NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Tirai Taqwa

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun hidupnya, Ameera tidur tanpa suara bising klakson ibu kota atau dentum musik dari speaker mahalnya. Ia terlelap dalam balutan selendang krem yang masih melilit lehernya, ditemani aroma gaharu yang menenangkan jiwa.

Namun, ketenangan itu terusik oleh sebuah suara yang menembus sunyi nya sepertiga malam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Suara itu tidak melengking tajam, melainkan berat, dalam, dan penuh penghayatan. Setiap makhraj hurufnya bergetar, seolah sang pengumandang nya sedang berbicara langsung dengan Langit.

Ameera mengerjapkan mata. Di kamar yang remang itu, ia terduduk tegak. Jantungnya berdegup aneh, bukan karena takut, tapi karena rasa haru yang mendadak menyesak. Ia bangkit, menyibak gorden tipis di kamarnya, dan melihat siluet menara masjid yang berpendar kebiruan di balik kabut tipis.

"Suara ini..." bisik Ameera. Ia merasa mengenali wibawa dalam getaran suara itu.

"Itu Kak Liam," suara lembut Syifa terdengar dari ambang pintu yang terbuka sedikit. Syifa sudah rapi dengan mukena putih bersihnya, wajahnya tampak segar karena air wudu.

"Dia selalu meminta izin pada Marbot untuk mengumandangkan Azan Subuh jika sedang berada di sini. Katanya, itu cara dia menyembuhkan jiwanya sendiri setelah lelah dengan urusan rumah sakit."

Ameera terpaku. Dokter bedah yang dingin dan kaku itu, ternyata adalah pemilik suara yang mampu menggetarkan dinding hatinya yang keras.

Syifa mengajak Ameera menuju masjid. "Ikutlah, kau bisa duduk di barisan belakang jika belum siap shalat. Hanya untuk merasakan suasananya."

Ameera menurut. Ia menyampirkan selendangnya lebih rapat, menutupi kemeja tidurnya yang tertutup long coat. Di pelataran masjid yang berubin marmer dingin, ia melihat sosok itu.

Liam keluar dari ruang muazin. Ia mengenakan baju koko putih bersih yang senada dengan sarung tenun gelapnya. Peci hitamnya terpasang rapi. Saat ia berjalan melewati koridor wanita untuk menuju barisan depan pria, ia kembali melakukan hal yang sama, menundukkan pandangannya dalam-dalam.

Namun, langkah Liam sempat terhenti sesaat saat ia melewati posisi Ameera yang berdiri mematung di balik pilar. Tanpa menoleh, Liam berbicara pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri namun terdengar jelas di telinga Ameera.

"Selamat datang di waktu di mana doa-doa lebih cepat sampai ke langit daripada keluhan manusia, Ameera. Jangan hanya mendengar azan nya, tapi jemput lah Penciptanya."

Setelah berkata demikian, Liam berlalu tanpa menunggu jawaban. Punggungnya yang tegap menghilang di balik tirai pembatas saf.

Ameera terduduk di sudut belakang masjid, di atas karpet hijau yang empuk. Di depannya, ratusan santriwati bersujud dengan khusyuk. Di telinganya, suara imam yang ia yakini adalah Liam mulai melantunkan surah Ar-Rahman.

Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban...

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan"

Air mata Ameera jatuh tanpa permisi. Ia tidak mengerti artinya, tapi nada suara Liam yang bergetar saat membaca ayat itu seolah menyayat kesombongannya selama ini. Ia merasa sangat kecil, sangat kotor, namun entah mengapa, merasa sangat diterima di tempat ini.

"Kenapa dia begitu berbeda?" pikir Ameera sambil menghapus air matanya. "Dia tidak menatapku, tapi kata-katanya menyentuh bagian terdalam dari diriku yang tidak pernah bisa disentuh oleh siapa pun."

Setelah shalat usai, Syifa menghampirinya. "Mau mulai belajar mengenal huruf pertama hari ini, Ameera? Alif, Ba, Ta... pelan-pelan saja."

Ameera mengangguk mantap. Ia menoleh ke arah saf pria, berharap bisa melihat Liam sekali lagi, namun pria itu sudah lebih dulu pergi menuju klinik, kembali menjadi sosok dokter yang sibuk dengan kemanusiaan.

Pagi di pesantren itu bukanlah pagi yang biasa bagi Ameera Nafeeza. Jika biasanya ia terbangun oleh alarm ponsel yang bising atau sapaan asisten rumah tangga yang membawakannya jus jeruk dingin di atas nampan perak, kali ini ia terbangun oleh simfoni alam dan spiritualitas yang menggetarkan. Cahaya matahari menyelinap malu-malu di balik celah jendela kayu paviliun, membawa serta aroma melati dan tanah yang disiram embun.

Ameera duduk di tepi ranjang, menatap Al-Qur'an beludru yang semalam diberikan Syifa. Jemarinya yang biasanya sibuk memoles kuku dengan warna-warna trendi, kini gemetar saat menyentuh tekstur kain itu.

Ada rasa takut yang aneh, takut jika ia tak layak menyentuhnya, takut jika masa lalunya yang penuh hura-hura menghalangi cahaya kitab ini masuk ke hatinya.

Syifa datang dengan keceriaan yang konstan. Gadis itu mengenakan gamis berwarna pastel yang longgar, nampak sangat serasi dengan ketenangan wajahnya. "Sudah siap, Ameera? Hari ini kita mulai dari yang paling dasar. Kita akan mengenal Alif."

Ameera mengangguk canggung. Ia mengikuti Syifa menuju sebuah pendopo kecil di samping perpustakaan pesantren. Di sana, duduk melingkar beberapa santriwati kecil yang sedang menghafal baris demi baris ayat. Kehadiran Ameera yang mengenakan setelan tunik modis namun masih terlihat asing menarik perhatian mereka. Namun, berbeda dengan tatapan menghakimi yang biasa ia terima di kelab malam atau pesta sosialita, tatapan anak-anak ini penuh rasa ingin tahu yang tulus.

"Kenapa mereka menatapku begitu?" bisik Ameera pada Syifa.

"Mereka kagum," jawab Syifa lembut. "Bagi mereka, melihat seseorang yang memiliki dunia di genggamannya namun memilih datang ke sini untuk belajar mengeja huruf Tuhan adalah sebuah pemandangan yang indah."

Ameera terdiam. Memiliki dunia? Justru ia merasa dunianya sedang runtuh, dan ia sedang mencari puing-puing untuk membangun fondasi baru.

Pelajaran pertama ternyata lebih sulit dari yang Ameera bayangkan. Lidahnya terasa kaku menyebutkan huruf-huruf hijaiyah.

"Kha... Kho... Gho..." ia mendesah frustrasi. Matanya mulai memanas. Bagaimana mungkin seorang sarjana komunikasi dari universitas ternama sepertinya kesulitan hanya untuk menyebutkan satu huruf?

"Istirahatlah sebentar," saran Syifa. "Aku harus mengantarkan obat ini ke klinik Kak Liam. Kau mau ikut? Udaranya segar di sana."

Ameera setuju, lebih karena ingin melarikan diri sejenak dari rasa malunya. Klinik pesantren itu terletak di bagian belakang, dekat dengan kebun kurma buatan yang rimbun. Saat mereka sampai, suasana tampak sibuk. Beberapa penduduk desa sekitar mengantre dengan tertib.

Di balik meja kayu sederhana, terlihat Liam. Pria itu sudah mengganti baju kokonya dengan jas putih dokter yang bersih. Stetoskop melingkar di lehernya. Wajahnya yang tampak lelah namun tetap bercahaya itu terlihat sangat fokus memeriksa seorang nenek tua.

Ameera terpaku di ambang pintu. Cara Liam menyentuh pergelangan tangan pasiennya, cara ia mendengarkan keluhan dengan kepala sedikit miring, dan senyum tipis yang ia berikan sebagai penenang semuanya terasa begitu nyata. Tidak ada kepalsuan.

"Terima kasih, Dokter Liam. Semoga Allah membalas kebaikanmu," ucap nenek itu saat berpamitan.

Liam mengangguk, lalu pandangannya secara tidak sengaja terangkat. Untuk sepersekian detik, matanya menangkap sosok Ameera yang berdiri di kejauhan.

Deg. Jantung Ameera berdegup kencang. Namun, secepat kilat, Liam kembali melakukan kebiasaannya, menunduk.

Ia merapikan berkas di mejanya, lalu berbicara tanpa melihat ke arah pintu. "Syifa, bawa tamu kita duduk di ruang dalam. Di sini banyak kuman, tidak baik untuknya yang belum terbiasa."

Ameera mendengus pelan. Kuman? Apa dia menganggap ku selemah itu? Tapi di balik kekesalannya, ada rasa hangat. Liam memperhatikannya, dengan caranya yang unik.

Setelah pasien terakhir pulang, Syifa pergi ke apotek belakang, meninggalkan Ameera di ruang tunggu kecil. Liam keluar dari ruang periksa, hendak mencuci tangannya di wastafel sudut ruangan.

"Sulit, ya?" suara Liam memecah keheningan. Ia tetap membelakangi Ameera, fokus menggosok tangannya dengan sabun.

"Apanya?" tanya Ameera ketus, mencoba menutupi kegugupannya.

"Mengeja huruf Alif," jawab Liam tenang. "Aku mendengar mu mengeluh di pendopo tadi saat aku lewat."

Ameera menunduk, memainkan ujung selendangnya. "Aku bodoh, kan? Umur dua puluh tahun tapi tidak tahu beda Dal dan Dzal. Teman-temanku di Jakarta pasti menertawakan ku jika melihat ini."

Liam mematikan kran air. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu berbalik sedikit, namun tetap menjaga jarak pandangannya di lantai.

"Tidak ada kata terlambat untuk pulang, Ameera," ucap Liam, suaranya kini terdengar lebih lembut, selembar puitis yang menyentuh nurani.

"Alif itu lurus, seperti niatmu saat melangkah ke sini. Kau tahu kenapa ia huruf pertama? Karena sebelum melangkah lebih jauh, kita harus meluruskan diri di hadapan-Nya. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bandingkan dirimu dengan dirimu yang kemarin. Jika hari ini kau tahu satu huruf lebih banyak, kau sudah menang di mata Langit."

Ameera tertegun. Kata-kata Liam bukan hanya sekadar motivasi, tapi seperti air dingin yang membasuh jiwanya yang gerah. "Kenapa kau tidak mau menatapku saat bicara, Liam? Apakah aku seburuk itu untuk dilihat?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Keheningan panjang menyusul. Liam terdiam cukup lama, hingga Ameera bisa mendengar detak jarum jam di dinding.

"Justru karena kau tidak buruk, Ameera," jawab Liam pelan, hampir seperti bisikan. "Bagiku, wanita adalah mutiara dalam cangkang. Semakin berharga ia, semakin kuat cangkangnya. Aku tidak menatapmu bukan karena kau tidak menarik. Aku tidak menatapmu karena aku sedang menghormati prosesmu. Aku tidak ingin ketertarikan fana mengotori ketulusanmu mencari Tuhan."

Ameera merasa matanya memanas lagi. Kali ini bukan karena malu, tapi karena rasa haru yang tak terbendung. Selama ini, pria menatapnya sebagai objek, sebagai piala, atau sebagai pajangan. Baru kali ini, seorang pria menjaga pandangannya justru sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas martabatnya.

Malam harinya, Ameera kembali ke paviliun. Ia membuka Al-Qur'an beludru itu. Di dalamnya, ia menemukan secarik kertas kecil yang terselip di halaman pertama. Tulisan tangannya rapi, tegas, namun bersahaja.

"Untuk setiap tetes air mata yang jatuh karena kesulitan belajar, Allah sedang menghapus satu titik hitam di hatimu. Teruslah mengeja, Ameera. Suatu hari, kau tidak hanya akan membaca huruf-huruf ini, tapi kau akan merasakannya mengalir di nadimu. - L"

Ameera memeluk kertas itu di dadanya. Ia tersenyum kecil. Ternyata, di balik celana cargo dan wajah sombong itu, ada seorang dokter yang juga sedang mengobati hatinya yang sakit.

Ia mulai sadar, perjalanannya ke pesantren ini bukan sekadar pelarian dari orang tua yang sibuk atau kebosanan hidup mewah. Ini adalah perjalanan menemukan dirinya sendiri. Dan mungkin, di antara bait-bait doa dan tajwid yang sulit, ada takdir yang sedang dirajut Tuhan antara dirinya, Syifa, dan pria yang tak pernah mau menatap matanya itu.

Ameera mengambil napas dalam, lalu dengan suara gemetar, ia mulai mengeja kembali.

"Alif... Ba... Ta..."

Malam itu, langit pesantren tampak lebih bertabur bintang. Dan di sebuah rumah kecil tak jauh dari sana, Liam Al-Gazhi menutup harinya dengan sujud panjang, menyelipkan satu nama dalam doanya yang paling rahasia: seorang gadis bernama Ameera yang sedang berjuang menemukan jalan pulang.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!