan Alya dengan lembut.
“Alya… kita harus kuat. Buat Arka.”
Alya mengangguk meski air matanya tak berhenti mengalir. “Aku… aku takut kehilangan dia, Rey. Dia… dia satu-satunya yang aku punya selama ini.”
“Kamu nggak akan kehilangan dia,” bisik Reyhan dengan tegas. “Dan kamu nggak sendirian lagi. Kamu punya aku. Kita akan hadapi ini bersama.”
Alya menatap Reyhan mata yang penuh kepercayaan. “Terima kasih… terima kasih udah ada, Rey.”
Reyhan menarik Alya ke dalam pelukannya pelukan yang penuh dengan kekuatan dan cinta.
“Aku akan selalu ada. Buat kamu dan Arka. Selamanya.”
Sabtu pagi
Pagi harinya, Arka menjalani CT scan dan EEG seperti yang dijadwalkan. Reyhan dan Alya menunggu di luar ruang pemeriksaan dengan cemas.
Dua jam kemudian, dokter keluar dengan map berisi hasil pemeriksaan.
“Bapak, Ibu, mari kita bicara di ruangan saya,” kata dokter dengan nada serius.
Jantung Reyhan dan Alya berdegup kencang, takut mendengar hasil yang buruk.
Di ruang dokter, mereka duduk berhadapan dengan dokter yang menyalakan layar komputer menampilkan hasil CT scan otak Arka.
“Kabar baiknya,” kata dokter sambil tersenyum, “hasil CT scan menunjukkan tidak ada kelainan struktural di otak Arka. Tidak ada tumor, tidak ada perdarahan, tidak ada infeksi.”
Reyhan dan Alya menghela napas lega seolah beban berat terangkat dari dada mereka.
“Kabar yang perlu diperhatikan,” lanjut dokter, “hasil EEG menunjukkan ada aktivitas listrik otak yang sedikit tidak normal. Ini bisa menandakan Arka memiliki ambang kejang yang rendah artinya dia lebih rentan mengalami kejang ketika demam tinggi.”
“Jadi… dia akan sering kejang?” tanya Alya dengan cemas.
“Tidak selalu. Tapi ketika dia demam, risikonya lebih tinggi dibanding anak lain. Kami akan meresepkan obat anti-kejang untuk jaga-jaga. Dan Bapak Ibu harus sangat waspada terhadap demam jangan sampai mencapai 38,5 derajat ke atas.”
Reyhan mengangguk serius. “Kami akan sangat hati-hati, Dok.”
“Bagus. Arka bisa pulang besok kalau kondisinya stabil. Tapi kalau ada demam lagi, langsung bawa ke rumah sakit. Jangan ditunda.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.”
Sore hari
Sore harinya, kondisi Arka mulai membaik. Demamnya turun, wajahnya tidak sepucat tadi pagi, bahkan ia sudah bisa duduk dan makan bubur dengan disuapi Alya.
“Ma, aku bosan di sini,” keluh Arka sambil cemberut.
Alya tersenyum senang melihat Arka mulai cerewet lagi. “Sabar ya, sayang. Besok kita pulang kok.”
“Tapi aku pengen pulang sekarang. Aku kangen sama kamar aku. Sama robot aku.”
Reyhan yang baru saja masuk dari luar membeli makanan untuk Alya tertawa mendengar keluhan Arka.
“Ayah dengar ada yang kangen robot,” katanya sambil duduk di tepi ranjang. “Berarti kamu udah sehat ya?”
Arka mengangguk semangat. “Aku udah sehat, Yah! Lihat, aku bisa duduk!”
“Bagus! Tapi kamu tetap harus istirahat sampai dokter bilang boleh pulang ya.”
“Iya, Yah. Ayah… terima kasih udah jaga aku.”
Reyhan merasakan dadanya sesak. Ia mengusap kepala Arka dengan lembut. “Nggak ada yang perlu di-terima kasih-in, Nak. Itu tugas Ayah. Ayah akan selalu jaga kamu. Sampai kapanpun.”
Arka tersenyum lebar senyum yang membuat semua kepanikan dua hari terakhir terasa terbayar.
“Aku sayang Ayah.”
“Ayah juga sayang Arka. Sangat sayang.”
Mereka bertiga duduk di ruang rumah sakit dengan Arka di tengah, Reyhan di satu sisi, Alya di sisi lain merasakan kehangatan keluarga yang hampir hilang tapi akhirnya masih utuh.
Dan malam itu, Reyhan bersyukur. Bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menjadi ayah.
Menjadi ayah untuk Arka.
Anak yang sangat ia cintai.