Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 Detik yang Mengubah Segalanya
Bunyi itu datang tanpa aba-aba.
Logam beradu. Kaca pecah. Dunia berputar.
Tubuh Elena terhantam ke depan saat sabuk pengaman itu menahan dadanya dengan kasar. Kepalanya membentur sandaran, lalu gelap menyambar dalam sekejap—bukan pingsan, lebih seperti kehilangan orientasi. Ia masih sadar. Terlalu sadar.
Suara klakson memekakkan. Orang-orang berteriak. Aroma karet terbakar bercampur bensin menusuk hidungnya.
Elena menarik napas panjang, memaksa pikirannya tetap jernih. Tangannya gemetar, tapi ia menahannya. Ia membuka mata—lampu merah masih menyala di depan. Mobil di belakangnya ringsek, kapnya terangkat seperti mulut yang menganga.
Seseorang mengetuk kaca. “Mbak! Mbak bisa dengar?”
Elena mengangguk pelan. “Saya… bisa.”
Pintu dibuka. Udara dingin menerpa wajahnya. Ia keluar dengan bantuan dua orang. Kakinya lemas, tapi ia berdiri. Selalu berdiri. Itu kebiasaannya.
Di seberang, ia melihat mobil hitam itu—berhenti beberapa meter jauhnya. Mesinnya hidup. Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang mendekat.
Lalu mobil itu pergi.
Elena mencatatnya. Dalam hati.
******
Ambulans datang cepat. Terlalu cepat. Petugas bergerak rapi, efisien. Elena duduk di tandu, menatap langit yang memutih. Sirene melolong, memotong udara.
“Nama?” tanya paramedis.
“Elena Rowena.”
“Ada pusing? Mual?”
“Sedikit.”
Ia tidak menyebutkan kilatan cahaya yang muncul di pinggir pandangannya. Ia tidak menyebutkan rasa berat di belakang mata. Ia menunggu. Selalu menunggu.
Ponselnya bergetar. Marcus.
Ia tidak mengangkatnya.
*******
Rumah sakit dingin dan terang. Terlalu terang. Elena dibawa masuk, dipindahkan, ditanya, dipindai. Kata-kata dokter terdengar seperti air yang mengalir—ia menangkap maknanya, bukan nadanya.
“Benturan di kepala.”
“Observasi.”
“Risiko sementara pada penglihatan.”
Sementara.
Marcus akhirnya muncul. Wajahnya cemas—terlalu tepat. Tangannya menggenggam tangan Elena.
“Kau membuatku khawatir,” katanya pelan.
Elena menatapnya. Tatapannya lurus. Tenang.
“Aku baik-baik saja.”
Marcus menghela napas. “Syukurlah.”
Di belakangnya, Selene berdiri. Wajahnya pucat. Matanya berkabut oleh sesuatu yang bukan sekadar cemas.
“Ini mengerikan,” kata Selene. “Kau harus istirahat total.”
Elena mengangguk tipis. “Tentu.”
******
Pemeriksaan lanjutan dilakukan. Lampu kecil diarahkan ke matanya. Elena berkedip—lalu berhenti.
Gelap menyebar perlahan, seperti tirai yang ditarik setengah.
“Apa yang kau lihat?” tanya dokter.
Elena menahan napas. Ia melihat bayangan. Siluet. Cahaya yang pecah. Ia bisa mengatakan kebenaran—dan melihat apa yang akan terjadi.
Atau—
“Tidak banyak,” jawabnya tenang. “Seperti… kabur.”
Ruangan hening.
Marcus menegang. Selene menutup mulutnya dengan tangan.
Dokter mencatat. “Kita perlu observasi. Bisa sementara. Bisa lebih lama.”
Elena menoleh sedikit. Ia menangkap pantulan wajah mereka di kaca—Marcus yang berusaha tetap tenang, Selene yang… lega. Sekejap saja. Tapi cukup.
Di detik itu, Elena tahu.
Ini bukan kecelakaan biasa.
Ini peringatan.
Atau percobaan.
Dan jika dunia mengira ia tidak bisa melihat—
maka biarlah.
Elena memejamkan mata, membiarkan tirai itu turun sedikit lebih jauh.
Ia akan melihat segalanya.
Dalam gelap.
Perawat membantu merapikan selimut di tubuhnya. Langkah kaki bergema menjauh, meninggalkan Elena dalam sunyi yang penuh dengan bisikan. Dari balik kelopak mata yang tertutup, ia masih menangkap cahaya—cukup untuk melihat gerak-gerik, cukup untuk membaca niat.
Marcus mencondongkan tubuh. Napasnya hangat di dekat telinganya.
“Kau aman sekarang,” bisiknya.
Elena tetap diam.
Ia tahu, mulai malam ini, keselamatan adalah ilusi.
Dan kebutaannya—akan menjadi senjata.
****
Halo teman-teman pembaca 🥰🥰🥰
Dukung author terus ya biar semangat menulisnya, makasih semua 🥰🥰🥰