Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hajar terus
Udara di dalam kedai mendadak terasa berat. Jari tengah Jian Feng masih terangkat tegak, menantang nyali para preman yang kini wajahnya sudah sewarna kepiting rebus.
Pemimpin preman itu, pria bertubuh raksasa dengan bekas luka di pelipis, meraung keras hingga urat lehernya menonjol.
"KAU... KEPARAT KECIL! BERANINYA KAU MENGHINA KAMI!" teriaknya sembari mencabut kapak besar dari punggungnya. "HABISI DIA! JANGAN SISAKAN SEPOTONG DAGING PUN!"
Lima anak buahnya merangsek maju dengan berbagai senjata—parang, rantai besi, hingga tongkat kayu. Mereka bergerak mengepung meja pojok tempat Jian Feng duduk.
Jian Feng tidak berdiri. Ia justru kembali menyesap teh oolong-nya dengan tenang sampai tetes terakhir, lalu meletakkan cangkirnya dengan bunyi tek yang halus.
Saat parang pertama menebas ke arah lehernya, Jian Feng hanya memiringkan kepala sedikit.
SREEEET!
Ujung parang itu hanya memotong udara. Tanpa menoleh, Jian Feng menggerakkan sikutnya ke belakang, menghantam ulu hati preman yang memegang parang tersebut.
DUAK!
Suara benturan itu terdengar tumpul namun dalam. Preman itu langsung membelalak, matanya memutih, dan ia ambruk ke lantai tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Satu," gumam Jian Feng malas.
Tiga preman lainnya menyerang bersamaan. Jian Feng menendang meja kayunya hingga meluncur dan menghantam kaki mereka, membuat keseimbangan mereka goyah.
Dalam sekejap, Jian Feng sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Ia tidak menghunus pedang; tangannya mengepal santai.
BUKK! BRAK! KRAK!
Setiap pukulan Jian Feng adalah presisi murni. Ia tidak memukul sembarangan; ia mengincar persendian.
Ia menangkap lengan salah satu preman, lalu dengan satu putaran kecil, suara krek yang memilukan terdengar—bahu pria itu lepas dari engselnya.
Dengan kaki kirinya, ia menyapu kaki preman lain dan memberikan bogem mentah tepat di rahangnya saat pria itu melayang di udara.
"Tuan, jangan terlalu cepat! Aku belum selesai melihat mereka menangis!" seru Petir Kecil yang kini duduk di atas rak botol arak, menonton dengan antusias seolah sedang melihat pertunjukan sirkus.
"Berisik, Laba-laba. Aku sedang berusaha tidak membunuh mereka agar bisa ditukar dengan uang." balas Jian Feng sambil menangkap rantai besi yang diayunkan preman terakhir.
Jian Feng menarik rantai itu dengan satu sentakan kuat, menyeret si preman mendekat.
Begitu jarak mereka hanya sejengkal, Jian Feng melancarkan serangkaian pukulan cepat ke dada dan perut preman itu.
Duk-duk-duk-duk!
Setiap pukulan melepaskan sedikit getaran Qi yang menghancurkan titik-titik meridian energi. Preman itu memuntahkan cairan pahit dari mulutnya sebelum jatuh tersungkur di bawah kaki wanita cantik yang tadi mencoba merayu Jian Feng.
Wanita itu menjerit tertahan, menutupi mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat.
Kini hanya tersisa si pemimpin preman. Ia melihat kelima anak buahnya terkapar dalam kondisi yang mengenaskan—tulang patah, rahang bergeser, dan pingsan dengan wajah babak belur.
"Kau... kau monster!" teriak si pemimpin sembari mengayunkan kapaknya dengan membabi buta.
Jian Feng melangkah maju dengan santai. Gerakannya terlihat lambat, namun entah bagaimana, kapak besar itu selalu meleset.
Saat kapak itu tertanam di lantai kayu, Jian Feng menginjak bilah kapak tersebut, menguncinya di sana.
"Monster? Tidak, aku hanya seorang kakek yang terganggu waktu makannya." ucap Jian Feng dingin.
PLAK!
Jian Feng menampar wajah pria raksasa itu dengan telapak tangannya. Tamparan itu mengandung kekuatan fisik yang murni.
Wajah si pemimpin terpelintir ke samping, tiga giginya terbang keluar dan mendarat di mangkuk sup meja sebelah.
PLAK! PLAK! PLAK!
Jian Feng memberikan tamparan bolak-balik seolah sedang mendisiplinkan anak kecil yang nakal.
Si pemimpin preman yang tadinya garang kini menangis tersedu-sedu, wajahnya bengkak seperti balon, dan matanya biru lebam.
"Ampun... ampun, Tuan... saya salah..." rintihnya dengan suara sengau karena hidungnya patah.
Jian Feng mencengkeram kerah baju pria itu dan mengangkatnya dengan satu tangan. "Salahmu adalah membuatku membuang teh oolong yang mahal ini. Sekarang, diamlah."
DUAK!
Satu sundulan kepala dari Jian Feng mengakhiri perlawanan si pemimpin. Pria raksasa itu jatuh tumbang, menciptakan dentuman keras di lantai kedai yang kini porak-poranda.
Jian Feng merapikan jubahnya dan kembali ke mejanya yang untungnya tidak hancur. Ia menoleh ke arah pelayan yang masih mematung di sudut.
"Hei, Pelayan. Berapa total kerusakan dan harga tehku tadi?" tanya Jian Feng dengan nada malas yang kembali normal.
"T-tiga puluh koin perak, Tuan..." jawab pelayan itu gagap.
Jian Feng menunjuk tumpukan mayat-mayat pingsan itu dengan jempolnya. "Ambil dompet mereka. Ambil semua yang mereka punya sebagai ganti rugi. Sisanya, kumpulkan di satu kantong dan berikan padaku. Kita akan membawa 'hadiah' ini ke kantor gubernur."
Ia kemudian melirik wanita cantik yang masih duduk kaku di sampingnya. "Dan kau... masih mau bergabung makan denganku? Dagingnya sudah dingin, tapi araknya masih ada."
Wanita itu hanya bisa menggeleng cepat dengan wajah pucat pasi. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukan hanya 'tampan', tapi adalah kematian yang berjalan dengan cadar sutra.
"Baguslah. Petir Kecil, ayo bantu pelayan itu menggeledah mereka. Jangan sampai ada satu koin pun yang tertinggal!"
"Siap, Tuan Pelit!" Petir Kecil melompat turun, siap menjalankan tugas favoritnya: menjarah.
thor lu kaya Jiang Feng