Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Memulai hidup baru
Byur!
Vania tersentak saat air membasahi wajahnya. Dia mengucek matanya berulangkali. Gadis itu melihat ke sekeliling, ternyata dia ketiduran di depan toko, persis seperti gelandangan.
"Kau pikir ini toko nenek moyangmu? Seenaknya saja tidur disini, udah siang bukannya bangun. Menghambat rezeki tokoku!" bentak pemilik toko itu, banyak mata tertuju pada Vania. Dia seperti dipertontonkan.
"M—maaf, saya ketiduran disini. Soalnya —"
"Halah! Pengemis sepertimu tidak perlu banyak alasan. Pergi sana!" usir wanita paruh yang usianya sekitar lima puluh tahun itu.
Vania beranjak dari duduknya, dia berjalan sempoyongan karena kepalanya terasa pusing. Bagaimana tidak, gadis itu hanya tidur dua jam. Vania terus melangkah, hari semakin panas karena matahari sudah meninggi. Dia memegangi perutnya yang terasa lapar akibat belum sarapan. Bibirnya kering, dan wajahnya pucat.
"Lapar sekali." gumamnya saat melihat rumah makan kecil, dimana berjajar rapi aneka lauk dan lalapan. Vania hanya mampu menelan ludah karena dia tidak punya uang sepeserpun untuk membeli makanan.
FLASHBACK OFF:
Vania yang masih terlelap dalam tidurnya kaget karena dibangunkan oleh seseorang.
"Sudah sampai, Nona." ucap sopir taksi pada Vania.
Gadis itu menoleh keluar, menatap lampu-lampu jalanan yang masih tampak menyala. Akhirnya Vania sadar, jika dia saat ini sudah berada jauh dari kota tempatnya tinggal.
"Terima kasih." Ujarnya seraya turun dari taksi tersebut.
Vania menghirup udara pagi ini, sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Dia berjalan menyusuri gelapnya dunia, hanya lampu yang menemaninya di sepanjang jalan.
"Aku harus mencari tempat tinggal, lalu pekerjaan. Untung saja aku membawa surat-surat penting untuk mempermudah mendapatkan pekerjaan." gumamnya pelan sambil menggeret kopernya.
Langkah Vania terhenti karena dua orang pria berpakaian seperti preman menghadangnya. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, kakinya seperti kaku, sulit di gerakan. Ketakutan mulai menjalar di sekujur tubuh Vania karena dua orang pria itu tersenyum sangar ke arahnya.
"Kalian mau apa?" tanya Vania, detak jantungnya tak beraturan.
"Serahkan barang-barang berhargamu!" perintah salah satu pria itu.
"Kalian perampok?" tanyanya lagi membuat para preman itu tertawa lepas.
"Kalau dilihat-lihat, kau ini orang kaya." ucap pria yang memakai anting dan tubuhnya penuh dengan tatto. "Bagaimana kalau kita sandera saja dia? Lalu kita minta tebusan yang besar ke keluarganya."
"A—aku tidak punya keluarga! Jika kalian mau..." Vania melempar kopernya ke arah preman tersebut. "Ambil saja koper itu! Tapi biarkan aku pergi." pintanya ketakutan.
Bukannya menjawab, mereka malah tertawa keras. Jalanan yang sunyi itu menjadi saksi bisu betapa gemetarnya tubuh Vania saat ini.
Vania, kau harus hati-hati. Mereka tampaknya adalah preman. Mereka bisa saja melakukan tindakan kekerasan atau penipuan.
Vania, kau harus mencari bantuan. Cari orang yang bisa kau percayai, seperti polisi atau orang dewasa yang baik. Jangan ragu untuk meminta bantuan, karena mereka bisa membantumu keluar dari situasi ini. Itulah bisikan hati Vania, mencoba untuk tetap tenang.
"Serahkan ponsel, dan perhiasan yang kau pakai!"
"Apa? Hanya ini barang-barang berhargaku. Kalau aku memberikannya pada kalian, lalu bagaimana hidupku kedepannya?"
"Argh! Kami gak mau tau! Itu bukan urusan kami."
Kedua preman itu merebut paksa ponsel dan perhiasan mahal milik Vania. Padahal gadis itu berniat untuk menjual ponselnya, kemudian mengganti dengan yang lebih murah. Begitu pula perhiasannya, dia ingin menyimpan untuk modal persalinan.
"Lepaskan!" Teriak Vania, dia pun meminta tolong.
Kedua preman itu mendorong tubuh Vania hingga tersungkur di aspal, mereka tertawa puas karena mendapatkan barang-barang mahal dan isi yang ada di dalam koper milik Vania.
"Kembalikan ponselku," pinta Vania menangis.
"Kami pikir sepertinya memang tidak perlu menyandramu. Barang-barang ini sudah lebih cukup untuk kami. Hahaha..." Mereka berdua pergi begitu saja, meninggalkan Vania yang terus berteriak meminta ponselnya kembali.
Pupus sudah harapan gadis itu untuk masa depannya, sekarang dia bingung harus bagaimana. Ponselnya di rampok, dan dia sekarang hanya punya uang cash sebesar tiga ratus ribu rupiah.
FLASHBACK ON
**********
Vania terus berjalan di bawah teriknya matahari. Dia memegangi perutnya yang sedikit perih karena tidak minum dan makan. Dari kejauhan Vania melihat sebuah restoran. Dia pun bergegas kesana, bukan untuk makan melainkan melamar pekerjaan. Bermodalkan tekad dan niat untuk memenuhi kebutuhannya, dia membelakangkan rasa malu.
"Permisi," sapa Vania pada sang kasir.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya kasir itu dengan sopan.
"Apa disini ada lowongan pekerjaan? Saya, saya perantau di kota ini. Dan saat baru sampai, barang-barang saya di rampok. Saya butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidup."
Kasir bernama Layla itu menatap penampilan Vania dari atas sampai bawah. Terlihat seperti orang kaya. Tubuhnya yang bersih, kuku indah, dan pakaian bagus.
"Kau yakin ingin melamar kerja di tempat ini?" tanya Layla memastikan dan dijawab anggukan oleh Vania.
"Aku sangat butuh."
"Kebetulan! Baru hari ini salah satu karyawan resign, kau bisa tanyakan langsung pada manager apakah ada lowongan atau tidak."
Seakan mendapat angin segar, Vania tersenyum lebar.
"Boleh aku bertemu dengannya?"
"Mari, biar ku antar." Layla berjalan mendahului Vania.
Setelah sampai di ruangan Manager.Mereka bersama-sama masuk ke dalam sana. Sebelumnya, Layla mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi, Tuan. Ada yang ingin melamar pekerjaan."
Di meja tertera nama Liam Neeson. Pria berwibawa, kekinian, dan manis itu memutar kursinya. Dia menatap Layla kemudian beralih ke Vania.
"Dia orangnya." ucap Layla seakan paham dengan tatapan sang Manager.
"Silakan kembali bekerja, Layla." perintah Liam dengan tenang.
Kini tinggallah mereka berdua. Vania meremas ujung bajunya, merasa takut jika tidak mendapatkan kerjaan di restoran itu.
"Apa kau sudah pernah bekerja sebelumnya?"
"Sudah," sahut Vania agak gugup.
"Hm, apa pengalamanmu?"
"Saya—" Vania terdiam sesaat. Jika dia mengatakan yang sejujurnya tentang pengalaman kerja di perusahaan orangtuanya, maka dirinya pasti akan ditolak mentah-mentah.
"Saya pernah menjadi waiters di salah satu cafe."
"Mungkin ini rezekimu, di restoran ini memang sedang mencari seorang waiters, sekaligus bisa membantu mencuci piring jika restoran sudah sepi. Kalau kau mau, kau bisa mulai bekerja hari ini."
"Benarkah? Apa tidak butuh CV?" tanyanya tidak percaya.
"Untuk apa? Kau hanya ditempatkan sebagai karyawan biasa, melayani para customer dengan baik. Lalu?"
"Baiklah, maaf." Vania tersenyum kikuk. "Apa aku bisa mulai kerja?"
"Ya, masalah gaji. Saya akan bahasa setelah melihat kinerja mu. Untuk sementara, kau akan digaji harian, seratus lima puluh ribu. Setelah dua bulan training, saya akan menaikkan gaji mu dan mengubahnya menjadi bulanan."
"Tak apa, saya setuju. Yang penting saya punya uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terima kasih sekali lagi, Tuan Liam." ucap Vania tersenyum, membuat Liam terpesona.
"Mari, saya perkenalkan dengan rekan kerja yang lainnya." ajak Liam, pria berusia tiga puluh tahun itu berjalan di depan Vania.
Tepat sekali sekarang jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya istirahat untuk para karyawan. Liam mengumpulkan semua karyawannya.
"Selamat siang semuanya, saya ingin memperkenalkan anggota baru di restoran ini, yaitu..."
"Vania." ucap Vania menyambung karena memang dia belum memberitahu namanya.
"Ya, Vania. Dia akan bergabung dengan tim kalian sebagai waiters dan akan membantu kalian dalam melayani pelanggan. Vania memiliki pengalaman sebagai waiters di salah satu cafe dan saya yakin dia akan menjadi aset yang berharga bagi tim kalian. Mari kita semua menyambut Vania dengan hangat dan membantunya dalam menjalankan tugas." itulah kata dari Liam memperkenalkan karyawan barunya.
Vania tersenyum manis. "Terima kasih atas perhatian kalian semua dan saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik. Tolong bimbing saya dan beritahu jika saya salah."
"Selamat bekerja, Vania." ucap mereka semua serempak. Satu persatu karyawan maju dan berkenalan dengan Vania, mereka terlihat friendly.
"Baiklah, silakan istirahat dan lanjutkan tugas masing-masing." perintah Liam. Dia menoleh ke arah Vania. "Kau bisa cari karyawan bernama Ayla, dia Executive Chef. Tanyakan padanya apa saja yang biasa di kerjakan waiters di restoran ini.
..............
Bersambung