Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang tertukar
*
Waktu terus berlalu begitu cepat, baik Jessie ataupun Raya belum juga menunjukkan tanda akan siuman. Jessie di rawat di ruangan VIP, sedangkan Raya ruang rawat biasa karena kendala biaya. Tidak terasa satu minggu sudah mereka terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Dalam ruangan Jessie, perlahan matanya mengerjap. Jemarinya bergerak sedikit demi sedikit, pandangan ke atas gelap, lalu buram dan detik berikutnya mulai terang menyilaukan.
Wanita paruh baya di sampingnya berseru senang "Sayang? Syukurlah kamu sudah siuman. Ibu panggil Dokter dulu." Wanita itu memencet tombol pemanggil Dokter.
Jessie menatapnya heran, dia tidak mengenali wanita itu. Bibirnya kaku untuk sekedar mengucapkan kata.
"A-a.ir." Ucapnya lirih, terbata. Ia butuh air untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Dengan segera wanita itu mengambil botol minuman, membuka lalu memasukkan sedotan agar bisa mudah meminumanya. Jessie minum di bantu wanita itu, meski hatinya bertanya tanya tentang siapa wanita di depannya ini.
"Terimakasih." Ucapnya lirih, wanita itu tersenyum "Siapa anda?"
Wanita di depannya tampak terpaku. Jessie semakin tidak mengerti, kepalanya berdenyut hebat, ia mencoba menahan sakit. Dalam hatinya berpikir kenapa saat ia terbangun justru di menunggu orang lain? Kemana orangtuanya? Papanya dimana? Apa dia tidak peduli?
Dokter lelaki masuk, ia langsung mendekati mereka.
"Dokter, tolong periksa anak saya. Kenapa dia tidak mengenali saya?" Pinta wanita itu.
"Anak?" Kening Jessie berkerut, dia bukan anaknya!
Terlalu malas untuk membantah sekarang, kondisinya masih lemah. Ia membiarkan Dokter itu memeriksanya lebih dulu dan perlahan mengumpulkan tenaga.
"Benturan di kepala sangat keras itu menyebabkan sedikit gangguan pada ingatannya." Ujar Dokter berasumsi.
Wanita itu menutup mulut, syock "Anak saya hilang ingatan?"
"Ibu tenang saja. Ini bukan hilang ingatan permanen, dalam beberapa waktu akan sembuh kembali." Balas Dokter, membuatnya sedikit lega.
"Saya tidak hilang ingatan. Saya mengingat semua." Ucap Jessie sedikit kesal.
"Sayang, kamu yang tenang ya. Kamu belum sembuh total, jangan emosi." Ujar wanita itu lembut, mengelus pundak Jessie "Saya, Indah ibumu."
"Indah? Siapa? Saya tidak mengenal nama itu, jangan--..." Ucapan Jessie terpotong.
"Nona tenang, seiring berjalanya waktu pasti akan kembali mengingat." Dokter itu bicara sopan tapi menjengkelkan di telinga Jessie "Bisa ibu ikut saya? Saya akan membuatkan resep dan ibu bisa mengambil di apoteker."
"Bisa Dokter." Bu Indah mengangguk, lalu menatap Jessie "Nak, ibu keluar sebentar. Kamu tunggu ya."
Jessie menganga tak percaya, siapa wanita ini kenapa mengaku sebagai anaknya? Apa dia wanita yang menolong saat kecelakaan, dia baru kehilangan anak lalu mengaku sebagai orangtuanya? Apa dia gila? Jessie belum bisa mencerna apa yang terjadi.
*
*
Waktu yang sama namun ruangan yang berbeda. Kondisi Raya tidak jauh berbeda dari Jessie, dia sudah sadar tapi kebingungan menatap dua orang di depannya yang mengaku sebagai orangtua. Padahal ia sudah menjelaskan jika dia tidak hilang ingatan, namun mereka tidak percaya dan menganggap kondisinya belum membaik.
"Maafkan Papa, Papa tahu kamu hanya marah jadi tidak mau menganggap kami orangtuamu." Ujar Tuan Ardi nampak sedih.
"Mama juga minta maaf, jika sampai detik ini belum bisa memberikan yang terbaik untukmu." Timpal Nyonya Linda murung.
Raya memegangi kepalanya yang berdenyut, menahan sakit.
"Apa kamu sakit lagi? Biar Mama panggil Dokter." Nyonya Linda cemas.
Raya menggeleng "Aku ingin ke toilet." Dia butuh ketenangan, dia ingin merilekskan pikiran agar bisa mencerna apa yang terjadi.
"Mama antar kamu ke toilet, boleh?" Pinta Nyonya Linda sedikit ragu, ia tahu anak tirinya tidak pernah menyukai dirinya.
Raya mengangguk, menolak pun tidak ada tenaga.
Nyonya Linda langsung senyum sumringah, ia membantunya turun dari brankar menuntun sambil membawa tiang infus menuju toilet.
"Biar aku masuk sendiri." Pinta Raya, memegangi tiang infus sendiri
"Kamu bisa? Tanyanya, Raya mengangguk.
Raya pun masuk ke dalam toilet. Membasuh wajah, berusaha tenang. Ia mendongak menatap cermin.
"Hah?!"
*
"Siapa lo?!!"
Bersamaan dengan Raya di tempat berbeda, Jessie juga masuk ke dalam toilet untuk membasuh wajah. Dia terkejut melihat bayangan di cermin bukan wajahnya.
"Wait." Jessie celingukan kanan kiri lalu ke belakang tidak ada siapapun selain dia. Kembali menatap cermin "Lo si cupu kan? Lo masuk ke cermin?" Pekiknya menutup mulut.
*
"Ini aku gak salah lihat? Ini wajah Jessie Queen Bullying kan?" Raya menggerakkan dagu kanan kiri, memastikan itu benar wajah yang ia kenal.
"I-ini pasti ada yang salah." Lirihnya.
*
"No. Dia bukan masuk cermin, ini gue?" Jessie menggerakkan tangan kanan kiri, bayangan cermin mengikutinya.
Jessie menelan ludah. Menggeleng cepat "Impossible, No. Very Impossible."
"Ini pasti mimpi." Ia menarik nafas, menutup mata dengan tangan "Come on Jessie. Bangun dari mimpi buruk lo." Gumamnya.
Perlahan membuka sela jari, tapi bayangan itu masih sama mengikutinya bahkan wajahnya masih berbeda. "Oh my God. What is this? No." Beberapa kali ia menutup mata lalu membuka, berharap berubah tapi tidak sama sekali.
*
Plak!
"Awsss." Raya mengaduh kesakitan saat menampar pipinya sendiri membuktikan ini bukan mimpi. "Gak mungkin. Ini gak mungkin." Raya berucap berkali kali, ia masih belum percaya.
"Bagaimana mungkin ini terjadi? Ini aku Raya, tapi wajahnya Jessie?" Raya belum bisa menebak apa yang terjadi.
"Apa ini kayak di film fantasi gitu? Aku--..."
*
"Transisi?"
Celetuk Jessie spontan, tapi merasa ada yang aneh dengan penyebutannya. "Eh bukan ini deh, yang ada di novel novel itu. Gue--..."
*
"Transparan?"
Cetus Raya menggeleng cepat "Oh ya ampun. Transparan tembus pandang dong?! Aku masih nampak, bukan setan. Apa ya namanya? Heummm..."
*
"TRANSMIGRASI??!!"
Pekik keduanya bersamaan meski dalam tempat berbeda. Tidak mungkin, batin mereka.
Sontak badan mereka terhuyung selangkah ke belakang. Nafasnya tercekat, detak jantung mereka berdegup lebih cepat, bibirnya seolah membeku, lidah kaku tidak bisa berkata apapun.
*
Beberapa detik terdiam, Jessie menarik nafas dalam lalu mengeluarkan perlahan. Ia tertawa "Hahaa! Ini salah. Impossible."
Tawanya terhenti "Mana ada Transmigrasi di dunia nyata? Apa gue masuk dunia novel? Tapi lebih gak mungkin." Ucapnya tak bisa berpikir logis.
"Kalo emang masuk novel, pasti bangunnya di istana. Ada Duke utara dan selatan, gue pasti jadi cewek aneh yang menyebalkan. Atau--... Gw jadi permaisuri yang terbuang? Oh My God! Gak bisa gue bayangkan. Arrgh." Ingin sekali teriak.
Jessie mengusap wajahnya kasar, masih tidak percaya.
*
"Mustahil. Gak mungkin. Tapi ini nyata. Astaga. Haahh..." Raya hampir kehilangan akal, dia bersandar di dinding toilet.
Nafasnya memburu, menyisir rambutnya ke belakang, tidak tahu lagi harus berkata apa. Ini sulit dan mustahil di percaya.
Raya mengambil nafas panjang, mengeluarkan dari mulut perlahan "Oke Raya, Tenang. Tenaaaaang..."
*
"Gue gak bisa tenang."
Seru Jessie frustasi "Kalo gantinya wajah gue mirip idol kpop, pasti gue terima. Lah iniiii? Si cupu? Kek apa lah ini? Gak ada yang lain apa? Entar gue kere dong?"
Jessie mengingat kejadian waktu kecelakaan. Ia sekilas melihat wajah Raya sebelum tidak sadar. Ia semakin yakin yang di tabrak adalah Raya dan jiwa mereka tertukar.
"Ohh gue tahu sekarang. Pasti pas kecelakaan, roh gue sama si cupu keluar sebentar jalan-jalan keliling. Terus si Malaikatnya pikun, dia mau kembaliin roh gue tapi salah alamat dan malah nyasar ke tubuh si cupu ini. Ya.. Pasti gitu." Ucap Jessie sangat yakin.
"Wait! Kalo gue di tubuh si cupu, artinya si cupu--..."
*
"Aku masuk ke tubuh Jessie? Si Queen Bullying paling berkuasa dan di segani semua siswa bahkan guru di sekolah?" Pekik Raya, sedikit menyadarinya.
Ia menatap wajah Jessie di cermin "Kalo di lihat-lihat wajahnya babyface, tapi auranya kenapa sangar? Mengerikan kalo di sekolah, pantes aja Pipit bilangnya Jessie mirip Beruang kutub."
*
Hatchiimm
"Sialan. Hidung gue gatel, telinga gue panas. Pasti ada yang ngomongin gue di belakang. Awas aja kalo gue tau siapa orangnya." Sungut Jessie.
Ia sedang emosi jiwanya berpindah, seolah takdir juga berbalik. Sekarang merasa yang yang menggosip tentangnya. Sangat menyebalkan.
*
"Omong-omong soal Pipit, aku jadi kepikiran sama ucapannya." Raya mengingat sesuatu.
"Bintang jatuh. Apa karna itu jiwa aku sama Jessie tertukar? Waktu itu kan aku iseng bilang pengin jadi kaya, terus Pipit nyeletuk biar aku jadi Jessie?"
"Astaga! Ini bukan mitos? Ini fakta? Jiwaku dan Jessie tertukar?" Raya menutup mulut, sangat syock.
...----------------...