Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Janji Status Baru
Tepat pukul 11.00 WITA, suasana santai di kamar hotel berubah menjadi formal. Sesuai kurikulum SMK Pariwisata, hari pertama di Bali dibuka dengan agenda Table Manner. Seluruh siswa kelas 1 berkumpul di Grand Ballroom yang sudah disulap menjadi ruang makan mewah dengan deretan meja bundar yang tertata sempurna.
Gery, Dion, dan Reno tampil rapi dengan seragam praktik mereka. Di meja seberang, Vanya tampak anggun, sementara Nadia—meski masih sedikit pucat—sudah bisa tersenyum saat mencoba mempraktikkan cara memegang pisau dan garpu yang benar.
"Ingat, posisi tubuh harus tegak. Jangan menaruh siku di atas meja," instruksi instruktur hotel dengan suara bariton yang berwibawa.
Gery melirik Vanya yang sedang berjuang memotong appetizer dengan sangat hati-hati. Saat mata mereka bertemu, Vanya memberikan ekspresi lucu, seolah-olah mengeluh betapa rumitnya makan dengan aturan seketat ini. Gery hanya bisa menahan tawa, mencoba tetap fokus pada penjelasan tentang perbedaan sendok sup dan sendok dessert.
Meski acara ini dihadiri oleh jurusan Tour Guide, Restoran dan Busana, bagi Gery dan kawan-kawan dari jurusan Perhotelan, ini barulah permulaan.
Setelah makan siang mewah yang melelahkan secara mental itu berakhir, rombongan jurusan Perhotelan (PH1 dan PH2) segera memulai agenda utama: Hotel Tour & Department Briefing.
"Selamat datang di dapur operasional kami," sambut seorang manajer operasional hotel.
Gery dan teman-temannya dibawa menelusuri lorong-lorong "belakang layar" yang jarang dilihat tamu biasa. Mereka masuk ke area Laundry, melihat mesin-mesin raksasa yang mencuci ratusan sprei setiap harinya. Uap panas dan aroma deterjen yang segar memenuhi ruangan.
Lalu, mereka berpindah ke divisi Housekeeping. Di sinilah Gery merasa benar-benar belajar. Mereka diajarkan bagaimana cara melakukan making bed dengan standar bintang empat—harus presisi, tanpa kerutan. Mereka juga diajak melihat bagaimana seorang room attendant mengetuk pintu, menyapa tamu dengan sopan untuk meminta izin membersihkan kamar, hingga menata handuk menjadi bentuk angsa yang indah.
"Ger, lihat tuh. Ternyata susah juga ya bikin lipatan handuk kayak gitu," bisik Reno saat mereka berada di salah satu mock-up room.
"Makanya, jangan cuma bisa berantakin kasur kamar kita doang," balas Gery yang langsung disambut tawa kecil oleh Dion.
Waktu berlalu tanpa terasa. Dari pengenalan divisi Front Office hingga meninjau area Back Office, matahari Bali perlahan mulai turun ke peraduan. Saat jarum jam mendekati angka enam sore, instruktur akhirnya memberikan pengumuman yang paling dinanti.
"Terima kasih atas perhatian kalian hari ini. Sekarang, silakan kembali ke kamar. Waktu bebas dimulai sampai jam sepuluh malam nanti. Gunakan dengan bijak, jangan keluar dari area hotel tanpa izin!"
"Waktunya bebas!" seru Dion kegirangan.
Saat kerumunan siswa mulai membubarkan diri menuju lift, Gery berpapasan dengan Vanya dan Nadia di koridor.
"Capek banget ya hari ini?" tanya Vanya sambil meregangkan tangannya. "Gue baru tahu kalau jadi orang hotel itu capeknya di balik layar."
"Tapi seru, kan?" sahut Nadia yang tampak jauh lebih segar setelah berjalan-jalan tadi.
Gery menatap mereka berdua bergantian. "Habis ini kalian ada rencana? Dion sama Reno kayaknya mau ke kolam renang."
Vanya melirik Nadia, lalu tersenyum penuh rahasia ke arah Gery. "Gue sama Nadia mau cari angin sebentar di dekat area luar hotel. Lo mau ikut, atau mau nemenin si 'Dua Maut' itu berenang?"
Gery memilih untuk melepaskan penat dengan menceburkan diri ke kolam renang bersama Dion dan Reno. Gelak tawa dan aksi saling dorong di air sempat membuat Gery melupakan sejenak beban di kepalanya. Namun, tepat pukul 21.00 WITA, mereka bertiga kembali ke kamar dengan rambut basah dan tubuh yang segar namun letih.
Baru saja Gery merebahkan diri di kasur, ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas bergetar singkat. Satu pesan SMS masuk.
From Vanya: Ger, lo udah di kamar? Gue ada di pantai seberang hotel. Bisa ke sini sebentar? Gue tunggu ya.
Gery mengernyitkan dahi. Ia melirik Dion dan Reno yang sedang sibuk memperebutkan remote TV. Tanpa banyak bicara, Gery kembali menyambar jaket birunya—jaket yang sama yang dipakai Vanya tadi subuh—dan memakai sandal jepitnya.
"Mau ke mana lagi, Ger?" tanya Reno sambil menoleh.
"Cari angin bentar ke depan," jawab Gery singkat sebelum menutup pintu kamar.
Suasana Pantai Kuta di seberang hotel malam itu terasa sangat berbeda. Deburan ombak terdengar lebih berat di bawah langit malam yang tanpa bintang. Angin laut berembus kencang, membawa aroma garam yang basah. Gery berjalan menyusuri pasir yang masih terasa hangat sisa matahari siang tadi, matanya mencari sosok gadis yang memanggilnya.
Ia menemukan Vanya duduk sendirian di atas batang kayu besar yang terdampar, beberapa meter dari bibir pantai. Ia tampak kecil di tengah luasnya kegelapan laut.
"Tumben ngajak ke sini jam segini? Yang lain mana?" tanya Gery sambil mengambil posisi duduk di sampingnya, namun tetap menjaga jarak yang sopan.
Vanya menoleh, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. "Nadia sama Yola udah tidur duluan. Gue nggak bisa merem, Ger. Kepala gue penuh ama pikiran."
Gery diam, membiarkan suara ombak menjadi latar belakang pembicaraan mereka. Ia tahu Vanya sedang memproses banyak hal: tentang putus cintanya di bus kemarin, tentang perjalanan ini, dan mungkin tentang hal-hal yang tidak ia katakan di depan orang banyak.
"Ger," panggil Vanya pelan. "Makasih ya buat semuanya dari kemarin. Gue ngerasa... kalau nggak ada lo di bus itu, mungkin gue bakal milih pulang dan nggak ikut perjalanan ini."
"Lo kuat, Van. Tanpa gue pun, lo bakal tetep sampai di sini," balas Gery tulus.
Vanya terkekeh sinis, ia memainkan ujung jemarinya. "Nggak, Ger. Lo nggak paham. Pacar gue... eh, mantan maksudnya, dia selalu bikin gue ngerasa bersalah kalau gue pengen bahagia sama temen-temen gue. Tapi pas tadi liat lo bareng-bareng anak laki-laki lain, liat lo jagain Nadia... gue baru sadar kalau hubungan yang sehat itu bukan yang saling ngekang."
Vanya terdiam sejenak, lalu menatap Gery dengan mata yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu jalan dari kejauhan. "Nadia curhat apa aja ke lo semalam di bus?"
Gery terkejut dengan pertanyaan itu. "Nggak ada. Dia cuma duduk, terus demam, dan lo tahu sisanya."
Vanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Dia bilang ke gue kalau dia sebenernya pengen punya cowok kayak lo, Ger. Yang perhatiannya nggak berisik, tapi ada pas dibutuhin."
Jantung Gery berdegup lebih kencang. "Dia cuma lagi sakit, Van. Mungkin dia cuma terbawa suasana."
"Mungkin," jawab Vanya singkat. Ia kemudian berdiri, membersihkan pasir di roknya. "Gue cuma pengen bilang itu. Biar lo tahu kalau apa yang lo lakuin itu berarti buat orang lain. Termasuk buat gue."
Vanya berjalan selangkah lebih maju mendekati air laut, lalu berbalik lagi menatap Gery. "Jangan berubah ya, Ger. Tetep jadi Gery yang duduk di meja belakang yang selalu punya solusi buat tugas akuntansi gue."
Di bawah langit Bali yang gelap, Gery menyadari bahwa malam itu bukan hanya tentang Vanya yang sedang menyembuhkan luka hatinya, tapi juga tentang sebuah pengakuan tak langsung bahwa keberadaan Gery telah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar "teman duduk" bagi kedua gadis itu.
Kondisi malam itu terasa semakin berat bagi Vanya. Di satu sisi, ia tahu Nadia sedang menyimpan rasa yang sama terhadap Gery di tengah keretakan hubungannya sendiri. Namun di sisi lain, Vanya merasa hanya Gery yang mampu menjadi jangkar bagi emosinya yang sedang berantakan.
Vanya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang sempat tercecer. Ia menatap lurus ke arah cakrawala yang gelap, tidak berani menatap mata Gery secara langsung.
"Ger," suara Vanya sedikit bergetar. "Gue mau jujur. Gue tahu lo punya rasa sama Nadia. Dan gue juga tahu Nadia lagi di posisi yang sulit sama cowoknya sekarang. Tapi... gue egois ya kalau bilang kalau gue ngerasa nyaman banget sama lo?"
Gery terdiam, ia tidak ingin memotong kalimat Vanya.
"Bersama lo, gue merasa terbimbing. Terutama soal pelajaran, soal cara lo memandang masalah... gue butuh itu buat sembuhin luka gue dari mantan gue," Vanya menoleh, matanya menatap Gery dengan penuh kesungguhan. "Gue mau kita jalin hubungan. Tapi bukan pacaran yang penuh drama kayak orang-orang."
Gery mengernyitkan dahi. "Maksud lo?"
"Kita pacaran... tapi sebatas buat saling dukung dalam belajar dan meningkatkan nilai. Semacam partnership tapi lebih intim dalam hal perhatian," Vanya menjelaskan dengan nada yang sedikit lebih cepat. "Ada syaratnya. Kalau salah satu dari kita udah nemu orang yang bener-bener kita cintai buat jadi pacar sungguhan, atau saat kita lulus sekolah nanti, hubungan 'pura-pura' ini harus berakhir. Kita balik jadi sahabat lagi."
Gery tertegun. Ia mencoba mencerna tawaran gila namun sangat rasional ini. Di satu sisi, hatinya memang masih tertuju pada Nadia, namun ia sadar Nadia masih memiliki komitmen dengan orang lain. Di sisi lain, Vanya adalah orang yang paling ia hargai keberadaannya.
"Lo serius, Van? Ini kayak... kontrak belajar atau pacar kontrak?" tanya Gery dengan sedikit nada bercanda untuk mencairkan suasana.
"Gue serius, Ger. Gue nggak mau kehilangan arah gara-gara galau putus cinta. Gue butuh lo buat mastiin gue tetep 'waras' sampai lulus. Lo mau?"
Gery menatap pasir di bawah kakinya. Ia membayangkan bagaimana hari-hari ke depan jika ia menerima ini. Ia akan menjadi sandaran Vanya, sekaligus pelindung yang legal di mata teman-temannya, tanpa harus merasa bersalah karena masih menyimpan nama Nadia di sudut hatinya.
"Oke," jawab Gery akhirnya, suaranya mantap. "Gue terima. Kita pacaran buat saling jaga dan saling bantu belajar. Tapi janji ya, nggak ada drama posesif."
Vanya tersenyum lega, sebuah beban besar seolah terangkat dari bahunya. "Janji. Makasih ya, Ger. Lo emang penyelamat gue."
Malam itu, di tepi pantai Kuta yang menjadi saksi, sebuah hubungan unik lahir. Hubungan yang didasari oleh rasa nyaman dan kebutuhan untuk bertahan hidup di masa SMA, bukan sekadar nafsu atau ambisi untuk memiliki. Gery tahu ini akan menjadi rumit nantinya, terutama jika Nadia tahu, namun untuk saat ini, ia memilih untuk menjadi obat bagi luka sahabatnya.
Mereka pun berjalan kembali menuju hotel dengan langkah yang lebih ringan. Di pintu lobi, mereka berpisah menuju lift masing-masing dengan satu rahasia baru yang hanya mereka berdua yang tahu.
Gery melangkah masuk ke kamar 402 dengan sisa pasir yang masih menempel di sandalnya. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening. Reno yang tadinya asik menonton TV dan Dion yang sedang asik dengan ponselnya, serentak menoleh dengan senyum penuh arti yang sangat lebar.
"Gimana, Ger? Angin pantainya wangi parfum Vanya, ya?" goda Reno sambil menaik-turunkan alisnya.
Dion ikut menimpali tanpa melepaskan pandangan matanya dari Gery. "Lama juga ya cari anginnya. Sampai satu jam lebih. Kita nggak bego, Ger. Tadi Vanya juga pamit sama Nadia lewat SMS, dan Nadia nanya ke kita lo ada di mana."
Gery menghela napas, ia duduk di pinggir kasur yang masih kosong. Melihat wajah kedua sahabatnya yang begitu suportif selama ini, Gery merasa tidak ada gunanya menyembunyikan kebenaran. Ia butuh sudut pandang lain untuk meyakinkan hatinya bahwa keputusan gila di pantai tadi tidak salah.
"Oke, gue jujur," Gery memulai pembicaraan. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi—tentang kegalauan Vanya, luka hatinya, hingga tawaran 'pacaran kontrak' untuk saling menjaga dan membantu belajar sampai lulus nanti.
Reno dan Dion mendengarkan dengan seksama, tidak ada lagi candaan atau ledekan. Ruangan itu mendadak jadi serius.
"Jadi... lo terima?" tanya Dion setelah Gery menyelesaikan ceritanya.
Gery mengangguk pelan. "Gue terima. Gue merasa Vanya butuh pegangan biar nggak jatuh lebih dalam lagi. Tapi gue juga bilang ke dia untuk memastikan ucapannya lagi, kalau salah satu dari kita dapet pacar beneran atau nanti pas lulus, semuanya selesai. Menurut kalian gimana? Gue salah nggak?"
Reno mengusap dagunya, berpikir keras. "Kalau menurut gue sih, nggak salah, Ger. Itu namanya lo jadi pahlawan. Vanya itu orang baik, dia cuma lagi apes ketemu cowok brengsek kemarin. Dengan adanya lo, dia punya alasan buat tetep semangat sekolah."
Dion, yang biasanya lebih logis, menambahkan, "Gue setuju sama Reno. Tapi lo harus siap sama satu hal, Ger. Gimana sama Nadia? Lo bilang tadi lo masih suka sama dia. Kalau Nadia tau lo pacaran sama Vanya—walaupun cuma kontrak—dia mungkin bakal makin menjauh."
Gery terdiam. Itu adalah poin yang paling ia takuti.
"Tapi di sisi lain," lanjut Dion, "siapa tahu dengan lo sama Vanya, itu malah jadi cara buat lo bener-bener tau perasaan lo yang sebenernya itu buat siapa. Terkadang kita butuh 'pintu lain' buat tau kamar mana yang sebenernya pengen kita tempatin."
Reno menepuk bahu Gery dengan kencang. "Udah, jangan terlalu dipikirin malem ini. Keputusan udah diambil. Yang penting, lo berdua seneng dan nilai pelajaran nggak turun. Toh, kita semua di sini bakal jagain rahasia ini."
Gery tersenyum lega. Memiliki sahabat seperti Dion dan Reno adalah keberuntungan lain dalam perjalanannya di Bali ini. Mereka tidak menghakimi, justru mencoba memahami kerumitan perasaan Gery.
"Makasih ya, Yon, Ren. Gue tenang sekarang," ucap Gery tulus.
"Sama-sama. Tapi inget satu hal," Reno kembali memasang wajah jahilnya. "Besok pas sarapan, lo harus siap dicheck-in sama satu kelas kalau lo jalan bareng Vanya. Jangan kaku kayak kanebo kering!"
Tawa mereka pecah, memecah ketegangan malam itu. Gery merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar hotel. Besok adalah hari baru dengan status yang baru. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi saat ia bertemu pandang dengan Nadia besok pagi, namun ia sudah siap menghadapi badai apa pun bersama Vanya di sisinya.