NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Di ambang pintu lorong yang remang-remang, berdiri sesosok manusia.

Pakaiannya compang-camping seperti pengemis, rambutnya berantakan, dan tubuhnya penuh bekas luka. Namun, yang paling mencolok adalah pedang hitam raksasa yang terikat di punggungnya, yang tampak terlalu besar untuk tubuh manusianya.

Itu adalah Han Feng.

"Siapa kau?!" bentak Li Jian, matanya menyipit waspada. Dia mencoba memindai kultivasi Han Feng, tapi dia tidak merasakan fluktuasi Qi sama sekali. "Kau... manusia biasa?"

Han Feng berjalan perlahan memasuki ruangan. Langkah kakinya berat, setiap pijakan membuat debu di lantai bergetar.

"Kalian masuk ke rumah orang tanpa izin, berencana merampok dan membunuh pemiliknya, lalu sekarang bertanya siapa aku?" Han Feng berhenti sepuluh langkah dari mereka. Wajahnya tenang, terlalu tenang. "Murid Sekte Pedang Langit ternyata hanyalah sekumpulan bandit berpakaian rapi."

Wajah Liu Mei memerah karena marah. "Berani sekali kau! Dasar pengemis liar! Kau tahu siapa kami? Berlututlah dan potong lidahmu sendiri, mungkin Kakak Li akan membiarkanmu hidup sebagai budak kami!"

Han Feng menatap Liu Mei seolah melihat lalat yang bising.

"Wanita bermulut kotor," kata Han Feng dingin. "Dan kau..." Han Feng menunjuk Li Jian. "Kau yang tadi mengusulkan untuk membunuhku demi kenyamanan, bukan?"

Li Jian tertawa meremehkan. Kecurigaannya hilang saat melihat Han Feng tidak memiliki Qi. Dia menduga Han Feng hanyalah pemburu hutan yang mengandalkan kekuatan fisik kasar, tipe orang yang paling rendah dalam hierarki dunia kultivasi.

"Jadi kau yang membunuh beruang itu? Lumayan untuk ukuran orang liar," cemooh Li Jian. "Tapi kau membuat kesalahan fatal dengan menampakkan diri di hadapan kami. Chen Hu, Zhang Wei! Bunuh dia. Jangan habiskan waktu kita."

"Siap, Kakak Li!"

Chen Hu, yang berbadan paling besar di antara mereka, menyeringai sadis. Dia mencabut golok besarnya dan melangkah maju.

"Bocah, jangan salahkan kami. Salahkan nasibmu yang buruk karena memiliki harta yang kami inginkan!"

Chen Hu menerjang. Tubuhnya dilapisi cahaya Qi tipis. Di matanya, Han Feng adalah sasaran empuk yang tidak bersenjata (karena pedang Han Feng masih di punggung).

Golok Chen Hu menebas leher Han Feng dengan kecepatan tinggi.

Han Feng tidak bergerak. Dia berdiri diam seperti patung, tangannya tergantung santai di sisi tubuh.

"Mati!" teriak Chen Hu.

Saat golok itu hanya berjarak satu jengkal dari leher Han Feng, tangan kanan Han Feng bergerak. Bukan untuk menangkis, bukan untuk menghindar.

Tangan itu bergerak menuju bahu kirinya, mencengkeram gagang Pedang Meteor Hitam.

ZING!

Han Feng tidak mencabut pedang itu sepenuhnya. Dia hanya menariknya keluar setengah, lalu membantingkan gagang pedang besi padat itu ke arah dada Chen Hu yang terbuka.

Gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat mata Chen Hu.

BRAKK!

"Ugh—!"

Suara tulang dada yang hancur terdengar mengerikan. Chen Hu bahkan tidak sempat menjerit. Tubuhnya terlempar ke belakang seperti layang-layang putus tali, melesat melewati teman-temannya, dan menghantam dinding gua di ujung ruangan.

Tubuh Chen Hu merosot jatuh. Dadanya cekung ke dalam. Darah bercampur pecahan organ menyembur dari mulutnya. Dia mati seketika.

Hening.

Keheningan yang mencekam melanda ruangan itu. Tetesan air dari stalaktit terdengar seperti dentang lonceng kematian.

Li Jian, Liu Mei, dan Zhang Wei mematung. Mata mereka terbelalak menatap mayat Chen Hu, lalu beralih menatap Han Feng yang kini berdiri tegak dengan pedang hitam raksasa di tangan kanannya.

Satu serangan.

Seorang kultivator Pembentukan Tubuh Tingkat 8... mati dalam satu serangan gagang pedang?

"K-Kau..." Zhang Wei gemetar, kakinya mundur selangkah tanpa sadar. "Monster apa kau?"

Han Feng mengangkat Pedang Meteor Hitam itu dan meletakkannya di bahunya dengan santai. Berat 150 kg itu seolah tidak ada artinya baginya.

"Satu sudah pergi," kata Han Feng datar. Tatapan matanya yang hitam pekat menyapu ketiga orang yang tersisa. "Siapa selanjutnya? Atau kalian ingin maju bersamaan?"

Wajah Li Jian berubah dari kaget menjadi sangat buruk. Harga dirinya sebagai murid sekte tergores dalam. Dia menyadari bahwa dia telah meremehkan lawan. Pemuda di depannya ini bukan orang liar biasa. Itu adalah seorang Kultivator Fisik (Body Cultivator) yang langka!

"Jangan takut!" teriak Li Jian, mencoba mengembalikan moral timnya. "Dia hanya mengandalkan kekuatan fisik! Kultivator fisik tidak bisa bertarung jarak jauh! Zhang Wei, Liu Mei, serang dia dengan Teknik Pedang Angin dari dua sisi! Aku akan mencari celah untuk memberikan serangan fatal!"

"B-Baik!"

Zhang Wei dan Liu Mei, meskipun ketakutan, tidak punya pilihan lain. Mereka menghunus pedang mereka dan mengalirkan Qi.

"Teknik Pedang Angin: Sayatan Ganda!"

Mereka berdua melesat ke arah Han Feng dari kiri dan kanan. Pedang mereka memancarkan bilah angin tajam yang bisa memotong batu.

Han Feng mendengus. "Trik murahan."

Han Feng tidak menggunakan teknik rumit. Dia memegang gagang pedang besarnya dengan dua tangan, lalu melakukan gerakan berputar sederhana.

Putaran Badai Besi!

Han Feng berputar 360 derajat dengan Pedang Meteor Hitam sebagai porosnya. Pedang besar itu menciptakan dinding angin yang mengerikan karena kecepatannya.

TRANG! TRANG!

Pedang Zhang Wei dan Liu Mei menghantam pedang besar Han Feng.

Hasilnya sudah bisa ditebak.

Pedang baja standar milik Zhang Wei patah menjadi dua bagian saat beradu dengan Besi Meteor. Kekuatan pantulan dari pedang Han Feng membuat lengan Zhang Wei terkilir parah.

"Aaaarrghhh!" Zhang Wei menjerit, pedangnya terlepas.

Pedang Liu Mei adalah pedang kualitas lebih baik, jadi tidak patah, tapi getaran yang dihasilkan membuat telapak tangannya robek berdarah. Dia terpental mundur, wajah cantiknya pucat pasi.

"Sekarang giliranku."

Han Feng tidak membiarkan Zhang Wei mundur. Dia melangkah maju satu langkah besar, menyusul Zhang Wei yang sedang memegangi tangannya yang patah.

Han Feng mengayunkan Pedang Meteor Hitam secara vertikal dari atas ke bawah.

"JANGAN!" teriak Zhang Wei putus asa.

SPLAT!

Tidak ada keajaiban. Pedang tumpul yang berat itu menghancurkan Zhang Wei menjadi bubur daging di lantai batu. Darah memercik ke mana-mana, termasuk ke wajah Liu Mei yang berada di dekatnya.

Liu Mei menjerit histeris. "Kyaaaaaa!"

Dia jatuh terduduk, kakinya lemas melihat kematian brutal rekannya. Rasa takut akan kematian mengalahkan kesombongannya. Dia merangkak mundur, air mata dan ingus bercampur dengan bedak tebal di wajahnya.

"Kakak Li! Tolong aku! Bunuh dia! Bunuh iblis ini!"

Han Feng tidak mengejar Liu Mei. Dia membalikkan badan perlahan, menatap Li Jian yang masih berdiri di posisinya.

Li Jian tidak menyerang saat Han Feng membunuh Zhang Wei. Sebaliknya, pemuda itu sedang memegang sebuah jimat kertas kuning di tangannya yang bersinar terang. Dia sedang merapal mantra.

"Kau pikir kau sudah menang, Dasar Iblis?" mata Li Jian memancarkan kegilaan. "Kau memaksaku menggunakan Jimat Pedang Api ini! Ini adalah harta penyelamat nyawaku yang diberikan Tetua Sekte! Rasakan kemarahan seorang Kultivator Qi!"

Kertas jimat itu terbakar menjadi abu, berubah menjadi bola api raksasa yang berbentuk pedang, melayang di atas kepala Li Jian. Suhu di dalam gua meningkat drastis.

"Mati kau! Tebasan Pedang Api Surgawi!"

Li Jian menunjuk ke arah Han Feng. Pedang api raksasa itu melesat membelah udara, meninggalkan jejak hangus di dinding gua.

Mata Han Feng menyipit. Ini serangan elemen murni setara dengan serangan penuh Kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 3. Jika terkena langsung, tubuh tembaganya pun akan meleleh.

Tidak bisa dihindari. Lorong terlalu sempit, dan serangan itu terlalu cepat.

"Kalau tidak bisa dihindari..." Han Feng menggertakkan gigi, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua. Dia menancapkan kaki-kakinya ke lantai batu hingga retak, memasang kuda-kuda terkuat.

Han Feng mengangkat Pedang Meteor Hitam di depan tubuhnya sebagai perisai.

"...maka hancurkan saja!"

Han Feng tidak bertahan. Dia menyerang balik. Dia mengayunkan pedang meteor itu lurus ke depan, menghantam ujung pedang api yang datang.

Sutra Hati Naga Purba: Ledakan Kekuatan Penuh!

BOOOOOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang gua itu. Stalaktit-stalaktit di langit-langit runtuh berjatuhan. Asap dan debu memenuhi seluruh ruangan, menutupi pandangan.

"Hahaha!" Li Jian tertawa histeris di tengah asap. "Mampus kau! Tidak ada manusia di tahap Pembentukan Tubuh yang bisa selamat dari ledakan itu!"

Namun, tawa Li Jian terhenti perlahan saat debu mulai menipis.

Dari balik kabut asap, sesosok bayangan berdiri tegak.

Pakaian Han Feng bagian atas telah hancur total, memperlihatkan tubuh kekarnya yang kini berwarna merah membara. Kulitnya melepuh di beberapa tempat, dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Pedang Meteor Hitam di tangannya juga memancarkan asap panas.

Tapi Han Feng masih berdiri. Dan matanya... matanya menyala lebih terang dari sebelumnya.

"Panas juga," kata Han Feng, meludah darah ke lantai. "Tapi apimu kurang menyengat, Tuan Muda Sekte."

Wajah Li Jian memucat seputih kertas. "Mustahil... Kau... Kau monster..."

Han Feng tidak memberinya kesempatan lagi. Dia menerobos sisa asap, melesat seperti peluru meriam ke arah Li Jian yang sudah kehabisan Qi.

"Sekarang, giliranmu menjadi pupuk untuk teratai itu."

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!