Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Napas Pertama Sang Dewi Es dan Tamu Negara
Pagi turun di Kota Emerald dengan damai, membawa embun yang terasa jauh lebih segar dari biasanya. Di kediaman Keluarga Kusuma, kicauan burung terdengar lebih nyaring. Tidak ada yang tahu bahwa Formasi Pertahanan Cangkang Kura-Kura Emas Langit yang ditanam Arya diam-diam telah memurnikan udara di seluruh area rumah, menjadikannya surga kecil yang dipenuhi energi spiritual (Qi) yang sangat kental.
Di dalam kamar utama, Nadia perlahan membuka matanya. Ia mengerjap, menyadari sesuatu yang aneh.
Biasanya, ia selalu bangun dengan rasa pegal di leher atau kepala yang berat akibat beban kerja. Namun pagi ini, tubuhnya terasa seringan kapas. Setiap tarikan napasnya seolah membawa aliran kehangatan murni yang menyapu sisa-sisa kelelahannya. Ia melirik ke arah dadanya; liontin giok hijau pemberian Arya memancarkan pendar cahaya yang sangat lembut sebelum akhirnya kembali normal.
Nadia bangkit dan berjalan ke arah jendela. Di halaman belakang, ia melihat sosok suaminya sedang berdiri di tengah rerumputan, menatap langit pagi dengan tangan di dalam saku jaketnya.
Nadia tersenyum, bergegas mandi, dan menyusul turun ke bawah.
"Kau bangun lebih awal dari biasanya," sapa Arya tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki Nadia mendekat ke halaman belakang.
"Udaranya sangat enak hari ini. Rasanya sayang jika dilewatkan dengan tidur," jawab Nadia, berdiri di samping Arya. Ia mengenakan pakaian olahraga kasual yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda dari citra CEO-nya yang kaku.
Arya menoleh dan menatap istrinya lekat-lekat. "Itu karena formasi spiritual yang kubangun telah aktif. Mulai sekarang, area rumah ini memiliki konsentrasi Qi seratus kali lipat lebih padat dibandingkan dunia luar."
Nadia mengernyitkan dahi. "Qi? Energi spiritual yang kau sebutkan semalam?"
Arya mengangguk perlahan. Ia mengangkat tangannya, dan sehelai daun yang jatuh dari pohon seketika melayang berhenti di atas telapak tangannya, dikelilingi oleh pendar cahaya keemasan.
"Nadia, usia manusia fana tidak lebih dari seratus tahun," ucap Arya, suaranya terdengar jauh dan kuno. "Bahkan dengan eliksir medis yang kubuat, paling lama kau hanya bisa hidup hingga seratus lima puluh tahun sebelum tubuh fisikmu menua dan hancur."
Nadia terdiam, senyumnya perlahan memudar menyadari arah pembicaraan ini. Kefanaan adalah kenyataan pahit bagi setiap manusia.
"Tapi aku adalah eksistensi yang telah menembus batas waktu," lanjut Arya, menatap langsung ke dalam mata istrinya. "Aku tidak akan membiarkanmu menua dan meninggalkanku sendirian di dunia ini. Mulai hari ini, aku akan membimbingmu. Kau tidak akan lagi hanya menjadi Ratu Bisnis di dunia fana. Kau akan melangkah bersamaku ke atas awan."
Jantung Nadia berdebar kencang. "Maksudmu... aku juga bisa belajar menjadi sepertimu? Menjadi seorang kultivator?"
"Tubuhmu memiliki afinitas elemen Yin murni yang sangat langka. Selama ini, afinitas itu yang membuatmu memiliki aura dingin dan berwibawa secara alami," jelas Arya. Ia menyentuh dahi Nadia dengan ujung telunjuknya.
Seberkas cahaya perak mengalir dari jari Arya masuk ke dalam pikiran Nadia. Tiba-tiba, ribuan baris teks kuno dan diagram energi yang bercahaya muncul di dalam ingatan Nadia.
"Sutra Bulan Es Sejati," bisik Arya. "Ini adalah teknik kultivasi tingkat Dewa yang setara dengan milikku. Pejamkan matamu. Rasakan energi di udara, dan biarkan liontin giok itu menjadi penuntunmu."
Nadia, yang sudah percaya sepenuhnya pada Arya, langsung memejamkan mata dan duduk bersila di atas rumput. Dipandu oleh energi dari suaminya, Nadia mulai menarik napas panjang. Dalam hitungan menit, lapisan es tipis yang sangat indah mulai terbentuk di ujung-ujung rambutnya, memancarkan aura suci bak dewi dari kahyangan.
Langkah pertama Nadia menuju keabadian telah dimulai.
Dua jam kemudian, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari arah gerbang depan.
Arya, yang sedang menyeruput teh di teras sambil mengawasi Nadia bermeditasi, mengangkat sebelah alisnya. Mata spiritualnya sudah mendeteksi kedatangan tamu tersebut jauh sebelum mereka memasuki gerbang.
Sebuah mobil sedan antipeluru hitam dengan pelat nomor khusus pemerintah militer berhenti di depan rumah. Han Shixiong keluar dari kursi penumpang depan, wajahnya tampak sangat tegang namun dipenuhi rasa hormat. Ia kemudian membukakan pintu belakang.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, mengenakan seragam militer penuh bintang jasa, melangkah turun. Ia adalah Panglima Jenderal Sudirman, pemimpin tertinggi militer Wilayah Selatan.
Han memandu sang Jenderal menuju teras belakang tempat Arya berada.
"Guru Besar," sapa Han sambil membungkuk dalam-dalam. "Hamba memohon maaf atas kedatangan yang mendadak ini. Panglima Jenderal Sudirman bersikeras ingin memberikan penghormatan langsung kepada Anda."
Sang Jenderal, yang biasanya membuat para gubernur dan konglomerat gemetar ketakutan, kini berdiri kaku. Ia menatap pemuda berjaket katun yang sedang duduk santai menyeruput teh. Sang Jenderal teringat kembali rekaman satelit di mana pemuda ini menghancurkan awan hitam dan lima dewa terbang hanya dengan satu tamparan tangan kosong.
Tanpa ragu sedikit pun, Jenderal Sudirman melepas topi militernya dan membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
"Tuan Arya," suara sang Jenderal lantang namun bergetar. "Atas nama pimpinan tertinggi negara ini, saya datang untuk menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya. Keberadaan Anda adalah anugerah bagi bangsa ini."
Arya meletakkan cangkir tehnya dengan pelan. "Duduklah, Jenderal. Tidak perlu terlalu kaku. Aku tidak tertarik pada urusan politik manusia fana."
Sang Jenderal duduk dengan tegang di kursi seberang Arya. Han Shixiong berdiri di sudut, bertindak sebagai pelayan yang menuangkan teh.
"Saya memahami hal itu, Tuan," ucap Sang Jenderal berhati-hati. "Pemerintah pusat telah mengklasifikasikan Anda sebagai Pelindung Negara Tingkat Dewa. Ini berarti, Anda dan Grup Kusuma memiliki kekebalan hukum mutlak dan dukungan penuh dari kas negara. Apa pun yang Nyonya Nadia butuhkan untuk bisnisnya, akan kami berikan jalur hijau tanpa syarat."
"Pilihan yang cerdas," Arya tersenyum tipis. "Lalu, apa imbalan yang kalian harapkan dariku? Pemerintah tidak pernah memberikan sesuatu secara gratis."
Jenderal Sudirman menelan ludah. Pandangannya yang tajam tak bisa menyembunyikan rasa segan. "Kami tidak berani meminta apa pun dari eksistensi seperti Anda, Tuan. Namun... negara ini sedang menghadapi krisis bayangan."
Sang Jenderal mengeluarkan sebuah tablet militer bersandi tinggi dan meletakkannya di atas meja. Di layar itu, terlihat foto satelit dari sebuah pulau terpencil di perbatasan lautan luar. Pulau itu dikelilingi oleh kabut berwarna ungu pekat yang tidak alami.
"Tiga hari yang lalu, sebelum insiden di langit Kota Emerald, kabut aneh ini muncul di Pulau Karang Kematian. Dua kapal perang angkatan laut kami dan satu tim elit Kopassus yang mencoba menyelidikinya hilang tanpa jejak dalam hitungan detik," jelas Sang Jenderal dengan wajah suram.
"Berdasarkan analisis departemen riset rahasia kami... fenomena ini mirip dengan legenda terbukanya sebuah Reruntuhan Kuno. Masalahnya, satelit kami juga mendeteksi pergerakan kapal selam militer tak bertanda dari negara-negara aliansi Barat dan ahli bela diri asing yang mulai mengepung perairan tersebut."
Sang Jenderal menundukkan kepalanya lagi. "Kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan para ahli dari luar negeri yang mengincar apa pun yang ada di dalam reruntuhan itu. Jika Tuan Arya berkenan..."
Arya melirik layar tablet itu sejenak. Mata spiritualnya langsung mengenali pola kabut ungu tersebut. Itu bukan sekadar fenomena alam. Itu adalah bocoran Miasma Spiritual dari sebuah makam kultivator tingkat tinggi yang segelnya telah melemah karena gerusan waktu.
Sudah saatnya ia mencari material surgawi yang lebih kuat untuk meningkatkan kultivasinya dan membuatkan senjata spiritual yang layak untuk Nadia.
"Reruntuhan kuno, ya..." gumam Arya, senyum yang sangat berbahaya mulai terukir di sudut bibirnya. "Baiklah, Jenderal. Kalian boleh menjaga rumah ini selama aku pergi. Aku akan melihat... mainan apa yang ditinggalkan oleh orang-orang dari masa lalu di pulau itu."