NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARAPAN

Setelah pertemuan terakhir dengan Bara, disertai pergulatan batin yang sesekali membuat kepala Aira berdengung hebat akhirnya ia memutuskan ke kantor KUA.

Dengan pupil bergetar menahan tangis Aira membaca formulir di hadapannya. Tangannya gemetar memasukkan formulir itu ke dalam tasnya.

"Bu, saya cek data, usia pernikahan ibu baru satu bulan. Apa ibu yakin mau mengajukan gugatan cerai ke suami Ibu? Apa ada KDRT? karena kalau ada tindakan itu, ibu harus ke kantor KPAI sebagai salah satu bukti gugatan. "

Aira menggeleng.

"Tidak ada Mbak, ini murni karena kondisi saya yang sakit. Saya tidak mau membebani suami saya. Suami saya berhak bahagia, tidak perlu dipusingkan dengan urusan sakit ini."

"Bu, kalau memang suami Ibu merasa terbebani, harusnya beliau yang mengajukan gugatan ini. Tapi, kalau beliau tak rela melepas ibu, berarti suami ibu sedang memperjuangkan kebahagiaan ibu. Dan ibu juga berhak mendapat kebahagiaan itu."

Aira tertegun, mendengar nasihat petugas KUA di hadapannya.

"Kebahagiaan suami Ibu pasti adalah kesembuhan Ibu. Makanya beliau ingin membersamai dan berjuang bersama Ibu. Jarang loh bu ada suami begitu, " tambahnya lagi.

Melihat Aira tak bergeming, petugas itu hanya tersenyum getir.

"Baiklah, ibu pertimbangkan matang-matang ya, silahkan kembali jika formulirnya sudah ditandatangani suami dan istri lalu lengkapi dengan buku KUA, Kartu keluarga dan KTP nya ya."

"Baik Mbak, terima kasih."

Aira berdiri meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai. Hatinya bimbang mendengar perkataan petugas KUA tadi.

'Mas Bara memang baik, harusnya aku bersyukur ia mau bertahan dengan pernikahan ini. Tapi...apa aku bisa tahan dengan semua sikap dan perkataan ibu pada ku? ' batin Aira.

Ya, itu juga menjadi alasan Aira semalam hingga ia nekat ke KUA pagi itu. Itulah alasan yang memperkuat keinginannya segera bercerai dengan Bara.

Pagi itu angkutan umum penuh sesak. Ada yang baru kembali dari pasar membawa sekeranjang belanjaan.

Ada yang mau mengantar anaknya ke sekolah karena jadwal siang, sesekali memperbaiki sisiran anaknya dan merapikan bedak di pipi sang anak.

Ada yang mau pergi bekerja, dengan ekspresi cemas sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Dan sesekali melihat ke arah jalanan yang macet penuh debu dan asap.

Semua ragam kehidupan yang entah apakah bisa dilalui Aira atau tidak dengan kondisi kesehatannya saat ini.

Tak sadar ia menatap wajah wanita-wanita tangguh yang duduk berkeliling di dalam angkot dengan senyuman pahit. Seolah ia cemburu dengan kehidupan mereka.

Penumpang lain turun bergantian satu persatu. Tersisa Aira yang masih termenung di dalam angkutan umum.

"Mbak mau turun dimana? " tanya supir yang seusia dengannya.

"Eh.. di jalan Kamboja Raya aja mas, yang ada plang panti asuhan di pinggir jalan masuknya itu."

"Oh di situ, mbaknya kerja disana? "

"Iya, saya kerja dan tinggal di sana."

" Mbak mau nikah ya? tadi saya lihat naik dari depan kantor Agama. Alhamdulillah mba kalau ada anak panti yang bisa menikah dan dapat jodoh dari keluarga lengkap. "

Aira tertegun, ingin sekali meluruskan kesalahpahaman itu tapi akhirnya urung.

"Kenapa memangnya mas? "

"Saya juga tinggal di panti sebelumnya Mbak, panti amanah yang di jalan seroja. Beberapa kali saya di tolak keluarga calon istri. Akhirnya terpaksa saya putus hubungan biar dia cari calon suami yang lain. Salah satu alasannya saya di tolak karena saya anak yatim. Yah mungkin karena belum jodoh. Selamat ya Mbak, semoga dilancarkan Allah urusan pernikahannya. Mbak bisa membentuk keluarga yang utuh dengan suami, punya anak dan rumah sendiri."

Aira hanya tersenyum getir.

"Terima kasih mas."

Mobil angkutan umum berhenti di depan jalan, ia turun perlahan setelah membayar.

Mobil kembali berjalan, meninggalkan kepulan asap dan debu ke udara.

Sepanjang jalan menuju panti, pikiran Aira kacau. Ia kembali gamang setelah mendengar cerita si supir tadi.

"Apa aku harus mempertahankan rumah tangga ini, menyetujui saran mas Bara tinggal mengontrak di rumah sendiri? Tapi kalau aku sendirian di rumah selama mas Bara bekerja akan kerepotan kalau terjadi apa-apa padaku?"

Aira menghela nafas panjang, pikiran ini benar-benar membuat dadanya sesak, kepalanya juga nyut-nyutan tak karuan.

Ia berusaha bertahan, berjalan perlahan melangkahkan kakinya yang berat supaya bisa segera sampai di panti.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam. Baru pulang Aira? Bagaimana? "

"Formulirnya sudah di ambil, Bu. Aira isi dulu, nanti mas Bara tinggal tanda tangan."

Siska menghela nafas.

"Kamu sudah istikharah berkali-kali kan, Nak?"

"Sudah, Bu. Makanya Aira mantap dengan keputusan ini."

Siska mengangguk.

"Ya, sudah kamu istirahat dulu saja. Wajahmu pucat sekali."

"Ya, Bu. Aira ijin ke kamar ya Bu."

Aira berjalan ke kamarnya.

CEKLEK

Aira duduk di sisi ranjang, menarik nafas panjang dan dalam.

Kini fisiknya pun tak mampu bekerja sama. Ia membuka jilbab yang menutup kepalanya yang plontos. Aira menatap dirinya di cermin atas meja. Rambut panjang sedadanya sudah tak terlihat sejak ia operasi satu bulan yang lalu. Hanya rambut halus yang baru seukuran kurang dari satu sentimeter menghias kepalanya itu.

Dengan kondisi ini, Aira semakin sedih menatap dirinya sendiri. Entah akan berapa lama ia akan bertahan hidup. Meski sudah menjalani operasi, tapi operasi penyembuhannya masih sangat panjang.

Guratan kelelahan di wajah Bara yang ia lihat saat masih di rumah sakit saat itu terlintas di bayangannya.

' Ya, Aku tak ingin mas Bara merasa kelelahan lagi mengurusnya. Ini adalah keputusan yang terbaik, ' batinnya.

Aira merebahkan dirinya di kasur. Membiarkan tubuhnya yang kian melemah beristirahat sejenak setelah menjalani awal hari dengan pikiran yang berkecamuk.

***

"Mas, akhir-akhir ini saya lihat suka melamun. Kenapa toh? " tanya Purwanti senior di ruang kerja Bara.

"Kelihatan ya Mbak? Hehehe.. lagi bimbang mbak, " jawab Bara malu-malu ia tak terbiasa bercerita dengan wanita.

"Soal istrinya ya? "

"Iya, Mbak. Istri memaksa minta diceraikan."

"Cerai? Loh, kenapa? " tanya Pur terkejut.

"Dia nggak mau bebani saya katanya. Dia juga amnesia sejak sakit terakhir. Jadi, nggak ada rasa sama sekali sama Saya."

"Ya Allah, kasihan juga ya. Istrinya Mas jadi insecure begitu. Jadi Mas Bara mau setujui permintaannya? "

Bara menggeleng.

"Saya merasa berdosa sekali Mbak Pur kalau bersikap begitu. Saya cinta dia apa adanya. "

"Bagaimana kalau Mas Bara kasih opsi, tapi Mas Bara pastikan dulu Mas Bara juga siap dengan konsekuensi pilihannya dan pilihan itu tidak membebani kalian berdua."

"Maksudnya bagaimana Mbak? "

"Orang amnesia kan butuh waktu agak lama untuk mengingat semua kenangan tentang kehidupannya secara utuh lagi. Dan perlu di stimulasi. Ya, coba tawarkan dia untuk memulai hubungan baru. Jadi, kalian seperti mengenang masa awal ketemu dulu. Mas Bara harus menunjukkan kalau Mas Bara tahu semua tentangnya. Makanan kesukaannya, warna favoritnya semua hal kecil dan perhatian kecil untuknya."

"Tapi, istri saya bersikeras nggak mau tinggal sama saya Mbak."

"Loh, gitu? Jadi sekarang dia tinggal di mana?"

"Seminggu yang lalu, istri saya kembali ke panti. Saya sudah berusaha membujuk dan meyakinkan. Tapi, dia tetap nggak mau."

"Ya, sudah coba aja Mas tawarkan soal tadi. Tapi caranya setiap weekend Mas kesana. Seperti pacaran dulu. Mas minta kesempatan selama satu bulan saja, untuk memastikan kalau Mas tulus dan mau mengulang hubungan lagi dari awal."

"Kalau dia benar-benar tak yakin dan jatuh cinta dengan Mas selama satu bulan itu. Mau tidak mau Mas setuju untuk bercerai."

"Rasanya kalau sebulan kurang mbak."

"Monggo Mas negosiasi kan dengan istri Mas soal itu. Yang pasti saya yakin perlahan dia akan luluh dengan perhatian yang intens."

"Terima kasih Mbak Pur. Ini benar-benar membantu saya. "

"Sama-sama, Mas. Perempuan itu sentuh di hatinya. Buktikan dengan perbuatan nyata meski hanya sebuah perhatian kecil."

Bara mengangguk mantap. ia mengambil handphone di saku celana. Mengirim pesan pada Siska.

^^^[Assalamu'alaikum, Bu. Ijin sore nanti sepulang kerja, saya mampir ke panti. Untuk membicarakan kelanjutan pertemuan waktu itu]^^^

[Wa'alaikumsalamwrwb. Silahkan Bara, pintu Panti terbuka untukmu.]

Binar harapan bersinar di mata Bara. Senyumnya menyambit penuh semangat.

Keyakinan akan bersama lagi dengan istrinya ada di depan mata, Ia bertekad akan memperjuangkan Aira hingga mau kembali dipelukannya.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!