Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Langit yang Terkoyak dan Kedatangan Kaisar Iblis
Benua Tengah, Wilayah Udara Ibukota Langit Suci.
Jika neraka memiliki bentuk fisik, maka pemandangan di Benua Tengah saat ini adalah wujud sempurnanya. Langit biru telah terkoyak, menampilkan celah dimensi raksasa yang berdenyut seperti luka menganga di dada dunia. Dari dalam luka itu, sungai darah hitam tumpah ke bumi, membawa jutaan prajurit iblis, kapal perang tulang, dan binatang mutan dari Abyss.
Kota Awan Mengapung, yang dulunya menjadi kebanggaan benua, kini terbakar. Bangunan-bangunan emas dan kristal hancur menjadi puing-puing, diwarnai oleh darah para kultivator.
Di pusat kehancuran itu, Menara Babel Sejati masih berdiri kokoh, dilindungi oleh sisa-sisa formasi kuno yang memancarkan cahaya keemasan redup.
Namun, di atas puncak menara, situasinya sangat kritis.
Tiga penguasa tertinggi Alam Roh Sejati—Tiga Begawan (The Three Sages)—kini berada dalam kondisi yang menyedihkan.
Tie Shen (Begawan Tubuh) berlutut dengan satu kaki, tubuh perunggunya yang tak terkalahkan dipenuhi retakan dalam, darah emas mengalir dari matanya.
Tian Jian (Begawan Pedang) telah kehilangan lengan kirinya, pedang rohnya patah menjadi dua.
Fa Zun (Begawan Sihir) tergeletak di lantai pualam, napasnya hanya tinggal satu-satu setelah lautan Qi-nya dikuras habis.
Di hadapan mereka, duduk santai di atas singgasana yang terbuat dari tengkorak para Tetua Aliansi, adalah sesosok makhluk yang memancarkan keputusasaan absolut.
Dia berwujud pria tampan dengan kulit sepucat pualam dan rambut perak panjang. Dia mengenakan jubah hitam elegan, tanpa sayap, tanpa tanduk, terlihat seperti bangsawan manusia biasa. Namun, di dahinya terdapat lambang matahari hitam, dan setiap kali dia bernapas, ruang di sekitarnya retak.
Ba'al, Kaisar Iblis Kehampaan (Void Demon Emperor).
Tingkat Kultivasi: Ranah Mahayana (Great Vehicle) Tingkat Menengah.
Makhluk ini bukan sekadar Jenderal seperti Mo Luo. Dia adalah salah satu penguasa sejati dari Alam Iblis.
"Kalian mengecewakanku, Tiga Begawan," suara Ba'al lembut, berwibawa, namun mematikan. Dia memutar gelas anggur berisi darah kultivator Spirit Severing. "Ribuan tahun kalian menjaga pintu ini, dan ini saja kekuatan kalian? Tidak heran Mo Tian harus bersembunyi di dunia bawah."
Tian Jian meludah darah. "Iblis keparat... Selama kami bernapas, kau tidak akan pernah bisa menyentuh Inti Menara ini!"
"Inti Menara?" Ba'al tertawa kecil. "Ah, kalian pikir aku datang ke sini untuk menghancurkan dunia fana ini? Tidak, tidak. Dunia ini terlalu miskin untukku. Aku datang untuk Sesuatu yang lain."
Ba'al berdiri, berjalan perlahan mendekati Tiga Begawan.
"Aku merasakan fluktuasi Lima Kunci Dewa dan Mutiara Penelan Surga. Seseorang di dunia kalian telah mengumpulkan semuanya. Dan orang itu... sedang menuju ke mari."
Ba'al menatap ke arah utara. Senyumnya melebar, memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Kalian tidak perlu menjaga menara ini lagi. Karena tamu utamaku sudah tiba."
WUUUUUUNG!
Dari arah cakrawala utara, sebuah tekanan spiritual yang tak kalah mengerikan menyapu awan hitam iblis.
Sebuah kapal perang tulang yang telah dimodifikasi dengan sisik naga es melesat menembus formasi blokade iblis seolah-olah blokade itu terbuat dari kertas basah.
Di haluan kapal, Ye Chen berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar, matanya yang memancarkan cahaya perak dan emas menatap lurus ke puncak Menara Babel.
Di sekeliling tubuh Ye Chen, lima benda pusaka melayang dan beresonansi:
Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, dan Bintang.
"Ye Chen..." Tian Jian terbelalak melihat kedatangan pemuda itu. "Dia... dia benar-benar mengumpulkan semuanya!"
Ye Chen melompat dari kapal, membiarkan Lilith mengamankan kapal di udara.
Dia mendarat di puncak Menara Babel dengan dentuman yang membuat lantai giok bergetar. Dia tidak mempedulikan mayat-mayat yang berserakan atau Tiga Begawan yang sekarat.
Matanya langsung terkunci pada Ba'al.
"Jadi kau bos dari semua kekacauan ini," kata Ye Chen, menarik Pedang Naga Langit dari sarung putih di pinggangnya. "Kupikir kalian akan mengirim monster bertentakel, ternyata cuma pria pesolek."
Ba'al menatap Ye Chen dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berkilat tamak saat melihat Lima Kunci yang berputar di sekitar Ye Chen, lalu menatap perut Ye Chen.
"Mutiara itu... dan Darah Asura," bisik Ba'al kagum. "Kau adalah wadah yang sempurna. Pantas saja Mo Luo mati di tanganmu. Dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kau bukanlah mangsa, melainkan mahkota."
"Ye Chen!" teriak Tie Shen sambil batuk darah. "Lari! Dia adalah Kaisar Iblis! Tingkatannya Mahayana Menengah! Fisik dan Qi-nya melampaui hukum alam dunia ini! Kau tidak bisa—"
"Diam, Kakek," potong Ye Chen tanpa menoleh. "Kau sudah kalah. Biarkan yang masih bisa berdiri yang bicara."
Ye Chen maju satu langkah. Kelima kunci di sekitarnya berputar semakin cepat.
"Kau menginginkan kunci ini, Iblis?" Ye Chen bertanya.
"Bukan hanya kunci itu. Aku menginginkan tubuhmu," Ba'al tersenyum. "Dengan tubuh Asura-mu dan kunci itu, aku bisa membuka Gerbang Alam Dewa dan memimpin invasi ke surga."
"Mimpi yang indah," Ye Chen menyeringai. "Sayangnya, aku benci berbagi tubuh."
BOOM!
Ye Chen tidak membuang waktu. Dia meledakkan kecepatannya hingga maksimal.
Langkah Naga Awan: Puncak Kecepatan Cahaya!
Dia muncul tepat di depan Ba'al, mengayunkan Pedang Naga Langit dengan dua tangan. Pedang itu dilapisi Api Ungu, Petir Biru, dan Niat Pedang Kehancuran.
Tebasan Pembelah Langit: Pemutus Dewa!
Ba'al tidak menghindar. Dia mengangkat satu jarinya. Hanya satu jari telunjuk.
CLANGGG!
Suara benturan logam bergema ke seluruh langit.
Tiga Begawan ternganga horor.
Jari Ba'al menahan bilah Pedang Naga Langit yang beratnya ribuan ton itu. Api ungu dan petir biru meledak di sekeliling Ba'al, tapi tidak ada satu pun yang bisa menembus kulit pucatnya.
"Serangan yang bagus," kata Ba'al santai, menatap Ye Chen dari balik pedang. "Tapi kekuatanmu baru mencapai Spirit Severing Tingkat 2. Bahkan dengan fisik Tulang Emas, kau tidak bisa menjembatani jurang menuju Mahayana."
Ba'al menjentikkan jarinya ke bilah pedang.
DUM!
Gelombang kejut yang luar biasa menghantam Ye Chen.
Ye Chen merasa seolah-olah ditabrak oleh sebuah planet. Dia terpental ke belakang, meluncur di lantai pualam hingga ke tepi menara, hampir jatuh ke bawah.
"Ugh..." Ye Chen menancapkan pedangnya ke lantai untuk berhenti. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Tangannya yang memegang pedang retak.
"Satu jentikan jari?" batin Ye Chen, menyeka darahnya. "Ini benar-benar level yang berbeda."
Ba'al berjalan mendekat dengan santai.
"Menyerahlah, Asura. Jangan rusak tubuh yang akan kuambil."
Ye Chen berdiri. Dia meludah ke samping.
"Level yang berbeda, ya? Kalau begitu... aku harus menarikmu turun ke levelku."
Ye Chen merentangkan tangan kirinya ke atas. Kelima kunci (Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, Bintang) melesat ke langit, membentuk formasi pentagram raksasa di atas Menara Babel.
"Apa yang kau lakukan?" Ba'al mengerutkan kening.
"Mengunci pintu."
Ye Chen menghentakkan kakinya.
"Hukum Lima Elemen: Segel Penekan Alam!"
WUUUUUUUUUUUNG!
Kelima kunci itu melepaskan pilar cahaya yang turun dan mengurung puncak Menara Babel dalam sebuah sangkar energi lima warna.
Sangkar ini tidak dirancang untuk bertahan dari serangan. Sangkar ini dirancang untuk Menekan Hukum Alam.
Seketika, energi spiritual di dalam sangkar itu lenyap. Hukum ruang dan waktu yang bisa dikendalikan oleh seorang Mahayana dinetralkan secara paksa oleh kekuatan lima artefak kuno tersebut.
Ba'al merasakan tubuhnya tiba-tiba menjadi berat. Koneksinya dengan Qi dunia luar terputus total.
"Kau... menekan kultivasiku?" Ba'al terkejut.
Tingkat kekuatan Ba'al merosot tajam. Dari Mahayana Menengah turun secara paksa ke Spirit Severing Puncak.
"Di dalam sangkar ini, tidak ada sihir, tidak ada hukum alam, tidak ada manipulasi ruang," kata Ye Chen, berjalan maju dengan pedang di bahunya. Matanya menyala dengan keganasan predator.
"Di dalam sangkar ini, kita hanyalah dua potong daging dan tulang."
Ye Chen memutar lehernya. Krak.
"Dan dalam urusan memukul daging dan tulang... aku jagonya."
Ba'al yang tadinya santai kini menunjukkan ekspresi marah. Sebagai kaisar iblis yang biasa menggunakan sihir tertinggi, dipaksa bertarung seperti preman jalanan adalah sebuah penghinaan.
"Kau pikir dengan menekan kultivasiku, kau bisa mengalahkan fisik Iblis Kehampaan?!" Ba'al meraung. Kuku-kukunya memanjang menjadi cakar hitam.
"Ayo kita buktikan!"
Ye Chen menerjang.
Kali ini, bukan pertarungan sihir atau pedang energi. Ini adalah adu hantam paling brutal dalam sejarah Menara Babel.
BUAGH!
Tinju Ye Chen menghantam wajah tampan Ba'al.
CRASS!
Cakar Ba'al merobek dada Ye Chen, meninggalkan lima garis luka dalam.
Mereka bergumul layaknya binatang buas purba, darah emas dan darah hitam membasahi puncak menara suci, disaksikan oleh Tiga Begawan yang hanya bisa mematung melihat kebrutalan sang Asura.
Pertempuran terakhir untuk mempertahankan dunia telah dimulai dengan cara yang paling biadab.
(Akhir Bab 21)