NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Jatuh Cinta Diam-Diam Pada CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cintapertama / CEO
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Djginting

gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENYAP DI LANTAI TIGA PULUH DUA

Suasana di kantor pusat Jakarta terasa sepi dan hambar bagi Alina, Vino, dan para karyawan lainnya yang biasanya terbiasa dengan hiruk-pikuk absurditas di lantai tiga puluh dua. Meskipun tidak ada lagi kegaduhan absurd Bima yang sering kali memecah konsentrasi dengan alasan-alasan keterlambatan yang tidak masuk akal, ada sesuatu yang sangat hilang dari atmosfer kerja mereka. Keheningan yang tercipta justru terasa mencekam, seolah-olah warna dari kantor itu telah dicabut paksa. Namun, roda korporasi tidak pernah berhenti berputar hanya karena satu orang staf operasional dipindahkan ke pesisir utara yang gersang.

Seiring berjalannya waktu—bulan demi bulan yang terlewati dengan ritme kerja yang monoton—Alina dan yang lain perlahan mulai melupakan Bima. Dinamika bisnis yang keras menuntut perhatian penuh, sehingga nama Bima Pradana tidak lagi menjadi topik utama dalam obrolan di pantry maupun di meja rapat. Kesibukan yang luar biasa dan tekanan laporan audit, laporan bulanan, serta beban kerja yang lain membuat bayangan Bima memudar dari ingatan harian mereka. Sosok pria yang dijuluki "Dewa Telat" itu kini hanya menjadi remah-remah memori yang tertutup oleh tumpukan berkas dan angka-angka target perusahaan yang harus segera dicapai.

Meja Bima yang kini rapi tampak mati tanpa kehadirannya, menyisakan kekosongan visual yang kontras dengan meja-meja lain yang penuh dengan kesibukan. Alina seringkali tanpa sadar melirik ke arah kubikel kosong itu saat ia berjalan menuju ruang kerjanya, namun hatinya mulai membeku karena tuntutan profesionalisme yang kejam. Sebagai CEO Wiratama Trading, ia tidak boleh membiarkan perasaan sentimental menghambat produktivitasnya. Ia harus menjaga citra "Ratu Es" yang tidak tergoyahkan, meskipun terkadang ada lubang kecil di sudut hatinya yang merindukan interaksi jujur—walaupun menyebalkan—dari Bima.

Begitu juga Vino dan karyawan yang lain terkadang ingin menyapa Bima yang absurd itu, sekadar untuk mencairkan suasana kantor yang semakin hari terasa semakin kaku dan formal. Vino sering kali menatap kursi kosong di sampingnya, teringat bagaimana Bima biasanya akan datang dengan napas terengah-engah dan cerita tentang "bidadari" yang ia temui di jalan. Tanpa Bima, kantor itu kini hanyalah sebuah mesin besar yang efisien namun kehilangan jiwanya. Keceriaan yang dulu sering dipicu oleh tingkah konyol Bima kini digantikan oleh keseriusan yang melelahkan bagi siapa pun yang berada di sana.

"Kenapa kopi di kantor ini rasanya hambar sekali?" gumam Alina suatu sore saat ia menyeruput cangkir kopinya di dalam ruangan CEO yang kedap suara. Ia merasa ada yang salah dengan racikan kopinya, padahal mesinnya tetap sama dan biji kopinya tetap yang terbaik. Ia tidak menyadari bahwa rasa hambar itu bukan berasal dari lidahnya, melainkan dari suasana hatinya yang mulai kehilangan percikan kegembiraan sederhana yang dulu sering dibawa oleh staf paling ceroboh di perusahaannya. Keheningan di lantai tiga puluh dua ini benar-benar menjadi ujian mental yang berat baginya.

Ia tidak menyadari bahwa di balik keheningan itu, Rijal sedang menjalankan Target Ketiga: Eksploitasi Susi. Rijal Adiwijaya, sang Direktur Pemasaran yang licik, melihat kekosongan ini sebagai peluang emas untuk menancapkan pengaruhnya lebih dalam. Ia tahu bahwa Susi, sang sekretaris yang emosional, adalah pintu masuk terbaik untuk mendapatkan informasi internal Alina. Rijal mulai sering mendekati meja Susi dengan senyum manipulatif yang tampak sangat ramah dan kebapakan, berusaha mencari celah untuk menghancurkan Alina melalui orang kepercayaannya sendiri.

Rijal memberikan perhatian-perhatian kecil yang tampaknya tulus, memuji kinerja Susi yang luar biasa di tengah tekanan kantor, sambil sesekali melemparkan pertanyaan jebakan tentang kebijakan-kebijakan rahasia Alina. Ia memanfaatkan rasa sepi yang dialami Susi semenjak kepergian Bima—sosok yang diam-diam disukai Susi—untuk memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Susi, yang sedang dalam kondisi emosional yang rapuh dan merasa diabaikan oleh kesibukan Alina, mulai terjebak dalam jaring-jaring kata manis Rijal yang penuh dengan bisa beracun.

Di lantai tertinggi gedung Wiratama ini, sebuah konspirasi besar sedang dirajut dengan sangat rapi di balik meja sekretaris.

Sementara Alina sibuk dengan audit dan mencoba membekukan perasaannya terhadap Bima, musuh dalam selimutnya justru sedang menyiapkan serangan mematikan. Keheningan yang dirasakan Alina bukan sekadar karena absennya Bima, melainkan tenang sebelum badai besar melanda kepemimpinannya di Wiratama Trading. Susi yang polos kini menjadi pion utama dalam papan catur yang dimainkan oleh Rijal, yang siap mengorbankan siapa pun demi ambisi menguasai takhta perusahaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!