Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Keputusan Besar
Keesokan harinya di kantor Aksara Muda terasa lebih berat dari biasanya. Sejak ultimatum Pak Hermawan kemarin, gue nggak bisa fokus kerja. Setiap kali gue melihat Genta keluar dari ruangannya, dada gue sesak. Rasanya kayak gue lagi nunggu naskah favorit gue diputus kontraknya secara sepihak.
Gue baru saja mau ngetik satu paragraf revisi saat Genta berdiri di depan meja gue. Bukan dengan wajah tegang, tapi justru dengan ekspresi yang sangat tenang, ketenangan yang malah bikin gue takut.
"Aruna, ikut saya ke ruangan Pak Hermawan sekarang," ucapnya pendek.
Gue berdiri dengan kaki lemas. Apakah ini saatnya salah satu dari kami bilang selamat tinggal? Di sepanjang koridor menuju ruangan direktur, gue pengen banget nahan tangan Genta, bilang kalau kita bisa cari jalan lain. Tapi Genta cuma jalan lurus ke depan, seolah dia sudah memantapkan draf hidupnya.
Di dalam ruangan, Pak Hermawan sudah menunggu dengan wajah datar. "Jadi, bagaimana? Siapa yang akan pergi?"
Gue baru saja mau membuka mulut buat nawarin diri pindah divisi ke luar kota, tapi suara Genta mendahului gue.
"Saya yang mengundurkan diri, Pak."
Suasana mendadak hening. Gue menoleh ke arah Genta dengan mata melotot. "Bapak ngomong apa?!" bisik gue panik.
Genta nggak melirik gue. Dia naruh selembar surat di meja Pak Hermawan. "Ini surat pengunduran diri saya sebagai Editor Kepala. Saya sudah menyiapkan skema transisi untuk posisi saya selama satu bulan ke depan."
"Genta, kamu sadar apa yang kamu lakukan?" Pak Hermawan ngerutin dahi. "Karier kamu sedang di puncaknya. Kamu mau membuang semuanya demi... ini?"
"Saya nggak membuang apa pun, Pak," jawab Genta mantap. Kali ini dia menoleh ke arah gue, dan tatapannya bikin pertahanan gue runtuh. "Selama ini saya terlalu sibuk ngatur hidup orang lain lewat naskah, sampai saya lupa kalau potensi terbesar kantor ini ada di depan saya sekarang. Aruna punya masa depan cerah sebagai penulis dan editor. Saya nggak mau dia terus-menerus ada di bawah bayang-bayang saya hanya karena aturan kantor yang kaku."
"Genta, jangan konyol!" gue memotong, air mata gue sudah nggak bisa ditahan lagi. "Bapak sudah berjuang bertahun-tahun buat posisi ini. Bapak yang paling butuh pekerjaan ini buat ngebuktiin ke keluarga Bapak!"
Genta tersenyum, senyum tulus yang nggak pernah dia tunjukkan di draf mana pun. Dia megang bahu gue, nggak peduli lagi ada Pak Hermawan di depan kami.
"Ngebuktiin ke keluarga itu penting, Aruna. Tapi ngebuktiin ke diri saya sendiri kalau saya bisa jagain mimpi orang yang saya sayangi itu jauh lebih penting," bisiknya. "Kamu itu 'Senja Sastra'. Kamu nggak butuh diedit oleh saya selamanya. Kamu butuh ruang buat terbang sendiri."
Pak Hermawan berdeham, lalu menghela napas panjang sambil mengambil surat itu. "Baiklah. Kalau itu keputusanmu, Genta. Saya sangat menyayangkan, tapi saya hargai integritas kamu."
Setelah keluar dari ruangan itu, gue langsung menarik Genta menuju balkon tempat kami biasa debat.
"Bapak gila ya? Terus Bapak mau kerja di mana? Bapak sudah mikirin risikonya?" cecar gue sambil sesenggukan.
Genta melepas kacamatanya, mengusapnya pelan kebiasaan robotiknya yang sekarang terasa sangat manis. "Saya masih punya akun Kaka's, kan? Mungkin saya bakal jadi kritikus lepas atau coba peruntungan di penerbit lain. Dunia nggak akan kiamat cuma karena saya berhenti jadi bos kamu, Aruna."
Dia melangkah maju, menghapus air mata di pipi gue. "Jangan merasa bersalah. Saya ngelakuin ini bukan cuma buat kamu, tapi buat 'kita'. Kalau saya tetap di sini, hubungan kita bakal selalu dianggap cacat. Saya mau kita mulai dari nol, tanpa embel-embel atasan dan bawahan."
Gue memeluknya erat, menenggelamkan wajah gue di dadanya. "Bapak bener-bener typo paling nekat yang pernah saya temuin."
Genta terkekeh, tangannya mengusap rambut gue pelan. "Mulai besok, panggil nama saja. Nggak ada lagi 'Pak'. Itu perintah terakhir saya."
Gue tertawa di tengah tangis gue. Hari ini, Genta baru saja melakukan revisi paling besar dalam hidupnya. Dia nggak lagi mementingkan efisiensi, dia mementingkan rasa. Dan gue tahu, meskipun dia nggak lagi jadi bos gue di kantor, dia bakal selalu jadi editor terbaik di hati gue selamanya.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻