"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Yang halus
Rumah sakit pusat di jantung Jakarta itu selalu terasa seperti organisme yang tidak pernah tidur. Di antara hiruk-pikuk suara monitor jantung dan langkah kaki perawat yang terburu-buru, ada satu nama yang selalu menjadi topik hangat di ruang istirahat para staf, Dokter Liam Al-Gazhi.
Bagi dr. Asena, hari-harinya di departemen bedah saraf baru saja dimulai. Sebagai lulusan terbaik dari Jerman, ia terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun, di sini, ia justru menemukan dirinya sering berdiri di balik pilar koridor, hanya untuk memperhatikan seorang pria yang tidak pernah menyadari keberadaannya.
Pagi itu, Asena berdiri di dekat nurse station sambil membaca laporan pasien. Namun, telinganya lebih tajam menangkap bisik-bisik para perawat muda di sampingnya.
"Lihat itu, Dokter Liam baru saja selesai kunjungan bangsal," bisik Suster Maya, perawat baru yang masih magang. "Gantengnya beneran nggak masuk akal ya? Padahal cuma pakai jas dokter biasa, tapi auranya itu, lho... berwibawa banget."
"Iya, kan? Mana suaranya kalau lagi jelasin kondisi pasien tenang banget. Bikin hati adem," timpal perawat lainnya sambil terkikik. "Yang paling aneh, aku nggak pernah lihat dia jalan bareng cewek. Jangan-jangan dia tipe pria yang benar-benar menjaga diri."
Asena berpura-pura tetap fokus pada laporannya, namun matanya melirik ke arah yang mereka bicarakan. Di ujung lorong, Liam sedang berjalan tenang. Ia membawa beberapa berkas medis, wajahnya terlihat serius namun teduh. Benar kata mereka, Liam memiliki ketampanan yang tidak mencolok, namun semakin lama dipandang, semakin sulit untuk dilupakan.
Kenapa dia selalu menunduk kalau berpapasan dengan perawat wanita? pikir Asena dalam hati. Pria seperti dia seharusnya tahu betapa kuat pesonanya.
Asena memperhatikan satu detail kecil yang sering luput dari perhatian para perawat yang sedang jatuh cinta itu. Di jari manis Liam, tidak ada cincin. Liam memang tipe pria yang tidak menyukai aksesori, dan pernikahannya dengan Ameera setahun lalu memang digelar sangat tertutup, hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa santri. Di lingkungan rumah sakit yang luas ini, status pernikahan Liam adalah sebuah misteri besar.
Suatu sore, Asena sengaja ikut bergabung dalam obrolan para perawat di kantin. Ia ingin menggali lebih dalam tanpa terlihat mencolok.
"Dokter Liam itu... apa dia memang sudah punya calon?" tanya Asena dengan nada kasual, seolah hanya sekadar basa-basi antarkolega.
"Nggak tahu, Dok. Sejauh ini sih nggak pernah ada berita dia tunangan atau nikah," jawab Suster Maya dengan penuh harap. "Undangan juga nggak pernah masuk ke grup staf. Kami pikir dia masih single dan sangat fokus pada karier."
Mendengar itu, ada seulas senyum tipis di bibir Asena. Kepercayaan diri yang ia bawa dari Berlin mulai bangkit. Jika Liam belum terikat, maka ia memiliki peluang. Ia merasa dirinya adalah padanan yang sempurna untuk pria itu, sama-sama brilian, sama-sama di puncak karier.
Asena mulai mengatur strategi. Ia tidak ingin terlihat agresif, namun ia ingin Liam menyadari keberadaannya. Kesempatan itu datang saat ada kasus kecelakaan ganda yang membutuhkan kolaborasi antara tim bedah saraf dan tim trauma.
Di dalam ruang rapat yang dingin, Liam duduk di ujung meja, sedang menelaah hasil CT Scan. Asena masuk dan duduk tepat di seberangnya. Ia mengenakan parfum dengan aroma lembut yang elegan, berharap aroma itu bisa menarik perhatian Liam.
"Dokter Liam, saya sudah meninjau bagian lobus frontal pasien. Ada hematoma kecil yang mungkin butuh tindakan segera," ucap Asena, suaranya dibuat seramah mungkin.
Liam mengangkat kepalanya, namun tidak menatap mata Asena. Pandangannya terpaku pada hasil pindaian di layar proyektor di belakang Asena.
"Saran yang bagus, Dokter Asena. Tapi jika kita melihat dari sudut ventrikel, risikonya terlalu besar untuk langsung dioperasi sekarang. Kita observasi dulu enam jam ke depan," jawab Liam dengan nada profesional yang datar.
Asena sedikit kecewa karena Liam bahkan tidak menatap matanya saat berbicara. Namun, ia justru semakin terpesona melihat bagaimana Liam tetap tenang di bawah tekanan. Cara Liam berbicara, setiap pilihan katanya yang santun, dan ketegasannya dalam mengambil keputusan medis membuat Asena merasa bahwa pria ini adalah piala yang paling berharga untuk dimenangkan.
Hari demi hari, kekaguman Asena mulai berubah menjadi rutinitas. Ia mulai menghafal jadwal jaga Liam. Ia sering sengaja melewati ruang ibadah di rumah sakit hanya untuk sekadar melihat Liam dari kejauhan saat pria itu bersiap untuk shalat.
Ia melihat Liam sebagai sosok yang sempurna, namun misterius. Ia belum tahu bahwa di rumah sebuah paviliun yang hangat, ada seorang wanita bernama Ameera yang sedang merajut baju bayi sambil menanti kepulangan pria yang sedang dipuja Asena ini.
Asena belum tahu bahwa setiap kali ia mencoba "memamerkan" kepintarannya di depan Liam, pria itu justru sedang merindukan suara terbata-bata istrinya yang sedang mengaji di rumah.
Bagi Asena, Liam adalah teka-teki yang harus ia pecahkan. Ia mulai percaya pada gosip para perawat bahwa Liam adalah pria "suci" yang belum tersentuh. Dan Asena, dengan segala pesona dunianya, bertekad untuk menjadi wanita pertama yang berhasil membuat pria itu menatapnya dengan penuh kekaguman.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰