Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Berita Di Pagi Hari
Pagi di pinggiran kota dengan langit kelabu selalu dimulai dengan cara yang sama.
Aroma lembap dari dinding yang berjamur dan suara bising dari pipa air yang merintih kesakitan. Di dapur kecil yang luasnya tak seberapa, Nova Skyler sedang sibuk dengan penggorengan.
Suara desis minyak panas beradu dengan denting piring porselen yang permukaannya sudah mulai retak di sana-sini.
Di ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu, sebuah televisi tabung berukuran kecil duduk kaku di atas meja kayu yang miring. Benda itu tampak seperti pasien sekarat yang dipaksa bertahan hidup.
Gambarnya kadang muncul, menampilkan kilasan warna yang tidak akurat, lalu tiba-tiba menghilang digantikan oleh badai salju statis yang menyakitkan mata.
Suaranya pun tak kalah menyedihkan, kadang terdengar jelas, kadang hanya berupa bunyi kresek-kresek yang panjang, seolah-olah ada sesuatu yang mencoba bicara dari dimensi lain.
Lunaris keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah mulai memudar warnanya. Rambutnya diikat kuda dengan seadanya. Ia berhenti sejenak, menatap televisi itu dengan dahi berkerut. Matanya menangkap potongan gambar dari layar yang sedang berjuang keras menampilkan sebuah berita pagi.
Meskipun gambarnya buram dan suaranya tertutup bunyi statis yang berisik, Lunaris tetap terpaku. Di layar itu, terlihat garis polisi berwarna kuning yang membentang di tepian sungai Khanzaz —sungai besar yang membelah kota, tepat di sisi taman pusat yang biasanya indah.
"...Penemuan jasad seorang wanita... ditemukan mengenaskan... asumsi awal adalah perampokan..." Suara presenter wanita itu terdengar putus-putus, tenggelam dalam desisan frekuensi.
Lunaris menyipitkan mata. Kamera televisi itu menyorot sekejap ke arah tandu yang ditutupi kain putih. Sesuatu terasa salah. Sang presenter melanjutkan dengan nada yang sedikit gemetar, "Pihak penyelidik... tidak menemukan luka penganiayaan... namun, kondisi jasad sangat tidak wajar. Tubuh korban ditemukan dalam keadaan... kering, seolah-olah seluruh cairan tubuh, terutama darahnya, telah lenyap tanpa sisa..."
Bunyi statis mendadak mengeras, memotong kalimat terakhir sang presenter sebelum ia mengakhiri dengan imbauan agar warga tetap waspada karena polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Karena merasa televisi itu hanya menambah polusi suara dan memperburuk suasana hatinya yang sudah mendung, Lunaris melangkah maju dan menekan tombol Power.
Klik!
Layar itu menciut menjadi satu titik putih kecil sebelum menghilang sepenuhnya menjadi hitam.
"Lho, Luna? Mati sendiri lagi ya tv-nya?"
Nova muncul dari balik sekat dapur sambil menyeka tangannya pada celemek lusuh. Ia berjalan mendekat dengan wajah cemas, lalu tanpa menunggu jawaban Lunaris, ia menyalakan kembali televisi itu.
"Enggak, aku yang matikan. Beritanya mengerikan dan suaranya membuat telingaku sakit," Jawab Lunaris.
Namun, setelah televisi itu sudah kembali menyala. Berita yang sama ternyata sedang ditayangkan ulang dalam segmen ringkasan pagi. Nova berdiri mematung, menatap layar yang bergetar itu. Ia bergidik ngeri saat presenter menyebutkan tentang kondisi jasad yang 'kering' di pinggir sungai.
"Ya Tuhan...Lagi-lagi ada jasad yang di temukan di dekat sungai itu, dan ini sudah yang kesepuluh kalinya dalam beberapa bulan terakhir." Nova berbalik, memegang bahu putrinya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kau harus sangat hati-hati. Jangan pulang terlalu larut. Sekarang banyak orang jahat, bahkan mungkin lebih jahat dari setan."
Lunaris mendengus pelan, mencoba melepaskan diri dari suasana mencekam yang dibangun ibunya. "Mungkin cuma perampok begal biasa, Bu. Polisi kan sering melebih-lebihkan biar mereka punya alasan kalau kerjanya lambat."
"Tetap saja, Nak. Hati ibu tidak bisa tenang setelah mendengar berita seperti ini, kejadiannya masih di kota kita, dan sampai sekarang polisi belum menemukan pelakunya." Nova menghela napas panjang, lalu mencoba tersenyum meskipun kecemasan masih membayang di matanya. "Ya sudah, jangan dibahas lagi. Ayo sarapan. Ibu sudah siapkan sesuatu yang spesial untukmu hari ini."
Lunaris awalnya merasakan sedikit buncah di dadanya. Perutnya memang sudah keroncongan sejak semalam. Ia mengikuti ibunya ke meja makan kayu kecil di sudut dapur. Namun, begitu matanya menangkap apa yang tersaji di atas piring, senyum tipis yang sempat muncul langsung padam.
Di atas meja itu tersedia roti sourdough kualitas premium, potongan daging smoked beef yang masih terlihat segar, dan sosis bratwurst yang aromanya sangat menggoda. Ini bukan sarapan biasa bagi keluarga Skyler. Ini adalah makanan mewah yang harganya mungkin setara dengan upah kerja Nova selama dua hari.
Lunaris tidak duduk. Ia hanya berdiri menatap makanan itu dengan tatapan dingin. Ia tahu persis dari mana asal makanan ini.
"Apa ibu mengambil makanan sisa dari rumah keluarga Luxe lagi?" Tanya Lunaris. Suaranya berubah tajam, setajam pecahan kaca.
Nova yang sedang menuangkan susu ke gelas tersentak kecil. "Luna... ini masih sangat bagus. Sayang sekali kalau dibuang."
"Jadi benar Ibu memungut sisa mereka lagi?"
"Bukan memungut, Nak," Nova mencoba membela diri dengan suara lembut yang bergetar. "Semalam Nyonya Dimitri meminta kami, untuk memasak banyak sekali. Katanya Tuan Julian akan pulang setelah perjalanan bisnis panjang. Kami sudah menyiapkan semuanya, perjamuan besar. Tapi ternyata Tuan Julian membatalkan kepulangannya di menit terakhir. Nyonya Dimitri dan Aaron tidak bisa menghabiskan semuanya sendirian. Nyonya bilang daripada dibuang..."
"Nyonya Dimitri tidak pernah bilang 'daripada dibuang'," Potong Lunaris pedas. "Aku tahu wanita itu. Dia lebih suka melihat makanan sisa mereka itu busuk di tempat sampah daripada memberikannya pada orang lain dengan sukarela. Dia pasti memberikannya sambil menghina Ibu, kan?"
Nova terdiam. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan letak sendok. Keheningan itu adalah jawaban bagi Lunaris. Ia bisa membayangkan pemandangan semalam, Nyonya Dimitri yang berdiri angkuh, menatap Nova seperti menatap serangga, lalu memerintahkan Nova untuk 'membereskan' sisa makanan agar dapur tidak bau, seolah-olah Nova adalah tempat sampah berjalan.
"Tidak penting darimana ibu mendapatkannya. Sebaiknya kamu cepat makan sarapanmu, jangan berangkat dengan perut kosong," Nova mencoba membujuk lagi.
"Aku tidak lapar, Bu," Lunaris berbohong. Perutnya perih, tapi harga dirinya jauh lebih perih. Melihat makanan itu hanya mengingatkannya pada wajah Aaron yang selalu bersikap baik padanya dan menawarkan pertemanan yang tulus, sementara nyonya Dimitri memperlakukan ibu Lunaris seperti budak tak berharga di rumah.
"Luna, sedikit saja—"
"Aku berangkat," Lunaris segera menyambar tas sekolahnya.
Ia tidak ingin lanjut berdebat. Ia tahu jika ia bicara lebih banyak, kata-katanya akan menjadi lebih tajam dan akhirnya akan melukai hati ibunya yang lembut. Nova tidak bersalah atas kemiskinan mereka, tapi Lunaris benci betapa pasrahnya ibunya menerima penghinaan itu sebagai bagian dari "nasib".
"Luna hati-hati di jalan! Ingat pesan ibu untuk tidak keluyuran dan segera pulang setelah sekolah!" Teriak Nova dari ambang pintu saat Lunaris sudah melangkah keluar dengan cepat.
Lunaris hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Hujan semalam menyisakan genangan air yang memantulkan langit mendung. Ia berjalan dengan langkah lebar, mencoba membakar amarah yang bergejolak di dadanya.
Saat mendekati halte bus yang terletak di ujung jalan distrik tua, Lunaris melihat sosok yang tidak asing.
Nyonya Lyn, pemilik toko bunga yang letaknya hanya beberapa blok dari sana, sedang mengunci pagar kecil di depan rumahnya. Wanita tua itu mengenakan syal rajut berwarna ungu dan membawa keranjang rotan kosong.
"Eh, Lunaris? Pagi-pagi wajahmu sudah terlihat seperti mau perang saja," Tegur Nyonya Lyn dengan suara serak yang ramah.
Lunaris mencoba mengatur napasnya dan memaksakan sebuah senyum kecil. "Hanya... sedikit buru-buru, Nyonya."
"Jangan lari-lari, busnya masih sepuluh menit lagi," Nyonya Lyn berjalan mendekat, menyamakan langkah dengan Lunaris menuju halte. "Kau dengar berita pagi ini? Lagi-lagi ada penemuan mayat lagi di dekat sungai khanzaz. Benar-benar mengerikan."
Lunaris mengangguk singkat. "Ibuku bahkan tidak berhenti measehatiku agar berhati-hati setelah melihat berita itu."
"Yah, ibumu benar. Dia hanya mengkhawatirkanmu. Ada sesuatu yang 'lapar' di kota ini belakangan ini. Aku bisa merasakannya dari cara bunga-bungaku layu lebih cepat dari biasanya," Nyonya Lyn berbicara dengan nada misterius yang biasa ia gunakan.
Kemudian wanita tua itu berhenti sejenak, lalu menatap Lunaris dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong, Luna... sepulang sekolah nanti, apa kau bisa mampir ke toko? Aku baru saja mendapat kiriman mawar hitam dan lili lembah dalam jumlah besar. Aku butuh bantuan untuk merangkainya untuk pesanan pemakaman besok."
Lunaris sempat bimbang. Wajah cemas ibunya terbayang di benaknya. Ibunya ingin dia langsung pulang. Tapi kemudian ia teringat uang saku yang pas-pasan dan keinginan untuk tidak lagi menyentuh makanan sisa dari keluarga Luxe.
Upah dari Nyonya Lyn biasanya cukup untuk membeli makan malam yang layak bagi dirinya dan ibunya—makanan yang mereka beli sendiri.
"Boleh, Nyonya. Aku akan ke sana sepulang sekolah," jawab Lunaris akhirnya.
"Bagus. Kau memang anak yang rajin dan bisa diandalkan. Upahnya akan kuberi bonus karena ini pesanan mendadak," Nyonya Lyn menepuk bahu Lunaris.
Mereka melanjutkan berjalan bersama menuju halte. Namun, suasana mendadak berubah menjadi ganjil. Keheningan jalanan pagi itu dipecahkan oleh suara kepakan sayap yang riuh.
Lunaris mendongak ke langit. Di atas mereka, puluhan —mungkin ratusan— burung gagak terbang berputar-putar. Mereka tidak terbang bermigrasi dalam garis lurus, melainkan berputar membentuk pusaran hitam di atas area distrik tua wilayah tempat tinggal Lunaris.
Suara gak-gak mereka terdengar serak dan menuntut, seolah sedang merayakan sesuatu yang hanya mereka yang tahu.
"Banyak sekali..." Gumam Lunaris, matanya mengikuti pergerakan gumpalan hitam di langit itu.
Nyonya Lyn juga mendongak. Ekspresi ramahnya menghilang, digantikan oleh gurat kecemasan yang mendalam. Ia menggenggam keranjangnya lebih erat. "Gagak tidak biasanya berkumpul sebanyak ini kecuali ada... kematian yang sangat besar."
Lunaris merasakan tengkuknya meremang. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak, rasa gelisah melanda. Ia mencoba menggelengkan kepala, mengusir pikiran konyol itu. Gagak hanyalah burung. Dan berita di tv hanyalah kasus kriminal biasa.
"Mungkin mereka hanya mencari makan," Ujar Lunaris, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Nyonya Lyn.
"Ya mungkin saja, apalagi beberapa bulan terakhir ini memang banyak kematian misterius disekitar kita." Jawab Nyonya Lyn pendek, tapi matanya tetap tidak lepas dari langit. "Tapi ingat pesanku. Jika gagak-gagak itu mulai mengikutimu, jangan menoleh. Teruslah berjalan sampai kau menemukan cahaya."
Bus kota akhirnya datang dengan suara mesin yang menderu kasar, memecah ketegangan di antara mereka. Lunaris naik ke dalam bus, menyisakan Nyonya Lyn yang masih berdiri di halte, menatap sosok Lunaris dari balik kaca jendela bus yang berdebu.
Saat bus mulai bergerak, Lunaris menempelkan dahinya ke kaca.
Sedangkan di kejauhan, di atas reruntuhan kastil dan kuil kuno, burung-burung gagak itu hinggap di puncak-puncak bangunan yang runtuh, engeluarkan suara bersahutan yang menekankan telinga. Seolah mereka sedang bernyanyi untuk menyambut sesuatu.
Lunaris mengepalkan tangannya di pangkuan. Hari ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang bergeser dalam tatanan dunianya yang suram, dan ia tidak tahu apakah ia harus takut, atau justru merasa lega karena akhirnya sesuatu yang besar mungkin akan terjadi.