Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya Kacau
Agashtya dan keluarganya tiba di bandara Soekarno Hatta, suasana yang sibuk dan hiruk pikuk menyambut mereka. Agashtya yang baru saja turun dari pesawat langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alex, asisten pribadinya.
"Halo Lex? Apa ada kabar terbaru tentang Kaniya?" Agashtya bertanya, suaranya terdengar sedikit terganggu oleh suara pengumuman di bandara
"Halo, mas bos Agashtya. Saya gak tahu apa-apa tentang Kaniya hari ini," Alex menjawab, suaranya terdengar sedikit ragu-ragu
"Dia gak masuk kantor selama dua hari ini dan ponselnya pun gak bisa dihubungi..." imbuh Alex dengan suara pasrah
Agashtya merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak, "Apa? Dua hari? Kenapa kamu gak kasih kabar ke aku sebelumnya?"
"Maaf, mas bos. Saya gak mau mengganggu perjalanan Anda," Alex menjawab, suaranya terdengar sedikit apologetik
Agashtya menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa, Lex. Gue mau loe cari tahu apa yang terjadi sama Kaniya. Gue khawatir tentang dia...dan calon buah hati kami..." ucapnya sembari memijit pelipisnya karena merasa sedikit pening
Alex terdengar mengambil napas dalam, "Ok, mas bos. Saya akan segera mencari tahu apa yang terjadi. Saya akan menghubungi Anda segera..."
Agashtya mengakhiri panggilan dan menatap ke arah keluarganya yang sedang menunggu di seberangnya. Wajahnya terlihat khawatir dan tidak tenang.
Tak lama kemudian, pak Narendra menghampiri pak Karta yang sudah standby setengah jam yang lalu di bandara menunggu kedatangan majikannya bersama keluarganya. Namun, karena jumlah keluarganya lebih dari 4 orang, akhirnya pak Narendra membagi sebagian naik taksi.
"Pak, saya sudah menyiapkan mobil dan taksi untuk keluarga Anda," pak Narendra berkata, suaranya terdengar sopan
Agashtya yang masih terlihat khawatir memandang ke arah Bintang, "Bintang, kamu dan aku naik taksi aja. Mommy dan Daddy bisa naik mobil dengan pak Karta juga dadi maa..."
Bintang mengangguk, "Ok, Bhai. Tapi, apa kamu yakin?"
Agashtya menggelengkan kepala, "Aku yakin. Aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu..."
Pak Narendra yang mendengar percakapan mereka langsung memotong, "Agashtya kamu harus fit untuk hari ini, kamu tidak boleh lari lagi kali ini..."
Bintang yang tahu apa yang diinginkan oleh Agashtya langsung membujuk pak Narendra, "Dad, enggak apa-apa. Kami pengen naik taksi aja. Bhai dan aku ingin berbicara tentang sesuatu. Lagi pula bhaiya gak bakalan kabur kalau ada aku disampingnya..."
Pak Narendra akhirnya menyetujui, "Ok, kalau begitu. Daddy sama yang lainnya pulang duluan. Agashtya dan kamu Bintang bisa naik taksi tapi ingat jangan kemana-mana kalian jangan kabur..."
Agashtya dan Bintang pun naik taksi, meninggalkan pak Narendra dan keluarga mereka yang lain. Saat taksi mulai bergerak, Agashtya langsung mengeluarkan ponselnya dan memanggil Alex lagi.
"Alex... Apa loe udah cari tahu apa yang terjadi sama Kaniya?" tanyanya dengan suara yang serak
Alex pun menjawab panggilan dari Agashtya, "Mas bis, saya gak bisa mencari tahu tentang Kaniya, tapi saya mencoba meminta bantuan sahabat saya Antonius untuk melacak keberadaan Kaniya saat ini..."
Agashtya merasa sedikit tenang dengan tindakan Alex yang cekatan, "Ok, Lex. Thanks. Lakukan apa pun yang loe bisa..."
Agashtya memerintahkan sopir taksi untuk mengarahkan mobilnya untuk berbelok arah kanan untuk menuju rumah Bu Siti. Bintang yang mengetahui tujuan Agashtya pun berusaha untuk menghalanginya.
"Bhai, apa kamu yakin mau pergi ke rumah Kaniya? Apa kamu lupa apa yang terjadi kemarin?"
Agashtya menatap Bintang dengan mata yang tegas, "Aku gak peduli, Bintang. Aku harus cari Kaniya. Aku gak bisa ninggalin dia sendirian. Argh! Shittt..."
Bintang menggeleng pelan, "Bhai, kamu gak bisa kayak gini. Kamu harus berpikir tentang dirimu sendiri, tentang kami bukan cuma tentang Kaniya..."
Agashtya memotong, "Gak, Bin. Aku harus cari Kaniya. Aku gak bisa jelasin sekarang. Pokoknya gimana pun caranya bahkan badai sekalipun bakal aku terjang asalkan aku bisa ketemu dan bisa selalu bersama Kaniya..."
Taksi akhirnya berhenti tepat di depan rumah Bu Siti. Agashtya dan Bintang turun dari taksi dan menuju ke pintu rumah. Mereka berulang kali memanggil-manggil Bu Siti, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Rumah Bu Siti hari ini tertutup rapat.
Agashtya merasa sangat putus asa, "Gak...gak mungkin... Kaniya pasti ada di sini..."
Bintang membelai Agashtya, "Bhai, ayo kita pergi. Aku gak mau kamu kayak gini..."
Agashtya menggelengkan kepalanya dan kembali masuk mobil taksi, meninggalkan rumah Bu Siti yang sunyi.
Saat mereka melewati jalan, Agashtya tidak mencurigai rumah megah yang berada di seberang rumah Bu Siti yang dipenuhi oleh orang yang sedang merewang untuk acara hajatan. Suara musik dan tawa terdengar dari dalam rumah, tapi Agashtya tidak memperhatikan sama sekali.
Agashtya yang duduk di dalam taksi, wajahnya terlihat pucat dan rapuh. Pikirannya dipenuhi dengan rasa penyesalan dan kekecewaan.
"Dua hari yang lalu, aku janji ke Bu Siti akan datang bersama keluarga untuk meminang Kaniya...dan sekarang...sekarang dia mungkin sudah dibawa pergi jauh oleh keluarganya karena tahu bahwa Kaniya tengah hamil muda..."
Bintang yang duduk di sebelahnya membelai Agashtya, "Bhai, jangan berpikir seperti itu. Kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi jadi tetap positif thinking bhai..."
Agashtya menatap Bintang dengan mata yang memerah, "Aku tahu, Bin...aku tahu. Tapi aku adalah ayah dari janin yang dikandung oleh Kaniya. Aku harus bertanggung jawab Bin..."
Bintang menggelengkan kepalanya pelan, "Bhai, kamu gak sendirian. Aku ada di sini untuk kamu. Dan jika memang Kaniya berjodoh dengan kamu, pasti kalian akan dipertemukan kembali di jalan cinta..."
Agashtya menatap Bintang, "Kamu benar, Bintang...aku harus tetap tegar. Aku gak bisa nyerah sekarang. Ya, kamu benar Bintang..."
Bintang tersenyum, "Itu semangat, Bhai. Aku tahu kamu bisa melewati ini semua. Kita masih punya plan B jadi kita ikuti dulu alur yang diciptakan oleh daddy dan mommy..."
Taksi terus melaju, meninggalkan rumah Bu Siti yang sunyi di belakang. Agashtya menutup matanya, mencoba untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.
Tak lama kemudian Agashtya dan Bintang tiba di kediaman keluarga besar Vijaya/Wijaya, rumah megah yang sudah dipenuhi oleh aroma hidangan lezat dan suasana yang meriah. Namun, saat Agashtya melangkah masuk ke dalam rumah langkah kakinya terasa berat, dia disambut oleh pemandangan yang membuatnya merasa seperti disambar petir di siang bolong.
Di ruang tamu, tersusun rapi berbagai macam parsel dan seserahan untuk calon pengantin wanita: baju pengantin ala India yang indah berwarna merah, pakaian sehari-hari yang elegan, skincare dan make up yang mewah, peralatan mandi yang berkelas, dan mas kawin berupa uang 1 milyar yang membuat mata Agashtya melebar.
"Apa...apa semua ini?" Agashtya bertanya, suaranya terdengar tidak percaya
Bik Astuti yang sibuk mengatur dekorasi, menoleh ke arah Agashtya, "Ah, tuan muda! Semua ini untuk calon pengantin wanita, tentu saja! Selamat ya tuan muda Agashtya sebentar lagi tuan muda bakal menikah..."
Agashtya masih berdiri membeku, mata terbelalak melihat semua persiapan yang sudah tersusun rapi. Sebelum dia sempat menjawab pertanyaan ibunya, pak Narendra dan bu Arunika maju ke depan, wajah mereka berdua penuh dengan senyum.
"Agashtya, mere beta. Saatnya kamu melakukan ritual lulur kunyit dan mandi susu dengan rempah!" bu Arunika berkata, suaranya terdengar gembira
Agashtya merasa seperti dalam mimpi buruk, "Apa? Ritual? Mandi susu?"
Bik Astuti yang sibuk mengatur segala persiapan, mengangguk, "Iya, tuan muda! Semua sudah disiapkan oleh kami. Naomi, Dadi Maa dan bu Sharmila, akan membantu tuan muda ke taman belakang untuk ritualnya nanti, cepatlah tuan muda mereka pasti sudah menunggu..."
Naomi dan Dadi Maa maju ke depan, memegang tangan Agashtya yang masih membeku. "Ayo. Jangan membuat calon pengantin wanita menunggu!"
Agashtya merasa seperti dipaksa, "Tunggu! Siapa calon pengantin wanita itu? Kenapa kalian satu pun gak ada yang pernah menunjukkan fotonya atau mungkin namanya padaku..."
Bu Arunika tersenyum, "Nanti kamu juga bakal tahu sendiri, anakku. Sekarang, ayo lakukan ritualnya!"
Agashtya merasa semakin tidak karuan, tapi dia tidak bisa melawan keinginan ibunya. Dia dipaksa untuk melakukan ritual lulur kunyit dan mandi susu dengan rempah, sementara pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang siapa calon pengantin wanita itu. Dan dimana Kaniya saat ini.
Bersambooo... 🤭🌷🌹
btw thor belum mau tamat kan yh? kok kyk bau2 mau ending gituh?