“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: LANGKAH PERDANA DI KOTA PROVINSI
Di dalam kedalaman Dimensi Independen, keheningan yang menyelimuti ruang latihan tiba-tiba pecah oleh suara notifikasi yang menggema dari layar kristal di dinding ruang kendali. Rimba Dipa Johanson, yang baru saja menyelesaikan satu set latihan meditasi untuk menyelaraskan energi Tingkat 4: Gejolak Elemen, segera bangkit. Keringat masih menempel di otot-otot dadanya yang bidang, namun matanya memancarkan ketajaman yang berbeda.
Pemberitahuan itu singkat namun krusial: "Waktu Lelang Berakhir."
Rimba melangkah dengan tenang menuju ruang kontrol Aether. Di monitor raksasa, deretan angka dan nama berkelebat sebelum akhirnya mengerucut pada tiga besar penawar tertinggi. Rimba meneliti daftar itu dengan saksama.
Tulip Jewelry: Menawar sebesar 47 Miliar Rupiah.
Pendar Company: Menawar sebesar 46 Miliar Rupiah.
Intan Megah: Menawar sebesar 41 Miliar Rupiah.
"Empat puluh tujuh miliar," gumam Rimba. Senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan. Angka itu lebih dari cukup untuk membangun dinasti kecil di dunia luar. Namun, sebagai pemuda yang waspada, ia tidak langsung mengumumkan pemenang. Ia tahu bahwa di dunia digital, tawaran bisa saja palsu atau sekadar main-main.
Ia segera mengambil ponsel titaniumnya dan menghubungi nomor yang tertera pada profil Tulip Jewelry. Ia perlu memastikan komitmen mereka. Jika penawar pertama goyah, ia akan segera beralih ke peringkat kedua, begitu seterusnya. Efisiensi adalah kunci.
---
Nada sambung terdengar hanya beberapa detik sebelum suara pria terdengar menyahut di seberang sana.
"Halo, selamat siang. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Halo, selamat siang. Perkenalkan, nama saya Rimba. Saya adalah pemilik Giok Imperial Heart yang baru saja menyelesaikan masa lelangnya. Apakah saya benar sedang bicara dengan Bapak Rendi?" tanya Rimba dengan suara yang tenang namun berwibawa.
"Ah! Ya, betul sekali. Saya Rendi dari Tulip Jewelry," suara di seberang sana tiba-tiba berubah menjadi antusias dan penuh hormat. "Bagaimana, Pak Rimba? Apakah penawaran kami yang memenangkan lelang tersebut? Kami sudah sangat menantikan kabar ini."
"Betul sekali, Pak Rendi. Penawaran Bapak adalah yang tertinggi. Maka dari itu saya menghubungi Bapak secara pribadi. Saya ingin memastikan keseriusan Bapak. Jika memang benar, bagaimana sebaiknya transaksi ini kita lakukan?"
"Kami sangat serius, Pak Rimba! Giok kualitas seperti itu adalah impian setiap pengrajin perhiasan," jawab Rendi cepat. "Mengenai transaksi, kami mengikuti kenyamanan Bapak saja. Apakah tim ahli kami harus mendatangi Bapak untuk mengecek fisik batunya, atau Bapak lebih nyaman jika datang ke kantor pusat kami di Kota Provinsi? Kami akan memfasilitasi semuanya."
Rimba berpikir sejenak. Muncul di desa dengan rombongan ahli perhiasan berbaju rapi hanya akan mengundang kecurigaan penduduk. "Begini saja, Pak Rendi. Kebetulan saya ada keperluan di Kota Provinsi. Hari Senin besok, sekitar jam 10 pagi, saya sendiri yang akan mengantarkan batu tersebut ke kantor Bapak. Bagaimana?"
"Luar biasa! Kami akan menunggu kehadiran Bapak di kantor hari Senin jam 10 pagi tepat. Kami akan menyiapkan tim penilai dan staf legal untuk segera menyelesaikan pembayaran di tempat," sahut Rendi lega.
"Baiklah. Tolong kirimkan alamat lengkap kantor Bapak melalui pesan singkat ya," pungkas Rimba.
"Siap, Pak. Saya kirimkan sekarang juga lewat WhatsApp. Sampai bertemu hari Senin, Pak Rimba. Terima kasih banyak atas kehormatan ini."
"Sama-sama, Pak. Sampai bertemu."
---
Setelah mematikan telepon, Rimba menarik napas panjang. Rencana besar telah dimulai. Ia segera menemui Lara yang sedang bersama Cesar di dekat telaga.
"Ra, lelangnya sukses. Kita akan pindah ke Kota Provinsi sekarang juga," ujar Rimba.
Lara berdiri, merapikan gaunnya yang elegan. "Ke mana pun kamu pergi, aku dan Cesar pasti akan mengikutimu. Dunia dimensi ini adalah rumahmu, dan kami adalah bagian dari rumah ini."
Cesar menggonggong pelan seolah menyetujui ucapan Lara. Rimba segera berganti pakaian menggunakan setelan kebanggaannya. Ini sudah menjadi ciri khasnya. Celana jeans dipotong sedikit di atas lutut, kaos oblong, kemeja flanel yang tak dikancingkan, serta sepasang desert army boots di kakinya. Meskipun terkesan urakan tapi dengan wajahnya yang tampan auranya yang terkesan maskulin, tetap membuat dia enak untuk dipandang dan sedikit misterius.
Dalam sekejap, ia berpindah ke ruang tamu rumah kakeknya di dunia luar. Ia melihat sekeliling ruangan yang telah memberinya perlindungan selama belasan tahun. Dengan ransel lusuh yang berisi beberapa keperluan (termasuk giok yang sebenarnya tersimpan aman di dimensi), ia melangkah keluar dan mengunci pintu untuk terakhir kalinya.
Langkahnya mantap menuju rumah Pak RT. Ia sengaja tidak mengeluarkan motor gaharnya di tengah desa. Ia tidak ingin meninggalkan jejak desas-desus di desa kecil ini. Biarlah ia dikenal sebagai Rimba si anak yatim piatu yang berangkat kuliah dengan bus umum.
Sambil berjalan, pikiran Rimba melayang pada Ilham dan Dian. Kejadian di gudang tua itu masih membekas. "Bagaimana kabar mereka ya? Apakah preman-preman itu sudah kapok?" gumamnya lirih.
Seolah alam semesta menjawab pikirannya, ponsel di sakunya bergetar. Nama "Ilham" muncul di layar.
"Halo, Ham. Panjang umur, baru saja aku memikirkanmu. Apa kabar?" tanya Rimba.
"Rimba! Aku baik-baik saja, tapi... aku harus memberitahumu sesuatu," suara Ilham terdengar cemas. "Kamu harus ekstra hati-hati. Keluarga si Miki—pria yang kamu hajar di gudang itu—mulai mencari keberadaanmu. Mereka tidak terima karena sekarang Miki cacat permanen dan... yah, impoten. Mereka mulai meneror teman-teman sekolah untuk mencari alamatmu. Sejauh ini aku masih bisa berdalih tidak tahu, tapi aku takut mereka akan menemukanmu."
Rimba terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar dingin di tengah kesunyian jalan desa. "Tenang saja, Ham. Mereka tidak akan menemukanku. Dan kalaupun mereka menemukanku, mereka hanya akan menemukan penyesalan yang lebih besar. Jangan khawatir, nanti akan aku cari cara agar mereka tidak mengganggumu dan Dian lagi."
"Duh, Rimba, kamu ini terlalu tenang sekali," keluh Ilham namun terdengar sedikit lega. "Oh iya, keluarga Dian ingin mengundangmu makan malam sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya. Kapan kamu ada waktu?"
"Wah, sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat, Ham. Hari ini aku berangkat ke Kota Provinsi untuk mengurus urusan kampus. Sampaikan terima kasihku pada keluarga Dian, tapi aku sungguh tidak bisa hadir," jawab Rimba tulus.
"Oh, begitu ya? Sayang sekali. Tapi baiklah, nanti kusampaikan. Hati-hati di jalan ya, Rimba."
"Pasti. Salam untuk Dian."
---
Sesampainya di rumah Pak RT, Rimba disambut dengan hangat di beranda.
"Ah, si ganteng! Ada yang bisa Bapak bantu?" sapa Pak RT sambil tersenyum lebar.
"Ini, Pak. Saya mau menitipkan kunci rumah kakek. Sesuai kesepakatan keluarga, nanti rumah ini akan diurus oleh Kakek Amir. Jadi kalau beliau datang, tolong kuncinya diberikan saja ya, Pak," ujar Rimba sambil menyerahkan serangkaian kunci.
Pak RT menerima kunci itu dengan raut wajah ragu. "Kamu yakin, Rim? Apa tidak sayang kalau rumah itu nanti dijual si Amir? Itu kan kenangan kakekmu."
Rimba tersenyum santai. "Biarkan saja, Pak. Itu sudah menjadi bagian dari perjalanan keluarga. Saya ingin memulai hidup baru di kota."
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu," Pak RT menepuk bahu Rimba. "Kapan berangkat?"
"Sekarang juga, Pak. Mohon doa restunya."
"Walah, cepat sekali! Aku bakal kehilangan ikon pemuda ganteng di desa ini," canda Pak RT cengengesan. "Hati-hati di jalan, Rimba. Sukses kuliahnya!"
---
Rimba melangkah meninggalkan rumah Pak RT menuju pertigaan desa yang sepi dan tertutup rimbun pepohonan. Setelah memastikan tidak ada mata yang memandang, ia menggenggam gioknya dan membisikkan kata kunci.
Vruuuummm!
Motor Harley Davidson Fat Boy yang gahar muncul secara instan. Rimba segera menaikinya, mengenakan helm hitamnya, dan memutar gas. Raungan knalpotnya membelah keheningan hutan saat ia meluncur menuju jalan raya utama yang menghubungkan kabupaten dengan Kota Provinsi.
Perjalanan itu memakan waktu sekitar tiga jam. Rimba menikmati setiap hembusan angin yang menerbangkan kemeja flanelnya melambai ke belakang. Di sepanjang jalan, setiap kali ia berhenti di lampu merah atau melewati pasar, mata orang-orang selalu tertuju padanya. Sosoknya yang tinggi besar, motor yang mewah, dan aura misterius dari dirinya menjadikannya pusat perhatian. Rimba tetap bersikap sopan, menganggukkan kepala jika ada yang menyapa, namun tetap menjaga jarak.
Begitu memasuki perbatasan Kota Provinsi, hiruk-pikuk kota besar mulai terasa. Kemacetan, gedung-gedung tinggi, dan polusi udara menyambutnya. Rimba menepikan motornya di dekat sebuah taman kota untuk membuka peta di ponselnya.
Ia memasukkan alamat Tulip Jewelry. "Hemmm, di pusat kota, ya? Cukup sibuk," gumamnya.
Ia menyusuri jalanan kota yang padat, mengikuti instruksi GPS hingga akhirnya sampai di depan sebuah gedung perkantoran mewah dengan papan nama emas bertuliskan Tulip Jewelry & Boutique. Ia memperhatikan lingkungan sekitar, menandai titik-titik strategis agar besok ia bisa melakukan perpindahan dimensi dengan akurat tanpa muncul di tengah keramaian secara tiba-tiba.
"Besok jam 10 pagi," Rimba mengingatkan dirinya sendiri.
Karena ia tidak ingin repot membawa motor besarnya di tengah kemacetan kota yang gila, ia memutuskan untuk mencari hotel di seputan sana yang tidak jauh dari lokasi Tulip Jewelry. Setelah melakukan proses check-in di sebuah hotel mewah dengan nama samaran (yang sudah ia siapkan melalui Aether), Rimba masuk ke kamar hotelnya.
Ia menutup tirai jendela yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota. Dengan satu sentuhan pada liontin di lehernya, ia bergumam pelan, "Masuk."
Rimba menghilang dari kamar hotel mewah itu, kembali ke dimensi amannya untuk mempersiapkan diri. Esok bukan hanya soal menjual batu giok, tapi merupakan pernyataan resmi kehadiran Rimba Dipa Johanson di panggung dunia yang lebih besar.