Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tepuk Tangan di Balik Tirai Darah
Surga Pertama - Aula Utama Puncak Darah.
Gema sumpah setia dari tiga ratus pahlawan alam bawah masih menggetarkan dinding-dinding inti bintang yang retak. Shen Yu menatap lautan kultivator fana yang berlutut di lautan darah itu dengan kepuasan seorang penakluk. Pasukan pertamanya di Alam Atas telah lahir.
Namun, sebelum Shen Yu sempat memerintahkan mereka untuk menjarah sisa-sisa istana...
Prok. Prok. Prok.
Tiga ketukan tepuk tangan yang sangat pelan, namun berirama tajam, memotong keheningan. Suara itu tidak berasal dari pintu masuk, melainkan dari bayangan pekat di balik pilar gading yang hancur, tepat sepuluh langkah dari singgasana Shen Yu.
Tiga ratus kultivator yang baru saja bersumpah setia langsung melompat berdiri, mencengkeram senjata rampasan mereka. Niat membunuh kembali memenuhi aula.
Lin Xue menyipitkan mata ungunya, pedang es teratainya kembali memancarkan hawa beku mematikan. Dia sama sekali tidak merasakan fluktuasi Qi dari arah bayangan itu.
Shen Yu tidak beranjak dari singgasananya. Ia hanya memutar pandangannya yang hitam legam. Sabit Penebas Langit di pangkuannya berdengung rendah, merespons keberadaan yang menolak hukum ruang.
Dari balik bayangan pilar, sesosok pria melangkah keluar dengan keanggunan seorang bangsawan yang sedang berjalan-jalan di taman musim semi, sama sekali mengabaikan lautan mayat dan darah yang menggenangi sepatunya.
Pria itu mengenakan jubah abu-abu sutra yang menelan cahaya. Wajahnya tertutup sepenuhnya oleh topeng porselen putih tanpa ukiran mata, hidung, atau mulut; hanya ada sebuah garis lengkung melambangkan senyuman yang dilukis dengan tinta hitam pekat.
Ini adalah Tuan Muda Tanpa Wajah (Gongzi Wu Mian), penguasa dari Paviliun Cermin Bayangan.
"Pertunjukan yang sangat indah," suara Tuan Muda itu terdengar, meski bibir porselennya tidak bergerak. Suaranya mengalun langsung ke dalam lautan kesadaran semua orang di ruangan itu, tanpa gender dan tanpa emosi. "Menghapus eksistensi Serigala Besi hanya dengan pukulan tangan kosong... Kaisar Malam, rumor tentang keliaranmu ternyata terlalu meremehkan kenyataan."
"Siapa kau?!" bentak salah satu kultivator di barisan depan, mengarahkan tombaknya.
Tuan Muda Tanpa Wajah tidak menoleh pada kultivator itu. Namun, tombak baja di tangan kultivator tersebut tiba-tiba melengkung dan hancur menjadi serbuk besi, seolah-olah ditelan oleh bayangannya sendiri.
Para kultivator fana menahan napas, melangkah mundur .
Shen Yu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pasukannya menahan diri. Ia menatap lekat-lekat topeng porselen itu.
"Teknik memanipulasi bayangan dan memotong hukum jarak... Paviliun Cermin Bayangan," tebak Shen Yu, matanya memancarkan perhitungan dingin. "Aku dengar kalian adalah penjual rahasia dan pemintal konspirasi. Apa yang dicari seekor tikus penjual informasi di atas lautan mayat ini?"
Tuan Muda Tanpa Wajah tertawa pelan, tawanya menyerupai gemerincing lonceng angin.
"Aku bukan tikus, Shen Yu. Aku adalah penonton yang kebetulan memegang kunci pintu daruratmu," Tuan Muda itu melipat tangannya di belakang punggung. "Kau baru saja memukul sarang lebah terbesar di Surga Pertama."
"Aliansi Asal Leluhur?" Shen Yu mendengus meremehkan. "Biarkan mereka datang. Akan kujadikan Puncak Darah ini kuburan massal mereka."
"Bukan Aliansi," potong Tuan Muda Tanpa Wajah. Garis senyum di topeng porselennya seolah melengkung lebih tajam. "Serigala Besi memiliki Token Segel Jiwa yang terhubung langsung dengan Pengadilan Langit Taiyi. Saat kau meremukkan Inti Binatangnya, token itu pecah di Istana Surga Kesembilan."
Udara di aula itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari badai Kalpa di luar sana.
Tuan Muda melangkah maju satu langkah. "Pusaran Ketiadaan yang kau buat, dipadukan dengan kematian seorang Jenderal tingkat atas, telah memicu Formasi Pemusnahan. Saat ini, seorang Dewa Sejati (True Immortal) dari Pengadilan Langit sedang membelah dimensi, turun secara langsung ke gunung ini."
Lin Xue menoleh menatap Shen Yu. Tiga ratus kultivator fana mulai berkeringat dingin.
Dewa Sejati. Itu adalah ranah kultivasi yang hukum alamnya telah menyatu dengan tulang mereka. Jika Dewa Fana adalah makhluk yang memanipulasi hukum, maka Dewa Sejati adalah bagian dari hukum itu sendiri. Dengan ranah Dewa Fana Tahap Menengah yang baru saja diraih Shen Yu, dan dengan pasukan yang kelelahan, menghadapi entitas seperti itu secara langsung saat ini adalah bunuh diri.
"Berapa lama waktu yang kita miliki?" tanya Shen Yu, nadanya sama sekali tidak memancarkan kepanikan, hanya rasionalitas seorang tiran yang sedang menimbang papan catur.
"Lima puluh tarikan napas," jawab Tuan Muda Tanpa Wajah. "Dan sebelum kau berpikir untuk menggunakan formasi teleportasi gunung ini... Dewa Sejati itu telah mengunci seluruh koordinat spasial dalam radius sepuluh ribu mil. Siapapun yang mencoba terbang keluar atau berteleportasi akan digiling oleh tekanan ruang hingga menjadi kabut darah."
Shen Yu menyipitkan mata hitamnya. "Lalu kau datang ke sini menawarkan apa? Jangan bilang kau datang hanya untuk menonton kami mati."
Tuan Muda Tanpa Wajah merentangkan tangan kirinya. Bayangan dari lengan bajunya memanjang, membelah lautan darah di lantai dan membentuk sebuah lorong gelap yang melingkar, menyerupai rahang raksasa yang terbuka di atas lantai kaca es.
"Lorong Bayangan," Tuan Muda menjelaskan. "Ini bukan teleportasi ruang, melainkan celah di antara lipatan dimensi yang tidak terdeteksi oleh pengunci spasial Pengadilan Langit. Lorong ini bisa membawa kalian dan pasukan baru kalian ini keluar dari jangkauan sang Dewa Sejati, langsung menuju perbatasan Gurun Waktu yang Membeku."
Shen Yu tidak segera bergerak. Ia menatap lorong gelap itu, lalu menatap topeng porselen tersebut.
"Di Alam Atas, tidak ada yang namanya kebaikan tanpa harga. Apa yang kau inginkan sebagai bayarannya, Tuan Muda?"
"Kecerdasanmu selalu menyenangkan, Shen Yu," Tuan Muda Tanpa Wajah mengangguk pelan. "Aku tidak meminta Kristal Dao yang kau rampok. Aku hanya meminta dua hal. Pertama... bawa relik ini."
Tuan Muda melemparkan sebuah kotak kayu hitam kecil. Shen Yu menangkapnya dengan tangan kiri. Kotak itu memancarkan hawa dingin yang sangat aneh, namun terkunci rapat.
"Apa isinya?" tanya Shen Yu.
"Sesuatu yang akan sangat berguna bagi kalian saat berada di Gurun Waktu nanti. Jangan membukanya sampai kalian tiba di sana." Tuan Muda mengangkat satu jarinya. "Sedangkan harga keduaku... adalah sebuah janji. Saat tiba waktunya nanti, kau harus membunuh satu target untukku di Surga Ketiga. Target yang bahkan Paviliun Cermin Bayangan tidak bisa sentuh."
Shen Yu menatap kotak kayu itu, lalu menatap Lin Xue dan tiga ratus pasukannya. Ia tahu ini adalah jebakan konspirasi. Tuan Muda ini sedang menggunakan tangannya sebagai pisau pembunuh.
Namun, jika pisau itu tidak digunakan, ia akan patah diinjak oleh Dewa Sejati dalam waktu kurang dari setengah menit.
"Dua puluh tarikan napas," Tuan Muda mengingatkan, menunjuk ke atas atap aula.
Benar saja, langit-langit gunung mulai bergetar. Awan badai di luar Puncak Darah tidak lagi berwarna kelabu, melainkan berubah menjadi emas menyilaukan. Tekanan yang tidak masuk akal mulai menekan atap istana, membuat beberapa kultivator fana di aula memuntahkan darah hanya karena menahan auranya.
Itu adalah tekanan Dewa Sejati.
"Baik," Shen Yu memasukkan kotak hitam itu ke dalam jubahnya. Ia berbalik menghadap pasukannya. "Masuk ke dalam bayangan itu! Sekarang!"
Tanpa ragu sedikit pun pada titah Kaisar Malam, tiga ratus kultivator itu melompat satu per satu ke dalam lorong bayangan di lantai, menghilang ditelan kegelapan. Lin Xue menyusul di belakang mereka, menatap Shen Yu dengan isyarat agar ia segera menyusul.
Tinggal Shen Yu dan Tuan Muda Tanpa Wajah yang tersisa di aula perjamuan.
Atap kaca es Puncak Darah mulai retak. Cahaya emas menembus celah-celah retakan, membakar udara di dalam aula.
"Semoga perjalananmu menyenangkan, Kaisar Malam," kata Tuan Muda Tanpa Wajah. Bayangan di sekitarnya mulai membungkus tubuhnya, bersiap untuk mundur.
Sebelum Tuan Muda itu menghilang sepenuhnya, Shen Yu menahan bahu pria bertopeng porselen itu dengan tangan kanannya. Ketiadaan secara singkat memutus teknik bayangan sang Tuan Muda, membuat pria itu tertahan sesaat di alam nyata.
Tuan Muda Tanpa Wajah sedikit memiringkan kepalanya, tampaknya terkejut bahwa tekniknya bisa disentuh.
Shen Yu menyeringai sedingin es, mendekatkan wajahnya ke arah topeng porselen tersebut.
"Aku menerima rute pelarianmu dan transaksimu," bisik Shen Yu mutlak. "Tapi ingat ini, Pemintal Konspirasi... Jika kau berani memainkan bidak catur yang melibatkan Ratu-ku... aku tidak hanya akan membunuh targetmu. Aku akan membelah topeng porselenmu dan memaksamu menelan bayanganmu sendiri."
Shen Yu melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lorong bayangan, menghilang ke dalam kegelapan.
Tepat satu detik setelah lorong bayangan itu menutup rapat...
BOOOOOOOOOOM!
Seluruh atap Puncak Darah hancur berkeping-keping. Pilar cahaya emas raksasa menghantam singgasana tempat Shen Yu duduk beberapa detik yang lalu, meratakan seluruh istana dan melelehkan tulang kosmik gunung itu menjadi kawah magma datar dalam satu pukulan mematikan.
💪💪💪