Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Sidang Darah Pertama
Gema Langkah di Aula Agung
Dua pintu raksasa yang terbuat dari kayu jati berlapis perunggu itu terbuka dengan suara derit yang berat, seolah memprotes beban sejarah yang harus disaksikannya hari ini. Elara melangkah masuk, memaksakan punggungnya tetap tegak meski setiap persendiannya berdenyut akibat sisa-sisa energi logam yang diserapnya kemarin di taman mawar. Tongkat kayu hitam berukir elang di tangan kirinya mengetuk lantai marmer dengan irama yang konstan—tuk, tuk, tuk—sebuah detak jantung buatan yang mengisi kesunyian mencekam di Aula Agung Kekaisaran. Di sekelilingnya, barisan menteri dan bangsawan tinggi berdiri seperti pilar-pilar batu yang kaku, mata mereka tidak menunjukkan simpati, melainkan rasa lapar akan skandal dan kehancuran.
"Penasihat Elara dari Asteria memasuki ruangan!" seru penjaga gerbang, suaranya bergema di langit-langit aula yang tinggi.
Elara tidak menoleh ke arah para menteri itu. Pandangannya lurus ke depan, ke arah singgasana emas tempat Valerius duduk dengan dagu bertumpu pada kepalan tangannya. Sang kaisar tampak lebih pucat dari biasanya, dengan gurat-gurat kelelahan yang nyata di sekitar matanya yang kelam. Di sisi bawah singgasana, Elena berdiri dengan tangan terborgol rantai perak—rantai penahan mana yang khusus digunakan untuk pengguna sihir tingkat tinggi. Wajah Elena yang biasanya angkuh kini kusam, rambutnya sedikit berantakan, namun matanya masih memancarkan api kebencian yang mampu membakar seluruh ruangan.
"Kau terlambat, Elara," Valerius berkata, suaranya rendah namun memenuhi setiap sudut aula. "Aku hampir berpikir kau terlalu lemah untuk menghadiri pengadilan ini setelah insiden kemarin."
Elara membungkuk dalam, sebuah gerakan yang sangat terkontrol untuk menyembunyikan rasa perih di tangan kanannya yang terbalut kasa putih di balik lengan gaunnya yang lebar. "Maafkan saya, Yang Mulia. Tubuh saya memang masih memproses 'hadiah' yang diberikan Selir Utama, namun jiwa saya tidak akan membiarkan keadilan tertunda hanya karena rasa sakit fisik."
"Cih, aktris yang sangat hebat," desis Elena, suaranya serak namun penuh bisa. "Yang Mulia, lihatlah dia! Dia berpura-pura menjadi korban sementara dia menggunakan sihir iblis untuk menghancurkan taman Anda dan melukai saya!"
"Diam, Elena!" bentak Valerius. Kaisar itu berdiri, membuat suasana aula semakin menekan. "Sidang ini dibuka untuk mengadili percobaan pembunuhan yang kau lakukan terhadap Penasihat kekaisaran di depan publik. Dewan menteri, silakan bacakan dakwaannya."
Seorang menteri tua dengan jubah abu-abu melangkah maju, membuka gulungan perkamen dengan tangan gemetar. "Selir Utama Elena dituduh melakukan serangan sihir tanpa provokasi menggunakan sihir logam tingkat dua di area taman istana. Selain itu, terdapat dugaan penggunaan racun saraf Solanum Nigra yang ditemukan pada sisa sarapan Penasihat Elara."
"Itu fitnah! Dia sendiri yang meracuni dirinya untuk menjebakku!" Elena berteriak, meronta hingga rantai di tangannya berdenting nyaring. "Dia penyihir Void! Dia bisa memanipulasi apa saja!"
Elara menatap Elena dengan tatapan tenang, sebuah ketenangan yang mematikan. Ia melangkah satu tindak mendekati barisan menteri. "Yang Mulia, para menteri yang terhormat. Jika saya memang seorang penyihir yang begitu kuat seperti yang dituduhkan Selir Utama, mengapa saya harus berdiri di sini dengan tubuh yang cacat? Mengapa tangan saya harus menghitam karena menahan serangan sihir logamnya?"
Elara perlahan mengangkat tangan kanannya, menyibakkan sedikit lengan gaun hitamnya. Meskipun terbalut kasa, aura ungu tipis yang masih merembes keluar membuat para menteri mundur selangkah karena ketakutan.
"Ini bukan sihir saya," suara Elara bergetar secara dramatis, memainkan peran korban dengan sempurna. "Ini adalah bekas luka dari sihir logam yang dipaksakan masuk ke saraf saya. Saya tidak menyerang; saya hanya menjadi wadah bagi kemarahan Selir Utama yang tidak terkendali."
"Lalu bagaimana dengan taman itu? Bagaimana dengan debu intan yang kau tiupkan ke wajahku?!" Elena menuding dengan jari yang gemetar.
"Saya hanya membalikkan energi yang Anda kirimkan, Elena. Jika Anda tidak melemparkan bola logam raksasa itu ke arah saya, tidak akan ada debu yang tercipta," Elara menjawab dengan nada yang sangat logis namun pedas. "Bukankah begitu, Panglima Vane? Anda sebagai ahli strategi militer pasti tahu hukum aksi dan reaksi dalam duel sihir."
Panglima Vane, yang berdiri di barisan faksi militer lama, berdeham gelisah. Ia melirik Elena, lalu ke arah Valerius. "Secara teknis, apa yang dikatakan Penasihat Elara benar, Yang Mulia. Namun, keberadaan sihir yang bisa menyerap logam tetap merupakan anomali yang perlu diselidiki."
"Tentu saja harus diselidiki," Elara memotong dengan cepat. "Dan kita harus mulai dari pertanyaan: mengapa Selir Utama begitu berani menyerang saya di depan publik? Apa yang dia sembunyikan hingga dia begitu panik?"
"Aku tidak sembunyi!" Elena berteriak.
"Benarkah?" Elara meraba sakunya, mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit kusam—buku kas rahasia yang ia dapatkan melalui manipulasi informasi dari perpustakaan dan suap terhadap pelayan Rina. "Lalu bagaimana Anda menjelaskan catatan aliran dana dari perbendaharaan pribadi Anda kepada faksi militer lama dan penjaga penjara bawah tanah selama tiga bulan terakhir?"
Seketika, aula itu menjadi sunyi senyap. Valerius menyipitkan matanya, auranya mendadak berubah menjadi dingin dan berbahaya. "Buku apa itu, Elara?"
"Ini adalah catatan suap, Yang Mulia," Elara berjalan mendekati singgasana, menyerahkan buku itu kepada penjaga untuk diteruskan kepada kaisar. "Selir Utama tidak hanya mencoba membunuh saya karena cemburu. Dia mencoba membunuh saya karena saya mulai menemukan bukti bahwa dia telah menyuap para penjaga penjara untuk memfitnah tawanan perang, dan lebih buruk lagi... menyuap beberapa perwira militer untuk mengabaikan laporan logistik kristal mana yang hilang."
"KAU MENCURINYA!" Elena menerjang ke arah Elara, namun penjaga segera menahannya dengan kasar hingga ia tersungkur ke lantai marmer.
Valerius membuka buku itu halaman demi halaman. Suara gesekan kertas terdengar seperti suara pisau yang diasah di tengah keheningan aula. Wajah sang kaisar perlahan berubah dari pucat menjadi merah padam karena kemarahan yang tertahan. Bagi seorang paranoid seperti Valerius, suap kepada militer adalah ancaman langsung terhadap tahtanya.
"Panglima Vane," suara Valerius terdengar sangat tenang, dan itu adalah tanda bahwa kematian sedang mengintai. "Mengapa namamu ada di sini sebagai penerima sumbangan sukarela dari Selir Utama pada tanggal lima bulan lalu?"
"Itu... itu hanya dana untuk perbaikan barak, Yang Mulia!" Panglima Vane berlutut dengan suara berdebam yang keras. "Saya tidak tahu jika dana itu berasal dari sumber yang tidak sah!"
"Kebohongan yang sangat murah," Elara berbisik, cukup keras untuk didengar oleh para menteri di sekitarnya. "Jika itu dana barak, mengapa dicatat dalam buku pribadi Selir dengan kode 'Penanganan Asteria'?"
"Cukup!" Valerius membanting buku itu ke meja di depan singgasananya. "Elena, kau telah melampaui batas. Aku memaafkan kecemburuanmu, aku memaafkan kemarahanmu, tapi aku tidak akan memaafkan tanganmu yang mencoba menyentuh militerku tanpa izin."
"Valerius, dengarkan aku! Itu semua jebakan! Perempuan jalang ini yang menanam buku itu di kamarku!" Elena menangis, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang mahal. "Dia Aurelia! Dia kembali untuk menghancurkan kita berdua! Kenapa kau tidak percaya padaku?!"
Mendengar nama Aurelia disebut, Valerius terdiam sejenak. Matanya menatap Elara dengan intensitas yang mengerikan, mencari jejak istrinya yang telah ia bakar sepuluh tahun lalu. Elara tidak menghindar. Ia menatap balik Valerius dengan mata kelabunya yang jernih, menunjukkan kerentanan yang palsu.
"Jika saya adalah hantu dari masa lalu Anda, Yang Mulia, maka saya tidak akan membawa buku kas. Saya akan membawa api," Elara berkata dengan nada rendah yang penuh subteks penderitaan. "Saya hanya seorang wanita yang ingin bertahan hidup di istana yang penuh dengan serigala ini."
Valerius menarik napas panjang, mencoba menenangkan jiwanya yang tersiksa oleh sihir hitam yang selama ini ditanamkan Elena. Tanpa pengaruh Elena yang konstan, akal sehat kaisar yang kejam itu mulai berfungsi kembali, meski tetap dalam koridor paranoia.
"Penjaga! Bawa Elena ke menara isolasi," perintah Valerius, suaranya dingin tanpa ampun. "Segel seluruh asetnya. Dan bagi para menteri yang namanya tercantum dalam buku ini... kalian akan diinterogasi oleh unit rahasia malam ini juga."
"TIDAK! VALERIUS! JANGAN LAKUKAN INI!" Elena menjerit saat para pengawal menyeretnya keluar dari aula. Suara rantainya yang beradu dengan lantai marmer menjadi musik pengiring kemenangannya yang pertama.
Elara berdiri di tengah aula, menatap punggung Elena yang menghilang di balik pintu besar. Ia tidak merasakan kegembiraan. Ia hanya merasa satu beban telah terangkat, untuk digantikan oleh beban baru yang lebih berat. Ia menoleh ke arah Panglima Vane yang masih berlutut dengan tubuh gemetar. Elara tahu, ia baru saja menciptakan musuh baru yang sangat kuat, namun itu adalah bagian dari rencananya untuk mengguncang fondasi kekaisaran dari dalam.
"Penasihat Elara," Valerius memanggil, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut, hampir seperti permohonan. "Mendekatlah."
Elara berjalan mendekati singgasana, menaiki anak tangga marmer satu per satu hingga ia berdiri tepat di hadapan pria yang telah menghancurkan hidupnya dulu. Aroma lavender dan besi berkarat dari jubah Valerius menusuk hidungnya, memicu denyut trauma di punggungnya, namun ia menahannya dengan kekuatan kehendak yang luar biasa.
"Kau telah melakukan layanan besar bagi kekaisaran hari ini," Valerius menyentuh dagu Elara, memaksa gadis itu menatap matanya. "Tapi beritahu aku... dari mana kau belajar cara menganalisis buku kas serumit itu? Seorang putri dari Asteria seharusnya hanya belajar menari dan menyanyi."
"Saat orang-orang Anda membakar perpustakaan kota kami, Yang Mulia, saya tidak menyelamatkan perhiasan. Saya menyelamatkan buku akuntansi perdagangan," Elara menjawab dengan kebohongan yang telah ia siapkan. "Karena saya tahu, pedang bisa membunuh manusia, tapi angka bisa membunuh sebuah kerajaan."
Valerius tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Kau sangat berbahaya, Elara. Sangat berbahaya hingga aku merasa perlu untuk memilikimu lebih dekat dari siapa pun."
"Saya hanya milik keadilan, Yang Mulia," Elara merendahkan suaranya, membiarkan Mandat Subteks bekerja. "Dan hari ini, keadilan telah ditegakkan."
"Belum," Valerius melepaskan dagu Elara. "Ini baru permulaan. Elena masih memiliki banyak pendukung di luar sana. Kau butuh perlindungan ekstra."
"Saya rasa saya bisa menjaga diri saya sendiri, Yang Mulia. Tangan saya yang menghitam ini adalah buktinya," Elara melirik tangannya sendiri dengan nada pahit.
"Tidak. Kau akan pindah ke paviliun timur, tepat di samping kamarku," Valerius memutuskan secara absolut, mengabaikan protokol istana yang seharusnya menempatkan tawanan di paviliun barat. "Dan mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar penasihat. Kau adalah Pemegang Segel Rahasia."
Gumam terkejut terdengar dari barisan menteri. Pemegang Segel Rahasia adalah posisi yang secara de facto menjadikannya orang paling berkuasa kedua di kekaisaran setelah kaisar. Elara membungkuk, menyembunyikan kilatan kemenangan di matanya.
"Saya menerima mandat Anda, Yang Mulia. Dengan nyawa saya sebagai jaminannya."
Beban di Balik Mahkota Palsu
Aula Agung mulai berangsur sepi seiring dengan langkah para menteri yang mundur dengan wajah pucat, meninggalkan Elara berdiri sendirian di bawah bayang-bayang singgasana Valerius yang menjulang. Meskipun kemenangan politik baru saja ia genggam, rasa dingin yang tidak wajar merambat dari telapak kakinya yang bersentuhan dengan lantai marmer. Elara meremas tongkat kayu hitamnya, merasakan tekstur ukiran elang itu menusuk telapak tangannya—sebuah jangkar realitas untuk menahan guncangan trauma yang mulai bangkit. Bau kemenyan yang tadi menyesakkan kini bercampur dengan aroma amis dari ambisi yang baru saja tumpah di ruangan ini.
"Kau terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup seorang Selir Utama," Valerius berkata dari arah belakang, suaranya kini terdengar lebih santai, hampir intim, yang justru membuat bulu kuduk Elara berdiri.
"Menghancurkan adalah kata yang kasar, Yang Mulia," Elara berbalik perlahan, mempertahankan topeng kerapuhannya. "Saya lebih suka menyebutnya sebagai pembersihan. Sebuah taman tidak akan bisa menumbuhkan bunga yang indah jika akarnya sudah membusuk oleh ulat."
"Dan kau adalah tukang kebunnya sekarang?" Valerius melangkah turun dari anak tangga singgasana, mendekati Elara hingga jarak mereka hanya terpaut satu tarikan napas. "Hati-hati, Elara. Tukang kebun sering kali menjadi orang pertama yang terkena duri dari tanaman yang mereka rawat sendiri."
"Duri tidak akan terasa sakit jika tangan Anda sudah terbiasa memegang bara api, Yang Mulia," Elara menjawab dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah referensi tersirat pada kematiannya sebagai Aurelia yang membuat pupil mata Valerius mengecil sesaat.
"Kau selalu punya jawaban untuk segalanya," kaisar itu menghela napas, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh kasa di tangan Elara, namun ia menghentikan gerakannya di udara. "Pergilah ke paviliun timur. Pelayanmu, Rina, sudah dipindahkan ke sana. Aku tidak ingin ada alasan lagi bagimu untuk terlambat menghadiri pertemuan dewan besok pagi."
Elara membungkuk hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari aula tanpa menoleh lagi. Begitu pintu perunggu itu tertutup di belakangnya, Elara membiarkan bahunya merosot. Ia bersandar pada tembok koridor yang dingin, menarik napas manual yang berat dan putus-putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Di dalam benaknya, teriakan Elena yang menyebut nama Aurelia masih bergema, memicu denyut jantung yang tidak teratur.
"Belum... ini belum berakhir," bisiknya pada diri sendiri.
Langkah kakinya membawanya menuju paviliun timur, melewati taman-taman istana yang kini terasa asing. Saat ia memasuki paviliun barunya, ia disambut oleh aroma lavender yang sangat kuat—aroma yang sama dengan kamar Aurelia sepuluh tahun lalu. Elara terpaku di ambang pintu. Tangannya yang memegang tongkat gemetar hebat. Valerius sedang memainkan permainan psikologis dengannya, mencoba memancing hantu Aurelia keluar melalui dekorasi dan bau-bauan masa lalu.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" Rina berlari mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan yang tulus.
"Rina... singkirkan semua bunga lavender ini. Sekarang," Elara memerintah dengan suara yang dingin dan kaku, matanya menatap tajam ke arah vas-vas bunga di sudut ruangan.
"Tapi Nyonya, kaisar sendiri yang memerintahkan agar—"
"Aku tidak peduli siapa yang memerintahkannya! Buang semuanya atau aku sendiri yang akan membakar paviliun ini!" Elara berteriak, sebuah ledakan irasionalitas yang dipicu oleh trauma api yang mendalam.
Rina tersentak, ketakutan melihat kilatan amarah di mata Elara yang biasanya tenang. Dengan cekatan, pelayan itu mulai mengumpulkan vas-vas lavender dan membawanya keluar. Elara jatuh terduduk di atas kursi kayu ek, memegangi kepalanya yang terasa seolah akan pecah. Dilema martabatnya mencabik-cabik batinnya; ia ingin membenci segala hal yang berkaitan dengan Aurelia karena itu adalah simbol kelemahannya, namun ia juga sadar bahwa identitas itulah senjata terbesarnya untuk menghancurkan Valerius.
"Maafkan saya, Rina," ucap Elara setelah napasnya mulai stabil. Ia melihat pelayan itu masuk kembali dengan tangan kosong. "Bau itu... mengingatkanku pada hal-hal yang ingin kulupakan."
"Saya mengerti, Nyonya. Saya sudah menggantinya dengan aroma cendana yang lebih netral," Rina mendekat, mulai membuka balutan kasa di tangan kanan Elara.
Begitu kasa itu terlepas, keduanya terdiam. Warna hitam di kulit Elara tidak hanya menetap, tapi kini mulai membentuk pola-pola urat yang menyerupai akar pohon yang mati. Luka itu beresonansi dengan sirkuit Void-nya, menciptakan hawa dingin yang konstan. Elara menatap tangannya dengan kebencian murni.
"Apakah sihir ini akan terus memakan tubuhmu, Nyonya?" bisik Rina sambil mengoleskan ramuan penawar.
"Ini adalah harga dari sebuah kekuatan, Rina. Tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi pembalasan dendam," Elara menatap ke arah jendela yang menghadap ke menara isolasi tempat Elena dipenjara. "Elena mungkin sudah jatuh, tapi faksi militer di bawah Panglima Vane tidak akan tinggal diam. Mereka kehilangan sumber dana terbesar mereka hari ini."
"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?"
"Aku akan memberikan mereka pilihan ketiga," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menunjukkan kegembiraan. "Mereka butuh dana, dan kekaisaran butuh stabilitas di perbatasan Asteria. Aku akan menawarkan kesepakatan yang tidak bisa mereka tolak, namun akan menjebak mereka dalam utang budi yang mematikan."
Elara berdiri, mengabaikan rasa lelahnya. Ia berjalan menuju meja tulis, membuka laci rahasia dan mengeluarkan bungkusan garam khusus yang tersisa. Ia menaburkannya ke atas luka hitamnya, membiarkan rasa sakit yang tajam itu menyadarkannya dari bayang-bayang masa lalu. Ia harus tetap tajam. Ia harus tetap menjadi Elara yang dingin, bukan Aurelia yang penuh kasih.
"Rina, siapkan kertas dan tinta. Aku perlu menulis pesan untuk Kaelen," instruksi Elara. "Katakan padanya untuk mulai menggerakkan unit logistik di perbatasan. Jika faksi militer ingin uang, mereka harus mulai bekerja untukku, bukan untuk selir yang sudah kalah."
"Baik, Nyonya."
Malam mulai merayap naik, menyelimuti paviliun timur dalam kegelapan yang sunyi. Elara berdiri di balkon, menatap bulan sabit yang menggantung di langit seperti luka yang belum kering. Ia tahu, di suatu tempat di istana ini, Valerius sedang mengawasinya, menanti kapan ia akan melakukan kesalahan. Namun Elara tidak akan terjatuh. Ia akan terus menari di atas pedang ini hingga darah yang tumpah bukan lagi miliknya, melainkan darah mereka yang telah mencuri kehidupannya.