Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Neraka
Pukul dua siang, Vera yang baru saja pulang.
Merasa kaget saat kakaknya, memintanya untuk segera mengganti pakaian. Ia iya tidak menjelaskan apapun, segera mungkin Diana mengajak adiknya pergi dari rumah itu tanpa pamit karena Hendra dan Sera sedang pergi mengurus perjodohan yang batal.
" kak, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kita perginya sekarang?" tanya Vera yang merasa heran.
" mereka mengusir kita, Kakak sudah capek hidup di bawah tekanan. Jadi Kakak lawan saja tante Sera." ucap Diana
" lalu kita mau pergi ke mana sekarang?" tanya Vera merasa sedih.
" sampai kamu lulus, kita cari kontrakan yang murah. Kakak akan mencari pekerjaan, hidup kita akan damai tanpa suara mereka." ucap Diana yang saat ini sedang menggendong tas besar.
" Tapi aku lapar kak"
" Sabar sebentar, kita akan mencari warung makan, tapi warung makan yang murah saja karena kita harus mengirit."ucap Diana.
Bukannya perhitungan, Diana tidak ingin menghabiskan uang sebelum ia mendapatkan pekerjaan. begitu berat beban yang di pikul, tapi ia tetap semangat menjalani hidup yang terus berjalan.
Sementara, di rumah pak Brata saat ini ada Hendra dan Sera yang memaksakan perjodohan harus tetap berjalan sesuai rencana, karena Lina sudah terlanjur berjanji kepada Sera akan menikahkan Rehan dengan anaknya.
Eka juga ada di sana, gadis ini memasang raut wajah sedih seolah ia yang paling tersakiti. Rehan juga ada di sana, pria itu hanya sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan keluarga Sera.
" jeng Lina , jangan lupa dengan janji kita."ucap Sera yang menekan.
" janji untuk menikahkan anak-anak kita." jelasnya.
" Aku, tidak melupakannya serah, Anaknya sendiri yang menolak." sahut Lina lalu menoleh ke arah Rehan.
" paksa dong, biar bagaimanapun jeng Lina sudah berjanji."
" apa yang harus di paksa? " tanya Rehan Dengan beraninya.
" Aku,bukan anak kecil lagi yang harus mengikuti perjodohan kolot seperti ini. Lagipula Aku tidak suka dengan anak tante, aku tidak cinta dan jangan pernah memaksaku."
" Apa kurangnya dari anak tante ini? Eka anak yang cantik dan pintar. kamu harus ikuti perjodohan ini jika tidak, mamamu akan ingkar janji." ucap Sera yang selalu menekan dengan kata janji.
" Aku tidak peduli, yang menikah aku, yang menjalankani rumah tangga adalah aku, bukan kalian. jodoh urusanku bukan urusan kalian jadi jangan ikut campur." tegas Rehan
" Aku sudah memilih pilihan hati yang lain." ucapnya lalu pergi beranjak dari ruang tamu.
Eka tercengang melihat sikap dingin Rehan, lelaki itu tak sedikitpun menoleh ke arahnya.
**********
" aku merasa kita baru saja bebas dari penjara." ucap Vera yang saat ini membereskan pakaiannya.
gadis ini tidak memberitahu kakaknya, jika tadi pagi Rehan menemui dirinya. biarlah menjadi rahasia daripada menambah beban pikiran Diana.
bertempat di sebuah kontrakan yang sederhana, tidak seberapa besar hanya satu ruangan dan satu kamar mandi di dalamnya.
satu bulan empat ratus lima puluh ribu. Sudah di bayar Diana untuk dua bulan ke depan.
" untuk sekarang,kita tidur di karpet dulu ya.?" ucap Diana pada adiknya.
" iya kak." jawab Vera.
Kedua gadis ini, di saat ayah kandung mereka tidur di kasur empuk dan makan makanan enak mereka justru tidur d karpet dengan Bantal satu di bagi dua.
" setelah lulus sekolah,kamu langsung daftar kuliah. Kamu kan pintar, selalu juara kelas,sudah pasti akan mendapatkan beasiswa." ucap Diana yang berharap adiknya memiliki pendidikan tinggi. Tidak seperti dirinya yang meskipun pintar. Sekolah menengah atas saja tidak lulus.
" kuliah butuh uang yang banyak, dari mana kita mendapatkannya?"
" Biarlah,kakak yang memikirkannya, yang penting kamu sekolah yang baik, Vera, ada seorang ayah yang harus kita buktikan jika kita bisa hidup tampa harus memeras keringatnya." ucap Diana yang setiap kali mengingat ayahnya merasakan sakit hati.
Vera hanya diam saja, ia paham dengan tujuan kakaknya, dalam hatinya merasa tidak tega. Kerana selama ini Diana selalu mementingkan dirinya.
" kita harus belajar hidup prihatin, menahan diri untuk tidak membeli barang seperti yang orang lain miliki, nanti. Akan ada masanya kita bisa membeli apa yang kita inginkan.
jangan berkecil hati, lebih baik menderita sekarang daripada tua kita menderita." ucap Diana yang menasehati adiknya
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.