Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Fine Line Between Peace and Chaos
Terkadang Fraya suka lupa kalau dia tidak lagi berpijak di aspal Jakarta yang gerah. Maka, melangkah keluar rumah hanya dengan balutan celana piyama panjang dan cardigan selutut berbahan tipis adalah salah satu keputusan paling konyol yang pernah ia buat.
London punya caranya sendiri untuk menghukum siapa pun yang meremehkan cuaca temperaturnya yang tidak bisa diprediksi.
Dan malam ini, udara dingin itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya.
Fraya melintasi halaman sambil menahan tubuhnya yang bergidik hebat.
Ia bisa saja berbalik, masuk ke dalam rumah untuk mengambil mantel. Namun, logika praktisnya maju selangkah, lebih cepat ia bertemu Damian, lebih cepat ia bisa mengusir laki-laki itu, dan lebih cepat juga ia bisa kembali ke balik selimut.
Atau setidaknya, itulah narasi yang coba ia jejal kan ke kepalanya saat ia berdiri di depan Damian sambil memeluk tubuhnya sendiri erat-erat.
Ia hanya ingin tidur, bisik batinnya, bukan karena ia tidak sabar melihat wajah cowok itu di depan halamannya.
Bukan juga karena sejak tadi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setelah menerima telepon itu.
Ketika akhirnya ia melihat Damian berdiri di dekat pagar, sesuatu di dalam dadanya ikut menegang.
Damian terlihat… berbeda.
Setelan formalnya terlalu rapi untuk malam seperti ini. Rambutnya tertata. Bahunya tegak. Terlalu dewasa.
Terlalu bukan anak delapan belas tahun.
Senyum yang tadi terdengar di telepon langsung hilang begitu ia melihat Fraya.
Damian, yang sejak panggilan telepon tadi tidak repot-repot menyembunyikan binar di matanya, langsung terkesiap saat melihat sosok Fraya yang berjalan agak payah menembus kabut tipis sambil menggigil kedinginan.
"Kenapa kamu tidak pakai mantel? Demi Tuhan, sekarang dingin sekali, Ace."
Suara Damian terdengar antara cemas dan tidak percaya. Tanpa menunggu jawaban, ia melepas mantel cokelat yang ia kenakan dan menyampirkan nya ke bahu Fraya sebelum gadis itu sempat menyusun kalimat protes.
"Aku terbiasa dengan cuaca dingin," kilah Fraya asal-asalan. Sebuah kebohongan asal karena di detik saat pintu rumahnya terbuka tadi, Fraya sudah merutuki kebodohannya sendiri habis-habisan.
"Kamu ngapain ke sini? Kupikir kamu sudah mati bersama ponselmu yang ternyata masih punya cukup nyawa untuk menghubungiku barusan," ujar Fraya, mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia melakukan apa saja asal tidak harus membalas tatapan Damian yang kini mengunci wajahnya dengan curiga.
Satu cengiran jahil kemudian mencuat di sudut bibir Damian. "Okay, so this is the answer why you looked so pissed."
Fraya memutar bola mata, berusaha mempertahankan fasad cueknya. "Aku tidak kesal, Damian. Percayalah."
Damian hanya mengangguk-angguk kecil, seolah sedang meladeni anak kecil yang tertangkap basah berbohong. Ia tahu persis bahwa di balik wajah itu, Fraya sedang ingin memaki-makinya keras-keras.
"Where have you been these past few days?" Akhirnya, pertanyaan itu lolos juga dari bibir Fraya. Rasa penasaran yang sejak kemarin menggelitik relung hatinya kini tak lagi bisa dibendung.
Damian tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Di bawah temaram lampu jalan, sosoknya terasa berbeda.
Bukan lagi Damian remaja yang biasa Fraya lihat. Malam ini, ia tampak jauh lebih dewasa dalam balutan setelan formal khas pekerja kantoran yang rapi, meski dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka—memberikan kesan maskulinitas yang sedikit berantakan.
Laki-laki itu menunduk. Gurat jenaka yang tadi menghuni matanya perlahan luruh, digantikan oleh sesuatu yang lebih gelap dan berat.
Damian menoleh, menangkap basah Fraya yang tengah menatap ujung sepatu boots kainnya sendiri.
Senyum Damian mengembang lagi, tapi kali ini hambar. Senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.
"I was at Rotterdam. Menemani Ayahku bertemu investor dan pemegang saham. Diskusi besar tentang strategi baru Harding Global tahun depan."
Fraya hanya mengangguk-angguk pelan, masih enggan mengangkat wajah.
Namun, ia tidak bisa menulikan pendengarannya dari nada getir yang menyusup dalam suara Damian.
Saat ia akhirnya memberanikan diri mendongak, ia menemukan Damian sedang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Sangat dekat hingga Fraya merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
"And you didn’t like what you were doing in Rotterdam, i guess?"
Damian terkekeh pahit. "What makes you think that? Kebanyakan orang akan membunuh demi posisiku ini, Ace."
Fraya mengedikkan bahu. "Karena suaramu barusan... kedengarannya bukan seperti orang yang baru memenangkan dunia, tapi seperti orang yang baru saja kehilangan dirinya sendiri. Siapa pun bisa melihat keberhasilan mu, Damian. Tapi tidak semua orang bisa mendengar betapa sesaknya kamu saat membicarakannya."
Damian tertegun. Kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibir seorang gadis yang bahkan belum lama ia kenal. Gadis yang biasanya menghabiskan waktu dengannya untuk berdebat, adu mulut, atau melempari Damian dengan dengan umpatan dalam bahasa Indonesia.
Analisis singkat Fraya barusan terasa seperti tamparan telak yang tepat mengenai harga diri Damian.
"Baru kamu, Ace... baru kamu,"
Damian menghela napas panjang sembari menatap langit malam London yang kelabu. "Baru kamu yang menganggap segala sesuatu yang kulakukan untuk Harding Global tidak pernah bisa ku nikmati. Orang lain melihat Damian Harding sebagai sosok magis karena sudah memikul tanggung jawab sebagai ahli waris di usia delapan belas. Mereka pikir ini mudah. Mereka tidak tahu bahwa ini semua bukan apa yang aku mau."
Fraya terdiam. Kegetiran dalam suara Damian seolah merambat masuk ke dalam dadanya, membuat hatinya ikut terenyuh.
Sosok yang berdiri di depannya ini bukan lagi ahli waris yang arogan, melainkan seorang laki-laki yang sedang kehilangan arah.
"Apa kamu pernah bilang pada Ayahmu? Bahwa kamu belum mau menjalani semua ini di usia yang masih sangat muda? Maksudku, kamu bahkan belum lulus sekolah."
Damian meloloskan napas berat yang berubah menjadi uap dingin saat bersentuhan dengan udara.
"Diskusi mengenai keinginanku tidak pernah ada dalam kamus Richard Harding, Ace. Semua yang ada dikepalanya hanyalah soal angka, dividen, strategi pasar, dan bagaimana menjaga citra Harding Global agar tetap berkilau di mata publik."
Fraya menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat kerapuhan yang begitu telanjang di mata Damian. Ia tahu, sisi ini tidak pernah diperlihatkan Damian pada siapa pun.
"Kamu sudah punya rencana... akan lanjut kuliah di mana setelah lulus dari Milford Hall?" tanya Fraya, berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan.
Damian kembali terkekeh pahit. Ia menatap Fraya dengan senyum yang terasa seperti luka lama.
"Kamu pasti akan membenciku kalau tahu aku akan kuliah di mana."
Dahi Fraya berkerut dalam. Ia sudah siap meluncurkan pertanyaan baru, namun binar aneh di mata Damian memberinya jawaban instan.
"Oxford? Really?"
Damian mengangguk lemah, seolah pengakuan itu adalah sebuah beban.
"Kenapa aku harus membencimu karena kamu masuk Oxford? Itu kampus impian semua orang. Memangnya kamu pikir Papaku yang punya Oxford sampai aku harus marah kalau kamu kuliah di sana?"
Sebuah tawa kecil akhirnya pecah di antara mereka. Hal sesederhana itu ternyata sanggup mengikis beban yang menggantung di bahu Damian.
"Bukan itu, Ace. Aku takut kamu membenciku karena orang sepertiku tidak perlu harus banting tulang untuk mendapatkan kesempatan belajar di Oxford. Maksudku, dulu yang bisa kulakukan untuk segala hal dalam hidupku yang sudah direncanakan ini hanyalah mencemooh, meremehkan. Karena aku tidak perlu berusaha lebih. Semuanya diatur tanpa pernah bertanya apakah aku bersedia atau tidak. Apakah aku sudah punya rencana sendiri atau tidak untuk masa depanku."
Damian membuat jeda panjang dalam kalimatnya, lalu melanjutkan dengan nada penuh penyesalan seraya menatap Fraya, "Tapi melihatmu berusaha keras, sampai rela menghadapi orang se menyebalkan aku ini supaya tiket emas ke Oxford bisa kamu dapatkan bagaimanapun jalannya, kamu bikin aku sadar kalau selama ini hidupku hanya ku habiskan untuk jadi orang yang tidak mau mengenal rasa syukur."
Hening merayap di antara mereka. Jeda yang cukup panjang itu diisi oleh suara angin yang berdesir di antara pepohonan. Rahang Damian yang sempat mengeras kini perlahan melunak. Seolah untuk sekadar bernapas pun, ia butuh izin dari semesta.
"Damian, dengarkan aku. Kamu mungkin tidak punya kuasa untuk menghentikan ambisi Ayahmu, tapi kamu punya hak untuk tidak membiarkan ambisinya menghancurkan siapa kamu sebenarnya. Kamu tidak harus jadi sempurna setiap saat. Di depanku, kamu tidak perlu jadi Damian Harding si hebat dalam segala hal. Kamu boleh jadi Damian yang biasa saja, Damian yang lelah, Damian yang... kamu."
Entah dari mana keberanian itu datang, Fraya mengangkat tangannya. Jemarinya yang dingin menyentuh pipi Damian, menekan kulitnya dengan lembut.
Damian memejamkan mata, seolah sedang menyerap kehangatan dari sentuhan itu—sebuah validasi yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun.
Tangan Damian bergerak meremas tangan Fraya yang masih berada di pipinya, menyalurkan debar yang kini menjalar ke hati. Perlahan, Damian berdiri tegak tanpa melepaskan genggaman mereka.
Dalam satu tarikan lembut yang tak terelakkan, ia membawa tubuh mungil Fraya ke dalam pelukannya.
Fraya terkesiap, namun ia tidak menolak. Ada rasa nyaman yang aneh, seolah potongan puzzle di dadanya baru saja menemukan tempatnya. Tanpa sadar, tangannya bergerak memeluk balik tubuh Damian yang kokoh.
"Aku merasa benar-benar bernapas kalau sedang bersamamu, Ace. Dunia di luar sana terlalu bising. Di sini, bersamamu... semuanya mendadak sunyi." bisik Damian parau tepat di tengkuk Fraya.
Fraya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di dada Damian, berharap kehangatan ini bisa sedikit meringankan beban di pundak laki-laki itu.
Damian menyerukan wajahnya di antara helai rambut panjang Fraya. Ia diam di sana selama dua menit penuh, menyesap aroma yang membuatnya merasa tenang.
Jika Damian tidak sedang serapuh ini, Fraya pasti sudah mendorongnya dan memaki selama dua jam. Tapi malam ini, ia hanya ingin membagi beban itu.
Saat mereka akhirnya merenggangkan pelukan, Damian menatap Fraya dengan binar yang berbeda. Ada hasrat yang tertahan, ada keinginan untuk melenyapkan jarak di antara bibir mereka, namun ia menahannya dengan sisa-sisa kewarasan yang masih Damian selamatkan.
"Dari sekian banyak imajinasi tentang kamu yang kusimpan di kepalaku, aku ingin sekali mewujudkan satu saja. Tapi aku takut... aku takut tidak bisa menghadapi risiko didiamkan olehmu lagi kalau aku nekat melakukannya."
Fraya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia tahu persis apa yang dimaksud Damian. Namun, saat matanya jatuh pada bibir laki-laki itu, ada hasrat asing yang menyeruak naik—sebuah keinginan yang ia tekan kuat-kuat demi menjaga kewarasannya.
"Memangnya kamu mau melakukan apa?" tanya Fraya, suaranya nyaris seperti bisikan yang hilang ditelan angin.
Damian tersenyum samar. Ia menyentuhkan dahinya ke dahi Fraya, memejamkan mata sejenak untuk menikmati kedekatan mereka.
Kemudian, dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh takzim, ia mendaratkan kecupan lama di dahi Fraya.
"Maafkan aku ya, karena tidak membalas pesanmu kemarin. Kalau saja aku punya waktu untuk menghubungi dunia luar, kamu adalah orang pertama yang akan kucari."
"It’s okay, don’t worry about it," sahut Fraya pelan.
Damian akhirnya melepaskan tautan mereka, sebuah gestur bahwa ia harus segera pergi. Fraya mengangguk dan mundur beberapa langkah, kembali menciptakan jarak yang tadi sempat hilang.
Damian membuka pintu mobil, namun sebelum masuk, ia berputar sekali lagi.
Matanya kini kembali cerah, seolah baru saja menemukan harapan baru.
“Fraya…”
Damian belum masuk ke mobil. Tangannya masih bertumpu di pintu yang terbuka. Lampu halaman memantulkan bayangan wajahnya yang tidak lagi santai.
“Ya?”
Ada sepersekian detik di mana Damian tampak seperti ingin menarik kembali sesuatu yang belum ia ucapkan. Rahangnya bergerak, lalu berhenti. Ia menelan sebelum akhirnya berbicara.
“Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku.”
Tidak ada nada memaksa. Tidak ada suara meninggi.
Justru terlalu pelan. Dan itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Fraya tidak langsung menjawab. Ia menatap Damian, lalu menatap tangan laki-laki itu yang masih mencengkeram sisi pintu mobil terlalu kuat. Buku-buku jarinya memucat.
°°°°
Damian menaiki tangga dua sampai tiga anak tangga sekaligus. Langkahnya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang beberapa jam lalu masih terjebak dalam ruang rapat penuh grafik dan angka di Rotterdam.
Senyum itu tidak bisa ia sembunyikan. Bahkan ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Seperti orang yang baru saja menemukan alasan untuk bernapas lagi.
Ia mendorong pintu kamarnya yang luas—ruangan yang selama ini terasa lebih seperti ruang tunggu hotel mewah daripada kamar seorang remaja.
Dindingnya tinggi. Lantainya dingin. Segalanya tertata rapi.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruangan itu tidak terasa kosong.
Ia melepaskan sepatu suede cokelat gelapnya dengan sembarangan—sesuatu yang biasanya tidak pernah ia lakukan. Sepatu itu terlempar pelan ke sudut lantai.
Damian bahkan bersiul kecil, melantunkan potongan lagu cinta berbahasa Jerman yang dulu sering dinyanyikan ibunya saat ia masih kecil.
Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap secarik kertas di atas nakas meja.
Senyumnya melebar.
Ia berjalan mendekat, mengambil kertas itu dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. Kertas yang Fraya gunakan untuk menuliskan dukungan saat pertandingan lacrosse beberapa hari lalu.
Tulisannya tidak sempurna. Sedikit miring. Tinta di salah satu sudutnya sempat belepotan. Tapi bagi Damian, kertas itu lebih berharga dari semua kontrak investasi yang baru saja ia tanda tangani di Rotterdam.
Ia membuka laci terbawah meja di sudut ruangan. Laci tempat ia biasa menyimpan benda-benda kecil yang tidak penting. Malam ini, benda kecil itu menjadi sangat penting.
Ia mengambil sebuah bingkai foto kosong. Membersihkannya sekilas dengan telapak tangan, lalu memasukkan secarik kertas itu ke dalamnya. Tangannya tidak tergesa. Ia bahkan merapikan sudutnya dengan serius.
Seolah itu sebuah foto kenangan. Seolah itu sesuatu yang ingin ia jaga lama.
Damian menatap hasilnya beberapa detik. Dan untuk sesaat, ia merasa… cukup.
Seperti hidupnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh ayahnya. Seperti ada satu hal kecil di dunia ini yang benar-benar ia pilih sendiri.
Fraya.
Fraya Alexandrea-nya
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan pesan masuk.
Masih dengan senyum yang tersisa, Damian meraih ponsel dari atas kasur. Ia bahkan masih bersenandung pelan saat jarinya menyentuh layar untuk memeriksa pesan dari siapa yang mengganggu momen-momen bahagianya ini.
Lalu semuanya berhenti.
Senyumnya tidak langsung hilang.
Ia hanya membeku.
Dua buah foto.
Foto pertama, Fraya sedang duduk di bangku pemain baseball bersama Louis. Kedekatan mereka tampak begitu natural, begitu akrab.
Foto kedua, Fraya keluar dari ruangan Mr. Harrington, dalam jarak yang begitu dekat sehingga kepala Fraya yang tengah menengadah memandang Mr. Harrington seperti nyaris mendaratkan sebuah ciuman dari jarak nyaris satu inci saja diantara mereka.
Senyum Damian hilang tanpa bekas.
Cengkeramannya pada ponsel mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
Kehangatan yang baru saja diberikan Fraya di halaman rumah tadi mendadak terasa dingin, digantikan oleh api cemburu yang membakar.
Ponsel di tangannya hampir retak karena genggamannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Damian tidak terlihat seperti anak delapan belas tahun.
Ia terlihat seperti seseorang yang sedang belajar bahwa mencintai seseorang berarti juga bersiap kehilangan.
Dan ia tidak yakin ia siap untuk itu.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit