NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16.INISIASI DI AMBANG KEMUSTAHILAN

Di dalam keheningan Safe Zone, suasana berubah dari tegang menjadi sakral. Ketiga murid Arka Jiro, Kael, dan Elara tampak tenang, seolah-olah pengungkapan identitas guru mereka bukanlah hal baru. Memang benar, mereka telah lama menyadari siapa pria yang melatih mereka di hutan Ovelia itu. Bagi mereka, Arka bukan sekadar guru, ia adalah entitas dari masa lalu yang memilih untuk hidup di masa kini.

Alaric masih berlutut, napasnya memburu. Sebagai Ksatria Suci Peringkat S+, ia telah mencapai puncak yang bisa diraih segelintir manusia. Namun, berdiri di depan Arka terasa seperti berdiri di depan jurang tanpa dasar yang siap menelan seluruh eksistensinya.

"Berdirilah, Komandan," suara Arka terdengar malas kembali, namun ada wibawa yang tidak bisa dibantah di dalamnya. "Lantai marmer ini terlalu dingin untuk lutut tuamu."

Alaric mendongak, matanya masih bergetar. "Kenapa? Kenapa legenda seperti Anda memilih untuk berpura-pura menjadi petualang rendahan di kota pinggiran?"

Arka menguap lebar, berjalan perlahan menuju sebuah lemari kecil di sudut ruangan. "Dunia ini sudah berubah, Alaric. Terlalu berisik. Terlalu banyak politik. Aku hanya ingin tidur nyenyak dan melihat murid-muridku ini tumbuh tanpa beban sejarah yang kupikul. Tapi sepertinya, rasa penasaranmu baru saja merusak rencana pensiunku."

Alaric mengepalkan tinjunya. Rasa ambisi yang telah lama ia pendam mulai meluap. "Jika Anda benar-benar Arkaelus... maka Anda tahu bahwa saya telah tertahan di ambang S+. Tidak ada buku, tidak ada guru, dan tidak ada meditasi yang bisa membawaku ke peringkat SS. Bagiku, itu adalah dinding yang mustahil ditembus."

Arka berhenti di depan lemari, tangannya mengambil sebuah botol kristal kecil berisi cairan keemasan yang kental. "SS? Itu hanya istilah buatan manusia zaman sekarang untuk menyebut seseorang yang baru saja mulai memahami esensi mana yang sebenarnya. Kau tidak bisa naik level karena wadah manamu sudah penuh, namun sirkuitmu terlalu sempit untuk mengalirkan tekanan yang lebih besar."

...

Arka melemparkan botol kristal itu ke arah Alaric. Sang Komandan menangkapnya dengan tangan gemetar.

"Itu adalah Elixir Aether Kuno," ucap Arka datar. "Di zamanku, kami menyebutnya 'minuman pembuka'. Jika kau meminumnya sekarang, cairan itu akan memaksa sirkuit manamu untuk pecah dan menyusun diri kembali. Rasanya akan seperti seluruh tulangmu digiling menjadi bubuk, tapi jika kau selamat, kau akan melihat dunia dengan cara yang berbeda."

Tanpa ragu sedikit pun, Alaric membuka sumbat botol itu dan meminum isinya dalam satu tegukan.

Seketika, wajah Alaric memerah padam. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol keluar. Ia jatuh tersungkur, mengerang kesakitan saat energi murni dari era Player mulai menginvasi tubuhnya. Sirkuit mananya yang selama ini stagnan mulai dipaksa melebar dengan cara yang brutal.

"Jiro, jaga pintu," perintah Arka pelan. "Kael, Elara, jangan biarkan tekanan mana dari orang ini merusak furnitur. Ini sofa favoritku."

Ketiga murid itu segera bergerak dengan sigap. Mereka memasang penghalang mana di sekitar Alaric, melindungi ruangan dari badai energi yang mulai terpancar dari tubuh sang Komandan.

...

"Kau ingin tahu rahasia peringkat SS, Alaric?" Arka melangkah mendekati tubuh Alaric yang sedang berjuang melawan rasa sakit. "Rahasianya bukan pada jumlah mana yang kau miliki, tapi pada seberapa besar kau bisa menanggung beban dunia ini tanpa hancur."

Arka mengangkat tangan kirinya. Di jari manisnya, terdapat sebuah cincin perak polos yang tampak tidak berharga. Itu adalah Cincin Segel Void, artefak yang menekan eksistensi Arka agar tidak terdeteksi oleh hukum dunia masa kini.

"Perhatikan baik-baik," gumam Arka.

Perlahan, Arka menarik cincin itu dari jarinya.

BOOM!

Bukan suara ledakan fisik, melainkan ledakan gravitasi spiritual yang sudah tertahan lama oleh cincin tersebut. Udara di dalam Safe Zone mendadak menjadi sangat berat hingga lantai marmer mulai retak. Atmosfer di ruangan itu seolah-olah tersedot ke satu titik: pria yang berdiri di tengah ruangan.

Alaric, di tengah rasa sakitnya, secara refleks melirik ke arah alat pendeteksi level yang terpasang di sabuknya. Alat itu adalah perangkat magis paling mutakhir milik kerajaan. Angka di layar alat itu mulai melonjak gila-gilaan.

[450... 600... 850...]

Krak!

Kaca pada alat pendeteksi itu mulai retak. Angka digitalnya berkedip cepat, tidak sanggup memproses input data yang masuk.

[900... 950... ERROR]

Dan akhirnya, angka itu berhenti di sebuah angka yang dianggap mitos oleh seluruh sejarah umat manusia bahkan di era player.

[LEVEL: 999 (MAX)]

Alaric terbelalak. Dunianya seolah jungkir balik. Level 999 bukan sekadar angka; itu adalah level di mana seseorang tidak lagi dianggap sebagai makhluk hidup, melainkan hukum alam yang berjalan. Alat pendeteksi itu akhirnya meledak, terbakar menjadi abu karena tidak sanggup menanggung aura keberadaan Arka.

"Ini... ini tidak mungkin," isak Alaric. "Bahkan dalam catatan paling kuno pun... tidak ada manusia yang mencapai level sembilan ratus..."

"Itu karena catatanmu ditulis oleh orang-orang yang kalah," sahut Arka dingin. Auranya kini tampak seperti lubang hitam yang siap menelan cahaya.

Arka meletakkan telapak tangannya di dahi Alaric, menyalurkan setetes kecil aura level 999 miliknya. Seketika, gelombang energi emas terpancar dari tubuh Alaric. Ia telah melewati batas. Ia kini adalah Ksatria Suci Peringkat SS pertama di kerajaan Aethelgard.

...

Arka segera mengenakan kembali cincin segelnya. Ruangan kembali tenang. Alaric bangkit berdiri, merasa setiap sel di tubuhnya berteriak kegirangan karena kekuatan baru ini. Namun, saat ia menatap Arka, ia justru merasa semakin kecil.

"Terima kasih... Guru," Alaric membungkuk sangat dalam.

"Jangan panggil aku guru. Aku tidak butuh satu orang tua tambahan," sahut Arka sambil kembali ke sofanya. Arka mengeluarkan dari inventory, memberikan sebuah perkamen merah darah. "Ini adalah Kontrak Jiwa: Perjanjian Darah. Kau akan menjadi perwakilanku di kerajaan. Jika kau membocorkan rahasiaku, jantungmu akan meledak menjadi debu dalam satu detik. Setuju?"

Tanpa ragu, Alaric memberikan tetesan darahnya pada perkamen tersebut. "Aku bersumpah, Arkaelus. Rahasia Anda akan mati bersamaku."

Arka tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang, istirahat saja dulu."

Saat Arka berjalan menuju sudut ruangan untuk memeriksa persediaan makanan, ketiga muridnya yang sejak tadi tampak tenang berkumpul di dekat pintu, berbisik-bisik sambil melirik guru mereka dengan mata berbinar.

"Lihat itu," bisik Jiro, suaranya sangat rendah agar tidak terdengar Alaric. "Ketua Guild Baros dulu selalu mengatakan bahwa Guru kami adalah seorang legenda yang tersisa. Tapi siapa sangka..."

"Iya," timpal Kael dengan nada kagum yang tak tertahan. "Ternyata Guru bukan sekadar legenda. Dia adalah puncak dari para legenda. Void King yang ada dalam catatan sejarah rahasia kerajaan."

Elara mengangguk kecil, memeluk staf kayunya erat-erat. "Kita sungguh beruntung. Di saat orang lain harus bertaruh nyawa untuk naik satu tingkat, kita justru dididik langsung oleh hukum alam yang berjalan. Aku jadi kasihan pada Komandan Alaric, dia terlihat sangat ketakutan tadi."

Jiro terkekeh pelan. "Siapa pun akan ketakutan melihat Dewa berdiri di depan mereka, Elara. Sekarang mari kita pura-pura tidur sebelum Guru menyadari kita sedang menggosipkannya."

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!