Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. Lima
Bradley memejamkan mata, menarik napas dalam seolah sedang menghirup sisa-sisa kewarasannya. "Ceritamu menyedihkan, Meg. Sebagai agen, seharusnya kau lebih becus mencari tahu tentang orang yang kau sayangi."
Megan mendengus sinis. "Apa yang harus ku cari dari orang yang sudah damai di tempatnya, Brad?”
Tawa Bradley pecah, tawa pahit yang terdengar seperti ejekan bagi dunia Megan. "Suatu hari kau akan menemukan faktanya, Meg. Dan saat itu terjadi, aku harap kau masih bisa berdiri tegak."
"Kau berbicara seolah kau tahu segalanya!"
"Aku tahu apa yang tidak diketahui oleh agen amatir sepertimu. Insting intelijenmu tidak lebih baik dari insting mafiaku, Meg. Daripada sibuk memburuku, lebih baik kau mulai menggali lubang di sekitar orang-orang terdekatmu."
"Jangan coba mengambinghitamkan orang lain, Brad. Aku tidak bodoh!" Megan menyambar cokelat hangat di depannya, menyesapnya dengan kasar.
Sementara itu, Bradley memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan, bukan tatapan bos mafia pada mangsanya, melainkan tatapan pria yang sudah lama mengenal setiap inci jiwa wanita di depannya, padahal mereka baru bertemu di malam kelam itu.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja menyala. Nama Sean muncul di layar. Sebelum tangan Megan sempat menyentuhnya, Bradley sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan kilat.
"Kembalikan, Brad! Kau terlalu jauh ikut campur!"
"Jangan berbicara dengan pria lain saat kau bersamaku tanpa izinku," desis Bradley dingin, matanya menatap layar ponsel itu dengan kebencian.
Megan ternganga. "Bahkan kita tidak saling mengenal, Brad! Dia bukan orang lain, dia tunanganku!"
"Aku tidak peduli," Bradley mencondongkan tubuh, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Masa depanmu ada di genggamanku. Kepemilikanku mutlak atas dirimu, Megan. Dan aku yakin, hingga detik ini kau masih bisa merasakan jejakku di tubuhmu."
Wajah Megan memanas, antara malu dan marah. "Itu karena kau memaksaku, Brad! Bukan karena aku menginginkanmu. Kau sakit!"
"Ya. Sepuluh tahun aku sakit, Meg. Dan aku butuh pelampiasan."
"Kenapa harus aku?!"
Tanpa niat memberikan penjelasan, Bradley mencengkeram lengan Megan dengan paksa. Ia menyeret Megan keluar restoran, mengabaikan tatapan orang-orang, lalu mendorongnya dengan kasar ke kursi penumpang SUV-nya.
"Kau gila, Brad! Kau mau membawaku ke mana? Aku harus kembali ke kantor!" teriak Megan frustrasi.
Bradley tak bergeming. Ia melajukan mobilnya, menerobos salju tipis London dengan kecepatan tinggi.
Satu jam kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah besar yang terisolasi di pinggiran kota. Megan menyapu sekeliling dengan cemas. Ia tidak tahu berada di mana. Yang ia yakini, Bradley tidak akan membunuhnya sekarang, karena jika itu tujuannya, Megan pasti sudah tinggal nama sejak semalam. Tapi kenapa pria ini seolah memegang kendali penuh atas hidupnya dalam waktu sesingkat ini?
Begitu pintu mobil dibuka, seorang pria berjas hitam menyambut mereka dengan hormat. "Selamat datang, Tuan."
Bradley hanya mengangguk sekilas. Ia kembali menyeret Megan masuk, menaiki anak tangga hingga berhenti di depan sebuah kamar mewah yang beraroma kayu cendana dan kemewahan yang menyesakkan. Tanpa aba-aba, ia mendorong Megan hingga wanita itu terjerembab di atas ranjang king size miliknya.
"Apa maumu, Brad?!" teriak Megan.
"Diam, Meg. Nikmati saja hidupmu saat ini sebelum kenyataan pahit menghantammu dan kau menyesali semuanya."
Megan mencoba bangkit, ia mendorong dada bidang Bradley dengan seluruh tenaganya. Ia memukul dada pria itu berkali-kali, melampiaskan seluruh emosi yang menyesak di dadanya. "Katakan apa salahku! Jika ini karena aku agen yang ditugaskan menangkapmu, kenapa kau memperlakukanku seolah kau memiliki dendam pribadi denganku?!"
Ponsel di saku Megan terus bergetar. Satu... dua... sepuluh panggilan tak terjawab dari Sean dan nomor kantor London Station. Megan melirik ponselnya dengan panik, membayangkan Sean yang pasti sedang mengerahkan tim untuk mencarinya.
"Ponselmu sangat berisik, Sayang," Bradley meraih ponsel Megan, lalu dengan dingin menekan tombol tolak. Ia melemparkannya ke sudut ranjang.
"Bradley! Itu tunanganku! Mereka akan
melacak tempat ini!"
"Biarkan mereka mencoba," Bradley menindih tubuh Megan di atas ranjang, mengunci kedua tangannya. "Mari kita lihat, seberapa cepat pahlawanmu itu bisa menemukanmu di sarang monster.”
***
Bradley kembali menatap Megan dengan tatapan menguasai. Ponsel Megan kembali berdering, menampilkan nama Sean. Dengan seringai di wajahnya, Bradley mengangkat panggilan dan memberikannya pada Megan, tapi tetap menahan Megan dengan kuat.
"Bicaralah pada tunanganmu, sayang. Katakan kau di mana sekarang," bisik Bradley, suaranya pelan dan mengancam.
Megan mengambil ponsel dengan tangan gemetar.
"Meg? Megan! Kau di sana?"
Suara Sean terdengar dari ponsel, penuh kekhawatiran.
"Ya Tuhan, akhirnya kau mengangkatnya! Kau di mana? Aku sudah mencarimu kemana-mana. Meg, jawab aku!"
Megan mencoba bicara, tapi suaranya tersendat. "S-Sean..."
"Meg? Suaramu kenapa? Kau sesak napas? Apa kau terluka?"
Sean semakin panik.
"Katakan padaku kau di mana, aku akan menjemputmu sekarang juga! Meg, bicaralah lebih jelas!"
Bradley tertawa pelan, sedangkan tangannya masih menyusuri setiap inci tubuh Megan, matanya berkilat melihat Megan sekuat tenaga menahan suara yang tak seharusnya agar tidak lolos dari mulutnya.
"umhhh..." Megan menutup mulutnya, tapi Brad lebih dulu menahannya.
"Megan? Suara apa itu? Kau ada di mana?!"
Sean berteriak, suaranya kini terdengar takut dan bingung.
"Siapa yang bersamamu? Aku mendengar suara lain, Meg! Jawab aku!"
"Ahh..Aku... aku baik-baik saja, Sean..." Megan berusaha menguatkan suaranya. "Aku... hanya butuh... waktu. Jangan... jangan mencariku."
"Tidak mungkin kau baik-baik saja dengan suara seperti itu, Megan Ford! Kau terdengar seperti..."
Sean terdiam, ada kebingungan yang menyakitkan dalam suaranya.
"Meg, tolong... katakan sesuatu yang masuk akal. Aku di depan apartemenmu sekarang dan kau tidak ada di sini!"
Bradley merebut ponsel dari Megan. Ia tidak bicara, hanya membiarkan Sean mendengar suara napas Megan yang berat dan tak teratur.
"Meg? Megan! Jawab aku!"
Bradley mematikan sambungan.
"Lihat betapa menderitanya dia, Meg," bisik Bradley dengan menggigit pelan telinga Megan.
Bradley melempar ponsel Megan hingga benda itu tergeletak tak berdaya di sudut karpet, sama seperti pemiliknya. Keheningan kembali menyergap, hanya menyisakan suara napas Megan yang tersengal dan detak jantungnya yang berpacu liar melawan logika.
"Kau dengar itu, Meg? Pahlawanmu sedang kebingungan mencari separuh jiwanya yang kini sedang... bercengkerama dengan orang yang mereka benci," bisik Bradley.
Megan memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir, bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena rasa hina yang luar biasa.
Bagaimana bisa ia, seorang agen rahasia yang dilatih untuk bertahan di bawah siksaan paling kejam, justru kehilangan kendali hanya karena sentuhan pria ini? Dan yang lebih gila lagi, suara Sean yang penuh kasih tadi justru terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya.
Setiap sentuhan Bradley adalah pengingat akan pengkhianatannya. Pengkhianatan pada ayahnya, dan pada pria yang kini mungkin sedang mengemudikan mobilnya dengan panik menyusuri jalanan London.
"Bunuh aku saja, Brad... kumohon," lirih Megan, suaranya pecah.
Bradley berhenti sejenak. Ia menatap wajah Megan yang basah, menatap kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Ada kilat kepuasan yang gelap di matanya, tapi juga ada sisi hati yang tak tega.
"Mati itu terlalu mudah, Sayang. Aku ingin kau hidup... hidup dengan kenyataan bahwa kau menginginkan monster yang seharusnya kau benci."
Dan saat itulah, pertahanan Megan runtuh. Megan berhenti meronta. Ia berhenti melawan. Bukan karena ia mencintai Bradley, tapi karena ia lelah berperang dengan tubuhnya sendiri yang mulai memberikan respons pengkhianatan.
Di bawah kendali Bradley, Megan merasa jiwanya perlahan meninggalkan tubuhnya. Ia membenci setiap embusan napasnya, ia membenci detak jantungnya yang justru menyambut sentuhan Bradley. Pikirannya berteriak tentang Sean, tentang lencana CIA-nya yang kini seolah tertawa mengejek di markas Langley.
Aku adalah pengkhianat. Aku bukan lagi agen. Aku hanya... mainan Bradley Brown. Batin Megan getir.
Bradley tersenyum miring saat merasakan perlawanan Megan menghilang, digantikan oleh kepasrahan yang pahit. "Begitu lebih baik, Kelinci manis. Terimalah takdirmu. Makan aku akan lebih lembut padamu."
Bradley mencium kening Megan dengan lembut, seolah melupakan siapa gadis yang kini menangis di bawah kungkungannya.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭