"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1. Roti Melon dan Dompet Kosong
"Hana, apakah kamu tidak lapar?" tanya Akane sambil mengunyah roti lapisnya yang mahal.
Hana Tanaka menoleh pelan. Dia mencoba mengatur napasnya yang sedikit pendek. Dia menatap pemandangan kota Tokyo dari atap sekolah. Langit bulan Maret tahun 2026 terlihat sangat jingga. Cahaya matahari mulai meredup di ufuk barat. Gedung-gedung pencakar langit di distrik Shinjuku mulai menyalakan lampu neon.
Pemandangan itu sangat indah bagi orang yang punya uang. Namun, bagi Hana pemandangan itu terasa sangat menyiksa. Kota ini terasa sangat dingin dan tidak ramah pada orang miskin.
Hana menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Dia merasa sangat perih di bagian perutnya. Rasa lapar itu sudah datang sejak jam pelajaran kedua tadi pagi. Dia sengaja melewati jam makan siang di kantin sekolah.
Dia tidak ingin teman-temannya melihat piringnya yang kosong. Dia juga tidak punya uang untuk membeli roti melon di koperasi. Harga satu buah roti melon naik menjadi dua ratus yen minggu ini. Kenaikan harga pangan di Jepang memang sangat gila belakangan ini.
"Aku sudah kenyang kok. Aku makan banyak bekal di kelas tadi," jawab Hana sambil tersenyum tipis.
Hana berbohong lagi hari ini. Kebohongan adalah tameng utamanya untuk bertahan hidup di sekolah elit ini. Dia adalah siswi penerima beasiswa prestasi yang sangat pintar. Namun dia menyembunyikan identitas kemiskinannya dengan sangat rapat.
Dia selalu memakai seragam yang bersih meskipun kainnya sudah mulai menipis. Dia mencuci seragamnya setiap malam agar tidak terlihat kusam. Sepatunya juga sudah mulai jebol di bagian bawah. Dia menambalnya dengan lem plastik agar tetap bisa digunakan untuk berjalan.
Akane Sato duduk bersandar di pagar kawat yang berkarat. Dia adalah gadis yang sangat berbeda dengan Hana. Rambut Akane dipotong pendek dengan semir merah di bagian ujungnya. Jaket seragamnya sengaja dibuka dan dia memakai kaos hitam di dalamnya. Banyak tempelan kain atau patch dengan slogan aktivis di jaket tersebut.
Akane adalah putri dari seorang pemilik perusahaan media yang sangat kaya. Namun dia justru sangat vokal mengkritik kebijakan pemerintah di internet. Dia memiliki ribuan pengikut di media sosial karena keberaniannya bersuara.
"Kamu terlalu sering melewatkan jam makan siang, Hana. Itu tidak baik untuk otak pintarmu," kata Akane lagi.
Akane menyodorkan sisa roti lapisnya yang masih terbungkus plastik. Roti itu berisi daging sapi berkualitas tinggi dan sayuran segar. Bau harum mentega tercium hingga ke hidung Hana.
Perut Hana tiba-tiba berbunyi dengan suara yang cukup keras. Suara itu terdengar sangat memalukan di tengah keheningan atap sekolah. Wajah Hana langsung memerah karena rasa malu yang luar biasa. Dia segera membuang muka ke arah lain agar tidak terlihat oleh Akane.
"Suara perutmu tidak bisa diajak bekerja sama dalam berbohong," ejek Akane dengan nada bercanda.
Akane tidak bermaksud jahat dengan ejekan tersebut. Dia hanya ingin mencairkan suasana yang kaku di antara mereka. Akane merasa Hana adalah orang yang paling jujur di sekolah ini.
Meskipun Hana sering berbohong tentang kondisinya tapi matanya tidak bisa menipu. Hana memiliki binar mata yang penuh dengan ambisi dan semangat belajar. Hal itu sangat jarang ditemukan pada anak-anak kaya di sekolah ini. Kebanyakan siswa di sini hanya memikirkan tentang gaya hidup dan pamer kemewahan.
Hana akhirnya menerima potongan roti tersebut dengan tangan yang gemetar. Dia mengucapkan terima kasih dengan suara yang sangat pelan. Dia menggigit roti itu dan merasakan kelezatan yang luar biasa. Rasa gurih daging sapi itu meledak di dalam mulutnya yang lapar.
Dia merasa sedikit bertenaga setelah beberapa kunyahan pertama. Air matanya hampir saja tumpah karena rasa haru yang mendalam. Roti ini mungkin hanya camilan bagi Akane. Namun bagi Hana roti ini adalah anugerah besar hari ini.
"Pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan pajak lagi pagi ini," ujar Akane sambil menatap ponselnya.
Akane terlihat sangat kesal saat membaca berita terbaru di layar ponsel. Dia menunjukkan layar tersebut kepada Hana yang masih sibuk mengunyah. Berita itu menyebutkan tentang kenaikan pajak konsumsi untuk membiayai militer. Akane merasa kebijakan itu sangat tidak adil bagi rakyat kecil.
Banyak keluarga yang mulai kesulitan untuk membeli bahan makanan pokok. Angka kemiskinan di Tokyo meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini sering disebut sebagai kegagalan sistem gacha kehidupan (penentu nasib).
Hana mendengarkan penjelasan Akane dengan saksama. Dia tahu betul bagaimana rasanya terjepit oleh sistem ekonomi yang kaku. Ibunya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah gedung perkantoran. Gaji ibunya tidak pernah naik selama tiga tahun terakhir ini.
Sementara itu, harga sewa apartemen kecil mereka terus meningkat setiap tahun. Hana harus bekerja paruh waktu di minimarket setelah pulang sekolah. Dia bekerja dari jam tujuh malam hingga tengah malam setiap hari. Dia sering kali belajar untuk ujian di bawah lampu remang minimarket.
"Mereka hanya memikirkan kekuasaan. Mereka tidak peduli pada kita," lanjut Akane dengan nada tajam.
Akane sering mengunggah video kritik politik melalui akun media sosialnya. Dia sering mendapatkan ancaman dari orang-orang yang tidak dikenal di internet. Namun hal itu justru membuatnya semakin berani untuk bersuara. Dia merasa memiliki tanggung jawab sosial karena dia berasal dari keluarga kaya.
Dia ingin menggunakan hak istimewanya untuk membantu orang-orang seperti Hana. Akane belum tahu sepenuhnya tentang kesulitan hidup yang dialami oleh sahabatnya itu. Dia hanya merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara dunia ini bekerja.
Hana merasa sedikit takut dengan keberanian yang dimiliki oleh Akane. Dia takut jika pihak sekolah mengetahui aktivitas digital Akane tersebut. Sekolah menengah atas ini sangat ketat dalam mengatur perilaku para siswanya. Banyak anak pejabat yang bersekolah di sini dan memiliki pengaruh besar.
Hana tidak ingin posisinya sebagai penerima beasiswa terancam karena masalah politik. Dia harus lulus dengan nilai terbaik agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang bagus adalah satu-satunya tiket untuk keluar dari kemiskinan.
Angin sore berhembus semakin kencang di atap sekolah tersebut. Suhu udara mulai turun dan membuat Hana sedikit menggigil. Hana tidak memiliki jaket tambahan untuk melapis seragam sekolahnya yang tipis. Dia hanya bisa memeluk tas sekolahnya untuk mendapatkan sedikit rasa hangat.
Tas itu sudah sangat tua dan warnanya sudah mulai pudar. Ada beberapa jahitan tangan di bagian sudut tas tersebut agar tidak robek. Hana sangat merawat tas itu karena itu adalah hadiah dari ayahnya sebelum meninggal.
"Aku harus pergi sekarang. Aku ada janji piket di kelas," kata Hana tiba-tiba.
Sebenarnya Hana tidak ada janji piket apa pun di dalam kelasnya. Dia hanya ingin menghindari percakapan yang lebih dalam tentang masalah uang. Dia merasa tidak nyaman jika Akane mulai bertanya tentang kehidupan pribadinya.
Hana sangat menjaga jarak agar tidak ada orang yang tahu alamat rumahnya. Dia tidak ingin Akane melihat apartemennya yang sempit dan berbau lembap. Dia merasa kemiskinannya adalah aib yang harus disembunyikan sampai mati.
Hana berdiri dan merapikan rok seragamnya yang sedikit kusut. Dia menggendong tas sekolahnya dengan posisi yang sangat hati-hati. Dia berjalan menuju pintu kayu yang menghubungkan atap dengan tangga sekolah. Pintu itu sudah sangat tua dan sering mengeluarkan suara derit yang nyaring.
Akane hanya menatap punggung Hana dengan tatapan yang sulit diartikan. Akane merasa ada dinding besar yang selalu dibangun oleh Hana di antara mereka. Dia ingin meruntuhkan dinding itu namun dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Hana berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju arah pintu tersebut. Dia merasa kepalanya sedikit pusing karena perubahan posisi yang mendadak. Pandangannya sempat mengabur selama beberapa detik karena kurangnya asupan energi.
Dia tidak melihat ada sebuah kayu kecil yang melintang di ambang pintu tersebut. Kaki Hana tersangkut pada kayu itu dan dia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Tubuh Hana terjerembap ke arah depan dengan posisi yang sangat keras.
Gubrak ... suara benturan tubuh Hana terdengar sangat nyata di lantai beton.
Hana merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian lutut dan telapak tangannya. Dia mencoba untuk segera bangun karena merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Namun, saat dia bergerak tas sekolahnya terlepas dari genggaman tangannya.
Tas itu jatuh dalam posisi terbuka lebar di atas lantai yang berdebu. Beberapa buku pelajaran dan alat tulis berserakan ke berbagai arah. Hana segera mencoba mengumpulkan barang-barangnya dengan gerakan yang sangat panik.
Sebuah benda kecil jatuh dari kantong dalam tas sekolah Hana tersebut. Benda itu adalah sebuah dompet lipat yang sudah sangat usang dan pudar warnanya. Dompet itu terbuka saat menghantam lantai beton di depan kaki Hana. Posisi dompet itu menghadap tepat ke arah Akane yang sedang berjalan mendekat.
Akane menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba saat melihat pemandangan tersebut. Dia menatap ke arah dalam dompet milik sahabat pintarnya itu dengan saksama.
Bagian dalam dompet itu benar-benar kosong melompong tanpa ada uang sedikit pun. Tidak ada satu keping koin yen pun yang tersisa di dalam sana. Yang ada hanyalah beberapa struk belanja minimarket yang sudah sangat kusut. Ada juga sebuah kartu transportasi yang masa berlakunya sudah habis sejak kemarin.
Hana terdiam kaku di lantai sambil menatap dompetnya yang terbuka tersebut. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang karena rahasianya baru saja terbongkar secara tragis.
Hana menatap wajah Akane dengan tatapan yang sangat ketakutan dan penuh air mata. Akane berdiri mematung sambil menatap dompet kosong itu dengan ekspresi yang sangat serius.
Keheningan yang sangat mencekam mendadak menyelimuti suasana atap sekolah sore itu. Rahasia kemiskinan Hana kini telah terpapar dengan sangat jelas di depan mata Akane.
"A-ah! Dompetku..." suara Hana terdengar sangat gemetar dan hampir menghilang.
Akane tidak segera menjawab ucapan Hana yang penuh dengan kepanikan tersebut. Dia hanya terus menatap dompet kosong itu dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Suasana hangat di antara mereka tadi kini telah berubah menjadi sesuatu yang dingin. Hana merasa seluruh dunianya baru saja berakhir di detik yang menyedihkan ini.
"Hana... dompetmu..." kata Akane dengan nada suara yang sangat dalam dan misterius.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍