Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6) KEBENARAN RAYYAN
JEJAK YANG HILANG
Dalam beberapa hari berikutnya, Sea menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari informasi tentang Rayyan. Ia bertanya pada semua teman dan kenalan yang mungkin tahu keberadaan Rayyan, mengunjungi tempat-tempat yang biasanya mereka kunjungi bersama, dan bahkan menghubungi keluarga Rayyan untuk mengetahui apakah ada kabar tentangnya. Namun semua upayanya tidak memberikan hasil apa-apa—Rayyan seolah-olah menghilang tanpa jejak.
Pada hari kelima setelah Rayyan menghilang, Sea memutuskan untuk mengunjungi rumah Rayyan. Setelah mendapatkan izin dari orang tuanya, ia masuk ke kamar Rayyan yang terlihat sangat rapi dan teratur seperti biasanya. Ia melihat meja belajar yang penuh dengan buku dan catatan kuliah, rak buku yang berisi buku-buku kesukaannya, dan tempat tidur yang selalu dirapikan dengan rapi.
Saat ia sedang melihat-lihat sekeliling kamar, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang terletak di sudut meja belajar. Ia mendekati kotak itu dan membukanya dengan hati-hati. Di dalam kotak itu, ia menemukan beberapa foto mereka berdua yang diambil di berbagai tempat—di taman kota, di pantai, di dalam bioskop, dan tentu saja di kantin kampus. Di samping foto-foto itu, ada juga sebuah surat yang tertutup rapat dengan nama Sea yang tertulis di sampulnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sea membuka surat itu dan mulai membacanya:
Untuk Sea yang selalu aku cintai,
Jika kamu sedang membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sana lagi. Aku tahu kamu pasti akan merasa sangat sedih dan bingung mengapa aku menghilang begitu saja tanpa memberi tahu kamu apa-apa. Maafkan aku karena harus melakukan hal ini padamu.
Beberapa bulan yang lalu, aku mendapatkan kabar bahwa aku harus pergi keluar negeri untuk menjalani pengobatan medis yang tidak bisa aku dapatkan di Indonesia. Penyakit yang aku derita sudah cukup parah dan butuh perawatan khusus yang hanya tersedia di luar negeri. Aku tidak memberitahumu tentang hal ini karena aku tidak ingin kamu merasa sedih dan khawatir padaku. Aku ingin kamu selalu bahagia dan fokus pada pendidikan kamu tanpa harus memikirkan masalahku.
Janjiku untuk selalu bertemu denganmu di kantin setiap hari adalah cara aku untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersamamu sebelum aku pergi. Aku tahu bahwa aku telah menyakiti perasaanmu dengan tidak menepati janjiku dan menghilang begitu saja, tapi aku berharap kamu bisa memahami alasan yang aku miliki.
Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini, Sea. Kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku dan telah membuat hidupku menjadi lebih berarti. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dan melanjutkan cerita cinta kita yang belum selesai.
Jangan pernah berhenti untuk menjadi dirimu sendiri yang luar biasa itu. Tetaplah bahagia dan jangan pernah lupakan aku.
Dengan cinta yang tak terbatas,
Rayyan
Setelah selesai membaca surat itu, air mata sudah mengalir deras di pipi Sea. Ia menangis sambil memeluk foto-foto mereka berdua dengan erat. Ia merasa sangat sakit hati mengetahui bahwa Rayyan telah menyembunyikan masalah besar seperti itu darinya. Namun pada saat yang sama, ia juga merasa bangga pada Rayyan yang telah berjuang sendirian tanpa mengganggu kehidupannya.
Ia menyimpan surat dan foto-foto kembali ke dalam kotak dengan hati-hati. Kemudian ia berdiri dan menatap sekeliling kamar Rayyan dengan mata yang sudah mulai tenang. Ia tahu bahwa sekarang ia harus kuat dan memberikan dukungan pada Rayyan meskipun mereka berada jauh satu sama lain.
Setelah keluar dari rumah Rayyan, Sea langsung pulang ke rumahnya. Ia mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan panjang untuk Rayyan meskipun ia tahu bahwa pesan itu tidak akan pernah sampai ke tangan Rayyan. Dalam pesan itu, ia menyampaikan betapa cintanya pada Rayyan, berharap agar pengobatannya berjalan dengan lancar, dan memastikan bahwa ia akan selalu menunggunya kembali.
"Meskipun kamu jauh dari sini, Rayyan, cintaku padamu tidak akan pernah berubah," bisik Sea sambil menekan tombol kirim pada pesan yang tidak akan pernah terkirim. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menunggu Rayyan dengan sabar dan selalu menjaga kenangan indah yang mereka miliki bersama.
MENUNGGU DENGAN HARAPAN
Seiring berjalannya waktu, Sea belajar untuk hidup tanpa kehadiran Rayyan di sisi nya. Ia tetap pergi ke kampus setiap hari, mengikuti kuliah dengan baik, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Namun setiap hari jam kuliah siang, ia selalu datang ke kantin dan duduk di meja yang biasa mereka tempati bersama Rayyan. Kadang-kadang ia hanya duduk di sana selama beberapa menit, melihat ke arah pintu kantin dengan harapan melihat sosok pria yang selalu ia tunggu. Kadang-kadang ia juga memesan makanan kesukaan Rayyan dan meninggalkannya di meja selama beberapa saat sebelum membawanya pulang atau memberikannya kepada teman-teman yang membutuhkan.
Teman-teman dan keluarga Sea mencoba untuk membantunya melupakan Rayyan dan mulai hidup baru. Mereka memperkenalkannya pada beberapa pria lain yang baik dan berbakat, namun Sea selalu dengan lembut menolaknya. Ia tahu bahwa hatinya hanya milik Rayyan dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya.
Setelah enam bulan berlalu, kehidupan Sea mulai kembali seperti biasa. Ia berhasil menyelesaikan semua tugas kuliahnya dengan baik dan bahkan terpilih sebagai salah satu mahasiswa terbaik di fakultas kedokteran yang ia tempuh. Namun meskipun begitu, ia tidak pernah melupakan Rayyan dan selalu berdoa agar pengobatannya berjalan dengan lancar dan ia bisa segera kembali ke Indonesia.
Pada suatu hari, Sea datang ke kantin seperti biasa setelah selesai kuliah siang. Ia duduk di meja yang biasa mereka tempati dan mulai makan makanan yang ia pesan sendiri. Tiba-tiba, ia merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Ia menoleh dengan lambat dan matanya langsung membesar dengan tidak percaya. Di depannya berdiri sosok pria tinggi dengan rambut hitam bergelombang yang selalu ia impikan untuk melihat kembali—Rayyan.
"Sea..." panggil Rayyan dengan suara yang lembut namun jelas. Wajahnya menunjukkan senyum hangat yang sama seperti dulu, meskipun terlihat sedikit lebih kurus dan pucat akibat pengobatan yang ia jalani.
Sea tidak bisa berkata apa-apa. Air mata mulai mengalir deras di pipi nya saat ia melihat wajah pria yang cintainya itu berdiri di depannya setelah sekian lama tidak bertemu. Tanpa berpikir dua kali, ia berdiri dan berlari ke arah Rayyan untuk memeluknya dengan erat.
"Kamu kembali..." bisik Sea dengan suara yang bergetar karena emosi.
Rayyan mengangguk dan memeluknya kembali dengan erat. "Aku kembali, sayangku. Aku sudah selesai menjalani pengobatan dan dokter bilang kondisiku sudah membaik. Aku tidak bisa menunggu lama lagi untuk kembali melihatmu."
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan dan duduk bersama di meja yang biasa mereka tempati. Rayyan mulai menceritakan tentang pengobatan yang ia jalani di luar negeri, tentang betapa sulitnya hidup tanpa kehadiran Sea di sisi nya, dan tentang betapa rindunya ia pada kantin kampus yang selalu menjadi tempat mereka bertemu.
Sea hanya diam dan mendengarkan cerita Rayyan dengan seksama. Ia melihat wajah Rayyan yang ia cintai dengan penuh cinta dan rasa syukur. Ia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya ia saat ini—Rayyan sudah kembali dan mereka bisa bersama lagi seperti dulu.
"Maafkan aku karena tidak memberitahumu tentang penyakitku dan menghilang begitu saja," ucap Rayyan dengan suara penuh rasa malu. "Aku hanya tidak ingin kamu merasa sedih dan khawatir padaku."
Sea menggeleng dan mengambil tangan Rayyan dengan lembut. "Tidak apa-apa, Rayyan. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu kembali. Aku hanya senang kamu sudah kembali dan kondisimu sudah membaik."
Rayyan tersenyum dan mencium tangan Sea dengan lembut. "Aku berjanji tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa lagi darimu, sayangku. Kita akan menghadapi segala sesuatu bersama-sama dari sekarang ini."
Sea mengangguk dan tersenyum bahagia. Ia tahu bahwa masa depan mereka mungkin tidak akan selalu mudah, namun dengan cinta dan dukungan yang mereka miliki satu sama lain, mereka siap menghadapi segala sesuatu yang ada di depan mereka.