NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Ketenangan yang Berbahaya

Zelia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria yang selama ini ia panggil Papa dengan mata yang kini tak lagi menyimpan kehangatan.

“Sekarang,” katanya pelan, “aku tidak akan lagi berpura-pura menyayangimu demi harta.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Tatapan Atyasa berubah dingin. “Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan,” ucapnya rendah. “Dunia nyata tidak seindah idealismemu.”

Ia meraih map terakhir di meja, lalu melangkah melewati Zelia tanpa menoleh lagi.

Saat melewati Are, langkahnya sempat terhenti sepersekian detik. Tatapan mereka bertemu. Singkat tapi penuh ketegangan. Namun Atyasa tidak berkata apa pun. Ia langsung keluar dari ruangan.

Pintu tertutup pelan. Ruangan kembali sunyi.

Bahu Zelia akhirnya sedikit turun. Ia berdiri diam menatap kursi besar di depan meja, seolah baru menyadari betapa berat posisi itu.

Perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Marah, lega, terluka… dan takut.

Perlahan ia mengembuskan napas panjang.

“Ternyata…” gumamnya pelan, “lebih melelahkan dari yang kubayangkan.”

Are melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa.

“Kamu tidak sendiri,” katanya tenang.

Zelia menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ada ketenangan aneh yang selalu muncul setiap kali ia melihat pria itu. Ia tersenyum kecil, lelah tapi tulus. “Aku harap kamu benar.”

Are membalas dengan senyum samar. “Aku selalu benar.”

Zelia mendengus pelan, nyaris tertawa. Lalu ia kembali menatap kursi CEO di depannya.

Perlahan, ia melangkah mendekat. Tangannya menyentuh sandaran kursi itu. Dingin, kokoh, dan berat dengan segala tanggung jawab yang menyertainya.

Kali ini, ia tidak ragu.

***

Sementara itu di ruangan lain, Atyasa menatap tajam pria di depannya.

“Kau bilang dia hanya tukang parkir. Tapi kenapa aura dan cara bicaranya seperti seorang CEO?”

Pria itu menelan ludah.

“Tapi apa yang saya katakan ada buktinya, Pak.”

Ia membuka map cokelat yang dibawanya, lalu menyodorkan beberapa lembar dokumen.

“Di kartu keluarganya dia tercatat bekerja serabutan. Bahkan riwayat pendidikannya tidak tercantum.”

Atyasa menyipitkan mata, membaca lebih teliti.

“Selidiki lebih dalam,” ucapnya dingin. “Aku ingin semua informasi tentang dia.”

“Baik, Pak.”

Pria itu segera pergi.

Atyasa mengepalkan tangannya di atas meja.

"Siapa pria ini? Dia terlalu tenang. Dan ketenangan… selalu berbahaya."

***

Sore itu, Are datang ke rumah sakit.

Aroma antiseptik menyambut begitu ia memasuki ruang rawat. Selang infus masih melekat di tangan Wina yang terbaring pucat di ranjang pasien.

Are duduk di kursi di samping ranjang. “Ibu harus segera pulih,” ucapnya pelan.

Jemarinya menggenggam lembut tangan wanita itu, mengusapnya perlahan seolah menyalurkan kekuatan.

Pintu terbuka.

Are menoleh sekilas. Seorang pria cungkring berdiri di ambang pintu. Jaka, tetangganya.

Jaka sempat terdiam, menatap pria yang tidak ia kenali, tapi entah mengapa terasa familiar.

Ia melangkah mendekat perlahan. Tatapannya jatuh pada tangan Are yang menggenggam tangan Wina. Pemandangan yang terasa begitu intim. Hanya orang dekat yang akan melakukan itu.

“Maaf… Anda siapa ya?” tanyanya sopan, hati-hati.

Are berkata tanpa menoleh, suaranya rendah dan datar. “Kejadian kemarin, bagaimana ibuku bisa jadi korban tabrak lari?”

Jaka terdiam. Suara pria ini terasa sangat familiar. Dan kata itu, 'ibuku'. Namun ia ragu saat melihat penampilan dan aura pria di depannya. Ia menatap Are lebih teliti.

“Kau… kamu Are?” tanyanya ragu, nyaris tak percaya.

Are menghela napas pelan lalu menoleh. “Ceritakan,” ucapnya singkat, tanpa menjawab pertanyaan Jaka.

Jaka masih terdiam, seolah otaknya belum memproses kenyataan di depannya. Ia menatap Are dalam balutan kemeja dan celana kain rapi. Ada aura berbeda yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Atau mungkin selama ini tertutup oleh baju tukang parkir lusuh, rambut gondrong, wajah brewok, dan topi yang selalu melekat di kepala pria itu.

“Kamu beneran Are? Astaga… apa aku bermimpi?”

Tuk.

“Aduh!” pekik Jaka saat Are mengetuk kepalanya. Namun senyum lebar justru terbit di bibirnya. “Kau beneran Are… hanya Are yang suka ngetuk kepalaku.”

“Jangan berisik,” ucap Are pelan tapi tegas. “Kau mengganggu istirahat ibuku.”

Tanpa menanggapi, Jaka langsung menarik Are keluar dari ruangan. Are terlihat malas, tapi tak menolak.

Begitu di luar, Jaka berdiri di depan Are, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

“Bro… kau kelihatan sangat berbeda. Aku beneran nggak ngenalin kamu. Astaga, penampilanmu sudah kayak orang kaya.”

Tatapannya penuh kagum.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Are datar. “Bagaimana ibuku bisa kecelakaan?”

Wajah Jaka berubah. Senyumnya memudar, digantikan raut serius.

Ia menarik napas pelan, seolah kembali ke momen itu.

“Aku mau pulang waktu itu… jalanan sudah sepi,” ucapnya pelan.

 

Malam itu, lampu jalan temaram memantul di aspal yang lengang. Malam terasa dingin dan sunyi.

Jaka berjalan santai di trotoar, tangannya dimasukkan ke saku celana.

Di kejauhan, ia melihat Wina berjalan dari arah berlawanan. Saat ia berpapasan dengannya, Jaka sempat menyapanya.

"Mau ke mana, Bu?"

“Mau ke apotek dulu, beli obat flu,” katanya ringan sebelum melanjutkan langkah.

Jaka mengangguk, lalu berjalan lagi. Namun beberapa detik kemudian—

Ciiittt!

Suara rem berdecit memecah kesunyian malam. Jaka refleks menoleh.

Sebuah mobil berhenti mendadak di tengah jalan. Lampu depannya menyala terang.

Pintu mobil terbuka. Seorang perempuan muda turun, langkahnya ragu. Ia melihat ke arah depan mobilnya.

Dari samping, Jaka sempat menangkap wajahnya beberapa detik saja, tegang, panik.

Lalu perempuan itu buru-buru masuk kembali ke dalam mobil. Mesin meraung.

Mobil dimundurkan sedikit, berbelok, lalu melaju kencang meninggalkan tempat itu.

Perasaan tak enak langsung menjalar di dada Jaka. Ia berlari mendekat.

Dan jantungnya seperti jatuh ke perut saat melihat tubuh Wina sudah terlentang di aspal.

“Bu… Bu Wina!” suara Jaka gemetar.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel, langsung menghubungi ambulans.

Setelah itu ia mencoba menghubungi Are. Namun layar ponselnya mati. Baterainya habis.

Jaka kembali ke masa kini. Matanya sedikit berkaca.

“Tangan ibumu dingin waktu itu… aku cuma bisa nunggu ambulans datang,” ucapnya lirih.

Tangan Are sudah terkepal erat sejak tadi. Rahangnya mengeras.

“Kau masih ingat wajah orang itu?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. “Pengemudi yang menabrak ibuku?”

Jaka terdiam sejenak, berpikir keras.

“Kalau sekarang… aku nggak ingat jelas,” katanya pelan. “Tapi kalau ketemu, aku rasa aku bakal ingat.”

Ia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Seperti yang kamu minta kemarin, aku sudah lapor polisi. Tapi karena nggak ada CCTV, saksinya cuma aku, dan aku juga nggak ingat nomor plat mobilnya, laporanku jadi sulit ditindaklanjuti.”

Jaka menghela napas panjang.

“Polisi bilang laporan tetap dibuka… tapi tanpa bukti tambahan, kemungkinan pelakunya bakal sulit dilacak.”

Jaka menatap Are. “Tadi pagi aku ke sini mau ngabarin soal ini, tapi kamu nggak ada. Kamu ke mana? Parkiran kamu juga sudah diambil orang.”

“Aku menjalankan kewajibanku sebagai suami," jawab Are datar.

“Hah?!” Jaka terbelalak. “Suami? Maksudmu… jangan bilang kamu nikah sama gadis semalam?”

“Benar,” jawab Are tanpa ragu.

Jaka menatapnya tak percaya. “Re… tiba-tiba kamu nikah, penampilan kamu berubah. Apa… apa yang sebenarnya terjadi?”

Are menatap lurus ke depan. “Aku menikah dengan gadis semalam agar bisa membiayai operasi ibuku.”

“Kau gila?!” seru Jaka. Ia menyipitkan mata. “Kamu tiba-tiba nikah. Padahal aku tahu kamu nggak pernah dekat sama wanita mana pun. Kamu bahkan nggak pernah kelihatan tertarik sama perempuan.”

Ia menggeleng pelan, masih sulit percaya.

“Kamu nekat nikah demi operasi ibumu… itu masih masuk akal. Tapi… nggak mungkin cuma jadi suaminya, kamu langsung dikasih uang buat biaya operasi. Pasti ada sesuatu, 'kan?”

Are membuang napas kasar. “Itu urusanku.”

Jaka berdecak. “Selalu saja bikin orang penasaran.”

Are tetap diam.

Tak jauh dari sana, di balik pilar lorong, sepasang mata mengawasi tanpa berkedip.

Percakapan mereka terdengar jelas.

Pria itu mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan singkat.

“Dia sudah menikah.”

 

...✨“Ketenangan seseorang sering kali bukan tanda kelemahan… tapi tanda bahwa ia tahu kapan harus menghancurkan.”...

...“Pria yang paling berbahaya bukan yang paling keras… tapi yang paling tenang.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
rencana apa lagi nih, yang sedang dimainkan Atyasa , Dian,dan Desti,,
Kyky ANi
bagus Are,, berikan bukti yang lebih kuat lagi,,
abimasta
belum terima juga kekalahannya fero
Kyky ANi
semoga Zelia, bisa menang dalam kasus ini,,
Anitha Ramto
sayangnya Zelia dan Are hanya Akting karena ada si Desti yang ngintip,,terobsesi kamu Desti sama Are..

Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Cicih Sophiana
hati hati Zelia ada dua manusia licik bersatu jgn lengah sedikit pun...
love_me🧡
iya orang yg percaya diri mudah dijatuhkan & contohnya itu seperti kalian 😀
Cicih Sophiana
Are mulai menelan ludah nya tuh... saking gemes nya mau gigit bibir Zelia 🤭😂😂
Cicih Sophiana
Desti iri dengki akhir nya memfitnah...
Dek Sri
tetap waspada ya zelia dan are
love_me🧡
gantung terus thooorrr gantuuuuuung, udah gak Imlek iniiih udah panas gak hujan lagi jemurannya tolong jangan digantung mulu 😀😀
abimasta
gagal lagi rencana atyasa
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
Are akankah kamu tega meninggalkan istri mu
Anitha Ramto
sepertinya Are sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap bibirnya Zeliaa wkwkwkwk🤣
tse
aduh apa yang di lakukan Are ya.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
phity
hati2 dian lgi merekam
Puji Hastuti
Dan..... Zelia tidak jadi tanda tangan.
abimasta
desti mau ngerayu are
Anitha Ramto
diiih si Desti niatnya mau jelekin Zelia dan menarik Perhatian Are tapi nyatanya Are tidak peduli huh dasar wanita murahan

Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!