"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Sabotase yang Gagal
## **Bab 35: Sabotase yang Gagal**
Fajar belum menyingsing, namun langit di atas dermaga tua itu sudah berubah menjadi abu-abu pucat yang suram. Di dalam sel beton yang dingin, moncong pistol Glock di tangan Kenzi masih terarah tepat ke dahi Alana. Jari telunjuknya sudah menempel pada pelatuk. Di belakangnya, Vero berdiri dengan kamera taktis yang menyala, merekam setiap detail dari apa yang seharusnya menjadi eksekusi mati putri mahkota Wijaya.
"Tiga detik, 097," suara Vero terdengar seperti desis ular di balik keheningan. "Jangan biarkan Pusat menunggu rekaman ini."
Alana menutup matanya rapat-rapat. Air matanya telah kering, menyisakan jejak garam di pipinya yang pucat. Ia tidak lagi memohon. Kehancuran mental yang dialaminya telah mencapai titik di mana kematian terasa seperti sebuah pembebasan dari pengkhianatan pria yang pernah ia percayai.
Kenzi menarik pelatuknya.
*Klik.*
Tidak ada ledakan peluru. Tidak ada darah yang memuncrat ke dinding beton. Hanya suara pin pemukul yang menghantam ruang kosong.
---
Kenzi segera menarik slide pistolnya, sebuah peluru terpental keluar dan jatuh ke lantai beton dengan denting logam yang nyaring. Ia mencoba menarik pelatuk untuk kedua kalinya.
*Klik.*
Macet lagi.
"Sial," umpat Kenzi dengan nada datar yang terkontrol. Ia membalikkan senjatanya, memeriksa bagian *ejection port* dengan dahi berkerut.
> *Analisis Internal: Pin pemukul (firing pin) telah dikikir sebesar 0.5 mm secara manual 10 menit yang lalu. Pegas magazen dilemahkan. Probabilitas kegagalan mekanis: 100%.*
> *Justifikasi Lapangan: Kelembapan dermaga yang tinggi menyebabkan oksidasi pada bubuk mesiu (penjelasan palsu untuk Vero).*
Vero menurunkan kameranya, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Macet? Di tangan seorang penembak jitu seperti kau? Itu anomali statistik yang sangat tidak masuk akal, Kenzi."
"Kelembapan di sini merusak batch amunisi ini, atau unit ini memang cacat produksi," jawab Kenzi tanpa menoleh. Ia membongkar magazennya dengan gerakan cepat. "Beri aku senjatamu. Aku akan menyelesaikannya sekarang."
Vero tidak memberikan senjatanya. Alih-alih, ia melangkah maju dan merenggut pistol Kenzi, memeriksanya dengan teliti. "Kau tahu, 097, aku mulai berpikir bahwa 'kerusakan' ini bukan pada senjatanya, tapi pada orang yang memegangnya."
---
Vero menarik pistol Glock-17 miliknya sendiri dari holster. "Minggir. Jika kau tidak bisa menarik pelatuknya, biar aku yang melakukannya. Tapi ingat, laporan ini akan mencatat bahwa kau gagal dalam uji loyalitas terakhir."
Kenzi berdiri menghalangi garis tembak Vero, berpura-pura sedang memeriksa lantai untuk mencari peluru yang terpental. "Vero, tunggu. Ada getaran di sensor perimeter."
"Jangan mencoba mengalihkan perhatianku—"
*BOOM!*
Sebuah ledakan kecil namun mengejutkan terjadi di bagian belakang gudang—tepat di area panel generator listrik yang telah disabotase Kenzi sebelum memasuki sel. Seluruh lampu di dalam bangunan beton itu padam seketika. Kegelapan total menyelimuti mereka.
"Unit 003? Uni-Global?" teriak Vero sambil mengaktifkan kacamata *night vision*-nya.
"Kita diserang!" Kenzi berteriak, suaranya penuh urgensi palsu. Dalam kegelapan itu, Kenzi tidak menyerang Vero. Ia justru menendang kursi kayu tempat Alana duduk, memaksa gadis itu jatuh ke lantai agar terhindar dari kemungkinan peluru nyasar jika Vero melepaskan tembakan secara membabi buta.
Kenzi menggunakan momentum kekacauan itu untuk menghancurkan interkom di dinding, memutus komunikasi langsung Vero dengan pusat komando selama beberapa menit berharga.
---
Saat lampu darurat berwarna merah menyala, Vero sudah berdiri di dekat pintu, senjatanya terarah ke arah koridor yang dipenuhi asap dari panel yang meledak.
"Lapor, 097! Apa yang terjadi dengan sistem sensor?" tuntut Vero.
"Arus pendek akibat sabotase eksternal. Seseorang mencoba memutus suplai oksigen dan cahaya kita," Kenzi memberikan laporan yang sepenuhnya bohong. "Ghost pasti telah membocorkan lokasi ini kepada faksi saingan. Kita harus memindahkan aset sekarang sebelum tim pembersih musuh sampai di sini."
Vero menatap Kenzi, lalu menatap Alana yang masih meringkuk di lantai. Kecurigaannya berada di puncaknya. Ia tahu Kenzi sangat pintar, dan ia tahu ledakan ini terlalu kebetulan. Namun, di dunia pembunuh bayaran, paranoid adalah cara bertahan hidup. Jika benar ada serangan faksi lain, bertahan di gudang ini adalah bunuh diri.
"Bawa dia!" perintah Vero kasar. "Tapi jika aku melihatmu melakukan satu lagi 'kesalahan teknis', aku akan memasukkan peluru ke kepalamu terlebih dahulu, baru kemudian ke gadis ini."
---
Kenzi menarik Alana berdiri. Kali ini, ia tidak menggunakan kekerasan yang sama seperti sebelumnya, namun genggamannya tetap kuat agar Vero tidak melihat adanya kelembutan.
Alana menatap Kenzi di bawah remang lampu merah darurat. Ia melihat mata Kenzi—bukan mata kosong seorang pembunuh, melainkan mata yang sedang menghitung ribuan variabel dalam satu detik. Untuk sesaat, Alana menyadari bahwa ledakan itu, senjata yang macet itu... semuanya adalah perbuatan Kenzi.
Namun, pengakuan itu tidak membawa kebahagiaan. Justru membawa kengerian baru. Jika Kenzi harus melakukan semua ini hanya untuk menunda kematiannya, seberapa besar kekuatan yang sedang mengejar mereka?
Vero berjalan di depan mereka, menuntun jalan menuju SUV. Ia sempat berhenti sejenak di depan pintu keluar, memungut peluru yang tadi dibuang Kenzi dari lantai. Ia memperhatikannya di bawah cahaya, melihat bekas kikir halus yang hampir tak terlihat pada bagian *primer*.
Vero tersenyum gelap. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia memasukkan peluru itu ke sakunya.
*097, kau baru saja menggali kuburanmu sendiri,* batin Vero.
Kenzi menyadari Vero telah menemukan sesuatu. Rencananya untuk mensabotase eliminasi secara halus telah gagal total di mata sang pengamat. Sekarang, ini bukan lagi soal misi. Ini adalah perang saraf antara dua predator, dengan Alana sebagai bidak di tengahnya.
---