"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Keheningan di Kaki Fuji
Mobil hatchback tua yang kami naiki turun pelan meninggalkan aspal mulus jalan tol, memasuki jalanan setapak yang dikelilingi barisan pohon cedar yang menjulang tinggi.
Cahaya lampu depan kami tampak lemah, seolah-olah ditelan oleh kabut tebal yang menyelimuti wilayah Shizuoka malam ini. Namun, di balik kaca spion, jalanan di belakang kami tampak kosong.
Sunyi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, detak jantungku mulai melambat.
"Akhirnya kita selamat juga!," bisik Mona.
Suaranya terdengar sangat kelelahan, dan jari jarinya yang masih mencengkeram kemudi tampak sedikit bergetar.
"Cari tempat untuk berhenti, Mon. Mesinnya sudah mulai berasap," sahut Ken sambil menunjuk jarum suhu di dasbor yang sudah masuk ke zona merah.
Mesin tua itu telah dipaksa bekerja melampaui batasnya.
Kami menemukan area yang terlindung pepohonan rimbun di dekat reruntuhan kuil kecil yang sudah tak terpakai.
Di sana berdiri sebuah gubuk kayu tua yang dulunya mungkin tempat peristirahatan para peziarah.
Sayuri dan Ken membantuku keluar dari mobil. Rasa perih di punggungku langsung tersengat udara pegunungan yang sangat dingin dan segar jauh berbeda dengan udara Shinjuku yang penuh polusi.
Setiap gerakanku memicu rasa sakit, namun setidaknya untuk saat ini, tidak ada mata mata The Eraser yang mengejar kami.
Ken segera membuka kap mesin mobil, membiarkan uap panas mengepul ke langit malam yang dingin.
Sementara itu, Mona menyerahkan kotak P3K kepada Sayuri, dan Miyuki mulai membersihkan bagian dalam gubuk yang berdebu agar layak ditempati.
"Buka bajumu, Alexian," pinta Sayuri lembut.
Tangannya sedikit gemetar saat menyiapkan perban dan antiseptik.
"Oh... hmm.., oke," gumamku sambil perlahan melepas pakaian.
"Ssshh!" Aku mendesis, refleks menegang saat antiseptik itu menyentuh luka terbuka di punggungku. Rasa perihnya seperti disayat ulang.
"Maaf, Alexian..." lirih Sayuri dengan nada penuh sesal.
Tapi, kalimatnya terhenti saat aku mendaratkan telunjuk di bibirnya, menatapnya dalam-dalam.
"Lanjutkan saja. Tidak sesakit itu, kok," ucapku, mencoba menenangkan hatinya yang tampak lebih terluka dibanding punggungku.
Akan tetapi, saat Sayuri mulai mencabut serpihan kaca kecil satu per satu, ia mulai terisak.
Air matanya jatuh, membasahi tangannya sendiri. Ia tak kuasa melihat punggungku yang hancur demi menjadi tameng untuknya dan Miyuki.
"Sayuri, kenapa nangis?" tanyaku terkejut.
"Kau mengorbankan dirimu, Alexian... hanya untuk melindungi kami," jawabnya pelan sambil menyeka air mata dengan punggung tangan.
"Aku merasa sangat bersalah. Seharusnya aku tidak menyeret kalian ke dalam masalah ini."
"Hmm...Gapapa kok. Sudah tugas pria sepertiku untuk melindungi kalian," jawabku, mencoba sedikit menggoda untuk mencairkan suasana.
"Masa kena serpihan kaca saja aku menyerah? Aku kan kuat."
Sayuri menundukkan kepala, matanya masih terpaku pada luka-luka kemerahan itu.
"Tapi ini parah, Alexian. Apa kau tidak merasa kesakitan..."
"Hehe, Dikit.... tapi Jangan khawatir, aku punya daya tahan yang hebat," ucapku, mengusap air matanya.
"Hmm... iya, deh. Terima kasih banyak, ya," ucapnya lagi sembari kembali mengoleskan obat dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati, seolah-olah aku terbuat dari kaca yang mudah pecah.
"Sama-sama, Sayuri," balasku dengan nada yang paling lembut yang bisa kuberikan.
Setelah Sayuri selesai mengobati punggungku, Ken yang sedari tadi sibuk mengecek mobil akhirnya masuk ke dalam gubuk.
"Lex, Ku akui... caramu melindungi Sayuri dan Miyuki tadi benar-benar gila! Kau seperti monster," ucap Ken seraya duduk di sampingku.
Matanya menatap luka di punggungku dengan tatapan bersalah.
"Tapi jujur, aku sangat berterima kasih padamu."
"Iya, Ken benar. Kau hebat, Lex. Kau rela mengorbankan dirimu untuk melindungi kami semua," timpal Mona, suaranya sedikit bergetar seolah sedang menahan air mata agar tidak jatuh.
Aku terkekeh pelan meski rasanya perih.
"Hehe...Gapapa, Mona. Dalam perjalanan yang penuh ancaman seperti ini, kita butuh pertahanan yang kuat, kan?" tanyaku sambil melirik mereka berdua.
"Lagipula kita sudah aman sekarang. Kita berhasil menghilang dari radar mata-mata The Eraser," lanjutku dengan suara yang masih agak tertahan menahan sakit.
"Justru aku yang harus berterima kasih pada kalian, Ken, Mona. Aku tahu kalian ikut terseret dalam kekacauan ini karena mimpiku malam itu. Terima kasih sudah mau jadi sahabatku dan membantuku sejauh ini, padahal kita saja baru kenal dua tahun lalu." ucapku menunduk menahan air mata yang mau jatuh.
Mendengar kata-kataku, Ken dan Mona tiba-tiba menerjang dan memelukku erat.
"Sial... Shhh! Tunggu! Jangan kuat-kuat peluknya! Lukaku makin sakit!" teriakku dengan mata seolah ingin keluar dari tempatnya, rasanya jantungku mau copot karena tekanan di punggungku.
"Eh... Sorry, Lex! Refleks!" ucap mereka berdua serentak sambil buru-buru melepaskan pelukan dengan wajah tanpa dosa.
"Kita ni sahabat, tahu!" gerutu Ken sambil nyengir.
"Hahaha... Betul...betul..betul...," sahut Mona sambil menghapus sudut matanya.
Kami semua pun tertawa bersama. Di tengah gubuk tua yang dingin dan gelap di kaki Gunung Fuji itu, kehangatan persahabatan kami terasa jauh lebih nyata daripada ancaman apa pun yang ada di luar sana.
Di sela-sela kabut, puncak Gunung Fuji terlihat samar dari jendela gubuk. Di bawah cahaya bulan, gunung itu berdiri tegak sangat indah.
"Indah sekali..." gumam Sayuri pelan.
Ia menengadah, menatap butiran kabut yang memantulkan cahaya perak bulan.
"Terima kasih banyak ya, Alexian," bisik Sayuri pelan.
Ia menyeka sisa air matanya, lalu memeluk lenganku erat.
"Kau terluka begitu parah demi aku dan Miyuki."
"Hei... lihat aku," bisikku pelan sambil menyentuh lembut wajahnya, memintanya menatapku.
"Perjalanan kita baru dimulai, kan? Ini hanya luka biasa, rasa sakitnya pun akan berkurang nanti. Justru akan jauh lebih sakit jika aku, Ken, Mona, dan adikmu gagal membawamu pulang. Bayangan kegagalan itu akan jauh lebih menghantui kami daripada luka fisik ini," ucapku sambil mengelus pipinya dengan senyum tulus.
"Prioritasku adalah keselamatan kalian berdua," lanjutku, lalu dengan berani mengecup keningnya perlahan.
Sayuri tersipu, wajahnya merona di bawah temaram cahaya bulan.
"Terima kasih, Alexian," sahutnya dengan senyum yang jauh lebih manis dari sebelumnya.
"Alexian, kenapa kau melakukan semua ini untukku?" tanyanya lagi, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam.
"Kau mempertaruhkan pekerjaanmu, sahabatmu, bahkan nyawamu... untuk seseorang yang selama ini hanya kau temui di dalam mimpi."
Aku terdiam sejenak, menatap pita jingga di pergelangan tangannya, satu-satunya ikatan yang menghubungkan dua dunia kami.
"Awalnya, Aku pun gak tau. Mungkin karena penasaran, atau mungkin karena aku merasa kesepian di Kota sibuk ini. Tapi, saat aku melihatmu di jembatan itu... saat kau menatapku seolah-olah aku adalah satu-satunya harapanmu... aku sadar bahwa menyelamatkanmu adalah caraku untuk menyelamatkan diriku sendiri."
Sayuri tersenyum haru. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku dan menggenggam tangan kananku dengan sangat erat.
"Kau tahu? Di 'Sisi Lain', aku selalu merasa seperti sebuah lukisan yang belum selesai. Tapi setiap kali kau memegang tanganku, aku merasa garis-garis tubuhku menjadi utuh kembali. Terima kasih sudah menjemputku."
Di luar gubuk, aku bisa mendengar suara tawa kecil Ken yang sedang menggoda Mona tentang cara menyetirnya yang "bar-bar", sementara Miyuki mulai menyalakan api unggun kecil menggunakan kayu-kayu kering di dekat kami.
Untuk sesaat, dunia di luar sana The Eraser, pengejaran maut, dan rahasia organisasi terasa sangat jauh.
Kami hanya lima orang yang sedang berteduh di kaki gunung, mencari kehangatan di tengah dinginnya malam yang penuh misteri.
Tapi, aku tahu ketenangan ini adalah hadiah yang singkat. Esok, jalan menuju Kyoto masih panjang, dan rahasia di dalam brankas kakek Miyuki masih menunggu untuk dipecahkan.
Aku memejamkan mata, menghirup aroma tanah basah dan wangi rambut Sayuri. Malam ini, di bawah bayang-bayang Gunung Fuji, aku berjanji pada diriku sendiri.
Apapun yang terjadi di Kyoto nanti, fajar yang sedang kami tunggu tidak akan pernah kembali menjadi senja yang abadi.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.