Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boyongan
Riki membawa dua orang teman untuk membantunya pindahan, dan ketiganya langsung menjabat tangan Yanti untuk bersalaman. Indira hanya bisa tersenyum manis ketika mereka benar benar datang untuk membantunya, dan ucapan Rania sama sekali tidak meleset tentang dia akan mencarikan orang untuk bisa membantunya pindahan.
"Mana barang yang mau dipindahkan, Bu? Biar kami langsung pindahin aja sekarang mumpung belum hujan. Kelihatannya mendungnya hitam banget soalnya," Tanya Riki.
"Ini langsung diangkut begitu? Kalian nggak berhenti sebentar ngopi ngopi dulu, kali aja kecapekan dijalan jadi duduk duduk dulu," Tanya Yanti.
"Kita langsung saja, Bu. Soalnya masih ada pekerjaan diluar sana, apalagi kalo dilihat lihat sebentar lagi akan turun hujan disini," Ucap Riki sambil menatap kearah langit yang sedikit gelap.
"Baiklah kalo begitu, barangnya ada didalam kamar. Masuk saja langsung,"
"Iya Bu,"
Ketiganya langsung bergegas menuju kearah kamar yang dimaksudkan itu, disana mereka juga bercanda gurau dengan Indira sendiri. Tingkah kocak ketiganya membuat suasana rumah yang tadinya tegang menjadi terlihat santai, meskipun bercanda gurau namun mereka bekerja dengan hati hati.
"Semua yang ada didalam kamar ini dibawa ya, kecuali lemari plastik itu ditinggal saja itu bukan milik Dira soalnya, miliknya cuma ini, itu, itu, dan itu. Lainnya tinggalkan semuanya," Ucap Yanti kepada Riki dan kawan kawannya.
"Baik Bu, terus apakah ada lagi selain ini?" Tanya Riki.
"Ada dikamar sebelah, tapi cuma beberapa tas yang isinya pakaian. Mesin jahitnya ditinggal saja," Jawab Indira.
"Siap."
Indira hampir tidak berhenti untuk terus tersenyum karena candaan mereka, bukan hanya Indira saja melainkan Yanti juga ikut tersenyum melihat kebingungan mereka. Beberapa puluh menit kemudian mereka akhirnya selesai memasukkan barang barang Indira ke mobil pickup itu, hanya ada sedikit barang Indira yang dirinya bawa.
Hanya ada kasur, almari pakaian, mesin cuci, dan meja rias saja yang dirinya bawa. Selebihnya dirinya hanya pergi membawa pakaiannya, yang lainnya itu dirinya tinggal dirumah Neneknya tidak ikut dibawa, karena mobil pickup nya tidak cukup untuk membawa barang barang semuanya miliknya disana.
"Ini mau dibawa kemana?" Tanya Riki.
"Nanti ikuti aku," Ucap Indira.
"Baiklah."
Yanti pun menyuruh Indira untuk berpamitan kepada Neneknya sebelum dirinya pergi, Indira hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Ibunya, dan dirinya juga sebenarnya tidak terlalu terluka daripada dirumahnya sendiri sebelumnya. Oleh karenanya dirinya bisa bersikap biasa kepada Neneknya, apalagi ada Yanti yang akan melindunginya disana.
"Eh Dira mau kemana?" Tanya seseorang yang datang mendekat kearah Indira yang tengah boyongan itu.
"Ah ini mau ikut kami pulang," Jawab Yanti.
"Lah nggak tinggal disini lagi dong, padahal enak disini biar Neneknya ada temennya ngobrol. Belum juga lama tinggal disini sudah pergi aja,"
"Saya kan sudah nikah lagi, jadi Indira mau tinggal bersama saya,"
"Oh iya sih, dia sudah punya keluarga baru pantas saja mau pindahan. Semoga langgeng ya Yan, Dira juga baik anaknya dan sopan."
"Terima kasih. Kalo begitu kita pamit dulu ya,"
"Iya hati hati."
Mereka pun langsung berpamitan untuk berangkat, setelahnya Indira langsung menjalankan motornya meninggalkan tempat itu dan langsung diikuti oleh Riki yang menggunakan mobil pick up dibelakangnya. Mereka langsung bergegas meninggalkan tempat itu setelahnya, dan menempuh perjalanan lumayan jauh lagi.
Dibelakang mobil itu juga terdapat Yanti yang mengendarai motornya sendiri, Indira sendiri juga mengendarai motornya dengan pelan sambil menuntun mereka ke tempat tujuannya. Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya mereka telah sampai juga di lokasi tujuannya.
Sebuah bangunan yang sangat luas ditambah lagi dengan kesan bangunannya seperti bangunan sangat lama, membuat bangunan itu terlihat sangat menyeramkan namun tidak menakutkan. Entah kenapa setiap kali berada diarea bangunan itu rasanya Indira seperti sedikit merinding namun tidak ketakutan.
Bangunan itu sudah berdiri puluhan tahun namun sama sekali belum pernah direnovasi, sehingga kesannya masih terlihat seperti bangunan lama diantara bangunan bangunan baru yang indah dan cantik. Pakdenya tidak pernah merenovasi rumahnya itu karena ia ingin sekali terus bisa mengenang kedua orang tuanya dari bangunan itu, karena bangunan itu lah yang dibangun oleh kedua orang tuanya.
Lagi pula bangunan itu masih kokoh berdiri meskipun diterjang oleh angin ataupun badai, sehingga akan sangat disayangkan apabila harus di renovasi, dan belum tentu hasil renovasinya nanti bisa sekokoh bangunannya saat ini. Sehingga dari sekian banyak anak anaknya, tidak ada satupun yang mau merenovasinya bukan karena tidak mampu melainkan karena tidak mau mengambil resiko nantinya.
"Loh loh, kok sudah boyongan kemari, Bude dari tadi nungguin kabar kok nggak ngabari? Sopir sama mobilnya juga sudah siap tinggal nunggu instruksi untuk berangkat saja," Tanya Ana.
"Dira udah nyari mobil sendiri, Mbak. Sebelum berangkat dirinya juga sudah manggil teman temannya untuk membantunya boyongan," Jawab Yanti.
"Oalah gitu, yaudah suruh mereka angkatin semuanya masuk kedalam, sudah Mbak siapkan kamarnya untuk Indira tinggal disini,"
"Iya,"
Mereka pun langsung diminta untuk membawa barang barang itu masuk kedalamnya, barang barang itu terasa sangat berat apalagi lemari pakaian milik Indira. Entah mengapa lemari itu terasa sangat berat, apalagi tiga orang saja tidak sudah sangat kesusahan untuk mengangkatnya apalagi dua orang.
"Keberatan ya?" Tanya Yanti.
"Didalamnya ada apanya ya Bu?" Tanya Riki.
"Ada pakaiannya,"
"Keluarkan pakaiannya saja dulu, biar nggak terlalu berat. Kasihan mereka," Ucap Ana.
"Baiklah."
Memang sangat sulit apabila mengangkat lemari yang masih terdapat pakaiannya didalamnya, apalagi berat lemari tidak sebanding dengan berat pakaian milik Indira. Oleh karenanya harus dikeluarkan terlebih dahulu pakaian pakaian itu sebelum diangkat lemarinya, dan mereka pun membuka lemari itu.
"Astaghfirullah,,, maaf Bu, permisi ya Bu," Ucap Riki ketika dirinya pertama kali membuka pintunya lemari itu.
"Ada apa?" Tanya Yanti heran.
"Ini...."
Pandangan pertama Riki langsung tertuju kepada pakaian dalam milik Indira yang tersusun rapi didalamnya, meskipun hal itu sudah menjadi hal yang biasa ketika membuka lemari pakaian perempuan, namun Riki tetap saja terkejut. Riki pun terus mengucapkan istighfar ketika melihat pakaian itu, ia pun meminta maaf terlebih dahulu karena harus menegangnya untuk mengeluarkannya.
"Anjay tau aja yang begituan," Seru teman Riki sambil menepuk pundak Riki.
"Lah gimana lagi, baru buka pintu lemari udah ada penampakan begini," Bela Riki.
"Awas terbayang bayang loh,"
"Ya nggak lah. Terus ini gimana Bu?" Tanya Riki kepada Yanti.
"Iya nggak papa, gotong in aja masuk kedalam biar nanti ditata Dira sendiri," Jawab Yanti.
"Gemeteran tanganku membawa benda pusaka seperti ini,"
"Hehehe..."
Mendengar ucapan Riki langsung membuat Yanti dan Ana tertawa, sementara Indira sendiri merasa sangat malu dibuatnya lantaran pakaian dalamnya itu. Bagaimana pun juga, pakaian itulah yang setiap harinya dipakai oleh Indira, dan memang itu adalah pakaian miliknya.
Mau tidak mau ya bagaimana lagi, mereka juga sudah membantu Indira pindahan ketempat itu, Indira harus bisa menahan rasa malu sesaat saja daripada membuat mereka kesusahan dalam mengangkat lemari miliknya. Indira sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, karena ia sendiri sudah sangat hafal dengan tatanan yang ada didalam lemari pakaian miliknya itu.
"Langsung bawa masuk aja, nggak usah ditata. Nanti biar ditata Dira sendiri," Ucap Ana.
"Baik Bu," Jawab ketiga lelaki itu.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya selesai juga pekerjaan mereka yang membawa barang barang milik Indira masuk kedalam rumah, Indira sendiri juga sudah lega bahwa hal ini telah berhasil dirinya lewati sekarang. Indira sekarang berada ditempat tinggal yang baru, entah sampai kapan dirinya harus berpindah pindah seperti ini.
"Jadi berapa?" Tanya Indira kepada Riki.
"400 ribu sama bengsinnya," Jawab Riki.
"Baiklah," Jawab Indira sambil membuka tasnya yang berisi beberapa lembar uang didalamnya.
Indira lalu menghitung uangnya, dan untung saja uangnya cukup untuk membayari mereka atas jasa pindahannya itu. Indira lalu menyerahkan uang tersebut kepada mereka. Bukan hanya itu saja, Ana juga memberi mereka beberapa kantong besar krupuk kepada mereka, awalnya mereka menolak namun terus dipaksa oleh Ana dan akhirnya mereka mau.
"Kok nggak disana saja? Padahal dirumah sebelumnya jauh lebih dekat dengan kerjaan mu," Tanya Riki kepada Indira, pertanyaan itu sudah sejak tadi ada didalam pikiran Riki namun baru sempat ditanyakan.
Riki adalah saudara dari Rania, dan ia tau betul berapa jarak antara rumah Nenek Indira dengan pabrik tempat dimana Indira bekerja. Jika Indira pindah ditempat itu artinya jarak antara pabrik dengan tempat tinggalnya akan sangat jauh, sehingga pertanyaan itu terus bermunculan didalam pikiran Riki.
Riki juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara keluarga itu, hanya saja dirinya merasa heran dengan keputusan dari Indira yang pindah jauh tersebut. Apalagi dirinya juga mengetahui bahwa sikap Neneknya juga terlihat baik kepada Indira ketika dirinya datang, dan baru sekarang dirinya berani bertanya kepada Indira.
"Jaraknya mah deket sini, ini tinggal belok kiri terus ngikutin jalan aja udah sampek kok," Jawab Ana karena Indira hanya diam saja.
"Iya kah? Baru tau aku Bu, kalo arah ke Desa Japa itu paling dekat lewat mana?" Tanya Riki.
"Sama nanti keluar gang sana ya itu langsung belok kiri aja lurus sampek mentok, habis itu belok ke kanan mentok belok kekiri pas pertigaan. Nah itu tinggal lurus saja," Jawab Ana yang memang tau soal jalanan yang ada disana.
"Terima kasih Bu, jadi ini tinggal belok kiri terus ngikutin jalan aja ya?"
"Iya. Kalo belok nganan jadinya searah dengan yang tadi waktu berangkat, itu malah makin jauh dari tujuanmu. Kalo belok ngiri terus ngikutin jalan mah cepet,"
"Terima kasih Bu atas arahannya,"
"Iya sama sama."
Indira hanya diam mendengar percakapan dari keduanya mengenai jalanan yang ada disana, dirinya juga baru pertama kali datang ketempat itu sehingga membutuhkan waktu untuk bisa menghafal jalanan yang ada disana. Meskipun tempat itu berada di daerah yang sama namun tidak semua jalan telah dihafal oleh Indira, bahkan jalanan tembusan pun belum dihafalnya sama sekali.
Sudah sering Indira pindah pindah tempat tidur, semenjak keluarganya berantakan ia tinggal bersama dengan Ibunya dirumah majikan Ibunya yang dimana Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, setelahnya terdapat masalah ditempat kerjanya sehingga dirinya harus dititipkan kepada orang yang tidak dikenalnya demi melanjutkan pendidikannya yang sudah terlanjur pindah sekolah didaerah sekitar tempat tinggal majikan Ibunya.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.